
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Pertempuran di atas kapal penumpang pun pecah.
Anggota Bajak Laut Malam dengan awak kapal penumpang dan para pendekar saling bakutikam. Sebagian anggota Bajak Laut Malam langsung merangsek menuju ke posisi Dewi Ara berada, sesuai dengan perintah utama Tangan Kanan kepada mereka.
Namun, pastinya para pendekar yang bersama Dewi Ara langsung menghadang tanpa membiarkan satu pun yang lolos.
Meski demikian, tetap saja sebagian anggota bajak laut menyerang ke arah penumpang kapal yang sudah ketakutan. Mereka berpikir, sudah ada sebagian rekan mereka yang menyerbu Dewi Ara. Mereka ini harus berhadapan dengan Dayung Karat dan anak buahnya selaku pemilik kapal.
Meski bukan seorang pendekar sejati, tetapi Dayung Karat adalah tipe nahkoda yang juga mengerti urusan bakupukul dan bakutendang demi menjaga harta dan kehormatan.
Korban nyawa hingga korban darah sudah diderita oleh kedua pihak.
Mudah bagi Bewe Sereng dalam menghadapi beberapa bajak laut yang garang di dalam teriakannya saja.
“Kucincang kau!” teriak seorang bajak laut sambil membacokkan golok besarnya bermaksud membelah kepala Bewe Sereng.
Dengan gerakan tenang, enteng, tapi cepat, Bewe Sereng menangkap mata golok dengan jepitan jarinya.
Tang! Buk!
“Hukh!’
Golok besar itu tidak sanggup membelah tangan Bewe Sereng, justru dua jari yang menjepitnya dengan mudahnya mematahkan si golok besar. Setelah itu, tangan Bewe Sereng yang lain menghantam dada lawan.
“Aku pancung dirimu!” teriak bajak laut yang lain sambil mengayunkan golok besarnya juga yang mengincar batang leher.
“Matilah kau jadi makanan cumi-cumi!” teriak yang lain sambil melompat tinggi dengan lembing di tangan dilempar kuat.
Tak! Ting!
Bak bak!
Bewe Sereng cukup mengibaskan tangannya dan menyentil bilah golok yang mengincar lehernya. golok besar itu jadi terdorong arah dan membentur lembing yang datang. Lembing yang berbelok arah menancap keras di lantai kapal.
Lalu dengan langkah kaki yang ringan tapi cepat, Bewe Sereng seperti menari di atas lantai kapal yang miring. Kedua tangannya melesat masuk menghantam dua tubuh penyerangnya. Satu terlempar dan tersangkut di pangkal tiang kapal, sementara yang satu lagi jatuh terseret di lantai miring lalu terpantul jatuh ke air. Namun beruntung, satu tangannya bisa mengait pada tambang menahan tiang yang terikat kencang di pinggiran.
Melihat Bewe Sereng terlalu tenang dalam menghadapi rekan-rekannya, dua anggota Bajak Laut Malam yang memiliki kesaktian mumpuni segera berkelebat dan langsung menyerang bersusulan kepada Bewe Sereng. Serangan bertenaga dalam tinggi itu membuat lelaki berkumis biru itu mengelak cepat.
Perlu diketahui, kondisi Bewe Sereng masih masa terluka, jadi dia harus menjaga diri dalam bertarung, termasuk dalam bergerak.
Untuk sementara dua orang itu cukup bagi Bewe Sereng sebagai lawan.
Sementara itu, Tikam Ginting juga harus membatasi diri dalam bergerak dan mengeluarkan ilmu kesaktian karena dia juga sedang masa terluka.
Dak! Dak! Dak!
Tikam Ginting lebih banyak menggunakan bola kayu merahnya. Sejumlah bajak laut harus jatuh berjengkangan dan melorot di lantai kapal, bukan celananya yang melorot. Setiap yang datang mendekat, wajahnya dilempar bola kayu yang keras.
“Lepaskan! Binatang jelek! Aaa!” jerit seorang gadis cantik penumpang kapal yang mau diangkut oleh seorang bajak laut menggunakan bahunya.
Dak!
“Akk!” jerit si bajak laut berbadan besar ketika belakang kepalanya dihantam lemparan bola kayu milik Tikam Ginting, bukan bola yang lain.
Hingga akhirnya, Tikam Ginting pun mendapat lawan yang seimbang. Maksudnya seimbang untuk keadaannya saat itu.
Setya Gogol juga bertarung handal. Ia ternyata handal dalam gaya tarung rapat. Ia memiliki tekhnik-tekhnik kuncian yang membuat lawannya sulit mengandalkan senjatanya.
Ketika datang tusukan pedang, Setya Gogol dengan tenang menggeser tubuhnya, membuat mata pedang hanya lewat dua jari dari kulit tubuhnya. Setya Gogol dengan cepat merapatkan tubuhnya pada lawan dan mengapit lengan lawan dengan kuncian ketiaknya.
__ADS_1
Deg deg deg!
Sementara sikut kirinya berulang kali menghajar wajah lawan hingga pecah-pecah dan mengucurkan banyak darah. Ketika jepitan ketiaknya dihentak, tangan lawan menderita sakit yang amat, membuat pedang lawan jatuh.
Bajak laut itu akhirnya keok sendiri dengan wajah yang bonyok.
Seperti itulah salah satu cara Setya Gogol dalam melumpuhkan musuh.
Berbeda dengan Lentera Pyar, dia mengandalkan pedang kecil. Meski kecil, tapi tidak ciut adu tebas dengan golok besar.
Ting ting! Set set!
“Ak ak!” jerit satu orang bajak laut yang menjadi lawannya ketika tangannya yang menggenggam golok besar mendapat dua sayatan pedang kecil.
Sek sek!
“Akk …!” jerit bajak laut itu lagi saat dadanya mendapat tikaman cepat dua kali satu.
Ctas ctas ctas!
Sambil tangan kirinya berpegangan pada sesuatu agar tidak merosot, Bong Bong Dut melecutkan cambuknya berulang-ulang mencambuki lawannya.
“Aw! Aw aw! Aw aw aw!” jerit ramai seorang pemuda bajak laut yang ternyata latah, setiap kali cambuk Bong Bong Dut menderanya. Pemuda bertampang sangar itu akhirnya jatuh melorot ke pinggiran kapal yang sudah nyaris menyentuh air laut.
“Lepaskan aku, aku bukan kekasihmu!” bentak seorang bajak laut gendut berhidung patah kepada Bong Bong Dut.
Bong Bong Dut yang sejak tadi tangan kirinya memegangi sesuatu agar tidak jatuh ke bawah, ternyata berpegangan pada tangan seorang bajak laut gendut tak bersenjata. Bajak laut itu dalam kondisi satu tangannya berpegangan pula pada tepian kapal yang naik agar tidak jatuh. Dia tadi terkena lemparan bola Tikam Ginting.
“Ikan Buntel!” pekik Bong Bong Dut memaki karena terkejut, setelah tersadar dengan apa yang dipegangnya sejak tadi.
Keterkejutan itu membuat Bong Bong Dut melepaskan pegangannya.
“Aaak!” jerit Bong Bong Dut karena tubuh besarnya merosot jatuh.
Bong Bong Dut tidak menyerah, dia lesatkan ujung cemetinya dan berhasil melilit kaki kiri si bajak laut gendut.
Bdak!
“Setan Lauuut!” teriak si bajak laut gendut karena kakinya tertarik dan tubuhnya juga tertarik, sementara pegangannya pada pinggir kapal terlepas.
Dua orang gendut itu sama-sama meluncur ke bawah, menghantam pagar tepian kapal yang di bawah.
“Aaak!” jerit mereka bersama-sama. Satu kebersamaan yang sungguh indah.
Jbur!
Keduanya terpental masuk ke dalam air.
“Gejrooot!” teriak Lentera Pyar terkejut karena terlambat melakukan sesuatu untuk rekan bertubuh makmurnya itu.
“Gusti Permaisuri, abdimu jatuh,” kata Mimi Mama yang masih duduk tenang di sisi kaki Dewi Ara.
“Biarkan saja, dia tidak bisa berenang,” jawab Dewi Ara seenaknya.
“Hihihi!” Tertawalah Mimi Mama mendengar jawaban permaisuri itu.
“Dari pada kau menghitung orang yang jatuh ke laut, lebih baik bakar anjungan ini!” perintah Dewi Ara, meski Mimi Mama bukan abdinya.
“Dengan senang hati, Gusti. Hihihi!” jawab Mimi Mama gembira.
Baks! Blup!
__ADS_1
Setelah menarik napas panjang, pendekar anak kecil itu menghantamkan kedua tangannya ke lantai atap anjungan. Kejap berikutnya, api bermunculan di atap anjungan.
“Api, api!” teriak penumpang yang berlindung di atap anjungan terkejut bukan main.
“Kebakaran! Kebakaran! Aak!” teriak penumpang yang lain lalu menjerit panjang, karena dia terpeleset saat menuruni tangga. Akhirnya ia pun terjatuh ke laut.
Karena api semakin besar dan menutupi semua bagian atap anjungan, kakeknya Mimi Mama segera melompat pergi dan terjun ke arena pertarungan. Masuknya satu orang sakti di kubu kapal penumpang jelas memberi keuntungan.
Tinggallah Dewi Ara dan Mimi Mama di atap tanpa terbakar benang kainnya sedikit pun, meskipun api menjilati setinggi lutut orang dewasa. Bisa repot urusannya jika sampai pakaian Permaisuri Dewi Ara terbakar.
Nyala api besar itu seketika membuat kondisi kapal lebih terang, tapi tidak membuat gembira, justru membuat panik. Sudahlah mau tenggelam, terbakar pula. Sudah fix, pastilah kapal tidak dapat diselamatkan.
Selaku pemilik kapal, Dayung Karat hanya bisa bersedih hati dengan mata berkaca-kaca. “Nasibmu sampai di sini, kapalku tersayang,” ucapnya lirih. Namun kemudian, itu membuatnya kian marah, dia mengamukkan diri kepada para bajak laut.
Di atas kapal Bajak Laut Malam, tinggallah Tangan Kanan dan Perkosa Ombak cemas sendiri melihat kondisi semua anak buah mereka.
“Gusti Juragan, rupanya di kapal itu banyak pendekar sakti. Anak buah kita sudah banyak yang mati sebelum dapat sekepeng pun harta,” kata Perkosa Ombak.
“Semua anak buah kita adalah perenang handal. Hancurkan tepian kapal itu dengan ilmu pamungkasmu, Perkosa!” perintah Tangan Kanan.
“Baik!” jawab Perkosa Ombak semangat. Ia setuju dengan kepintaran pimpinannya itu.
Perkosa Ombak lalu melompat turun ke dek. Ia memasang kuda-kuda yang kuat untuk melepaskan ilmu pamungkasnya.
“Heaaat!” teriak Perkosa Ombak histeris sambil menghentakkan kedua tinjunya.
Bsuuurs! Broks Broks!
Dari kedua tinju itu melesat dua garis sinar hijau besar yang langsung membuat lubang besar pada dua titik lambung kapal.
“Aaak! Akk! Aaa!” jerit sejumlah penumpang yang pegangannya terlepas dan mereka terperosok meluncur ke sisi rendah kapal yang sudah terendam air laut. Mereka semua jatuh ke dalam air yang berombak. Guncangan keras pada kapal membuat pegangan mereka terlepas.
Dua lubang besar yang tercipta pada perut kanan kapal penumpang, langsung dimasuki air laut dengan cepat.
Blar blar blar …!
Setelah serangan Perkosa Ombak itu, tiba-tiba muncul ledakan-ledakan keras di banyak titik pada badan kapal, baik itu di dasar, lambung, dek, hingga di buritan.
Ledakan ramai dan beruntun itu mengejutkan semua orang, kecuali satu, yaitu Permaisuri Dewi Ara.
Guncangan-guncangan yang tercipta semakin mengayak para penumpang yang berpegangan kuat pada kayu kapal, tali dan orang di sampingnya, tidak peduli itu istri atau suami orang. Bahkan ibu dan bayi pun harus meluncur jatuh ke air.
Bukan hanya penumpang biasa yang jatuh, beberapa anggota bajak laut juga ikut jatuh.
“Aaak!” jerit Lentera Pyar yang juga meluncur jatuh.
“Masih ada aku, Pyar!” seru Setya Gogol yang berkelebat menyambar pinggang Lentera Pyar ke dalam pelukannya, lalu satu tangannya yang lain menyambar tambang di tiang kapal.
Mereka berdua pun bergelayutan di tali.
“Terima kasih, Gogol,” ucap Lentera Pyar lirih dengan tatapan penuh arti, seperti di film-film jagoan yang tokoh cantiknya suka diselamatkan.
Setelah bertatapan penuh sinyal mesterius dan debaran dalam dada, keduanya naik dan berjongkok di tiang yang sudah miring sekali.
“Siapa yang menghancurkan kapal itu, Perkosa?!” tanya Tangan Kanan terkejut dan tegang. Setahu dia, Perkosa Ombak tidak memiliki kesaktian sehebat itu, bahkan dirinya pun tidak.
“Aku tidak tahu, Gusti Juragaaan!” sahut Perkosa Ombak yang juga bingung dan tegang. Ia menduga kuat, orang yang membuat ledakan seperti itu pastilah orang yang terlalu sakti.
Tiba-tiba ada seorang bayi kecil muncul dari dalam air dan terbang melayang ke udara tinggi. Yang melihatnya seketika terkejut, menyangka ada bayi sakti.
Sekejap kemudian, seorang bayi raksasa berjenis kelamin laki-laki menyusul muncul terbang dari dalam air laut. Sosok bayi raksasa itu tidak lain adalah Bong Bong Dut yang nyaris mati tenggelam karena tidak bisa berenang. Bukan dia yang menerbangkan diri, tetapi diterbangkan oleh satu kekuatan besar.
__ADS_1
Kejadian itu terlihat jelas oleh kebanyakan orang dan terjadi di depan mata mereka. Kobaran api di kapal yang semakin besar kian menerangi kapal dan sekitarnya.
Orang-orang hanya bisa terbeliak dengan mulut menganga, bahkan pertarungan yang masih terjadi, rehat sejenak untuk menonton iklan ajaib. (RH)