Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 25: Denting Kematian


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)* 


 


Meski Kota Bandakawen memiliki pos pemeriksaan bagi setiap orang yang keluar masuk, tetapi itu tidak menjamin bahwa tidak akan ada orang yang masuk ke kota tanpa diketahui.


Salah satu buktinya adalah sosok lelaki bertelanjang dada dan bertelanjang kaki, tapi masih pakai celana lengkap.  Dia masuk ke kota itu tanpa pakai permisi apalagi salam. Mungkin karena dia mau melakukan tindak kriminal sehingga perlu baginya melakukan penyusupan. Namun tiada yang tahu, apakah dia memang berniat menghadang Dewi Ara atau secara kebetulan saja melihat wanita cantik gentayangan sendirian lalu diminati.


Clap!


Lelaki yang tidak terlihat bersenjata itu, tiba-tiba berpindah tempat seperti melakukan teleportasi jarak dekat. Ia yang semula berdiri di bawah lentera minyak antiangin, tiba-tiba telah berdiri dua tombak di depan Dewi Ara sambil tersenyum manis tanpa rasa manis. Sepertinya dia mau pamer kesaktian dan badannya yang berotot kotak-kotak tapi bersudut tumpul.


“Orang-orang asing kurang ajar. Mereka datang ke kota ini hanya untuk membuang air tajinnya di sini. Mereka pantas mati!” desis lelaki berambut panjang terurai itu.


Dewi Ara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap dingin kepada lelaki jelas sakti tapi tidak dikenalnya itu.


“Namaku Denting Kematian. Hahaha! Memang terdengar mengerikan, tetapi aku adalah jenis lelaki yang sangat penyayang. Terbukti, sepuluh tahun aku bertetangga dengan berbagai hewan ternak, mereka semua aman. Hanya sesekali saja mereka aku santap. Hahaha!” ujar lelaki yang masih tergolong muda itu. Sesekali dia tertawa karena merasa lucu sendiri.


Namun, Dewi Ara tidak terhibur oleh lawakan si lelaki yang seret.


“Nisanak yang secantik Dewi Malam, kenapa kau berjalan seorang diri di tengah malam seperti ini?” tanya Denting Kematian.


Dewi Ara tidak menjawab, dia hanya terus memandang wajah lelaki itu.


“Oooh!” desah memekik Denting Kematian sambil menutup lubang mulutnya yang menganga lebar. Dia terkejut. Lalu tanyanya dengan mimik yang heboh, “Nisanak, apakah kau bisu?”


Dewi Ara tidak menjawab dengan kata-kata, tetapi dia menjawab dengan anggukan.


“Oooh, maafkan aku karena telah menunjukkan sesuatu yang mengerikan kepadamu,” ucap Denting Kematian dengan mimik wajah yang menunjukkan rasa menyesal, meski lebih mirip mimik menahan perut yang mules.


Dewi Ara hanya mengangguk sekali.


Namun kemudian, mendadak Denting Kematian berubah ekspresi. Dia menatap tajam kepada Dewi Ara yang begitu jelita. Jika wanita malam yang berwajah terlalu pas-pasan terlihat cantik di dalam keremangan malam, apalagi wanita secantik Dewi Ara. Sebagai lelaki, pastinya Denting Kematian diam-diam tergoda.


Ekspresi Denting Kematian benar-benar berubah, sampai-sampai dia melompat mundur satu tombak lagi, maksudnya menjaga jarak.


“Kau tidak merasa ngeri dengan pemenggalan itu. Kau pasti seorang pendekar. Kau telah membohongiku, Nisanak!” tukas Denting Kematian sambil menunjuk kepada Dewi Ara.

__ADS_1


“Kau seorang pembunuh ….”


“Haaah! Kau bisa bicara!” pekik Denting Kematian heboh sendiri saat Dewi Ara baru bicara tiga kata. Reaksinya itu sampai membuat Dewi Ara terhenti berbicara. “Kenapa tadi kau mengangguk, Nisanak? Kau benar-benar membohongiku. Aku beri tahu kepadamu, aku adalah lelaki yang benci dengan wanita cantik tapi pendusta!”


“Kau begitu mudahnya membunuh orang lain. Pastinya kau seorang pendekar pembunuh,” terka Dewi Ara dengan nada datar.


“Aku memang seorang pembunuh!” tandas Denting Kematian dengan nada lebih perkasa.


“Tidak usah malu-malu memperkenalkan diri jika kau memang adalah seorang pembunuh bayaran,” kata Dewi Ara.


“Aku memang seorang pembunuh bayaran. Aku datang dari jauh ke sini hanya untuk membunuh seseorang,” kata Denting Kematian.


“Ratu Wilasin yang ingin kau bunuh,” terka Dewi Ara.


“Eh, kenapa kau tahu?” kejut Denting Kematian.


“Karena aku adalah Ratu Wilasin.”


“Hahahak!” tawa terbahak Denting Kematian.


“Ciri-cirimu tidak seperti ciri-ciri Ratu Wilasin, Nisanak Jelita,” bantah Denting Kematian. Lalu bentaknya, “Sudah aku katakan tadi, aku benci dengan wanita cantik yang pendusta!”


“Semprong!” bentak Denting Kematian, entah nama apa yang disebutnya, tapi itu nama kue di masa depan. “Aku adalah Pembunuh Ketiga dari Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas. Jadi jangan macam-macam!”


“Penembak Bambu, Cempaka, Telapak Petir, sudah mati di tanganku,” ujar Dewi Ara.


“Appa?!” pekik Denting Kematian dengan mata mendelik dan mulut terbuka lebar. Ekspresi itu tertahan hingga sepuluh hitungan.


Itu bukan ekspresi terpukau, tapi itu mimik syok. Dia terlalu terkejut mengetahui kenyataan bahwa wanita jelita di hadapannya adalah pembunuh ketiga rekannya.


“Apakah kau akan bahagia jika mati di tangan wanita cantik seperti aku?” tanya Dewi Ara.


“Aku memang membenci wanita cantik yang pembohong, tapi tugasku adalah membunuh Ratu Wilasin, bukan wanita lain,” kata Denting Kematian dengan nada yang melemah.


“Kau tidak akan bisa membunuh Ratu Wilasin selagi aku masih hidup, karena aku adalah pelindung Ratu Wilasin. Jika kau berniat membunuhnya, maka aku harus membunuhmu agar kau tidak membunuh Ratu Wilasin,” kata Dewi Ara.


“Siapa sebenarnya kau, Nisanak?” tanya Denting Kematian, tidak lagi memakai sebutan “Jelita”.

__ADS_1


“Apakah kau pernah mendengar nama pendekar Joko Tenang?” tanya Dewi Ara.


“Pendekar tersakti di dunia karena memiliki pusaka Tongkat Jengkal Dewa,” jawab Denting Kematian. Dia banyak mendengar cerita tentang pendekar berbibir merah yang bernama Joko Tenang. Namun kemudian, dia berubah marah lagi, “Kau itu wanita, bukan lelaki. Tidak mungkin kau adalah Pendekar Joko Tenang, meski bibirmu juga berwarna merah!”


“Aku istrinya. Aku Permaisuri Geger Jagad,” kata Dewi Ara datar.


“Appa?!” pekik Denting Kematian yang sejak tadi berisik sekali karena terlalu banyak terkejut.


Denting Kematian terkejut sekali karena dia juga memiliki cerita tentang tokoh hitam bergelar Dewi Geger Jagad yang kemudian julukannya berubah sedikit, menjadi Permaisuri Geger Jagad.


“Kau berbohong lagi, Perempuan Pendusta!” tuding Denting Kematian sambil menunjuk Dewi Ara. “Jika kau adalah salah satu permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil, kenapa kau seorang diri tanpa pengawalan prajurit kerajaan?”


“Apakah orang sakti butuh pengawal?” tanya Dewi Ara santai.


Jleg!


Tiba-tiba sesosok wanita berpakaian biru-biru muncul berkelebat dan mendarat di dekat Dewi Ara.


“Hormatku, Gusti Permaisuri!” ucap wanita yang tidak lain adalah Letus Mimpi. Sepertinya dia sif malam dalam tugas berpatroli.


Terbeliak Denting Kematian saat mendengar Dewi Ara disebut oleh anggota Penendang Delapan itu.


“Apakah orang itu salah satu pembunuh bayaran juga, Gusti? Biarkan aku yang mengurusnya,” kata Letus Mimpi.


“Coba kau tanya Pembunuh Ketiga itu, apakah dia mau bertarung melawanmu atau melawanku!” perintah Dewi Ara.


Letus Mimpi lalu beralih menghadap kepada Denting Kematian.


“Kisanak, bertarunglah denganku,” kata Letus Mimpi.


“Tidak. Tugasku membunuh Ratu Wilasin, bukan bertarung dengan yang lain!” tandas Denting Kematian.


“Tapi kau telah membunuh pengunjung asing kota ini. Sebagai keamanan di kota ini, aku harus melumpuhkanmu dan meringkusmu, Kisanak,” kata Letus Mimpi.


Sess!


Tiba-tiba kedua kaki Letus Mimpi bersinar kuning sebatas pergelangan kaki.

__ADS_1


“Sudah aku katakan, aku tidak bertarung dengan orang lain!” seru Denting Kematian cepat, sambil menunjuk Letus Mimpi.


“Aku juga sudah mengatakan, kau harus aku ringkus karena telah membunuh!” tegas Letus Mimpi, lalu dilanjutkan dengan berlari maju dan melompat menerjang Denting Kematian. (RH)


__ADS_2