
*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*
Hampir satu pekan lamanya Pangeran Bewe Sereng menjalani masa pengobatan di tangan Tabib Istana, yaitu Tabib Rakitanjamu. Statusnya sebagai seorang pangeran membuatnya mendapat penanganan langsung dari Tabib Rakitanjamu.
Selama menjalani pengobatan, Pangeran Bewe Sereng belum pernah bertemu dengan Prabu Dira Pratakarsa Diwana atau Ratu Tirana.
Pagi ini Pangeran Bewe Sereng diundang menghadap kepada Prabu Dira dan Ratu Tirana. Kedatangannya ditunggu di dermaga Telaga Fatara sambil pasangan penguasa kerajaan itu berjemur diri menyerap manfaat sinar matahari pagi.
Kedatangan Pangeran Bewe Sereng dikawal oleh sejumlah prajurit yang ditugaskan menjemput.
Melihat orang yang ditunggu sudah datang, Prabu Dira dan Ratu Tirana berdiri menyambut sebelum lelaki yang jauh lebih tua itu turun menghormat.
“Hormat sembahku, Gusti Prabu!” ucap Pangeran Bewe Sereng sambil menghormat ala Negeri Pulau Kabut, yaitu membungkuk empat puluh lima derajat dengan telapak tangan berdiri tegak menempel di dahi, sementara tangan kiri setengah merentang di samping badan.
“Silakan, Pangeran. Tidak perlu sungkan,” kata Prabu Dira.
“Silakan duduk, Paman,” kata Ratu Tirana.
Di dermaga itu memang tersedia sejumlah kursi permanen yang berfungsi sebagai tempat duduk untuk menikmati alam, khususnya keindahan Telaga Fatara.
“Bagaimana kondisi, Pangeran?” tanya Prabu Dira seraya tersenyum kecil, menunjukkan keramahannya.
“Berkat kemurahan hati Gusti Prabu dan Gusti Ratu, aku sudah sehat sempurna,” jawab Pangeran Bewe Sereng santun dan menunjukkan kerendahan dirinya.
“Aku dengar bahwa Pangeran berniat menantangku?” tanya Prabu Dira dengan santai.
Sementara Ratu Tirana tidak henti-hentinya menunjukkan senyum keramahan.
“Oh iya. Itu … itu memang benar. Namun, kelancanganku telah membuka mataku. Aku berterima kasih kepada Permaisuri Mata Hati yang tidak membunuhku. Aku tarik niatanku untuk menantang Gusti Prabu. Ternyata kesaktian Raja Joko Tenang bukan isapan kelingking belaka,” jawab Pangeran Bewe Sereng agak kikuk.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa ringan Prabu Dira.
“Kami sudah memahami apa dari niatan Paman datang ke Sanggana Kecil. Namun, kami ingin mendengar kembali dengan jelas maksud dari Paman tersebut,” ujar Ratu Tirana.
“Aku berasal dari Negeri Pulau Kabut, sebuah negeri yang tersembunyi oleh kabut di tengah lautan. Namun, negeri tetangga kami, yaitu Negeri Karang Hijau telah menguasai dan menjajah Negeri Pulau Kabut. Raja dan permaisuri kami telah dibunuh. Putri Mahkota telah mengutusku untuk meminta bantuan kepada Raja Joko Tenang. Keluarga Istana Kabut Kuning dan rakyat Negeri Pulau Kabut ingin bebas dari penindasan dan pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang Negeri Karang Hijau. Orang-orang Negeri Karang Hijau memiliki kesaktian yang tinggi-tinggi yang tidak bisa kami kalahkan,” kisah Pangeran Bewe Sereng.
“Lalu siapa yang punya ide untuk menantangku bertarung lebih dulu? Apakah Pangeran atau Putri Mahkota?” tanya Prabu Dira.
“Itu ideku, Gusti Prabu,” jawab Pangeran Bewe Sereng.
“Aku sebagai seorang raja tentunya tidak bisa mempercayai Pangeran begitu saja. Kita baru kali ini bertemu, baru kali ini pun kami mendengar nama negeri asal Pangeran. Jangan salahkan jika kami curiga bahwa ini adalah cerita perangkap dari musuh-musuh kami,” tandas Prabu Dira.
“Aku mohon, Gusti Prabu!” ucap Pangeran Bewe Sereng sambil turun dari kursi dan berlutut dua kaki di depan kaki Prabu Dira. “Jika memang Gusti Prabu tidak bisa menyelamatkan Kerajaan Kabut Kuning kami, aku mohon selamatkan nyawa rakyat kami yang tidak berdosa. Rakyat kami terdiri dari kaum lemah, orang tua, wanita dan anak-anak. Aku yakin, Gusti Prabu dan Gusti Ratu memiliki welas asih kepada kaum yang tertindas.”
“Bangunlah, Pangeran!” perintah Prabu Dira sambil mengangkat kedua lengan Pangeran Bewe Sereng.
Lelaki separuh baya itu kembali berdiri lalu duduk di kursinya.
“Apa yang Kakang Prabu pikirkan tidak salah. Paman datang kepada kami benar-benar dengan tanpa tali ikatan yang bisa membuat kami tanpa ragu membantu. Jika Kakang Prabu ingin berangkat ke Pulau Kabut, tentunya itu keputusan yang tanpa dasar. Jadi, jika kita ingin bertaruh, antara benar dan perangkap memiliki kemungkinan yang imbang. Namun, satu angka dari rasa kemanusiaan dan sifat kependekaran kita seharusnya membuat kita cenderung memilih membantu,” kata Ratu Tirana.
“Tentunya kami bukan bangsa yang tidak berterima kasih. Jika Gusti Prabu menginginkan kerajaan kami tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Sanggana Kecil, kami tidak keberatan, asalkan kami dan rakyat Pulau Kabut bisa kembali hidup bebas dan damai,” tandas Pangeran Bewe Sereng.
“Hahaha! Tidak perlu sampai seperti itu, Pangeran,” kata Prabu Dira sambil tertawa rendah, agar terkesan sebagai raja yang bijak dan selalu berwibawa serta bersahabat.
“Berapa lama perjalanan berkuda untuk sampai ke Negeri Pulau Kabut?” tanya Ratu Tirana.
“Sekitar tiga pekan darat dan laut,” jawab Pangeran Bewe Sereng.
“Baiklah. Aku harus merundingkannya dulu dengan Ratu dan para permaisuriku,” kata Prabu Dira mengambil keputusan sementara.
“Baik, Gusti Prabu. Aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” ucap Pangeran Bewe Sereng lalu berdiri dan menghormat kembali.
__ADS_1
Siang itu juga, Prabu Dira mengumpulkan semua istrinya, plus Mahapati Batik Mida di Perpustakaan Alam Semesta.
Untuk perkara khusus yang tidak menyangkut urusan wilayah kerajaan, Prabu Dira hanya melibatkan ratu dan para permaisurinya, ditambah Mahapati Batik Mida untuk dimintai pertimbangannya. Sedangkan untuk membahas berbagai hal tentang berjalannya pemerintahan dan untuk kesejahteraan rakyat, Prabu Dira baru meminta masukan-masukan dari dua orang penasihat, Mahapati Batik Mida dan para menteri.
“Jika Gusti Prabu mengirim orang atau pasukan ke Negeri Pulau Kabut, memang akan ada dua kemungkinan, yaitu apa yang diceritakan oleh Pangeran Bewe Sereng adalah benar adanya, dan kemungkinan kedua adalah ini jebakan tingkat tinggi, karena Pangeran Bewe Sereng sampai mempertaruhkan nyawa datang berdusta ke mari. Namun, jika Gusti Prabu memutuskan untuk mengirim utusan, sebaiknya orang yang justru akan merugikan musuh jika ini memang benar adalah jebakan,” kata Mahapati Batik Mida.
“Menurutku Pangeran Bewe Sereng tidak berdusta, aku merasakannya ketika bertarung dengannya. Hanya caranya saja yang membuatku marah. Namum, jika Kakang Prabu ingin berhati-hati, utus saja salah satu Dewi Bunga,” kata Permaisuri Dewi Mata Hati.
“Jika kita mengirim utusan untuk membantu Pulau Kabut, kita akan mendapat beberapa keuntungan. Pertama, pengaruh Kerajaan Sanggana Kecil akan semakin luas. Kedua, kita memiliki kerajaan sahabat yang nantinya akan membuka jalur perdagangan baru. Ketiga, kita bisa menyingkirkan salah satu sekutu dari Negeri Tanduk, yang artinya kekuatan lawan akan berkurang saat perang besar nanti terjadi,” ujar Permaisuri Yuo Kai dengan bahasa lokal yang fasih.
“Aku sangat sependapat dengan Kakak Permaisuri Negeri Jang,” sahut Permaisuri Sandaria semangat, lalu tiba-tiba tersenyum menggemaskan, membuat Prabu Dira selalu tersenyum jika melihat permainan mimik gemasnya.
“Aku pikir kau punya pemikiran yang berbeda, Permaisuri Serigala,” timpal Permaisuri Kerling Sukma.
“Hihihi!” Permaisuri Sandaria hanya menanggapi dengan tawanya.
“Karena permintaan bantuan ini diperintahkan langsung oleh Putri Mahkota Negeri Pulau Kabut, memang lebih baik Kakang Prabu mengutus salah satu dari kami ke sana, atau salah dua dari kami,” kata Permaisuri Getara Cinta, yang ujung kalimatnya membuat mereka tersenyum berjemaah.
“Baiklah. Jika demikian, aku bertanya kepada para istriku yang semuanya tersayang. Siapa yang ingin mengajukan diri untuk diutus ….”
“Aku, Kakang Prabu!” sahut Permaisuri Dewi Ara cepat sehingga memangkas kata-kata Prabu Dira yang belum mencapai klimaksnya.
“Yaaah, padahal aku juga ingin mengajukan diri,” ucap Permaisuri Ginari kecewa.
“Bagaimana jika yang Kakang Prabu utus adalah kami bertiga? Kakak Permaisuri Geger Jagad, Permaisuri Tangan Peri dan aku,” usul Permaisuri Kusuma Dewi.
“Harus satu. Jika dua permaisuri atau lebih, itu akan menjatuhkan kehormatan kita sebagai Kerajaan Sakti,” tolak Permaisuri Nara.
“Baiklah, aku putuskan untuk mengutus Permaisuri Geger Jagad,” tandas Prabu Dira. “Dan karena Permaisuri Geger Jagad akan pergi lama, jadi malam ini aku wajib bermalam di Istana Dewi Awan.”
“Baik, Kakang Prabu. Aku patuh dengan senang hati,” ucap Permaisuri Dewi Ara seraya menjura hormat seperlunya. (RH)
__ADS_1