Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 5: Menyergap Kereta Kuda


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


 


Rombongan Permaisuri Dewi Ara berlari cukup kencang. Sang pangeran duduk nyaman di depan tubuh sang ibunda.


Kini rombongan itu berada di wilayah Kadipaten Bojongkolot, salah satu kadipaten yang dimiliki oleh Kerajaan Baturaharja.


Meski Baturaharja adalah kerajaan di bawah binaan Kerajaan Sanggana Kecil, tetapi Dewi Ara tidak berniat sedikit pun untuk mengumumkan kehadirannya di wilayah itu. Ia hanya sekedar lewat melintas dan tidak mau dijamu-jamu sebagai tamu.


Namun, sepertinya perjalanan sang permaisuri akan tertahan sebentar. Sebab, ketika mereka menyusuri jalan bukit yang menurun, mereka melihat di depan bawah sana ada pertarungan sengit.


Tampak ada rombongan sebuah kereta kuda yang sedang dikeroyok oleh orang-orang berpakaian hitam-hitam, juga menutupi wajah dan kepalanya dengan kain hitam sehingga seperti ninja, hanya sekitar mata yang terlihat.


Beberapa orang dari rombongan kereta kuda warna hitam berhias warna perak itu, sudah bergelimpangan menjadi mayat.


Orang-orang berpakaian hitam memiliki jumlah sekitar lebih dua puluh orang dan mengandalkan senjata kapak gagang pendek berwarna hijau.


Sementara itu, sejumlah orang berseragam kuning yang sedang disergap mengandalkan senjata cambuk. Namun, jumlah mereka tinggal sepuluh orang, plus seorang lelaki separuh baya yang bertarung dengan sangat sengit menggunakan cambuk pada tangan kanan dan kirinya. Dari perawakan dan penampilannya, mungkin lelaki berjenggot pendek tapi lebat itu adalah pemimpin rombongan berkuda.


Dewi Ara menghentikan kudanya, membuat yang lainnya turut berhenti.


“Wuaaah! Ada pertarungan, ramai sekali!” pekik Arda Handara seperti anak yang baru kali ini melihat pertarungan seramai itu.


“Siapa mereka?” tanya Dewi Ara tanpa memandang kepada siapa-siapa. Pertanyaan itu jelas bukan kepada Bewe Sereng.


“Orang-orang yang bercambuk itu adalah orang-orang Perguruan Cambuk Neraka, Dewi. Yang bertarung di atas bilik kereta adalah Pendekar Cambuk Enam, salah satu tetua di perguruan itu,” jawab Tikam Ginting yang memiliki wawasan lebih update tentang dunia persilatan di wilayah Kerajaan Sanggana Kecil dan sekitarnya.


“Kita tunggu saja sampai pertarungan itu tuntas, baru kita lewat,” kata Dewi Ara.


Wut wut wut!


Secara bersamaan, enam kapak hijau melesat cepat berputar-putar dari berbagai arah menyerang Pendekar Cambuk Enam yang berdiri di atap bilik kereta kuda.


Ctas ctas ctas …!


Namun, kedua cambuk Pendekar Cambuk Enam meliuk di udara dan bisa mengenai semua kapak tersebut, membuat senjata itu berpentalan.

__ADS_1


Tap tap tap …!


Uniknya, kapak-kapak yang terpental bebas, bisa tertarik pulang ke tangan-tangan para pemiliknya, seperti besi kecil yang tertarik oleh magnet besar. Para pemilik kapak tinggal mengarahkan tangannya ke arah senjatanya saat kapak itu masih di udara.


Hal itu yang menjadikan para penyerang berpakaian hitam-hitam menjadi lawan yang tangguh, karena mereka selalu bermodal senjata. Terlebih tingkat ilmu olah kanuragan mereka juga di atas rata-rata.


Sementara itu, dua kuda penarik kereta sudah sejak tadi panik di tempat.


Jenis senjata yang dipakai oleh Pendekar Cambuk Enam dan orang-orangnya menuntut pertarungan jarak jauh. Adapun senjata lawan yang berupa kapak, sebenarnya menuntut pertarungan jarak dekat. Namun, karena para pendekar berpakaian hitam itu memiliki kesaktian dan kemahiran melempar kapak, maka pertarungan jarak jauh pun tidak menjadi masalah.


“Garda, cepat pergi selamatkan pusaka itu!” teriak Pendekar Cambuk Enam dengan menyebut nama seseorang.


Brak! Bdak!


Setelah teriakan Pendekar Cambuk Enam, tiba-tiba pintu bilik kereta kuda terpental keras, lepas dari engselnya dan menghantam seorang lelaki berpakaian hitam.


Seorang pemuda berpakaian putih-putih melompat keluar dari dalam bilik kereta. Pemuda berambut gondrong dan tampan itu membawa sebuah kotak kayu berwujud bangun balok. Kotak berwarna putih itu terlihat bagus karena memiliki ukiran-ukiran rumit tapi cantik dan manis.


Tiga orang bertopeng langsung berlompatan mendatangi pemuda yang bernama Garda Tadapan. Kapak-kapak hijau langsung dibacokkan.


Garda Tadapan dengan gesit mengelak dan menangkis serangan kapak.


Pada satu kesempatan, tangan kanan Garda Tadapan menarik gagang cambuknya yang berwarna hijau gelap. Sekali hentakan menarik, cambuk yang terbuat dari kulit hewan itu melesat menyambar perut-perut pengeroyok sekaligus.


Selain merobek kain baju pada bagian perut, hantaman cambuk itu juga menimbulkan kobaran api yang langsung membakar pakaian para lelaki berkapak. Ketiga lelaki itu buru-buru memadamkan api pada pakaian mereka menggunakan tepakan tangan yang berulang.


Hal itu memberi kesempatan bagi Garda Tadapan berkelebat naik ke salah satu punggung kuda penarik kereta.


Ctas!


Dengan lecutan cambuknya, Garda Tadapan memutuskan satu tali pengungci pada bagian kereta.


Wut wut!


Sebelum Garda Tadapan memutus tali pengunci kedua, dua kapak melesat berputar-putar menyerangnya. Dengan tangan kiri tetap memeluk kotak kayu, Garda Tadapan merunduk merendah, membiarkan kapak itu lewat di atas punggungnya.


Ctas ctas!

__ADS_1


Melihat dua kapak itu bisa berbalik arah semodel bumerang, tangan kanan Garda Tadapan cepat memecutkan cambuknya yang mengenai kedua kapak terbang tersebut.


Lagi-lagi kapak yang dipentalkan tidak pergi jauh, tapi tertarik pulang ke tangan pemiliknya, ketika tertarik seperti itu, posisi kapak tidak sedang berputar, tetapi diam tidak banyak tingkah.


Ctas!


Satu lecutan cambuk memutuskan tali pengunci kedua, membuat kuda lepas bebas dari kereta kuda.


“Hea hea hea!” gebah Garda Tadapan keras, menunjukkan bahwa dia ingin buru-buru pergi dari tempat itu.


Kuda itupun berlari kencang.


“Ada yang datang,” kata Tikam Ginting dari atas kudanya, ketika mereka yang menonton dari kejauhan melihat kedatangan dua belas orang berpakaian hitam pula yang bersenjata panah.


Meski mereka menutup seluruh tubuh dan wajah mereka, kecuali mata, bisa dipastikan bahwa enam dari kedua belas orang yang baru datang menuju ke pertarungan adalah wanita.


Set set set …!


Tseb! Blugk!


Enam lelaki pemanah berkelebatan di udara mencoba memotong jalur lari kuda Garda Tadapan sambil melepaskan anak panah yang sudah terpasang.


Dua anak panah berhasil menancap di dada depan kuda tunggangan Garda Tadapan. Meski bukan kakinya yang terkena panah, tetap saja sang kuda jatuh tersungkur. Namun tidak bagi Garda Tadapan, dia melompat dan berguling di tanah jalanan.


Sementara enam pemanah wanita melepaskan panah mereka menyerang Pendekar Cambuk Enam, menambah jumlah pengeroyok terhadap lelaki bercambuk dua itu.


Namun, kelihaian ilmu cambuk Pendekar Cambuk Enam membuat keenam anak panah yang datang menyerang dapat ditepis.


Di sisi lain, murid-murid Perguruan Cambuk Neraka yang mengawal kereta kuda bertumbangan satu demi satu dengan luka kematian yang mengerikan, seperti kepala dibelah kapak, dada dibacok kapak, tangan dan kaki putus, sampai punggung ditancapi tiga kapak sekaligus.


Pada akhirnya, tiggallah Pendekar Cambuk Enam dan Garda Tadapan yang tersisa.


Set set set …!


Ctas ctas! Seb!


“Akh!”

__ADS_1


Keenam lelaki pemanah kembali memanah Garda Tadapan. Si pemuda kembali mengandalkan cambuknya, tapi kali ada anak panah yang lolos dan menancap pada paha kanan. Garda Tadapan pun menjerit tertahan.


“Heaaat!” teriak garang enam orang lelaki berkapak yang datang dengan berkelebat lalu berlari mendatangi Garda Tadapan. (RH)


__ADS_2