Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
PHT 33: Uyut-Uyut Raja


__ADS_3

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*


 


Pangeran Arda Handara dan Barada terus mengikuti kedua Cumi Hutan, yang sejauh ini tidak menunjukkan gelagat niat jahat.


Mereka terus menyusuri sungai dasar jurang, hingga pada akhirnya kedua Cumi Hutan merayap masuk ke dalam rimbunnya tanaman rendah di dasar hutan yang cukup luas. Lahan itu lebih seperti ladang sayuran dengan bentuk daun seperti daun bayam, tetapi warnanya kebiru-biruan, membuatnya menjadi pemandangan yang eksotis di dasar jurang yang lembab dan semakin gelap.


Kondisi jurang yang telah lebih gelap dari hutan di atasnya, membuat ada titik-titik sinar redup berwarna jingga pada sejumlah daun dari tanaman itu.


“Hei, indah sekali,” ucap Barada terpukau.


“Kakak Barada, itu Uyut-Uyut Petang!” pekik Arda Handara sambil menunjuk kepada titik-titik bercahaya jingga yang beberapa di antaranya bergerak-gerak pelan.


Buru-buru Arda Handara berlari menerobos ladang tanaman setinggi pinggangnya. Sementara Barada hanya terpaku bingung.


“Bagaimana bisa anak sekecil dia begitu mengenal berbagai ulat bulu? Apakah dia punya ternak ulat bulu? Hiii!” ucap Barada kepada dirinya sendiri lalu bergidik sendiri.


Namun pada akhirnya, Barada pergi juga mengikuti Arda Handara.


Sambil tersenyum sumringah, mata Arda Handara sibuk melihat ke sana dan ke sini melihat banyaknya ulat bulu yang bercahaya jingga.


Arda Handara berhenti pada satu titik. Dia mengamati seekor ulat bulu yang ada di sehelai daun berwarna kebiruan. Ulat bulu itu berwarna hitam, tapi tubuhnya penuh rambut berwarna jingga yang terang. Jika dilihat dari dekat, binatang itu tidak begitu bersinar.


Ketika Arda Handara hendak meraih binatang kecil itu, Barada telah tiba di sisinya.


“Kau yakin akan menyentuhnya, Bulu? Ulat bulu itu pasti beracun,” kata Barada mengingatkan.


“Aku sudah kebal dengan segala racun ulat bulu, Kakak,” kata Arda Handara enteng.


“Oh ya?” kejut Barada.


“Uyut-Uyut Petang, datang kepada Ayahanda ya,” kata Arda Handara kepada ulat bulu yang mau dipegangnya.


“Hihihi!” tawa Barada mendengar kata-kata si bocah yang berlagak tua.


“Ibunda Asap Racun juga punya Uyut-Uyut Petang, tetapi aku belum boleh memeliharanya. Ibunda Asap Racun takut jika adik-adikku nanti kulitnya bentol-bentol besar. Hahaha!” kata Arda Handara menjelaskan, lalu tertawa.


Ia pun kemudian telah menjepit Ulat Bulu Petang dengan pelan, lalu meletakkannya di telapak tangan kirinya.


“Asap Racun? Bukankah itu nama salah satu permaisuri Gusti Prabu Dira?” tanya Barada.


“Prabu Dira Pratakarsa Diwana itu adalah ayahandaku,” tandas Arda Handara.

__ADS_1


“Hah! Jadi benar kau seorang pangeran?” kejut Barada, kali ini dia serius, seserius kondisi mereka saat ini karena alam semakin gelap.


“Hahahak! Kakak saja yang tidak pernah percaya. Aku adalah Pangeran Arda Handara, ibuku adalah Permaisuri Dewi Ara yang berjuluk Permaisuri Geger Jagad!” tegas Arda Handara.


“Ampuni hamba, Gusti Pangeran! Ampuni hamba seampun-ampunnya!” ucap Barada sambil buru-buru turun bersujud, sehingga tubuhnya tenggelam di dalam ladang tanaman biru itu.


“Hahahak! Pokoknya, nanti Kakak akan aku adukan kepada Ayahanda, agar Kakak dikurung di kolam yang banyak buayanya,” tawa Arda Handara lalu mengancam.


“Hamba mohon jangan, Gusti Pangeran Ulat Bulu. Hamba ini hanya gadis malang yang masih suka bermain!” ucap Barada memelas. Nada suaranya menunjukkan dia benar-benar ketakutan.


Barada masih berlutut di dalam tanaman.


“Ya sudah, aku tidak akan mengadukan Kakak Barada dan tidak akan menghukum Kakak dengan uyut-uyut. Bangunlah!” kata Arda Handara.


Barada lalu bangun, sehingga wajahnya kembali terlihat dalam kondisi menyisakan raut ketakutan.


“Tapi sebagai ganti hukuman Kakak, Kakak harus buatkan aku tempat untuk Uyut-Uyut Petang. Aku mau mengambil banyak!” perintah Arda Handara.


“Baik!” sahut Barada cepat dan lantang, demi terhindar dari hukuman.


Barada yang biasa main di alam segera pergi mencari-cari dedaunan besar di sekitar pinggir sungai. Ia lalu membuat keranjang-keranjangan dari rakitan daun.


Setelah itu, ia kembali pergi kepada Arda Handara yang kemudian meletakkan ulat-ulat bulu itu di dalam keranjang seperti memanen.


“Kakak, bantu aku mengambili uyut-uyut,” kata Arda Handara.


“Tidak apa-apa, tidak akan mati,” kata Arda Handara.


“Tidak mau, tidak mau, tidak mau!” tolak Barada dengan wajah mengerenyit, sementara kedua kakinya menghentak-hentak di tempat.


“Hahahak!” tawa Arda Handara yang merasa sudah berkuasa atas wanita lebih tua itu.


Arda Handara melanjutkan memanen Ulat Bulu Petang dengan perasaan gembira.


“Di sini, Gusti Pangeran!” teriak Barada menunjukkan.


Pangeran Arda Handara segera datang dan memungut ulat bercahaya itu lalu memasukkannya ke keranjang daun di tangan Barada. Keranjang itu dibuatkan penutup juga oleh Barada yang ternyata memiliki bakat menganyam.


“Hei! Itu Uyut-Uyut Raja!” teriak Arda Handara terkejut sambil menunjuk ke salah satu daun.


Ia melihat seekor ulat bulu berwarna biru yang pada bagian kepalanya berwarna ungu mengilap. Bulu-bulunya yang lebat berwarna biru pula, tetapi kepalanya gundul. Ukuran hewan itu lebih besar dua kali lipat dari sebangsanya.


“Wah wah wah! Ternyata di sini ada Uyut-Uyut Raja!” kata Arda Handara senang.

__ADS_1


Ia lalu mengambil Ulat Bulu Raja dan memamdanginya lebih dulu di telapak tangannya.


“Kak Barada, sini, sini!” panggil Arda Handara agar gadis tanggung itu mendekat.


Arda Handara lebih mendekatkan tangannya ke depan wajah Barada. Sambil wajahnya mengerenyit, Barada memandangi binatang yang ada di telapak tangan si bocah.


“Lihat, Kak. Uyut-Uyut Raja ganteng sekali seperti aku,” kata Arda Handara setengah mendesah.


“Dilihat dari mana gantengnya?” tanya Barada bingung.


“Dari sini!” kata Arda Handara sambil tiba-tiba dengan cepat menempelkan Ulat Bulu Raja ke dahi Barada.


“Aaak!” jerit Barada terkejut bukan main sambil spontan menepis tangan Arda Handara dengan keras. Ia mendelik kepada Arda Handara, seolah lupa bahwa anak itu adalah pangeran.


“Hahahak …!” tawa Arda Handara terbahak-bahak melihat reaksi Barada.


Namun, tiba-tiba dia berhenti tertawa saat menyadari sesuatu.


“Kakak Barada, cepat cari Uyut-Uyut Raja. Itu susah didapat!” teriak Arda Handara terkejut karena Ulat Bulu Raja sudah tidak terlihat ada di mana.


Keduanya segera mencari Ulat Bulu Raja yang jatuh terlempar oleh Barada tadi. Mereka mencari dengan teliti di tempat yang dikira posisi jatuh si ulat. Arda Handara dan Barada juga menyibak-nyibak memeriksa ke bawah batang tanaman berdaun biru itu.


Barada terlihat sesekali menggaruk dahinya karena gatal.


“Nah, itu dia!” seru Arda Handara saat menemukan keberadaan Ulat Bulu Raja.


Sang pangeran segera mengambilnya.


“Kau adalah rajanya uyut-uyut, jadi harus tinggal di kamar khusus,” kata Arda Handara kepada Ulat Bulu Raja di tangannya.


Si ulat lalu dimasukkan ke balik baju bagian punggung. Di sanalah Ulat Bulu Raja bersemayam.


“Gatal sekali,” keluh Barada sambil menggaruk dahinya.


“Hahahak!” saat Arda Handara melihat wajah Barada. Lalu katanya, “Jangan digaruk terus, Kak!”


“Ini gatal sekali,” kata Barada. “Kenapa Gusti Pangeran harus mengerjaiku seperti ini.”


Kini, dahi Barada terlihat seperti bersisik dan berwarna merah. Meski yang terkena sengat bulu si ulat hanya setitik, tetapi area yang bengkak bersisik merah sedahi penuh.


“Hahaha!”


Tiba-tiba terdengar suara tawa kakek-kakek yang oleh Arda Handara disebut Kakek Setan. Keduanya segera memandang ke atas, tapi mereka tidak menemukan sosok Kakek Setan.

__ADS_1


“Kakek Setan! Di mana rumahmu?” teriak Arda Handara.


“Ayo, aku akan membawa kalian ke rumahku. Hahaha!” (RH)


__ADS_2