
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Tulang Karang tersadar oleh karena rasa sakit yang berdenyut-denyut di sejumlah titik pada wajah dan tubuhnya.
Wajah lelaki berhidung pesek itu sudah nyaris tidak dikenali. Selain sudah bengkak di sana dan di sini, darah yang mulai mengering membanjiri sebagian wajahnya. Rupanya satu tamparan dan satu tinju buah kesemek memberi efek yang tidak sesederhana warung tegal, terbukti bengkak yang muncul tidak hanya pada pipi, tapi juga pada satu mata dan jidat sebelah kanan, sehingga terlihat lucu tapi mengibakan.
Namun, tidak ada iba geratis untuk seorang yang dituduh sebagai pengkhianat. Parahnya lagi, mulut Tulang Karang disumpal dengan sebatang bambu agak besar tapi pendek sejengkal. Sumpalan menggunakan bambu itu memaksa bibir Tulang Karang melingkar lebar mengikuti pola lingkaran bambu. Sementara ujung bambu disumpal dengan satu potong paha ayam bakar yang berbau wangi, tetapi lauk itu tidak mengurangi rasa derita yang dirasakan Tulang Karang.
Kini Tulang Karang diikat berdiri di sebuah tiang bambu besar di dalam sebuah ruangan papan yang luas. Ada banyak macam bahan makanan di tempat itu karena tempat tersebut adalah lumbung bahan makanan Perguruan Cambuk Neraka.
Tulang Karang dalam kondisi bertelanjang dada, tapi masih bercelana. Hanya, kali ini celananya melorot sampai ke lutut, membuatnya bertelanjang paha, tapi masih bercawat. Kondisi kedua pergelangan kakinya pun diikat menyatu dengan tiang bambu besar.
Entah, siapa yang punya ide membuat kondisi Tulang Karang seperti itu. Selain wajah, dia juga merasakan sejumlah titik pada bagian tubuhnya berdenyut tidak enak, sangat tidak enak.
Pyar!
Tiba-tiba alam berubah menjadi putih bagi penglihatan Tulang Karang saat ada orang yang menyiramnya dengan seember tepung. Warna putih yang dilihat Tulang Karang seketika berubah warna menjadi kegelapan dan matanya terasa begitu perih karena kelilipan tepung seember.
Maka terlihat luculah Tulang Karang, semua wajah, kepala dan sebagian badannya putih oleh tepung.
“Eeek! Eeek!” jerit Tulang Karang kesakitan sambil berusaha melepaskan diri dari ikatan. Namun, suaranya tertahan oleh bambu bersumpel paha ayam dan tenaganya seolah tinggal ampas-ampasnya saja.
“Pengkhianat!”
Tiba-tiba Tulang Karang terdiam meronta saat mendengar satu suara perempuan tapi warnanya agak kelelakian. Dia mengenal suara itu, yaitu milik Guna Wetong.
Tulang Karang meyakini bahwa sebutan “pengkhianat” itu pasti ditujukan kepada dirinya karena ia memang merasa telah berkhianat.
Ctas!
“Eeek!”
Setelah seorang wanita menyiram Tulang Karang dengan seember tepung, Guna Wetong yang sejak tadi berdiri di depan lelaki berwajah bengkak itu melecutkan cambuknya ke badan kekar di depannya.
Tulang Karang pun menjerit panjang tapi terbatas. Rasa sakit dari lecutan cambuk membuat Tulang Karang meronta-ronta panik ingin bebas seperti burung-burung di hutan. Namun, rontaannya sia-sia.
“Sepuluh cambukan berikutnya jika kau tidak mau menyebut siapa orang yang memerintahkanmu memberi surat kepada orang berkapak tadi malam,” ujar Guna Wetong, datar tapi seperti kabar dari Malaikat Pencabut Nyawa. “Mengangguklah jika kau mau menjawab!”
“Eeek! Eeek!” pekik tertahan Tulang Karang sambil geleng-geleng, dengan mata tetap tertutup.
__ADS_1
Ctas ctas ctas …!
“Eeek! Eeek! Eeek …!”
Maka sepuluh lecutan segera mendera kulit tubuh Tulang Karang, membuatnya menjerit terbatas pada setiap lecutan. Tubuhnya hanya tersentak-sentak kesakitan saat cambuk Guna Wetong melukai kulit tubuhnya.
Darah pun mulai mengalir dari sejumlah luka memanjang pada kulit badan Tulang Karang. Warna merah sangat terang terlihat mengalir di tubuh yang bertepung.
“Dua puluh cambukan jika kau masih menolak menyebut pemimpin pengkhianat itu!” desis Guna Wetong.
“Eeek!” pekik Tulang Karang dengan mulut masih tersumpal sambil geleng-geleng.
Ctas ctas ctas …!
“Eeek! Eeek! Eeek …!” pekik Tulang Karang dengan tubuh tersentak-sentak. Wajah bengkaknya mengerenyit menahan sakit yang teramat perih, lebih sakit dibandingkan dikhianati oleh sang kekasih.
Tanpa ampun, cambukan satu demi satu mendera seluruh tubuh Tulang Karang. Luka bergaris semakin ramai mengecap dan darah semakin banyak yang muncul mengalir, menciptakan lukisan merah pada kamvas putih. Tidak hanya badan, kaki pun terkena cambukan.
“Satu Cambukan Neraka jika kau masih belum mau mengaku!” kata Guna Wetong lagi mengancam, setelah dua puluh cambukan membuat Tulang Karang semakin menderita dan lemah. Kepalanya sudah terkulai, menunjukkan dirinya sudah tidak bertenaga lagi.
Rupanya kali ini Tulang Karang mengangguk lemah, tanda dia tidak siap untuk menanggung derita yang lebih menyakitkan dan pastinya akan berkepanjangan. Sebab, dia pernah merasakan betapa pedihnya jika terkena Cambukan Neraka.
Tidak ada seorang pun yang merindukan Cambukan Neraka di badannya karena rasa sakitnya yang panas bisa berumur satu bulan lamanya. Rasa sakit yang diberikan oleh Cambukan Neraka menjadi momok tersendiri bagi orang-orang perguruan, terlebih bagi mereka yang sudah pernah merasakannya.
“Oooh!” desah panjang Tulang Karang, seolah ia sedang merasakan kenikmatan. Padahal, ia merasakan kenikmatan karena sedikit dari deritanya bisa terkurangi.
“Katakan!” perintah Guna Wetong.
“Orang … yang mengajakku berkhianat, dan menginginkan semua ketua lain mati … adalah Ketua Empat, Anik Remas,” ucap Tulang Karang tersendat-sendat.
Terkejutlah Guna Wetong dan wanita yang bersamanya mendengar pengakuan Tulang Karang.
“Kau jangan berdusta, Tulang Karang!” teriak seorang lelaki tiba-tiba dari ambang pintu.
Lelaki yang tidak lain adalah Garda Tadapan itu berjalan cepat dengan bantuan tongkat penyanggahnya. Ia langsung mendekati Tulang Karang.
Bugk!
Tanpa perhitungan lagi, Garda Tadapan langsung mendaratkan bogem matangnya ke wajah depan Tulang Karang.
“Akk …!” jerit Tulang Karang panjang kali lebar.
__ADS_1
Wajah lelaki berhidung pesek itu semakin hancur. Hidungnya yang pesek kini kian membesar karena tambah bengkak. Darah yang awalnya tertutupi tepung, kembali banjir. Kepala itu kian berdenyut-denyut seolah-olah ingin meledakkan diri.
“Karena kau, Paman Cambuk Enam mati dan saudara-saudara kita mati. Apakah kau ingin menghancurkan Perguruan Cambuk Neraka ini, hah?!” teriak Garda Tadapan di depan wajah Tulang Karang, sampai-sampai ia tidak peduli dengan muncratan ludahnya terhadap wajah Tulang Karang.
“Jika kau sampai berdusta, siksaan lebih sakit akan kau rasakan, Tulang Karang!” ancam Guna Wetong dingin. Lalu perintahnya kepada anak buahnya, “Tambah ikatannya, Sudarsih!”
“Baik, Mak,” ucap wanita bernama Sudarsih patuh.
“Percuma jika kau menutupi sesuatu, Tulang Karang. Kau tidak akan bisa selamat!” ancam Garda Tadapan pula.
Guna Wetong dan Garda Tadapan lalu meninggalkan Tulang Karang seorang diri. Sementara Sudarsih harus menyelesaikan dulu tugasnya.
Di luar pintu lumbung bahan makanan itu, ada dua orang wanita anak buah Guna Wetong yang berjaga.
“Entah kenapa, aku kurang yakin jika ketua yang berkhianat adalah Ketua Empat, Mak,” ujar Garda Tadapan.
“Semua bisa terjadi. Kita tidak bisa tahu apa yang ada di dalam hati orang lain,” kata Guna Wetong dingin. “Kau baru boleh ragu jika Tulang Karang menyebut nama Ketua Lima yang kau percayai.”
“Kenapa bukan orang yang tinggal di perguruan ini yang menjadi pemberi perintah?” pikir Garda Tadapan.
Sementara itu di tempat lain, istri Ketua Dua memutuskan untuk mengundang para tamu perguruan ke kediamannya.
Lunar Maya sudah mengajak suaminya untuk mengundang datang para tamu dan menjamunya, tapi Tolak Berang tidak mau.
“Kau saja yang mengundangnya, aku harus menyambut dan menjamu para ketua yang datang,” kata Tolak Berang kepada sang istri.
Akhirnya Lunar Maya mengirim utusan untuk mengundang Dewi Ara dan para pengawalnya untuk datang ke kediamannya.
Ketika Dewi Ara dan rombongan berjalan pergi menuju ke rumah Ketua Dua, pada saat yang bersamaan ada rombongan puluhan prajurit yang juga baru tiba. Pasukan prajurit berseragam warna biru putih itu mengawal seorang pria gagah bertubuh besar mengenakan pakaian mewah warna perak. Di pinggangnya ada cambuk berwarna merah terang dengan model yang bagus. Lelaki berasesoris seorang pejabat itu memiliki usia di atas empat puluh tahun. Make up bedak membuat wajahnya terlihat lebih mulus dan muda, seperti opa-opa Negeri Jahe.
Lelaki gagah itu adalah Adipati Kadipaten Bojongkolot, namanya Kuritan. Dia adalah putra sulung dari mendiang Ketua Satu dan Ketua Tiga.
Kuritan didampingi oleh seorang wanita muda berpakaian merah terang yang merupakan istrinya. Namanya Curiasa.
Selain didampingi istrinya, ada dua orang lelaki lain nonprajurit yang mengawalnya sangat dekat di belakang. keduanya memiliki usia yang selevel dengan sang adipati. Lelaki jangkung beralis tebal bernama Suragawa. Adapun lelaki yang berkumis tebal bernama Deming Joyo.
Dewi Ara berjalan pada sisi yang lain menuju ke belakang pendapa tanpa tertarik untuk melirik rombongan besar yang datang.
Namun, berbeda bagi Adipati Kuritan yang jenis matanya tajam terhadap makhluk yang bernama wanita. Meski ia melihat keberadaan sosok Dewi Ara hanya sekelebat pandangan dan itupun dari samping, tapi otak lelakinya bisa langsung menyimpulkan bahwa wanita yang berjalan pergi ke sisi belakang pendapa adalah seorang yang cantik jelita.
Sambil berjalan menuju pendapa, Adipati Kuritan sejenak memakukan pandangannya kepada sosok Dewi Ara di antara para pengawalnya, hingga kemudian Dewi Ara hilang di balik bangunan.
__ADS_1
Adipati Kuritan disambut dengan penuh penghormatan dari Ketua Tiga Citari Lenting yang adalah ibunya sendiri, Ketua Dua Tolak Berang dan para petinggi Perguruan Cambuk Neraka. (RH)