Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 10: Tikam Ginting VS Kamboja Hua


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


“Mulai!” pekik Laksamana Muda Kamboja Hua sambil maju mendatangi Tikam Ginting dengan langkah yang berputar-putar seperti penari burung unta. Hanya bedanya, langkah berputar yang membuat tubuhnya ikut berputar beberapa kali, berlangsung cepat.


Tidak sampai dua detik, tendangan kanan yang bertenaga dalam tinggi telah mengibas seperti balok tebal.


Wut! Set!


Tikam Ginting gesit menghindar dengan cara bersalto ke belakang. Sebelum ia mendarat dari lompatannya, gadis cantik berambut panjang itu melesatkan bola kayu merahnya.


“Eit!” kejut Kamboja Hua sambil cepat mengelak dengan cara memiringkan badan atasnya saja, membuat bola kayu itu lolos ke belakang.


Setelah mengelaki bola, Kamboja Hua melakukan lompatan dengan kaki menerjang. Begitu cepat dan mengejutkan Tikam Ginting.


Gadis itu mengadu tinju kanannya dengan tenaga dalam tinggi.


Buk!


Telapak kaki dan tinju bertemu. Ternyata Tikam Ginting harus terjajar bebera tindak. Sementara Kamboja Hua yang lebih senior dalam hal usia, mendarat dengan baik di tanah.


Set!


Kamboja Hua cukup terkejut ketika merasakan ada serangan yang datang dari belakang. Ia refleks melompat menghindari bola kayu yang ternyata bisa menyerang balik. Bola kayu itu lewat di bawah lompatan tubuhnya.


Sigap Tikam Ginting menangkap bolanya sendiri dengan tangan kiri, karena tangan kanannya sedang gemetar kesemutan akibat sebelumnya beradu dengan tendangan Kamboja Hua.


“Boleh juga, Pendekar Bola. Pasti belum serius?” kata Kamboja Hua.


“Aku sudah serius,” jawab Tikam Ginting.


“Oh, aku salah duga,” ucap Kamboja Hua santai.


“Sebagai seorang pelaut, rasanya tidak percaya jika kau bersifat tenang,” kata Tikam Ginting, sedikit bermaksud mengulur waktu agar tangan kanannya bisa pulih lebih dulu.


“Aku suka bermain di lautan yang tenang, jadi aku berkarakter tenang. Bisa kita lanjutkan?” kata Kamboja Hua.


“Bisa menunggu tanganku pulih?” tanya balik Tikam Ginting dingin tapi jujur.


“Aku rasa waktu yang aku berikan sudah cukup,” jawab Kamboja Hua.

__ADS_1


Selanjutnya wanita separuh baya itu melesat maju menyerang Tikam Ginting dengan kecepatan tinggi. Serangan Kamboja Hua berupa tusukan-tusukan dua jari yang bersinar biru.


Tikam Ginting bereaksi cepat dengan mengelak tipis lebih dulu. Ia membiarkan dulu kulitnya merasakan radiasi dari sinar dalam serangan totokan Kamboja Hua. Setelah bisa menilai, Tikam Ginting menggunakan ilmu Pertahanan Keutuhan Cinta.


Sis ctus! Sis ctus!


Ilmu Pertahanan Keutuhan Cinta adalah sinar hijau berwujud dinding tipis skala kecil di telapak tangan yang muncul dalam durasi singkat semata, hanya ketika menangkis. Setiap kali Tikam Ginting menangkis tusukan jari bersinar biru lawan, maka perisai itu muncul menjadi tameng.


Ternyata ilmu Pertahanan Keutuhan Cinta ampuh menangkal ilmu totokan itu. Kecepatan gerak mereka berdua bisa dibilang seimbang. Jadi pertarungan bisa saja berlangsung alot.


Set!


Di sela-sela pertahanannya yang kokoh, Tikam Ginting melempar kencang bola kayunya, tetapi bukan kepada Kamboja Hua, melainkan ke dalam gelap.


“Kau ingin membokongku, Pendekar Bola? Tidak akan aku biarkan,” kata Kamboja Hua.


Dia terpaksa berhenti dan melakukan satu gerakan yang sering Tikam Ginting lihat. Gerakan itu memiliki awal yang khas dan Tikam Ginting sering melihat Bewe Sereng melakukannya, yaitu memanah tanpa busur dan anak panah. Biasanya anak panahnya baru muncul setelah gerakan melepas berupa sinar kesaktian.


“Giliranku mendesakmu, Laksamana!” seru Tikam Ginting sambil menghempaskan kedua tangannya ke depan, sebelum aksi pantomim memanah itu terlaksana.


Ses ses!


Dua sinar putih terang yang menerangi area sekitar melesat menyerang Kamboja Hua. Wanita berambut sebahu itu terpaksa menunda niat panahan gaibnya. Dia lebih memilih melompat gaya silinder di udara, membuat kedua sinar putih itu lewat di bawah putaran tubuhnya.


Dua ledakan nyaring terdengar mengalahkah kebisingan musik malam yang cenderung hymne.


Baru saja pijakan Kamboja Hua mendarat, Tikam Ginting sudah mendatanginya dengan kedua telapak tangan bersinar putih terang dari ilmu Telapak Perawan Awan.


Gesit Kamboja Hua melakukan pengelakan beruntun.


Tusk!


“Ak!” jerit tertahan Kamboja Hua saat dia mencoba mengadu ilmu totok sinar birunya dengan telapak sinar putih Tikam Ginting.


Rupanya ujung jari Kamboja Hua harus menderita panas yang lebih panas dari jarinya. Ia sontak menarik dan menahan serangan berikutnya.


Kamboja Hua tiba-tiba menghentakkan satu tangannya ke arah depan bawah. Sebola sinar hijau melesat ke tanah lalu pecah dan melesatkan garis-garis sinar hijau ke segala arah.


Tikam Ginting cepat bereaksi dengan mendorong jauh tubuhnya melesat mundur. Beberapa garis sinar pendek-pendek ada yang menyerangnya, tetapi sambil melesat mundur seperti itu, dia menangkis dengan ilmu Pertahanan Keutuhan Cinta.


Penangkalan Tikam Ginting berhasil mengamankan dirinya.

__ADS_1


Set!


Ternyata, serangan tadi selain memang menyerang Tikam Ginting, juga bermaksud mengambil waktu bagi Kamboja Hua untuk melepaskan panah gaib.


Kambojaa Hua punya waktu melepaskan lima panah sinar hijau. Bukan ke arah Tikam Ginting, tetapi menyebar ke lima arah yang sembarang. Ilmu panah itu seperti ilmu panah Pangeran Bewe Sereng, tetapi berbeda warna panah sinarnya.


Sehubungan lawannya mencuri waktu untuk melepaskan panah gaibnya, Tikam Ginting juga mengambil waktu untuk mengeluarkan dua bola sinar abu-abu bening dari kedua telapak tangannya.


Kamboja Hua terdiam sejenak melihat aksi sakti Tikam Ginting yang telah membuang kedua bola sinar dari Penjara Bola Cemburunya begitu saja. Kedua bola sinar besar sebesar rumah itu diam di dua titik.


Jelaslah Kamboja Hua tidak mengerti betul maksud bola sinar tersebut. Ia hanya menduga bahwa kedua bola sinar itu bertujuan menyerang sewaktu-waktu, atau akan meledak hebat jika disentuh.


Set! Dak!


“Hugk!” keluh Kamboja Hua saat tiba-tiba dari belakangnya muncul melesat bola kayu merah yang menghantam telak punggungnya.


Upayanya yang mencoba menerka-nerka maksud dua bola sinar besar itu, membuatnya lalai dengan serangan membokong bola yang sebelumnya sudah ia antisipasi.


Setelah menghantam punggung Kamboja Hua, bola kayu itu memantul beberapa kali lalu melesat ke dalam tangkapan tuannya.


Namun, ternyata hantaman bola tadi hanya membuat Kamboja Hua mengeluh, tidak memberi luka yang berarti atau sampai membunuhnya. Itu terjadi karena Kamboja Hua memiliki ketahanan tenaga dalam yang tinggi.


Ternyata, Tikam Ginting menyempatkan diri menciptakan satu lagi bola sinar abu-abu di tangannya.


“Hiaat!” pekik Tikam Ginting seperti seorang pendekar sambil melompat tinggi ke udara malam dengan tangan menimang bola sinar besar di atas kepalanya.


Bola sinar dari ilmu Penjara Bola Cemburu itu dilemparkan ke arah posisi Kamboja Hua.


Laksamana Muda itu memilih melompat menjauhi bola sebesar rumah gubuk itu. Jika saja bola sinar itu meledak, pastilah gelombang tenaga saktinya begitu besar. Seperti itu kira-kira pikiran Kamboja Hua.


Namun, Kamboja Hua harus kecele. Ternyata bola sinar itu tidak meledak atau kempes karena ada yang bocor. Sepertinya itu bola sinar jenis tubles. Bola sinar itu hanya memantul pendek lalu diam di sembarang tempat. Masih untung itu bukan sawah, tempat biasanya warga buang hajat secara random.


Tikam Ginting mencoba mengejar Kamboja Hua sambil kembali melempar bola kayunya langsung ke target.


Suut! Bluar!


Kamboja Hua kali ini tidak mengelak, dia memilih menghantam bola kayu itu dengan seberkas sinar merah yang dilemparnya. Satu ledakan tenaga sakti terjadi. Sinar merah hancur, tetapi tidak bagi si bola kayu. Maklum itu bukan bola kayu biasa.


Bola itu terpental deras dan liar, tapi Tikam Ginting cepat melompat dan menangkap kembali bolanya.


Zurss!

__ADS_1


Kamboja Hua yang tidak menderita luka apa-apa dari peraduan tadi, segera berkelebat mendekati Tikam Ginting sambil melepaskan lima sinar hijau berekor. Satu serangan yang sulit dihindari oleh seorang pendekar. (RH)


__ADS_2