Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 5: Menyamar Jadi Dayang


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


Ada sebanyak sepuluh wanita berkulit bersih sedang berdiri berbaris di depan Rumah Abdi, bangunan yang menjadi kantor pusat abdi dalam dan para dayang.


Para wanita itu mengenakan pakaian hanya berpinjung hijau dengan bahu terbuka bersih. Mereka pun wangi-wangi. Rambut mereka seragam, disanggul rapi dengan asesoris secukupnya.


Dari arah lain, datang berjalan seorang lelaki paruh baya lebih sedikit. Ia mengenakan baju mirip beskap zaman mendatang warna hijau tua dan kepala dililit totopong yang berhias lempengan emas berukir. Lelaki berkumis tipis itu berkulit putih dengan tatapan berwibawa.


Lelaki bernama Sugeng Marana itu adalah Kepala Abdi Dalam di Istana. Sebelumnya dia mendadak mules, sehingga harus meninggalkan kesepuluh dayang yang siap bertugas. Kini dia telah kembali.


Para dayang itu belum diberi tahu tugasnya pagi ini, karena itu mereka harus menunggu kedatangan Sugeng Marana pulang dari kakus.


“Oh ya, siapa yang sedang sakit dan tidak bisa masuk?” tanya Sugeng Marana setibanya di depan kesepuluh dayang.


“Ratinem, Gusti,” jawab Ayuk Nika, wanita separuh baya kurang 10 tahun. Dia adalah Kepala Dayang Ratu yang baru saja dibebaskan dari penjara karena fitnah dari pengkhianat kerajaan.


“Apakah kau yang menggantikannya?” tanya Sugeng Marana yang langsung bisa mengenali wajah baru, terlebih begitu cantik, lebih cantik dari semuanya, apalagi jika dibandingkan dengan Sugeng Marana sendiri.


“Hamba, Gusti,” jawab wanita cantik yang kulitnya lebih glowing, seolah baru kali ini kulit itu dibuka.


“Cantik sekali. Siapa namamu?” tanya Sugeng Marana yang jiwa mata bakulnya langsung eksis.


“Namanya Menik Suro, Gusti.” Yang menjawab justru Ayuk Nika, karena dia tahu sifat junjungannya itu jika sudah lihat wanita cantik. Selain dayang baru, mereka semua sudah pernah merasakan pelecehan dari Sugeng Marana. Namun masih sukur, pelecehannya masih sebatas main tangan, belum main burung.


“Aku tidak bertanya kepadamu!” bentak Sugeng Marana.


Ayuk Nika hanya tersenyum kecut.


Sugeng Marana lalu bergeser ke depan Menik Suro yang tidak lain adalah Manik Sari, istri Adipati Rugi Segila yang masuk ke Istana Baturaharja dengan menyamar menjadi dayang.


Manik Sari hanya diam ketika Sugeng Marana memandanginya dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Terlihat jelas bahwa jakun tuanya bergerak menelan sebanyak dua kali. Ia menelan ilusi dalam pikirannya sendiri.


“Aku akan menjadi wanita terakhir yang kau telanjangi, Tua Bandot!” desis Manik Sari, tapi di dalam hati saja.


“Ya sudah!” seru Sugeng Marana mengakhiri masa penikmatan dengan matanya. Ia lalu berkata kepada semuanya, “Di Wisma Ratu ada Permaisuri Ginari dari Kerajaan Sanggana Kecil. Layani Gusti Permaisuri dengan sebaik-baiknya!”


“Baik, Gusti!” jawab mereka serentak.

__ADS_1


“Ayo, semuanya berangkat!” perintah Sugeng Marana.


Kesepuluh dayang itu lalu hadap kiri dan maju jalan, tapi tidak seperti Paskibra.


“Haduh, cantik sekali!” ucap Sugeng Marana gemas sendiri sambil tangannya bergerak menepuk bokong Manik Sari.


Pak!


“Aw!” pekik tertahan Manik Sari lantaran terkejut. Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan mengalami pelecehan lanjutan dari orang tua itu.


Set!


“Hekh!” keluh Sugeng Marana tiba-tiba sambil memegangi perutnya.


“Rasain, sakit perut lagi dia!” maki Ayuk Nikah yang sempat menengok mendengar keluhan Sugeng Marana.


Para dayang itu terus berjalan pergi menuju keputren. Mereka tidak peduli lagi dengan Sugeng Marana yang mereka sangka kembali perutnya mules. Padahal, tidak berapa lama, Sugeng Marana tumbang ke tanah dengan wajah membiru dan mulut yang terbuka. Dari celah mulut itu mengalir cairan busa warna kehijauan.


Sugeng Marana telah terkena satu paku beracun yang dilesatkan oleh Manik Sari setelah bokongnya ditepak.


Singkat cerita, tibalah kesepuluh dayang ratu itu di keputren, mereka langsung menuju ke Wisma Ratu.


Sebagai bentuk perhormatan kepada Permaisuri Ginari, Prabu Banggarin mempersilakan murid Penasihat Ranggasewa itu bermalam di kediaman Ratu Wilasin yang telah ditinggal beberapa pekan.


Manik Sari harus terkejut saat tiba di depan Wisma Ratu. Ternyata di depan wisma, selain ada prajurit penjaga, ada juga sepuluh Pendekar Pengawal Bunga. Ia tidak tahu tentang Pengawal Bunga, mungkin wawasan kebangsaannya kurang luas.


Melihat ada serentetan wanita berkulit cerah datang dengan membawa berbagai nampan berisi macam-macam, seperti beberapa set pakaian, kosmetik lengkap, berbagai wewangian, sampai sabun, shampoo, odol, cairan kumur-kumur hingga kutek berbagai warna dan pengharum ketiak.


Namun, belum juga para dayang itu sampai ke teras Wisma Ratu, mereka sudah harus berhenti.


“Berhenti!” seru seorang gadis cantik berkepang tunggal dan berpakaian serba hitam. Dia adalah Murai Manikam yang berjuluk Anak Halus. Dia pemimpin dari para Pendekar Pangawal Bunga yang mengawal Permaisuri Ginari.


“Mau ke mana kalian?” tanya Murai Manikam sambil berjalan menghampiri para dayang yang berhenti melangkah itu.


“Kami diperintahkan melayani Gusti Permaisuri,” jawab Ayuk Nika.


“Hahaha!” tawa seorang lelaki cebol botak tidak berkumis dan tidak berjenggot, tidak seperti di Negeri Orang Separa. Di dahinya ada coretan-coretan tidak jelas warna biru terang. Di punggungnya ada kapak yang tersandang sebagai senjatanya. Dia adalah Setan Kerdil, salah satu Pendekar Pengawal Bunga.


Setan Kerdil selalu senang jika bertemu dengan perempuan baru. Bankan jika itu nenek-nenek, dia juga gembira. Siapa tahu bisa akrab dengan neneknya, lalu dapat cucunya.

__ADS_1


“Mau apa kau?” tanya Murai Manikam kepada Setan Kerdil.


“Hahaha! Menemani Ketua memeriksa para dayang ini,” jawab Setan Kerdil.


“Hanya boleh memantau, tidak boleh mencolek!” tandas Murai Manikam.


“Siaaap!” pekik Setan Kerdil panjang sumringah.


Murai Manikam pun membiarkan pendekar kerdil itu, yang penting anak buahnya itu senang.


“Baiklah, kau boleh masuk!” perintah Murai Manikam sambil menepuk bahu kanan Ayuk Nika.


Kepala Dayang Ratu itu lalu melangkah pergi lebih dulu, meninggalkan rekan-rekannya.


Murai Manikam menatap sejenak wajah dayang berikutnya.


“Masuk!” perintahnya sambil menepuk pelan bahu si dayang.


Dayang itu segera berjalan menyusul pimpinannya.


“Hahaha!” tawa Setan Kerdil sambil memandangi setiap dayang yang berjalan lewat di depannya.


“Masuk!” perintah Murai Manikam lagi kepada dayang berikutnya sambil menepak pelan bahu si dayang.


Satu per satu dayang ditepuk pundaknya dan diizinkan berlalu. Melihat tindakan Murai Manikam, Manik Sari cukup berdebar.


“Apa yang sebenarnya gadis itu lakukan,” tanya Manik Sari dalam hati. Dia tidak mengenal satu pun dari para Pendekar Pengawal Bunga.


Hingga akhirnya, Murai Manikam menatap dayang kesembilan sebelum giliran Manik Sari.


“Masuk!” perintah Murai Manikam kepada dayang kesembilan.


Murai Manikam beralih menatap wanita yang tidak kalah cantik darinya. Manik Sari berusaha tenang. Diam-diam dia menyiapkan paku beracun di selipan jari jemari halusnya.


“Masuk!” perintah Murai Manikam sambil menepak bahu kanan Manik Sari.


Legalah Manik Sari di dalam hati, karena dia lolos dalam pemeriksaan.


“Ternyata kesaktianmu tidak ada apa-apanya,” ejek Manik Sari, tapi beraninya di dalam hati.

__ADS_1


Bukk!


“Hukr!” keluh Manik Sari dengan tubuh terlempar mundur dengan cepat, setelah tiba-tiba Murai Manikam menendang keras perutnya. Sangat cepat dan sangat keras. (RH)


__ADS_2