Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Jalan Dara 5: Kisah Cinta Genap Seribu


__ADS_3

*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*


 


Pertemuan pertama Perwira Genap Seribu dengan Bening Mengalir adalah sekitar lima bulan yang lalu, yaitu ketika Adipati Surina Asih datang berkunjung ke kediaman Adipati Siluman Merah. Genap Seribu yang kala itu mengawal adipatinya, tanpa direncanakan dan disepakati bertemu pandang dengan seorang gadis yang begitu cantik di matanya.


Ketika Adipati Surina Asih disuguhi jamuan, Bening Mengalirlah yang membawakannya. Saat itu, Genap Seribu bisa melihat dengan jelas kecantikan yang sebening nama si gadis. Jangankan wajahnya, tangannya saja cantik, menurut Kepala Keamanan Kadipaten Makmur itu.


Diam-diam Genap Seribu jatuh hati kepada putri Adipati Siluman Merah saat itu juga. Terlebih ketika Bening Mengalir sejenak memandang kepadanya yang merasa tampan dan memang tampan. Ditambah lemparan senyum manis si gadis yang tanpa dikecap lidah tapi terasa semanis kecap nomor satu di dunia.


Rasa berdesir-desir indah seakan tidak usai-usai di dalam aliran darah kelelakiannya, menuntut Genap Seribu ingin mengetahui nama putri Adipati Siluman Merah tersebut.


Apa daya, sebagai hanya bawahan, tentunya Genap Seribu tidak berani untuk bersuara atau berkata, kecuali hanya patuh.


Namun, rasa penasaran yang tinggi membuat pemuda tampan itu nekat mencuri-curi waktu di sela-sela kunjungan itu. Dan Genap Seribu mendapatkannya.


Ketika hendak pulang, Genap Seribu beralasan ingin buang air kecil.


“Bening Mengalir, antar Perwira Genap pergi ke kakus!” perintah Adipati Siluman Merah kepada putrinya.


Dari situlah, Genap Seribu tahu nama gadis cantik jelita itu.


Genap Seribu yang awalnya tidak benar-benar ingin pipis, ketika dia masuk ke kamar kakus, air seninya ternyata terpelet sehingga ia jadi ingin pipis sungguhan. Tentunya Bening Mengalir tidak mengantar sampai ke dalam kakus pula.


Sejak meninggalkan kediaman Adipati Siluman Merah, isi pikiran Genap Seribu selalu bayangan wajah dan sosok Bening Mengalir.


Saat di atas kuda dalam perjalanan pulang, Genap Seribu mulai suka melamun. Bahkan ketika kereta kuda Adipati Surina Asih berbelok, ia tetap menjalankan kudanya ke arah lurus, sehingga nyaris menabrak kumpulan batang pohon bambu pinggir jalan.


Hari itu juga, Genap Seribu cinta berat kepada Bening Mengalir.


Ternyata, malam harinya, ia bermimpi indah bertemu dengan seorang bidadari yang turun dari bulan. Bidadari itu ternyata adalah Bening Mengalir yang kemudian mengajaknya terbang ke bulan. Ternyata di bulan ada taman kanak-kanak yang diisi oleh puluhan anak-anak, laki-laki dan perempuan.


“Siapa mereka, Bidadariku?” tanya Genap Seribu kepada Bening Mengalir yang seolah-olah saat itu sudah menjadi calon istrinya.

__ADS_1


“Mereka semua adalah anak-anak kita, Perwiraku,” jawab Bening Mengalir seraya tersenyum manis.


Saat di dalam mimpi itu, Genap Seribu bisa ingat kemanisan senyum si gadis saat menyuguhkan jamuan di rumahnya.


Ketika Genap Seribu terbangun dari mimpinya, muncul rasa cinta mati kepada Bening Mengalir.


Pada hari-hari berikutnya, Genap Seribu lalui dengan banyak melamun. Di mata para prajurit yang dipimpinnya, dia berubah drastis. Biasanya dia suka kumpul-kumpul dan menyeruput kopi bersama para prajurit kadipaten, tetapi kini tidak lagi. Dia sekarang lebih suka menyendiri di tempat sepi hingga di kakus, hanya untuk melamunkan kecantikan Bening Mengalir.


“Tapi, bagaimana caranya aku bisa bertemu lagi dengan bidadariku jika aku selalu bertugas?” pikir Genap Seribu.


Pada suatu hari, sepekan setelah pertemuan itu, Genap Seribu menemukan jalannya untuk bisa terkoneksi kembali dengan wanita pujaan hati.


“Perwira, kata Gusti Adipati, nanti sore ada utusan Adipati Siluman Merah yang datang membawa batu gagak hitam,” ujar seorang prajurit yang diperintahkan oleh sang adipati, menyebut jenis batu yang sering dijadikan sebagai batu untuk pondasi rumah dan pagar halaman rumah mewah, semodel rumah Adipati dan para hartawan kadipaten.


“Baik,” jawab Genap Seribu.


Setelahnya, dia pun memikirkan sesuatu dan menemukan ide bagus.


Sepulang dari Kadipaten Makmur, utusan itu tidak lupa memberikan surat tersebut kepada putri Adipati Siluman Merah.


Surat yang berisi perkenalan dan syair-syair cinta pandangan pertama itu ternyata tersambut dengan surat balasan. Ketika ada pedagang asal Kadipaten Makmur yang hendak pulang dari Kadipaten Jalur Bukit, surat balasan dititipkan teruntuk “Perwira Tampan Genap Seribu”.


Dengan adanya surat balasan dari putri Adipati Siluman Merah, maka cinta kedua hati itu terkoneksi meski tidak ada jaringan internet.


Secara diam-diam, Genap Seribu lalu menjadikan seorang prajurit dari pasukannya sebagai pengantar surat, tetapi sang perwira tidak mau surat itu atau hubungannya dengan Bening Mengalir diketahui oleh Adipati Siluman Merah dan istrinya.


Setelah menerima surat cinta dari Genap Seribu, prajurit utusan yang berpakaian warga biasa, akan menunggu di sebuah kedai. Dia menunggu surat balasan selesai ditulis oleh putri Adipati untuk dikirim kepada Genap Seribu.


Alangkah bahagianya Genap Seribu karena cintanya berbalas kencang. Setiap sepekan sekali kedua pasangan kekasih pena itu saling berbalas surat. Bermula dari ungkapan rasa cinta, kemudian menceritakan suasana hati, lalu berbalas angan-angan, janji-janji tertulis, syair-syair asmara, hingga curhat tentang keadaan masing-masing.


Salah satu keluhan yang diceritakan oleh Genap Seribu lewat surat adalah tugasnya sebagai perwira militer yang memiliki banyak tugas, sehingga membuatnya belum sempat pergi berkunjung lagi ke Kadipaten Jalur Bukit yang diamiri oleh Adipati Siluman Merah.


Dalam surat balasannya, sang kekasih berjanji akan setia menunggu kedatangan sang pemuda sampai lamaran untuk menikah datang.

__ADS_1


Betapa girangnya Genap Seribu ketika membaca kesediaan Bening Mengalir untuk menikah dengannya. Ia pun segera mengirim surat bahwa ia akan menabung untuk biaya dan mahar pernikahan. Apalagi saat itu biaya pernikahan cukup mahal.


Pemerintahan Prabu Dira memang memasang tarif cukup tinggi bagi pasangan yang ingin pernikahannya tercatat legal dalam arsip Kementerian Kesejahteraan Rakyat. Tingginya biaya pendaftaran nikah sebanding dengan subsidi yang disediakan oleh Kerajaan kepada pasangan pengantin baru.


Kerajaan akan memberikan tanah bagi pasangan suami istri yang terdaftar sah di Kementerian Kesejahteraan Rakyat, satu pekan setelah akad nikah. Jadi tidak ada istilah pengantin baru yang harus mencari kontrakan.


Beberapa bulan berlalu. Dari hasil tabungan menunjukkan, Genap Seribu membutuhkan satu kali gajian lagi sebagai prajurit untuk mencukupi biaya pernikahannya.


Kepastiannya untuk menikah membuat Genap Seribu sudah woro-woro kepada khalayak ramai tentang rencana pernikahannya, terutama kepada para prajurit dalam pasukannya.


Meski Genap Seribu tidak pernah bercerita kepada Adipati Surina Asih, tetapi berita itu sampai juga kepada sang adipati.


“Bening Mengalir bidadariku, uang biaya dan mahar perkawinan kita sudah cukup. Pekan depan aku akan datang kepada orangtuamu untuk meminangmu. Tunggulah hari bahagia itu.”


Demikianlah tiga kalimat dari berpuluh kalimat dalam surat Genap Seribu kepada Bening Mengalir.


“Aku sangat tidak sabar tiba pada hari indah itu, Perwiraku.”


Demikianlah sekalimat dari puluhan kalimat dalam surat balasan putri Adipati Siluman Merah.


Namun, sebelum hari lamaran itu menjelang, tiba-tiba satu kabar mengejutkan sampai kepada Genap Seribu.


Kabar itu bukan melalui surat, tetapi dibawa oleh prajurit Kadipaten Makmur yang pulang dari gerbang perbatasan. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan Author:


Novel “Perjalanan Alma Mencari Ibu” telah tamat. Hal itu membuat Author bisa fokus dengan hanya satu novel, yaitu “Putra Mahkota Sanggana”.


Namun sayang, pada saat yang sama, Author kini memiliki pekerjaan baru di dunia nyata, sehingga memangkas waktu untuk menulis.


Author tetap upayakan update bab secara maksimal. Semoga Readers bisa memaklumi dan semuanya berjalan lancar. Aamiin!

__ADS_1


__ADS_2