
*Penakluk Hutan Timur (PHT)*
Akhirnya kapal yang bernama Elang Telaga itu sudah tiba di tengah-tengah Telaga Fatara yang luas.
“Izinkan aku untuk terjun menyelam, Gusti Ratu!” ucap Alma Fatara kepada Ratu Tirana.
“Silakan, Gusti Ratu,” ucap Ratu Tirana.
Alma Fatara lalu mengangguk tersenyum kepada Permaisuri Getara Cinta, Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Sandaria.
Jbur!
Setelah itu, tanpa lepas baju lebih dulu, Alma Fatara langsung melompat terjun ke air. Kecuali Permaisuri Sandaria, yang lainnya bisa melihat tubuh Alma Fatara yang masuk ke dalam air kemudian berenang selincah ikan besar.
Ratu Tirana dan semuanya hanya bisa terkejut melihat Alma Fatara berenang cepat ke sana ke sini layaknya ikan. Alma Fatara berenang tidak lagi menggunakan dayungan kedua tangan, tapi lebih menggunakan liukan badan.
Setelah berenang berputar di bawah permukaan air agak lama tanpa mengambil napas, tiba-tiba Alma Fatara bergerak lebih dalam dan melompat keluar dari dalam air. Ia mengudara seperti lompatan ikan lumba-lumba.
Setelah terbang ke udara cukup tinggi seperti ikan sirkus, Alma Fatara kembali masuk ke dalam air. Namun, untuk kali ini, Alma Fatara telah menghilang menyelam menuju ke dasar yang dalam.
Sementara itu, Pasukan Penguasa Telaga menurunkan sauh besar agar perahu tidak ke mana-mana.
Di kedalaman Telaga Fatara, Alma Fatara terus berenang. Matanya tetap terbuka. Untuk saat ini dia menahan napas. Dia belum menggunakan ilmu Hidup Tanpa Hidung yang bisa membuatnya tidak bernapas melalui hidung, tetapi melalui kuku jari dan kaki. Jangan tanya bagaimana proses cara bernapas semacam itu.
Tidak butuh waktu lama bagi Alma Fatara untuk bertemu dengan penghuni Telaga Fatara yang buas, yaitu ikan pemangsa sebesar sapi.
Ikan besar berwarna perak itu meluncur cepat ke arah Alma Fatara lalu membuka mulutnya yang lebar dan bergigi gergaji ketika mendekat.
Namun, dengan mudahnya Alma Fatara melesat meliuk di dalam air, membiarkan si ikan berlalu tanpa bayar uang keamanan.
Ikan tersebut tentunya tidak mau ditertawakan oleh Alma Fatara. Ia kembali berputar balik kanan. Ia kembali berenang ke arah posisi Alma Fatara. Lagi-lagi mudah bagi Ratu Siluman menghindari serangan si ikan.
Sepasang mata Alma Fatara agak melebar ketika dua ikan besar lain yang berbeda model tubuh dan warnanya datang mendekat tanpa senyum. Namun Alma Fatara tidak gentar. Meski tidak ada senyuman baginya, tetapi dia memiliki senyum dan tawa sendiri.
Sejenak ia diam mengambang di dalam air. Ketiga ikan itu datang dari dua arah.
Melihat calon mangsanya terdiam mengambang, tertawa sinislah ketiga ikan besar itu. Ketiganya semakin mendekat dan membuka mulut lebar-lebar.
Cluuut!
__ADS_1
Namun, pada detik-detik hitung mundur yang menegangkan, tiba-tiba tubuh Alma Fatara melesat cepat seperti roket terkejut. Hal itu membuat dua ikan yang berlawanan arah saling berbenturan, tapi tidak saling gigit.
“Hakl!”
Sontak Alma Fatara tertawa, tapi hanya setipis kulit ari karena air segera masuk ke dalam tenggorokannya.
Alma Fatara cepat melesat berenang naik. Ketiga ikan yang marah karena telah dipermainkan cepat mengejar naik.
Bruss!
“Hahahak …!”
Terkejut Ratu Tirana dan tiga permaisuri serta Pasukan Penguasa Telaga, saat mendengar suara tawa terbahak di sisi utara perahu. Mereka serentak menengok ke utara. Mereka melihat sosok hitam di kejauhan yang terbang keluar dari dalam air.
Lompatan Alma Fatara begitu tinggi, tidak terjangkau oleh tiga ikan yang sempat ikut terbang pendek karena memburu mangsanya.
“Sebenarnya, Ratu Siluman itu manusia atau ikan?” tanya Kerling Sukma kepada para madunya.
“Sepertinya ikan,” jawab Permaisuri Getara Cinta.
“Hihihi!” tawa Ratu Tirana dan dua permaisuri lainnya mendengar jawaban permaisuri senior itu.
Terlihat di kejauhan, Alma Fatara kembali masuk ke dalam air.
Alma Fatara terus berenang secepat lesatan rudal torpedo di dalam air. Dalam beberapa menit, jumlah ikan pengejarnya semakin bertambah. Hari ini dia benar-benar menjadi idola bagi kaum ikan. Beruntungnya, ini asli kaum ikan, bukan kaum siluman ikan.
Alma Fatara seperti tidak perlu bernapas, dia terus berenang di kedalaman telaga. Sambil menjadi buruan massa ikan, ia terus mencari keberadaan istana dasar telaga yang mungkin ada. Jika ada ratu, pastinya kemungkinan ada istana seperti di Telaga Emas, tempat kediaman Siluman Ikan yang kini menjadi rakyat Kerajaan Siluman.
Alma Fatara hanya tersenyum ketika menengok ke belakang. Ia melihat sudah ada belasan ikan ganas yang mengejarnya, seumpama satu pasukan ikan raksasa. Bahkan ada ikan yang besarnya beberapa kali ukuran tubuh Alma Fatara. Sebenarnya Dewi Dua Gigi itu ingin tertawa terbahak, apalah daya, itu di dalam air.
Blop blop! Krek krek!
Tiba-tiba Alma Fatara menggenggam sebuah bola berwarna hitam. Bola itu kemudian diarahkan ke belakang. dari bola hitam tersebut melesat dua bola sinar biru ke belakang, ke arah gerombolan ikan-ikan besar.
Ketika berada di depan rombongan ikan, kedua sinar biru tersebut meledak tanpa suara. Namun, yang bersuara justru air yang berubah membeku menjadi batu es secara luas. Seketika ikan-ikan raksasa itu terdiam melotot karena terjerat dalam bidang es yang keras.
Melihat itu, Alma Fatara benar-benar ingin tertawa. Namun, lagi-lagi ya itu, dia masih di dalam air.
Alma Fatara melanjutkan tur menyelamnya. Ia pun harus menggunakan ilmu Hidup Tanpa Hidung, sebab masa ketahanan napasnya sudah habis.
Dengan ilmu Hidup Tanpa Hidung, lubang hidung Alma Fatara akan tertutup oleh satu lapisan energi. Kuku-kuku jari tangan dan jari kaki akan bekerja menyerap oksigen dan mengeluarkan gas karbondioksida dengan aktivitas yang sangat halus. Aktivitas aneh itu tepatnya terjadi di bawah lapisan kuku.
__ADS_1
Tidak berapa lama, balok es yang besar seperti pulau kecil muncul ke permukaan air telaga. Hawa dingin yang dikeluarkannya langsung disebar oleh angin.
“Lihat itu!” seru Kerling Sukma sambil menunjuk bidang es yang mengambang di permukaan air telaga, cukup jauh dari posisi kapal.
Mereka semua mengalihkan perhatian ke arah tunjukan Kerling Sukma. Mereka pun mulai merasakan hawa dingin di pagi yang cerah itu.
“Bawa kapal ke sana!” perintah Ratu Tirana.
“Baik, Gusti Ratu!” sahut Garis Merak.
Sementara itu, setelah berhasil membekukan belasan ikan besar, Alma Fatara kembali dikejar oleh beberapa ikan besar lainnya. Namun, itu bukanlah ancaman bagi Alma Fatara. Kejar-kejaran tidak lebih seperti sebuah permainan.
Alma Fatara melesat berenang melewati dasar telaga yang berpasir, melewati sejumlah terumbu karang air tawar, ladang tanaman air, bebatuan dasar telaga dan berbagai medan di dalam air. Ia menjumpai banyak sekali jenis ikan di kedalaman, tapi yang mengejarnya kini kurang dari sepuluh ikan.
Namun, pada satu titik, tiba-tiba terjadi keanehan. Mendadak ikan-ikan besar yang mengejar Alma Fatara bubar dengan gerakan yang cepat. Ikan-ikan itu menyebar ke berbagai arah meninggalkan calon mangsanya.
Merasakan tidak ada lagi yang mengejar, Alma Fatara cepat menengok ke belakang. Dilihatnya ikan-ikan itu sudah menjauh.
“Ada apa?” tanya Alma Fatara dalam hati. “Pasti ada ikan yang jauh lebih besar.”
Alma Fatara cepat pusatkan pandangannya ke depan. Ia agak terkejut ketika melihat ada dua titik sinar merah terang berukuran kecil, melesat cepat menerobos air ke arah Alma Fatara.
Ses!
Alma Fatara cepat berenang meliuk menghindari kedua sinar merah kecil. Lewatnya kedua sinar kecil itu membuat Alma Fatara bisa merasakan sebesar apa kekuatan dua sinar tersebut.
Ses!
Ternyata masih ada dua sinar merah kecil yang melesat menyusul, kembali menyerang Alma Fatara.
Zing! Ses!
Alma Fatara menggunakan ilmu Tameng Balas Nyawa. Sekejap muncul dinding sinar ungu tebal dan bening yang melindungi tubuh Alma Fatara.
Kedua sinar itu mengenai dinding sinar ungu yang memantulkan kedua sinar tersebut ke asalnya.
Kedua sinar merah yang pulang itu mendadak padam saat mengenai bayangan berekor ikan, tetapi bertubuh wanita berambut panjang berwarna jingga dan sepasang matanya menyala merah.
“Diakah Ratu Fatara?” tanya batin Alma Fatara. (RH)
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
CATATAN: Mohon maaf bagi pecinta novel Sanggana, up novel PMS ini akan sangat lambat hingga akhir bulan. Author sedang prioritas di novel "Perjalanan Alma Mencari Ibu" karena ada target yang harus dicapai.