Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
PHT 25: Penyusupan Sang Pangeran


__ADS_3

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*


 


Ada tiga pedati kuda yang kini berada di bagian belakang dapur Istana. Setiap pedati hanya memiliki satu sais tanpa kernet model angkot zaman depan. Mereka yang mensaisi, mereka pula yang melakukan bongkar muat. Saat itu, ketiga pedati membawa beraneka sayuran untuk dapur Istana.


Kegiatan bongkar muatan diawasi oleh seorang prajurit. Ia mengawasi sambil duduk menyeruput si air hitam.


Ketika sedang proses menurunan sayur, tiba-tiba Pangeran Arda Handara muncul dari dalam dapur.


“Paman, aku bantu menurunkan sayurnya,” ujar Arda Handara menawarkan jasa.


“Eh, jangan, Den. Tidak usah, ini pekerjaan orang besar!” tolak si bapak berkumis yang diajak bicara oleh Arda Handara. Lelaki bernama Gutang itu tidak tahu bahwa anak itu adalah seorang pangeran, tetapi dari penampilan dan kebersihan kulitnya, menunjukkan bahwa anak itu pasti anak dari seorang pejabat.


“Tidak apa-apa, Paman. Guruku mengajarkan, berbuat baiklah walaupun untuk hal yang kecil. Berbuat baik itu harus dibiasakan sejak kecil. Nah, apa lagi aku sekarang sudah besar,” tandas Arda Handara dengan bangga.


“Oh, seperti itu ya? Baiklah jika seperti itu, tapi yang ringan-ringan saja,” kata Gutang seraya tertawa kecil.


“Baik, Paman.”


Maka, Arda Handara membantu ikut menurunkan sayur-sayuran, tetapi dalam jumlah yang sesuai dengan tenaga dan badannya.


Prajurit yang tahu bahwa itu adalah Pangeran Arda Handara, membiarkan saja. Ia tidak mau tertimpa masalah jika menegur tindakan pangeran nakal itu. Bisa-bisa dirinya dihadiahi uyut-uyut (ulat bulu).


Sambil menurunkan sayur, Arda Handara juga sesekali melirik si prajurit diam-diam.


Bak!


Pada satu adegan, Arda Handara menurunkan salah satu keranjang tomat yang cukup berat. Bisa ia turunkan dari bak pedati, tapi beratnya membuat bokong keranjang jatuh terhempas ke tanah. Bebeberapa butir tomat jatuh bergulir ke tanah.


“Hahaha!” tawa Arda Handara sambil buru-buru memunguti tomat yang menggelinding ke bawah pedati.


Saat memunguti tomat-tomat itu, Arda Handara memerhatikan bagian bawah pedati.


“Ini biar Bapak yang bawa, Den. Berat,” kata Gutang sambil meraih keranjang tomat.


“Iya, Pak. Memang berat. Hehehe!” jawab Arda Handara sambil meletakkan tomat yang dipungutnya ke keranjang.


Gutang pergi membawa keranjang tomat masuk ke dalam dapur, bersama kedua rekannya yang juga membawa bawaan yang lain.


Tinggallah Arda Handara sendiri. Ia lalu pergi begitu saja, meski sayuran masih ada di bak pedati. Prajurit yang melihat sang pangeran lenggang singkong, hanya tersenyum dan geleng-geleng.

__ADS_1


“Rupanya Gusti Pangeran punya jiwa kebaikan juga,” ucapnya lirih.


Sruuup!


Kopi luwak merah ia seruput dengan sengaja speaker-nya diaktifkan, agar terdengar nikmat bagi yang mendengarnya.


“Nikmat kopinya, bergairah hidupnya,” ucap si prajurit bak bintang iklan, selagi tidak ada orang yang melihatnya.


Ketiga sais pedati sayur kembali keluar dan menyelesaikan sisa pekerjaannya.


Singkat cerita, semua sayur pun usai dimasukkan ke dalam dapur Istana. Seorang pelayan wanita keluar memberikan ketiganya minuman penyejuk tenggorokan dan jiwa.


Tanpa ada yang melihat, wajah Arda Handara muncul melongok dari balik batang pohon yang ada tidak jauh dari dinding dapur. Rupanya anak pendek dan kekar itu -untuk kategori anak-anak- sedang bersembunyi dan sepertinya sedang menunggu pula.


Ketika ketiga pedati kuda bergerak meninggalkan belakang dapur Istana, secara diam-diam Arda Handara berlari tanpa suara mengejar pedati yang paling belakang. Maklum pedati zaman sekarang belum ada spion, jadi sais pun tidak ada yang mengetahui pergerakan bocah itu.


Pedati yang berlari pelan, membuat Arda Handara dengan mudah menyusup masuk ke bawah pedati. Dengan lihai, ia pun menempel seperti cecak di bawah pedati.


Rupanya, pada bawah bak pedati ada bagian-bagian yang membuat seorang anak kecil bisa dengan nyaman bergelayutan atau menempel. Ukuran bak yang lebar membuat Arda Handara dengan mudah tidak terlihat.


Jika anak biasa, mungkin akan berbeda ceritanya. Arda Handara adalah anak yang sudah terlatih ilmu olah kanuragan, sehingga pegangannya pada bawah bak pedati kuat, terlebih ada bagian yang membuat kakinya enak memeluk.


Para prajurit yang sudah mengenal ketiga sais pengantar sayur tersebut, hanya memeriksa secukupnya pada bagian atas pedati. Setelah itu diizinkan keluar dari benteng Istana.


Keluar dari Gerbang Naga, otomatis ketiga pedati mulai memasuki ibu kota Sanggara.


Ketika pedati berjalan di jalan utama Ibu Kota, Arda Handara sesekali melongokkan kepalanya untuk mengintip pinggir jalan yang ramai oleh aktivitas warga.


Karena tangan dan kedua kakinya sudah merasa sangat pegal, Arda Handara akhirnya melepaskan diri dengan kaki lebih dulu yang turun. Arda Handara akhirnya turun dengan baik dan lepas. Ia ditinggalkan oleh pedati tanpa diketahui.


Ada beberapa warga yang melihatnya, tetapi mereka abai, karena mereka tidak mengenal Arda Handara.


Sang pangeran buru-buru berlari kencang keluar dari jalan. Ia memilih duduk beristirahat di samping salah satu bangunan. Di situ dia tersenyum-senyum sendiri sambil memijiti tangannya.


Setelah kedua tangannya sudah berhenti gemetar karena lama berpegangan di bawah pedati, Arda Handara memutuskan pergi.


Namun, baru saja Arda Handara berjalan di jalanan utama, mendadak ia berhenti karena terkejut. Arda Handara melihat keberadaan Surya Kasyara dan Sugigi Asmara yang dengan mesranya berjalan bergandeng tangan di seberang.


Buru-buru Arda Handara berlari masuk ke dalam rok seorang pendekar wanita yang sedang berjalan bersama rekan wanitanya yang lain.


“Anak nakal sialan!” jerit si pendekar wanita memaki karena terkejut area pribadinya disusupi.

__ADS_1


Pak!


“Aw!” pekik Arda Handara yang gelagapan lalu buru-buru berlari pergi sambil tubuhnya membungkuk.


“Dasar anak setan, masih kecil sudah mesum!” teriak pendekar wanita muda itu begitu kesal kepada Arda Handara yang sudah menjauh.


“Hihihi!” tawa rekannya.


“Untung anak kecil, jika orang besar ….”


“Kau akan membiarkannya?” tanya rekannya sambil terus tertawa.


“Jika orang besar, aku pukul dengan tenaga dalam!”


“Hahaha!” tawa Surya Kasyara yang melihat insiden itu, tapi tidak melihat wajah Arda Handara karena anak itu berlari menjauh dengan cara membungkuk.


“Anak-anak sekarang nakalnya memang keterlaluan,” kata Sugigi Asmara sambil geleng-geleng kepala.


Mereka berdua melanjutkan jalan-jalannya. Memang sering keduanya menitipkan anak-anak kepada sang guru, lalu keduanya pergi berpacaran ulang.


Arda Handara terus berlari hingga agak jauh.


“Wah, rupanya di sini banyak orang yang mengenalku,” ucap Arda Handara kepada dirinya sendiri. “Aku harus menyamar.”


Ia lalu tengak-tengok mencari sesuatu. Sesuatu itu apa saja yang bisa digunakan untuk menyamar.


“Ah, itu ada tahi kuda,” ucap Arda Handara. “Jangan tahi kuda, tapi itu saja, bokong kuali.”


Arda Handara lalu berlari menyelinap ke belakang sebuah kedai. Dengan santainya dia menyelinap ke bagian belakang kedai, di mana di sana ada dua tungku terbuka. Salah satu tungku ada kuali kosong di atasnya.


Tanpa ragu dan tanpa berpikir berliku, Arda Handara menjamah bokong kuali. Untuk bokong yang ini, tidak ada hubungannya dengan pikiran mesum.


Telapak tangan yang hitam lalu diusapkan ke wajahnya, membuat wajah itu cemong seperti pasukan khusus yang akan menyusup ke markas bandar togel.


Setelah yakin wajahnya sudah seperti monyet, Arda Handara lalu berlari pergi. Dengan tampilan wajah seperti itu, Arda Handara percaya diri berjalan bebas di jalanan Ibu Kota. Meski banyak orang yang melihat kepadanya, tetapi dia haqqul yaqin bahwa tidak ada orang yang akan mengenalinya sebagai pangeran.


“Ah, ini jalan yang pernah dikatakan oleh Paman Mahapati,” ucap Arda Handara saat tiba di sebuah perempatan besar.


Meski itu bukan perempatan lampu merah, tetapi jalan itu terlihat ramai, bahkan terlihat ada beberapa orang berpakaian pengemis. Hukum Kerajaan Sanggana Kecil menjamin keamanan hidup para pengemis, dengan syarat tingkat kemiskinannya memenuhi standar nasional dan mereka tidak mencuri barang orang lain, kecuali barang milik sendiri.


Tanpa ragu, Arda Handara berlari mengikuti jalan yang menuju ke timur. (RH)

__ADS_1


__ADS_2