Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pertamak 18: Mabuk Kepayang VS Mabuk Laut


__ADS_3

*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*


 


Entah, kata apa yang cocok dinilaikan kepada pasangan pengantin baru, Bagang Kala dan Anik Remas?


Ternyata kondisi kapal yang mereka tumpangi tidak sesuai espektasi. Kapal itu tidak memiliki kamar untuk penumpang. Orang yang naik menuju ke Pulau Gunung Dua pun ramai, sehingga nyaris tidak ada tempat sepi. Dasar perahu yang biasanya sepi, jadi tempat basecamp para awak kapal. Kondisi itu jelas tidak memungkinkan bagi Bagang Kala dan Anik Remas untuk melakukan ritual malam pertama.


Ujung-ujungnya, Bagang Kala dan Anik Remas meringkuk di pojokan kapal di kala malam. Dengan dalih cuaca laut malam yang dingin, keduanya duduk menyudut di pojokan kapal dan menutupi tubuh mereka dengan selimut kain nan lebar. Meski mereka terlihat duduk bersandar, tetapi jari jemari mereka bermain lincah tapi senyap di balik selimut.


Suasana yang remang-remang masih bisa memberi ruang bagi Bagang Kala dan Anik Remas mendelik-delik karena terangsang hebat.


“Aaah!”


Ketika ada suara mendesah dari bibir Anik Remas, penumpang lain yang berposisi tidak begitu jauh dari mereka, jadi menengok curiga. Melihat reaksi penumpang lain itu, membuat Bagang Kala dan Anik Remas buru-buru diam. Ujung-ujungnya, pasangan pengantin baru itu harus tersiksa, karena gairah yang meledak-ledak tidak bisa diledakkan.


“Bagaimana ini, Bagang?” tanya Anik Remas berbisik, ia tidak puas hanya dengan permainan jari tanpa permainan bibir atau uji coba rudal nuklir.


“Aku juga bingung, Sayang. Sejak tadi jagoku tegang terus,” jawab Bagang Kala.


“Pasti, karena aku sejak tadi memegangnya terus,” kata Anik Remas. “Cobalah pergi cari tempat yang sunyi, jauh dari sentuhan penumpang lain.”


“Baiklah, tapi lepaskan dulu tanganmu, Sayang.”


“Iya, sebentar. Aku rapikan dulu celanamu.”


“Nenek itu sejak tadi memandangi kita. Dia pasti curiga,” kata Bagang Kala tetap berbisik. Pandangannya tertuju kepada wanita tua yang sedang berbaring miring di lantai kapal menghadap kepada posisi Bagang Kala dan Anik Remas.


Hawa dingin, gelap malam, dan irama hantaman ombak pada badan kapal memberi kesan yang sangat berbeda ketika mereka berada di daratan.


Bagang Kala lalu bangkit setelah celananya rapi. Ia keluar dari balik selimut dan meninggalkan Anik Remas yang merana karena tertunda. Kenikmatan asmara yang sudah ada di depan mata dan di dalam genggaman, seakan-akan terasa sangat jauh.


Pada malam menjelang tengah malam itu Bagang Kala pun berkeliling di atas kapal. Seperti seorang turis, tapi dia sebenarnya mencari tempat yang cocok untuk bercocok tanam.

__ADS_1


Karena perjalanan akan memakan waktu sekitar tiga hari atau lebih, para penumpang kapal memilih mengkavling area tidur masing-masing di lantai kapal agar mereka memiliki tempat nyaman untuk tidur, meski sebagian besar tidak beratap, tetapi cukuplah beratap langit berbintang, lebih romantis meski banyak yang tanpa pendamping lawan jenis.


Bagang Kala berjalan agak sempoyongan karena bertepatan dengan ia berkeliling, ombak yang menggoyang kapal semakin besar. Goyangan kapal cukup membuat pendekar itu berjalan seperti orang setengah mabuk. Goyangan-goyangan kapal yang asik justru mulai mengocok isi perut Bagang Kala. Kepalanya mulai merasakan pusing dan ada sinyal-sinyal rasa mual.


Setelah tidak menemukan tempat yang benar-benar aman dari pantauan penumpang lain, Bagang Kala mencoba turun ke perut kapal. Ternyata, goyangan di bawah terasa lebih hot.


“Mau ke mana, Kisanak? Hanya awak kapal yang boleh turun ke sini,” tanya seorang awak kapal ketika Bagang Kala sudah menuruni tangga.


“Eh … aku hanya … hanya mencari temanku,” jawab Bagang Kala dusta dan tergagap.


“Apakah temanmu salah satu awak kapal di sini?”


“Bukan.”


“Jika begitu, silakan Kisanak kembali ke atas. Teman Kisanak pasti ada di atas,” kata si awak kapal lagi.


“Iya,” ucap Bagang Kala patuh. Ia pun kembali ke atas.


Di atas, Bagang Kala kembali berkeliling, mencoba mencari tempat sekali lagi, bahkan ia melongok ke dalam ruang nahkoda kapal. Sementara di kabin penumpang, bisa disebut terlalu ramai dan padat.


“Ak!” pekik Bagang Kala terkejut, karena dia sedikit pun tidak mengetahui keberadaan Tikam Ginting yang berdiri tersembunyi. Lalu pikirnya, “Bagaimana jika aku sedang diajari mandi kucing oleh Anik Remas, ternyata diam-diam Tikam Ginting berdiri seperti itu menonton?”


“Bukankah kau pengantin baru? Seharusnya waktu-waktu seperti ini kau sedang sibuk memeluki istri cantikmu, tapi kenapa kau justru jalan sendiri?” tanya Tikam Ginting lagi. “Jangan kau kabarkan kepadaku bahwa kau sudah bercerai sebelum terjepit dua gunung.”


Meski Bagang Kala adalah seorang pendekar gagah yang cukup sakti, tetapi dia jadi sangat pemalu ketika ditanya seperti itu, terlebih mendengar tiga kata terakhir, dan apalagi yang bertanya adalah gadis yang juga cantik. Namun, Tikam Ginting tidak menganggap pertanyaannya sekedar guyonan, terlihat tidak ada senyum di bibirnya.


“Eh itu … aku sedang … sedang mencari tempat yang bagus untuk kencing, mengikuti arah angin laut. Hehehe!” jawab Bagang Kala kelabakan.


“Aku tahu kau sedang berdusta. Pasti kau hendak melakukan sesuatu yang rahasia. Lanjutkanlah urusanmu, aku tidak akan ikut campur, apalagi urusan kuda goyang,” kata Tikam Ginting setengah ketus.


“I-i-iya,” ucap Bagang Kala tergagap, lalu buru-buru pergi.


Setelah wajahnya berbalik, Bagang Kala hanya bisa mengerenyit lega sambil mengelus dadanya. Namun, rasa mualnya semakin menjadi seiring kepalanya tambah pusing. Maklum, dalam pelayaran perdananya ini dia tidak minum pil antimabuk laut.

__ADS_1


Dak dak dak …!


Pada kemudiannya, tiba-tiba pemuda tampan tapi gelap karena malam itu, berlari cepat ke tepian kapal. Beberapa penumpang kapal yang sedang santai atau tertidur jadi terkejut mendengar suara larinya.


“Hoekh!” Bagang Kala muntah karena mabuk laut, bukan mabuk asmara.


Sebagian penumpang yang bisa melihat Bagang Kala samar-samar hanya mendelik, lalu tersenyum yang berlanjut tertawa kecil.


Mendengar suara tawa para penumpang lainnya, merasa malulah Bagang Kala. Namun, apa boleh buat, malu sudah terlanjur menjadi baju. Ia belum terbebas dari sergapan mabuk laut itu karena sepertinya akan ada muntahan susulan.


“Hoeekh!” Bagang Kala muntah untuk kedua kalinya. Semua isi perutnya seolah-olah keluar menceburkan diri ke air laut yang gelap.


“Hahahak!” Kali ini para penumpang itu tertawa lebih keras dan ramai.


“Ayo, keluarkan semua, Kakang!” seru satu suara perempuan kecil tiba-tiba, seiring ada yang menepuk-nepuk punggung Bagang Kala.


“Hoekh!”


Bagang Kala terkejut, tetapi dia dalam upaya hendak mengeluarkan muntahan ketiga yang justru hanya cairan pahit yang keluar, dan itu terasa sangat menyakitkan. Untung perutnya sudah terlatih, sehingga perutnya tidak sampai terlalu sakit untuk mengeluarkan sesuatu yang hanya setetes air sepahit empedu.


Setelah itu, Bagang Kala merasa lemas. Ia melorotkan tubuhnya dan duduk bersandar di pagar pembatas pinggiran kapal.


“Hihihi!” tawa seorang anak perempuan cantik berpakaian kuning cerah dengan gaya rambut kuncir tiga.


Bagang Kala hanya menatap anak perempuan itu. Meski gelap, tetapi mata lelaki Bagang Kala masih bisa melihat kecantikan anak tersebut.


“Heh!” pekik Bagang Kala tiba-tiba sambil cepat melompat seperti kucing kaget. Ia teringat bahwa anak perempuan itu adalah anak perempuan yang sempat menyerang di hari akad nikahnya dengan Anik Remas. “Bukankah kau pembunuh bayaran itu?”


“Hihihi!” tawa si anak perempuan yang adalah Mimi Mama, Pembunuh Kedua dalam Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas. “Aku sedang tidak dalam tugas membunuh. Jangan takut, Kakang.”


“Awas jika kau bermain maut, aku juga bisa membunuh!” ancam Bagang Kala.


“Hmmm!” gumam Mimi Mama santai. Lalu tanyanya, “Kakang, kau muntah karena mabuk laut atau karena usai menyelam ke dalam sarung? Hihihi!”

__ADS_1


Terbeliak Bagang Kala mendapat pertanyaan seperti itu dari seorang anak kecil. (RH)


__ADS_2