
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
“Lepaskan kakakkuuu!” teriak Bagang Kala sangat kencang sambil menahan perih dan sakit pada wajah dan kepalanya yang berada di bawah injakan sandal Kuritan, pemuda bertubuh besar dan berkaki singkong.
Air mata mengalir deras dari sepasang mata bocah berusia sebelas tahun itu. Teriakannya membuat darah dan ludahnya di dalam mulut termuncrat tanpa daya. Tangannya yang sudah tidak bertenaga hanya bisa memegangi kaki besar Kuritan, berusaha mengurangi tekanan dari injakan pada kepalanya.
“Jangan sakiti kakakkuuu!” teriak Bagang Kala lagi. Ia hanya bisa berteriak untuk membantu kakak gadisnya yang kini dilecehkan oleh murid-murid Perguruan Cambuk Neraka.
“Hahahak …!” tawa keenam lelaki dewasa itu seperti setan yang kesenangan saat melihat seorang gadis cantik sudah mereka buat nyaris tidak berkain lagi.
Sekitar tiga tombak dari posisi Bagang Kala diinjak kepalanya menyatu dengan tanah berumput pendek, sebanyak lima orang lelaki bersenjata cambuk pada pinggangnya, sedang melucuti pakaian seorang gadis yang terus menjerit dan menangis, ketika secara bergantian para lelaki biadab itu menarik robek pakaian si gadis.
“Jangan lakukan, Kakang! Tolong lepaskan aku, Kakang! Hiks hiks …!” jerit gadis yang bernama Juminah. Ia memeluk erat tubuhnya berusaha menutupi badan depannya dan memegangi kuat kain baju yang masih tersisa di badan.
Setiap ia berusaha lari kabur, para pemuda itu selalu menangkapnya dan memelukinya hingga berusaha menciuminya.
Breeet!
“Hahahak …! Punggungnya sudah terbuka semua, tinggal di depannya, Kawan-Kawan!” teriak girang pemuda berambut keriting setelah menarik robek semua kain baju Juminah pada bagian belakang.
“Jangaaan! Hiks hiks! Jangan perkosa aku, Kakang!” rengek Juminah yang sudah bersimbah air mata dan berposisi seperti ayam perempuan yang dikepung oleh lima ekor musang berwajah manusia.
“Hahahak …!”
Namun, para lelaki itu tetap saja tertawa tanpa sedikit pun punya belas kasihan.
Sementara itu, api telah melalap separuh sebuah rumah, yang di depannya tergeletak dua orang manusia, seorang lelaki dan seorang wanita. Keduanya sudah menjadi mayat setelah dibunuh oleh keenam lelaki itu. Mungkin tinggal beberapa menit lagi maka rumah itu akan ludes terbakar.
Kedua orang yang mati itu adalah ayah dan ibu dari Bagang Kala dan Juminah. Rumah mereka letaknya terpencil di pinggir sebuah sungai yang airnya mengalir deras di bawah sana.
“Ayo dipercepat. Jangan dibunuh sebelum aku kebagian!” teriak Kuritan kepada rekan-rekannya.
“Baik, Panglima!” sahut salah satu dari pemuda yang mengepung Juminah.
“Hahahak!” tawa Kuritan karena disebut “Panglima”.
Kuritan memang pemimpin di antara mereka. Dia adalah putra sulung dari Ketua Perguruan Cambuk Neraka.
“Aku akan membunuh kalian semua, Kuritan Keparaaat!” teriak Bagang Kala, tapi tetap dalam ketidakberdayaan. Dia memang sudah kehilangan tenaga setelah mendapat sejumlah pukulan dan tendangan dari orang-orang dewasa itu.
“Bagang Kalaaa, tolong Kakak!” teriak Juminah histeris saat tubuhnya disergap bersamaan oleh kelima pemuda itu.
__ADS_1
Selanjutanya, Juminah hanya bisa menjerit-jerit dalam tangisnya ketika seluruh kain pada tubuhnya dilucuti dan tubuhnya dijamah oleh tangan-tangan kotor itu. Yang sangat menyakitkan bagi dirinya, pemerkosaan massal itu terjadi di depan mata adiknya.
“Aaak!”
Tiba-tiba terdengar suara jeritan Juminah yang agak berbeda dari sebelumnya. Jeritan yang mengejutkan para pemuda itu, termasuk Kuritan yang masih terus menginjak sisi samping kepala Bagang Kala.
“Tulang Karang, kenapa kau menusuknya?” bentak pemuda berambut keriting kepada rekannya yang berhidung pesek bernama Tulang Karang.
“Aku tidak menusuknya, Gadra, tapi perempuan ini sendiri yang menusuk dirinya. Dia mencabut pisauku,” bantah Tulang Karang.
“Kurang ajar, dia bunuh diri!” rutuk pemuda beralis tebal dan bertubuh paling jangkung. Ia bernama Suragawa.
“Aaaah! Gagal! Biar pun secantik ini, tapi kalau sudah mati, aku tidak sudi!” kata pemuda berkumis kesal dan kecewa. Ia bernama Deming Joyo.
“Gara-gara kau, Tulang. Pakai bawa-bawa pisau segala!” sewot pemuda bertubuh kekar sambil mendorong lengan Tulang Karang, menunjukkan kemarahannya. Ia bernama Tampar Bayu.
Kuritan yang mendengar perselisihan rekan-rekannya hanya menunjukkan ekspresi kecewa pula.
“Kakaaak! Aaaa …!” teriak histeris Bagang Kala saat meyakini bahwa kakak satu-satunya itu telah mati. Ia menangis dan berteriak sangat keras.
Tiba-tiba Bagang Kala mendapat kekuatan dari kemarahannya. Ia berhasil menarik kaki Kuritan yang saat itu juga mengendur tekanannya.
Bagang Kala berhasil memindahkan kaki Kuritan dari kepalanya. Pemberontakan bocah lelaki sebelas tahun itu mengejutkan Kuritan, membuatnya langsung bereaksi.
Bukk!
“Jangan kalian apa-apakan mayatnya. Aku akan menyetubuhinya!” teriak Kuritan kepada rekan-rekannya.
“Tapi perempuan ini sudah mati, Kuritan!” sahut Gadra.
“Birahiku terlanjur menggebu-gebu!” tandas Kuritan sambil berjalan mendatangi teman-temannya. Ia mulai membuka pengaman celananya.
“Kau yakin akan melakukannya, Kuritan? Bagaimana jika Guru tahu?” tanya Tampar Bayu.
“Itu jika mulut kalian bocor. Sudah, minggir kalian! Pergi bunuh anak setan itu!” kata Kuritan sambil melorotkan celananya.
Karena tidak mau melihat aksi binatang Kuritan yang ingin menggagahi mayat yang lehernya ditancapi sebilah pisau, kelima pemuda itu lalu pergi untuk mengurus Bagang Kala yang terkapar.
Bagang Kala bergerak-gerak menggeliat menahan sakit pada badannya, luar dan dalam.
Dak!
Tanpa belas kasihan lagi, Deming Joyo melampiaskan kekecewaannya dengan menendang wajah Bagang Kala, membuat anak itu tersentak kesakitan tanpa jeritan. Namun, darah dengan deras mengalir dari hidungnya yang patah parah.
__ADS_1
Tubuh anak kecil itu tersentak-sentak seperti ayam sakratul maut setelah disembelih.
Sleet!
Suragawa melesatkan ujung cambuknya yang berwarna merah karena terbuat dari benang merah. Hebatnya, ujung cambuk itu bisa melilit leher Bagang Kala, padahal posisinya rapat dengan tanah berumput.
“Anak ini tinggal dibuang ke sungai, sudah pasti langsung mati,” kata Suragawa, lalu menarik seret tubuh Bagang Kala.
Tulang Karang, Gadra, Deming Joyo, dan Tampar Bayu mengikuti Suragawa yang menarik korbannya ke tepi jurang, di mana di bawah sana mengalir sungai yang cukup deras.
“Apa enaknya menggagahi mayat?” ucap Gadra sambil menengok memandang aktivitas Kuritan yang sudah berkuda di atas mayat Juminah.
“Biarkan saja. Kuritan memang mengidap keanehan,” kata Tampar Bayu.
“Setelah ini, lebih baik kita pergi ke Taman Bawah Lantai. Bisa jerawatan mukaku jika tidak disalurkan,” kata Tulang Karang.
“Aku ikut ke sana,” kata Deming Joyo.
“Kalau Guru mencari kita, bagaimana?” tanya Gadra.
“Alasan itu gampang dicari,” kata Tulang Karang.
“Tapi kepengku ada di perguruan,” kata Suragawa yang sudah tiba di bibir jurang.
Seet!
Suragawa menarik cambuknya dengan satu hentakan bertenaga dalam, membuat tubuh Bagang Kala terlempar ke udara, tepat segaris lurus vertikal dengan aliran sungai yang ada jauh di bawah sana.
Saat dilempar itu, tubuh Bagang Kala lepas dari jeratan cambuk, lalu meluncur jatuh ke air sungai.
Jbur!
Tubuh Bagang Kala langsung masuk ke dalam air, kemudian tidak terlihat dia timbul lagi ke permukaan. Pastinya, tubuh bocah itu langsung terbawa arus.
“Keparat setan!” teriak Kuritan memaki sambil berjalan menarik satu tangan milik mayat yang baru saja ia gagahi. Kekesalan yang menempel pada wajahnya menunjukkan bahwa dia kecewa. Ia sudah dalam kondisi bercelana kembali.
“Kenapa?” tanya Gadra setengah berteriak.
“Rasanya hambar, tidak enak!” jawab Kuritan, juga setengah berteriak.
Kuritan menyeret mayat polos Juminah yang bersimbah darah ke arah bibir jurang. Setibanya di bibir jurang, dia menjatuhkan mayat itu sehingga bergulingan meluncur jatuh ke sungai.
“Bagaimana kalau kita pergi ke Taman Bawah Lantai?” usul Kuritan kepada rekan-rekannya. Ia tidak tahu bahwa rekan-rekannya sudah membahas rencana itu lebih dulu.
__ADS_1
“Tapi kau yang tanggung jawab,” kata Tampar Bayu.
“Iya, tenang saja. Aku yang tanggung jawab jika kita ketahuan!” jawab Kuritan. (RH)