
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Warga ibu kota Jayamata benar-benar dilanda ketegangan ketika mendengar bahwa Pasukan Keamanan Ibu Kota telah menjatuhkan senjata alias menyerah.
Setelah lobi Mahapatih Duri Manggala, akhirnya Panglima Tarikurat sepakat tidak melawan dan membiarkan pasukan Kerajaan Sanggana Kecil masuk ke Ibu Kota.
Pasukan yang tidak mengerti apa isi perundingan yang dilakukan oleh para pemimpin, hanya patuh. Terpendam rasa kecewa bahwa panglima mereka memilih menyerah, tetapi ada perasaan lega juga karena itu berarti mereka tidak perlu merasakan luka, apalagi sampai merasakan mati karena mati itu tidak seindah kisah cinta hantu yang gentayangan.
Warga Ibu Kota lebih panik di dalam rumah saat mendengar derap kaki pasukan yang begitu ramai lewat di depan dan sisi-sisi rumah mereka. Ketika mereka mengintip, karena mengintip itu geratis, mereka bisa melihat barisan prajurit yang lewat seakan tanpa henti.
Bukan hanya warga Ibu Kota, para pejabat dan prajurit yang ada di dalam benteng Istana juga ikut panik.
“Lapooor! Pasukan Keamanan Ibu Kota sudah menyerah!” teriak prajurit yang datang berlari ke depan Wisma Keprabuan.
Orang yang menerima laporan itu ternyata bukan Prabu Banggarin langsung, tetapi Komandan Bengal Banok. Prabu Banggarin masih dalam posisi melaksanakan semadi langit.
Tidak berapa lama waktu berlalu ….
“Lapooor! Pasukan Sanggana Kecil sudah memasuki Ibu Kota!”
Lagi-lagi laporan itu masih diterima dan ditampung oleh Komandan Bengal Banok.
“Lapooor! Benteng Istana sudah dikepuuung!” teriak prajurit pelapor yang lain, yang datang sepenanakan nasi kemudian.
“Kita berperaaang!” Tiba-tiba terdengar teriakan kemarahan dari dalam Wisma Keprabuan.
Suara menggelegar itu disusul dengan kemunculan sosok Prabu Banggarin yang sudah dalam kondisi mengenakan pakaian perang.
“Siapkan semua pasukanmu, Bengal Banok!” perintah Prabu Banggarin.
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Bengal Banok mau tidak mau.
Sebenarnya Bengal Banok juga dilanda kebingungan dengan perkembangan radikal yang terjadi di Ibu Kota. Kondisi itu jelas membuyarkan semua rencananya. Ia justru menduga Komandan Kumbang Draga lebih beruntung karena berada di luar Ibu Kota.
Pada saat itu, ribuan Pasukan Ular Gunung membentuk barisan berlapis-lapis beberapa puluh tombak dari dinding benteng Istana. Posisi mereka masih cukup jauh dari jangkauan anak panah pasukan panah yang berjejer di balik pagar atas benteng.
Di barisan depan, terlihat dua srikandi jelita sedang duduk di atas punggung kudanya. Di belakangnya ada Panglima Bidar Bintang dan pasukan pendekar. Salah satunya tidak berkuda, tapi berdomba, yang ditunggangi oleh Domba Hidung Merah.
Di belakang pasukan pendekar adalah pasukan berkuda yang berjumlah ratusan ekor, lengkap dengan prajurit penunggangnya. Setelahnya adalah pasukan pejalan kaki yang sudah membentuk formasi pagar betis mengepung benteng Istana.
Di antara para pemimpin pasukan Kerajaan Sanggana itu tidak terlihat daun telinga Mahapatih Duri Manggala dan Panglima Tarikurat, yang sebelumnya telah menyerah sebelum berperang. Itu karena mereka sedang minum kopi pahit tanpa gula di kediaman Mahapatih. Mereka tinggal terima beres, apakah hasilnya baik-baik saja atau ada pertumpahan darah.
Sementara itu, di atas benteng Istana, tepatnya di dekat tiang bendera Kerajaan Baturaharja, berdiri Panglima Dendeng Boyo, selaku Kepala Keamanan Istana.
__ADS_1
Seeet!
Permaisuri Ginari menyentilkan jari kelingkingnya. Dari sentilan itu melesat sinar kuning kecil sebesar kuku, melesat jauh ke atas benteng, ke arah posisi Panglima Dendeng Boyo.
Melihat hal itu, Dendeng Boyo justru diam saja karena dia yakin, serangan dari ilmu yang bernama Sentilan Peri Cantik itu tidak menargetkannya.
Ctar!
Keyakinan Dendeng Boyo ternyata benar. Sinar kuning itu mengenai tiang bendera kerajaan hingga bukan lagi patah, tapi hancur tiangnya dan mementalkan benderanya. Meski demikian, tetap saja Panglima Dendeng Boyo yang berusaha bersikap tenang terkejut.
“Panglima Dendeng Boyo!” seru Panglima Bidar Bintang lantang. “Jika Prabu Banggarin tidak menyerahkan diri, maka semua orang yang ada di benteng dan di dalam benteng akan kami basmi!”
“Permintaan kalian akan segera aku sampaikan kepada Gusti Prabu Banggarin!” sahut Panglima Dendeng Boyo yang sebenarnya tidak ingin melakukan perlawanan. Namun, dia juga tidak mau terlihat tunduk mentah-mentah. Ia harus terlihat tunduk dalam sikap yang matang.
Ketika Prabu Banggarin sedang menaiki kereta kuda perangnya yang dikawal oleh seratus Pasukan Pengawal Prabu pimpinan Komandan Bengal Banok, Penasihat Ranggasewa yang sudah menunggu sejak dini hari, muncul menghadang rombongan dengan berjalan kaki.
Karena yang menghadang rombongan adalah pejabat tinggi, maka Prabu Banggarin memerintahkan sais untuk berhenti.
“Mohon ampunanmu, Gusti Prabu!” ucap Ranggasewa sambil berlutut di tanah jalanan Istana.
“Apa yang kau lakukan, Penasihat Ranggasewa?!” tanya Prabu Banggarin dengan nada agak membentak.
“Mohon ampun, Gusti Prabu. Hamba menyarankan agar Gusti Prabu melakukan perundingan dengan pemimpin pasukan Kerajaan Sanggana Kecil. Jika Gusti Prabu salah langkah, nanti akan jadi penyesalan yang besar,” kata Ranggasewa dengan tetap bersujud di tanah.
Tiba-tiba dari arah benteng muncul seekor kuda berlari kencang yang ditunggangi oleh seorang prajurit.
“Lapooor!” teriak prajurit itu sambil melompat turun setelah mengerem kudanya dan langsung bersujud di belakang Ranggasewa.
“Katakan, Prajurit!” perintah Prabu Banggarin.
“Mohon ampun, Gusti Prabu. Pemimpin pasukan musuh memintah Gusti Prabu untuk menyerahkan diri!” teriak si prajurit pembawa pesan.
“Keparat luar biasa! Sungguh penghinaan!” maki Prabu Banggarin dengan wajah menunjukkan kemarahan yang tinggi. Lalu perintahnya, “Minggirlah, Penasihat! Jika kau tidak ingin berperang bersamaku, maka berakhirlah jabatanmu!”
Penasihat Ranggasewa segera bangun dan menepi. Demikian pula dengan prajurit pelapor.
“Maju!” perintah Prabu Banggarin.
Maka sais pun melanjutkan perjalanannya menuju benteng Istana.
“Hamba berharap Gusti Prabu berpikir dengan jernih!” sahut Ranggasewa lagi saat rombongan itu melintas di hadapannya.
Tampak Komandan Bengal Banok menatap tajam kepada Ranggasewa. Pendekar tua itupun balas menatap Bengal Banok yang berkuda di belakang kereta kuda Prabu Banggarin.
__ADS_1
Sementara di garis depan, dua pasukan sama-sama menunggu perintah dan menunggu perkembangan selanjutnya.
“Gusti Prabu tibaaa!” teriak prajurit di dalam benteng Istana.
Dua permaisuri dan barisan depan pasukan Sanggana Kecil juga mendengar notifikasi dari balik tembok Istana itu.
“Bagaimana, Kakak Ginari?” tanya Permaisuri Kerling Sukma kepada madunya. Usianya memang sedikit lebih muda dibandingkan dengan Permaisuri Tangan Peri.
“Tetap sesuai rencana. Sejauh ini berjalan seperti yang kita inginkan,” jawab Permaisuri Ginari.
“Sembah hormat kami, Gusti Prabu!” seru banyak suara dari balik benteng Istana.
Ucapan penghormatan dari banyak prajurit Kerajaan Baturaharja itu bisa memberi gambaran perkembangan yang terjadi di balik benteng.
Tidak berapa lama, muncullah sosok lelaki tua yang mengenakan pakaian perang berwarna merah. Dialah Prabu Banggarin. Pakaian perang yang terbuat dari kulit tebal itu menjadi pelindung bagi sebagian anggota tubuh sang prabu.
Prabu Banggarin segera melemparkan pandangannya. Ketika melihat formasi pasukan Kerajaan Sanggana Kecil dan jumlahnya, rasio sang prabu sudah bisa mengkalkulasikan hasil yang akan diraih jika benar-benar terjadi perang.
Ia pun langsung bisa mengenali salah satu permaisuri yang memimpin pasukan.
“Permaisuri Mata Hijau,” sebut Prabu Banggarin ketika mengenali wanita cantik jelita bermata hijau terang. “Lalu siapa wanita berjubah hitam itu?”
Prabu Banggarin memang sudah beberapa kali bertemu dengan para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil di masa lalu, tetapi dia nyaris tidak pernah bertemu dengan Permaisuri Ginari atau tidak sama sekali.
“Gusti Prabu Banggarin!” sebut satu suara wanita datar, tapi suaranya terdengar jelas dan menggema.
Sangat jelas bahwa panggilan itu diucapkan dengan penyisipan tenaga dalam, sehingga suaranya sampai ke atas benteng.
“Menyerahlah!” perintah Permaisuri Kerling Sukma yang tadi menyebut Prabu Banggarin.
“Untuk kejahatan apa aku harus menyerah?!” teriak Prabu Banggarin yang juga bertenaga dalam, yang jelas itu balasan yang tidak bersahabat sebagai seorang raja taklukan di bawah Kerajaan Sanggana Kecil.
“Kau telah membangkang. Lihatlah bukti pembangkanganmu saat ini!” tandas Permaisuri Kerling Sukma.
Terkejut Prabu Banggarin mendapat sekakmat. Ia jelas tidak bisa membantah tudingan Permaisuri Mata Hijau karena memang apa yang dia lakukan barusan adalah bentuk pembangkangan.
“Apa boleh buat, aku sudah bertekad berperang,” pikir Prabu Banggarin. Lalu ia pun mencari-cari dalih atas penentangannya, “Aku membangkang karena pasukan Sanggana Kecil masuk ke wilayah Baturaharja tanpa pemberitahuan terlebih dahulu!”
Zersss!
Tiba-tiba dari dalam tubuh Permaisuri Kerling Sukma melesat keluar sinar kuning besar berwujud ular raksasa, tetapi dia bersayap seperti sayap kalong besar.
Terkesiap Prabu Banggarin melihat keluarnya penghuni Cincin Mata Langit milik Permaisuri Mata Hijau. Memang, ia baru pertama kali melihat makhluk itu dan dia tidak tahu jika permaisuri Sanggana Kecil memiliki kesaktian seperti itu.
__ADS_1
Bukan hanya Prabu Banggarin yang terkesiap, semua prajurit dan pendekar yang baru kali pertama melihat kemunculan makhluk penghuni Cincin Mata Langit terkejut. Kemunculan makhluk aneh itu bahkan menjatuhkan mental pasukan Baturaharja sebelum bertempur. (RH)