
*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*
Komandan Jalak Ulung memimpin sebanyak tiga puluh prajurit Kadipaten Makmur kembali dari Gerbang Perbatasan Utara, setelah mengantar ekspor minyak sebanyak dua puluh tong untuk Kerajaan Baturaharja.
Kerajaan Baturaharja adalah satu dari tiga kerajaan bawahan Kerajaan Sanggana Kecil yang berbatasan langsung. Ekspor sejumlah komoditas ke Kerajaan Baturaharja hanya diantar sampai perbatasan. Barang ekspor kemudian diserahkan kepada prajurit Kerajaan Baturaharja.
Komandan Jalak Ulung dan pasukannya harus melewati wilayah Kadipaten Jalur Bukit untuk sampai ke Gerbang Perbatasan Utara. Demikian pula ketika mereka pulang ke Kadipaten Makmur, mereka tetap melewati Kadipaten Jalur Bukit.
Setiap melalui Kadipaten Jalur Bukit, mereka cukup memberi laporan kepada pihak keamanan setempat. Salah satu jalan utama yang mereka lewati adalah jalan besar di depan kediaman Adipati Siluman Merah.
Saat Jalak Ulung dalam perjalanan pulang bersama pasukannya, mereka melihat rumah dan pagar halaman rumah Adipati Siluman Merah telah penuh oleh hiasan janur dan umbul-umbul kain merah. Terlihat pula keramaian orang-orang yang sibuk bekerja berbagai hal.
“Prajurit, ada acara apa di rumah Gusti Adipati?” tanya Jalak Ulung kepada seorang prajurit Kadipaten Jalur Bukit yang mereka jumpai tidak jauh dari depan rumah Adipati Siluman Merah.
“Putri Gusti Adipati akan menikah dua hari lagi dengan Pendekar Desa Balikandang,” jawab prajurit yang ditanya.
“Oh!” kejut Jalak Ulung.
Setahu komandan itu, Perwira Genap Seribu sekitar empat hari lagi akan pergi ke rumah itu untuk meminang putri dari Adipati Siluman Merah.
“Dijodohkan?” tanya Jalak Ulung menerka.
“Benar,” jawab prajurit itu lagi.
Informasi inilah yang kemudian disampaikan Jalak Ulung kepada Genap Seribu keesokan paginya ketika mereka berdua bertemu di pasar.
“Perwira, bukankah kau ingin pergi meminang putri Adipati Siluman Merah?” tanya Jalak Ulung untuk memastikan kembali kepada punggawa yang lebih tinggi kedudukannya itu.
“Iya, benar. Aku akan mengajakmu ikut dalam rombongan,” jawab Genap Seribu sumringah. “Besok aku akan meminta izin kepada Gusti Adipati untuk mengajak sebagian dari pasukan kadipaten. Kalian pasti akan iri jika melihat kecantikan calon istriku.”
“Tapi …,” ucap Jalak Ulung menggantung, seolah ia tidak tega menyampaikan kabar yang dibawanya kepada Genap Seribu, yang begitu bahagia dengan rencana cintanya.
__ADS_1
“Kenapa kau ragu, Jalak? Katakanlah. Sebagai seorang komandan, seharusnya kau memiliki keberanian yang tinggi, apa lagi hanya sekedar berkata-kata,” kata Genap Seribu.
“Tapi, aku dan pasukanku melihat dengan jelas bahwa kediaman Adipati Siluman Merah sedang mempersiapkan sebuah pernikahan mewah,” kata Jalak Ulung.
“Pernikahan?” sebut ulang Genap Seribu dengan tatapan yang heran dan muncul bayangan buruk di dalam benaknya. “Bukankah aku belum datang meminang? Oh, mungkin Adipati Siluman Merah sudah lebih dulu menyiapkan pestanya untuk menyambut kedatanganku.”
“Bukan. Itu bukan pesta untuk menyambutmu, Perwira. Putri Adipati Siluman Merah akan menikah dengan Pendekar Desa Balikandang,” tandas Jalak Ulung.
Meong!
Seperti mendengar suara jeritan kucing yang ia injak ekornya. Betapa terkejutnya Genap Seribu.
Melebar mendelik sepasang mata Genap Seribu. Secara perlahan sepasang mata itu memerah dan berair. Pandangannya berubah liar ke sana ke mari karena ia merasa melihat seluruh pemandangan di sekitarnya bergerak meleleh, seperti es krim yang dijemur di tengah terik.
Tiba-tiba wajah yang mengeras itu dipenuhi bulir-bulir keringat. Sepasang tangannya mengepal kuat mengejang, seolah ingin mengerahkan ajian pamungkasnya.
Melihat kondisi tubuh Genap Seribu, Jalak Ulung jadi bingung.
“Tidak mungkin, tidak mungkin,” ucap Genap Seribu lirih kepada dirinya sendiri yang sedang bingung, seolah ia tidak melihat keberadaan Jalak Ulung di depannya. Lalu teriaknya keras sambil mencabut kerisnya, “Tidak mungkiiin!”
Teriakan Perwira Genap Seribu itu mengejutkan warga desa yang sedang berada di pasar Ibu Kota. Saat itu Genap Seribu memang sedang berada di sekitar pasar untuk mengontrol keamanan.
“Bening Mengalir, kenapa kau tega mengkhianatiku? Kau sudah berjanji kepadakuuu! Haaa haaa!” teriak Genap Seribu histeris kepada langit luas. Ia pun meraung menangis seperti anak kecil yang minta balon tapi tidak diberi.
Warga pasar yang mendengar teriakan dan raungan keras itu segera berdatangan ke sumber suara.
“Kau telah berjanji, kau telah berjanji! Hiaaat!” teriak Genap Seribu tanpa peduli dengan lingkungan sekitar. Ia berteriak mengamuk dengan menendang benda apa saja yang ada di sekitarnya.
Brak! Krak! Dag!
Lapak pedagang terdekat dia tendang hingga rusak dan barang dagangan jatuh berserakan. Tiang gantungan kandang tukang burung juga dia patahkan hingga tumbang jatuh menimpa warga. Sebongkah batu sebesar kelapa di pinggir jalan utama pasar ia tendang hingga terbelah beberapa bagian.
__ADS_1
Dalam waktu singkat, warga Ibu Kota yang terdiri dari orang biasa dan beberapa pendekar sudah berkerumun memenuhi jalan.
“Perwira Genap! Apa yang kau lakukan?” teriak seorang prajurit berseragam biru terang, sambil berusaha mendekat bersama dengan dua rekannya.
“Jangan mendekat!” teriak Genap Seribu sambil mengacungkan kerisnya ke arah para prajurit yang hendak mendekat.
Jalak Ulung dan ketiga prajurit terdekat segera berhenti dan bergerak mundur dua tindak, tapi tetap bersiaga.
“Aku gila, aku gilaaa! Haaa …!” teriak Genap Seribu sambil mengacak-acak rambut gondrongnya dan meraung menangis.
“Perwira, tenangkan dirimu!” seru Jalak Ulung.
“Bidadariku diambil orang, padahal dia sudah berjanji akan menikah hanya denganku. Aku sudah menabung untuk perkawinan indah kami, tapi kenapa dia memilih orang lain?” curhat Genap Seribu kepada orang banyak dengan mata mendelik-delik berair.
“Perwira, jika putri Adipati Siluman Merah menikah dengan lelaki lain, masih banyak bidadari di Kadipaten Makmur ini,” kata prajurit anak buah Genap Seribu.
“Tidak! Tidak ada yang secantik bidadariku!” teriak Genap Seribu marah.
Tiba-tiba Genap Seribu mengerik paksa kepalanya menggunakan mata tajam kerisnya. Kerikan yang menciptakan kegundulan itupun bersifat asal, sehingga gundulnya hanya selebar jalan kecoa, dari sisi depan miring ke belakang.
“Hahahak …!” tawa terbahak para warga setelah tegang menyaksikan keedanan punggawa prajurit itu.
Tidak berapa lama, rombongan Permaisuri Dewi Ara datang ingin lewat. Setelah itu, terjadilah tindak kelancangan Perwira Genap Seribu kepada Pangeran Arda Handara dan ibunya.
Setelah rombongan Permaisuri Dewi Ara berlalu, barulah datang seorang pendekar tua gemuk, tapi tidak terlalu tua. Dia mengenakan pakaian serba putih dengan tepian bersulam benang emas. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang hitam, sampai-sampai sepasang matanya terkesan sangat putih. Rambut putihnya pendek. Uniknya, ada sarung warna putih diikatkan di pinggangnya. Harum melati tercium kuat yang bersumber dari tubuh dan pakaiannya. Ia adalah Jagoan Kadipaten Makmur yang bernama Setan Ngompol.
Terlalu kontras dengan sepuluh tahun yang lalu. Setan Ngompol yang dulu berbau sangat pesing, kini menjadi sosok yang harum mewangi. Jika ia bisa mengubah kepribadiannya, tetapi ia tidak bisa mengubah namanya. Ia kadung mahsyur dengan nama Setan Ngompol, terlebih penyakitnya itu masih tetap ada. Jadi, jika dia ngompol, mau tidak mau dia harus pulang ke kediamannya untuk ganti celana dan pembalut.
“Ada apa ini?” tanya Setan Ngompol yang secara umum dianggap sebagai orang tersakti di kadipaten itu.
“Perwira Genap Seribu menjadi edan karena mendapat kabar bahwa calon istrinya akan menikah dengan orang lain. Dia mengamuk. Tapi, tadi ada rombongan Permaisuri Dewi Ara dan secara langsung memerintahkan untuk mencopot Perwira dari jabatannya,” jelas Jalak Ulung.
__ADS_1
“Jika begitu, tangkap dan bawa ke hadapan Gusti Adipati!” perintah Setan Ngompol kepada para prajurit kadipaten. (RH)