
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Dewi Ara membiarkan Letus Mimpi menyerang Denting Kematian dengan tendangan-tendangan kaki yang bersinar kuning.
Selain bertenaga dan cepat, kedua kaki Letus Mimpi begitu menakutkan karena sinar panasnya sangat berbahaya. Namun, Denting Kematian begitu tenang dalam menghadapi agresi permainan kaki maut itu.
Terlalu tenangnya, bahkan ketika ujung kaki bersinar Letus Mimpi lewat hanya sejengkal dari ujung hidung Denting Kematian, membuat panas menyengat kulit wajah, lelaki berambut panjang itu tetap tenang.
Ketenangan Denting Kematian memang didukung oleh kecepatan gerakan yang begitu tinggi. Hal itu membuat semua serangan kaki Letus Mimpi menjadi hambar tanpa rasa.
Tus tus tus!
“Akk!” jerit Letus Mimpi saat pada satu ketika, tiba-tiba pahanya mendapat totokan yang nyaris tidak terlihat dari Denting Kematian, di saat kedua kakinya berkelebat cepat berusaha mengenai sasaran.
Totokan itu tidak bertujuan membuat Letus Mimpi berhenti bergerak, tapi hanya membuat kedua kaki wanita itu melemah. Terlihat bahwa Letus Mimpi mendarat dengan sempoyongan karena otot pahanya yang sakit dan melemah.
Puk!
Akhirnya Letus Mimpi jatuh terduduk dengan bokong empuknya.
“Aku tidak membunuh yang lain,” kata Denting Kematian, mempertegas pendiriannya.
“Kau memang ditakdirkan bertarung denganku, Denting,” kata Dewi Ara datar.
Dewi Ara sudah menyimpulkan bahwa Letus Mimpi tidak akan mampu melanjutkan pertarungan dengan kondisi kaki lemah seperti itu, apalagi Denting Kematian sepertinya lebih tangguh dari rekan-rekannya yang sudah lebih dulu tamasya abadi ke negeri jauh.
“Aku tidak mau bertarung dengan Dewi Geger Jagad. Aku pasti mati,” kata Denting Kematian.
“Jika kau tahu, batalkan tugasmu untuk membunuh Ratu Wilasin,” kata Dewi Ara.
“Tidak bisa, tugas sudah disanggupi. Satu Pembunuh gagal, maka Pembunuh lainnya harus meneruskan tugas. Jika aku membatalkan tugasku, masih ada dua pembunuh lainnya yang akan melakukan tugas itu,” kata Denting Kematian.
“Baiklah. Aku beri tawaran ringan yang menguntungkan. Bagaimana jika aku membayarmu lebih mahal dari bayaran orang yang memberi kalian tugas?”
“Tidak tidak tidak. Aku tidak akan terkecoh oleh wanita pendusta sepertimu,” kata Denting Kematian sambil tersenyum sinis.
“Bukankah kalian melakukannya demi uang? Aku bisa membayar lebih mahal satu kepeng dari bayaran orang itu,” kata Dewi Ara.
“Hahaha!” tawa pendek Denting Kematian. “Apa artinya satu kepeng dibandingkan pengkhianatanku dalam melaksanakan tugas?”
“Jika demikian, aku bayar lebih mahal dari dunia dan seisinya,” kata Dewi Ara.
__ADS_1
Mendengar tawaran itu, mendelik dan terdiamlah Denting Kematian. Yang terjadi adalah dia tidak bisa mencerna makna dari “lebih mahal dari dunia dan seisinya”.
“Uang sebanyak apa itu? Atau apa yang lebih mahal dari dunia dan seisinya? Aku belum pernah mendengar ada harta yang sebanyak itu,” tanya Denting Kematian.
“Aku membayarmu dengan cara tidak membunuhmu. Bukankah nyawamu lebih berharga dari dunia dan seisinya? Atau kau memang orang yang tidak menghargai nyawa sendiri?”
“Maksudmu, jika aku terus melanjutkan tugasku, aku akan kau bunuh, tapi jika tidak, kau akan membiarkan aku hidup?” tanya Denting Kematian menyimpulkan.
“Kau agak pintar juga,” puji Dewi Ara.
“Aku bukannya agak pintar, tapi aku memang pintar. Hahaha!” tandas Denting Kematian.
“Jadi?” tanya Dewi Ara.
“Hahaha! Namun sayang, Pembunuh Kedua pasti sudah membunuh Ratu Wilasin di saat kau sedang berada berdua denganku,” kata Denting Kematian dengan senyum yang begitu mengejek.
“Dasar lelaki pendusta!” maki Dewi Ara, tapi dengan nada yang datar.
Terbeliak lagi Denting Kematian disebut “pendusta”. Namun, dia segera menenangkan diri.
“Aku tidak masalah jika kau tidak percaya. Jadi aku tidak perlu repot-repot meladeni tawaranmu,” kata Denting Kematian.
“Sejak tadi Ratu Wilasin baik-baik saja. Bahkan dia sekarang sedang tidur seperti kucing tanpa ada bahaya yang mendekatinya.”
“Karena aku bisa memantau keberadaan seseorang yang aku kehendaki dari jauh,” jawab Dewi Ara. Lalu tanyanya lagi, “Jadi?”
“Tetap tidak. Sungguh terpaksa aku harus menunjukkan kesaktianku kepadamu, Dewi Geger Jagad,” kata Denting Kematian.
“Baiklah. Jika demikian, tunjukkan kesaktianmu!” seru Dewi Ara, kali ini dia agak berteriak.
Buk!
Tiba-tiba Denting Kematian terdorong mundur dengan punggung melengkung seperti udang. Dia merasakan ada satu kekuatan tidak terlihat menghantam perut seven pack-nya.
Bak bak!
Sedetik kemudian, dua hantaman dirasakan oleh dada bidang lelaki itu. Ia merasakan sakit dan sesak pada dadanya.
Plak! Bdak!
“Hukh!”
Seperti ada satu tangan besar yang menampar pelipis Denting Kematian, memaksa lelaki bertelanjang dada itu terbanting ke samping dengan air liur yang beterbangan.
__ADS_1
“Aku beri kau kesempatan untuk melawan,” kata Dewi Ara.
“Kesaktian macam itu bukan apa-apa bagiku!” teriak Denting Kematian sesumbar. Dia memang cepat bangkit berdiri tanpa perlu memegangi wajahnya. Sebagai pendekar sakti, pantang baginya mengusap pipi setelah ditampar. Beda prinsip jika dikecup, tapi syaratnya oleh bibir wanita cantik.
“Aku ingin bukti dari sesumbarmu itu,” kata Dewi Ara.
Dag dag dig! Dag dag dig!
Kira-kira seperti itu bunyi dan iramanya ketika Denting Kematian bergerak cepat menangkis sejumlah tenaga tanpa wujud yang menyerangnya. Denting Kematian menangkis dengan kedua tangannya, yang pastinya tangan itu mengandung tenaga sakti tingkat tinggi.
“Bagus,” ucap Dewi Ara pelan tapi memuji.
Tiba-tiba Denting Kematian bergerak-gerak sangat cepat di tempatnya. Kedua tangannya melakukan gerakan kilat model menangkis. Gerakan tangannya patah-patah, seperti memang berbenturan dengan sesuatu yang keras tapi tidak tampak. Bahkan dia tidak malu-malu untuk melompat hingga turun berguling seperti atraksi Si Mangki (monyet) pergi ke pasar membawa payung.
Denting Kematian patut diacungi jempol karena dia bisa mendeteksi serangan gaib dari Tatapan Ratu Tabir. Tidak hanya itu, dia bahkan bisa menangkisnya.
Namun, apakah hanya sebatas itu kehebatan ilmu Tatapan Ratu Tabir?
Denting Kematian tahu bahwa serangan yang sedang dihadapinya baru serangan tingkat ringan bagi Dewi Ara. Jadi, sebelum Dewi Ara meningkatkan level serangannya, Denting Kematian berinisiatif untuk menyerang lebih dulu.
Clap!
Tahu-tahu Denting Kematian menghilang seperti setan, karena terlalu cepatnya gerak pindah yang dia lakukan.
Namun, pada saat yang sama, tubuh Denting Kematian teah muncul melayang satu tombak di depan wajah Dewi Ara. Kejap berikutnya ….
Bdak!
Tanpa tedeng aling-aling, tubuh Denting Kematian dibanting oleh kekuatan mata Dewi Ara manghantam lantai jalanan.
“Aak!” jerit Denting Kematian.
Sreeet!
Setelah dibanting, tiba-tiba tubuh Denting Kematian terseret menjauhi Dewi Ara beberapa tombak.
Saat tubuhnya berhenti meluncur, Denting Kematian buru-buru bangun. Ternyata, meski sakti, bukan berarti dia berkulit seng atau menggunakan kaca antigores. Terbukti, lelaki itu menderita luka baret parah seperti luka kecelakaan pengendara sepeda motor di jalanan beraspal. Luka itu bahkan singgah di pipi kokohnya. Namun, memang dasarnya pendekar, luka lecet sudah biasa, tidak lebih sakit dari luka gigi.
“Lonceng Kematiaaan!” teriak Denting Kematian sambil mengangkat tinggi kedua lengannya secara perlahan.
Sref!
Tiba-tiba area atas Dewi Ara telah dikepung oleh beberapa puluh sinar hijau berwujud lonceng sebesar-besar jambu air. Untung bukan area bawah yang dikepung.
__ADS_1
Puluhan lonceng itu diam melayang di udara sekeliling Dewi Ara. (RH)