
*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Genggam Garam tidak busikit di depan hidangan laut yang digelar di tengah-tengah geladak depan.
Dia berseberangan hidangan dengan wanita cantik yang kini menjadi tamu kapalnya, yaitu Anik Remas, mantan salah satu Ketua Perguruan Cambuk Neraka. Pendekar Angin Barat Bagang Kala tetap setia di sisinya.
Genggam Garam memilih Segaris Ayu untuk menemaninya makan dalam rangka menjamu tamu yang istimewa, menurut ketua bajak laut itu. Yang membuat pasangan pengantin baru itu istimewa tidak lain semata-mata karena kecantikan Anik Remas yang masih segar, meski saat itu dia jauh dari gincu dan pupur.
Sayup Desah dan dua rekan wanitanya, serta beberapa anggota lain yang mengerti urusan dapur, bertindak sebagai pelayan jamuan. Mungkin perlu diketahui, jika sedang melaut, menu makanan sehari-hari adalah seafood. Namun jika sedang di darat, menu makanan landfood.
Namun uniknya, saat itu adalah waktu malam. Tanpa penerangan setitik api pun adalah hal wajib di kapal Bajak Laut Malam, kecuali yang digunakan untuk memasak. Jadi sebenarnya, mereka makan dalam kondisi gelap gulita, dibelai angin malam yang dingin dan dihibur oleh orkestra irama ombak yang lewat sili berganti.
Saat itu, Bagang Kala dan Anik Remas hanya melihat Genggam Garam dan Segaris Ayu sebagai bayangan hitam tanpa warna lain. Demikian pula ketika mereka melihat macam-macam makanan di hadapan mereka, semuanya berwarna hitam. Hanya aromanya saja yang berbeda-beda.
Kondisi yang berbeda dialami oleh pasangan tuan kapal. Bertahun-tahun lamanya mereka melalui malam memang seperti itu adanya, jadi mereka sudah terbiasa dengan kondisi gelap, meski sama-sama melihat hitam. Namun, penglihatan mereka lebih tajam, terlebih bagi Genggam Garam yang berkesaktian tinggi dan penglihatannya lebih tajam.
Pada saat itu, tanpa perlu ketahuan, Genggam Garam dengan bebas bisa menikmati kecantikan Anik Remas. Sebelumnya, Genggam Garam sudah sempat melihat dengan terang paras kedua tamunya sebelum malam benar-benar gelap. Harus dia akui bahwa kecantikan Anik Remas jauh lebih aduhai daripada janda piaraannya. Jelas dia untung banyak.
Lelaki yang juga suka bergurau itu tidak membuang kesempatan untuk berbuat jahil kepada tamunya. Keuntungan dengan bisa melihat semua gerakan kedua tamunya di dalam gelap, Genggam Garam dengan sengaja mengulurkan tangannya lebih cepat ketika Anik Remas mengulurkan tangan untuk mengambil lauk cumi bakarnya di atas piring.
“Eh, maaf, Ketua!” ucap Anik Remas terkejut dan seketika malu, ketika dia memegang tangan Genggam Garam yang lebih dulu berada di atas cumi-cumi bakar.
Anik Remas sontak menarik pulang tangannya.
“Hahaha! Tidak apa-apa. Maklum kondisinya gelap,” kata Genggam Garam sambil tertawa santai.
“Ada apa, Sayang?” tanya Bagang Kala sambil menengok kepada Anik Remas yang dilihatnya hanya berupa bayangan. Ia tidak bisa melihat insiden tangan di depan mata.
“Tidak apa-apa. Aku hanya salah pegang,” jawab Anik Remas.
“Kau pegang apa, Sayang?” tanya Bagang Kala cepat dengan nada antara khawatir dan cemburu.
“Aku memegang tangan Ketua Genggam Garam,” jawab Anik Remas.
“Apa? Ketua Genggam memegang tanganmu?” tanya ulang Bagang Kala kental bernada cemburu.
__ADS_1
“Bukan seperti itu, Bagang. Istrimu yang memegang tanganku. Hahaha!” ralat Genggam Garam lalu tertawa santai. “Tenang, tidak perlu cemburu. Aku tidak akan merampok istrimu. Mana mungkin aku berbuat genit di depan Segaris Ayu.”
“Benar, Bagang. Saling pegang tangan di saat makan malam seperti ini adalah hal yang biasa terjadi,” kata Segaris Ayu pula.
“Silakan, silakan. Tentunya kalian sudah lama tidak makan enak seperti ini,” kata Genggam Garam.
“Iya, tentu kami sangat berterima kasih, Ketua,” ucap Anik Remas.
“Eh, tangan siapa ini?” tanya Bagang Kala tiba-tiba, ketika dia menangkap sesuatu yang dirasakannya adalah tangan saat hendak mencomot kepiting hamil goreng.
“Bukan tanganku,” bantah Anik Remas lebih dulu.
“Ini tanganku, Bagang,” jawab Segaris Ayu yang sengaja melakukan modus yang sama seperti Genggam Garam sebelumnya.
“Oh maaf, Nisanak. Aku kira tangan istriku,” ucap Bagang Kala berdalih setelah buru-buru melepas genggamannya pada tangan Segaris Ayu.
“Hahahak!” tawa terbahak Genggam Garam mendengar itu.
“Hihihi!” tawa Segaris Ayu.
“Hahaha!” Bagang Kala dan Anik Remas ikut tertawa rendah.
“Jika malam ini aku tidak menemukan kapalku yang tidak pulang, aku akan mengantar kalian ke Pulau Gunung Dua, mungkin masih bisa menyusul rombongan kalian,” kata Genggam Garam bicara serius.
“Terima kasih, Ketua. Tidak aku sangka, ternyata ada bajak laut yang baik hati di lautan ini,” kata Anik Remas.
“Baik hati jika di depan wanita cantik. Hihihi!” celetuk Segaris Ayu lalu tertawa cekikikan.
“Tentunya tidak bersalah jika berbuat baik di depan wanita cantik. Bukankah begitu, Pendekar Bagang?” kata Genggam Garam lalu bertanya kepada suami Anik Remas.
“Oh, i-i-iya, Ketua,” jawab Bagang Kala tergagap, tidak menyangka akan dilempar bola pertanyaan tiba-tiba.
“Hahaha! Pendekar Bagang tidak usah malu-malu seperti itu. Jika memang tertarik kepada Segaris Ayu istriku, tidak mengapa. Aku bersedia memberikan. Bukankah lelaki itu memang pantas memiliki lebih dari satu wanita?” kata Genggam Garam mulai mengerjai Bagang Kala lagi.
“Bu-bu-bukan seperti itu maksudku, Ketua. Aku tidak bermaksud menyukai istri ….”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa!” kata Genggam Garam memotong kata-kata Bagang Kala. Lalu dia bersyair, “Wanita cantik laksana bintang, berkilau di langit tidak terbilang, jikalau pujangga hanya memilih satu seorang, maka akan banyak bintang yang terbuang.”
“Ketua pandai bersyair rupanya,” ucap Anik Remas berkomentar.
“Dengarlah, Pendekar Bagang. Istrimu saja menyukai syairku, itu pertanda bahwa dia setuju dengan budaya satu lelaki banyak wanita,” kata Genggam Garam memprovokasi.
“Maaf, Ketua. Aku sangat menghormati istriku. Jadi, aku pun sangat mencintainya. Aku tidak akan tertarik kepada wanita lain lagi,” ucap Bagang Kala mantap.
Anik Remas yang sengaja membiarkan suaminya menghadapi pancingan Genggam Garam, tersenyum di dalam gulita.
“Luar biasa!” puji Genggam Garam. “Sepertinya kau tidak cocok jadi bajak laut, Bagang. Sulit menemukan seorang lelaki bajak laut yang memiliki cinta kepada satu wanita. Aku saja, aku memiliki satu wanita di setiap pelabuhan. Hahaha!”
“Hah!” kejut Bagang Kala dengan serius.
“Ketua!” teriak keras seorang lelaki tiba-tiba dari sisi lain.
Jleg!
Sekejap kemudian, terdengar suara dua kaki mendarat di papan geladak.
Genggam Garam mengenal suara lelaki itu.
“Perkosa Ombak!” sebut sang ketua.
Drap drap drap …!
Sejumlah anak buah Bajak Laut Malam segera berlarian menghampiri sosok bayangan hitam yang baru saja melompat dari luar kapal ke geladak.
“Perkosa Ombak! Perkosa Ombak!” sebut rekan-rekan menyambut.
Ingin tertawa rasanya Bagang Kala dan Anik Remas mendengar nama orang yang baru datang itu, tetapi mereka tahan, khawatir justru akan menyinggung seseorang.
“Ketua, Kapal Bintang Hitam dirampas musuh!” teriak Perkosa Ombak sambil berjalan lebih mendekat kepada titik makan bersama.
“Appa?!” kejut Genggam Garang dan para anak buahnya. (RH)
__ADS_1