Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 2: Memilih Panglima Pasukan


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*


Akhirnya, hari itu Domba Hidung Merah bisa masuk ke Istana Sanggana Kecil untuk pertama kalinya. Kedatangannya ternyata membuat heboh, tidak hanya di lingkungan Istana, tetapi juga di kalangan pendekar Ibu Kota.


Ketika menuju ke Istana, dia melenggang seorang diri bersama dombanya dengan santai. Ia sudah mendapat tiket VVIP dari Prabu Dira Pratakarsa Diwana. Bahkan beberapa pendekar tua yang tinggal di Ibu Kota terdorong untuk menghentikannya dan bertanya dengan nada curiga. Salah satunya adalah Linglung Pitura yang berjuluk Pangeran Mabuk.


“Domba Hidung Merah, bagaimana bisa kau memasuki Ibu Kota? Bukankah kau adalah mantan pemberontak yang masuk dalam daftar hitam Sanggana Kecil?” tanya Linglung Pitura yang mengenal siapa adanya Domba Hidung Merah. Mereka berdua sama-sama pendekar tua yang mungkin sekolahnya pun satu almamater.


Meski Linglung Pitura tidak hadir di masa pemberontakan Domba Hidung Merah bersama antek-antek Kerajaan Siluman sepuluh tahun lalu, tetapi dia mendengar cerita yang hampir disebut lengkap.


“Hahaha! Rupanya kau sudah hidup nyaman di ibu kota besar ini, Linglung Pitura,” sapa Domba Hidung Merah yang didahului tawanya. “Aku adalah Tamu Emas Gusti Prabu Dira. Jadi jangan coba-coba mempertanyakan kehadiranku di jalanan Ibu Kota ini.”


“Apa yang sebenarnya terjadi, sampai seorang mantan pemberontak bisa berjalan bebas dan santai di Ibu Kota?” ucap Linglung Pitura tidak habis pikir, tapi ia bergeser menjauh, memberi jalan lebih lebar kepada domba Domba Hidung Merah.


“Nikmati saja hidupmu yang damai, Linglung. Jika perlu contohlah aku, setua ini masih bisa menikmati goyangan ranjang. Menikahlah. Hahaha!” kata Domba Hidung Merah lalu tertawa sambil satu tangannya menepak pelan bokong dombanya.


Domba Hidung Merah melanjutkan perjalanannya menuju ke Gerbang Naga, gerbang utama Istana Sanggana Kecil.


Berbekal izin dari Prabu Dira dan tanda pengenal yang diberikan oleh pos Gerbang Macan Langit, Domba Hidung Merah tidak memiliki kendala dalam memasuki lingkungan Istana. Namun, setelah melewati Gerbang Naga, ia harus didampingi oleh dua orang prajurit yang akan mengarahkannya ke mana dan ke mana.


Domba Hidung Merah sudah menyampaikan semua pesan rahasia yang dia ketahui kepada Prabu Dira Pratakarsa Diwana, saat mereka bertemu di depan Gerbang Macan Langit. Berdasarkan informasi penting itu, Prabu Dira langsung mengumpulkan Ratu, para permaisuri, dan beberapa pejabat penting terkait.


Di saat dirinya meminta pendapat di Ruang Kesejukan, Panglima Bidar Bintang diperintahkan untuk memobilisasi pasukannya yang berjumlah 10.000 prajurit. Jangan tanya di mana saja mereka tidur, makan dan beranak pinak.


Hari itu juga, Panglima Bidar Bintang mengirim surat perintah ke sejumlah basis militer Pasukan Ular Gunung. Bidar Bintang memang adalah Panglima Pasukan Ular Gunung. Jangan ditanya seperti apa model Pasukan Ular Gunung.


Kerajaan Sanggana Kecil memiliki lima pasukan perang dengan masing-masing memiliki keahlian dan kemampuan berbeda. Kelima pasukan itu adalah Pasukan Rajawali Awan, Pasukan Gajah Besi, Pasukan Kuda Angin, Pasukan Buaya Samudera, dan Pasukan Ular Gunung. Masing-masing pasukan dipimpin oleh seorang panglima. Kelima panglima berada di bawah perintah seorang perwira militer tertinggi yang pangkatnya dinamai Panglima Langit.


Sejak tujuh tahun yang lalu, jabatan senopati telah dihapus dan berganti dengan Panglima Langit dan Panglima Bumi.


Namun, seorang Panglima Langit tidak membawahi sejumlah pasukan khusus dan telik sandi yang justru berada di bawah perintah para permaisuri secara langsung.


Adapun pasukan keamanan wilayah dan perbatasan berada di bawah perintah Panglima Bumi.

__ADS_1


Selain Ratu dan para permaisuri, Prabu Dira menghadirkan Mahapatih Batik Mida dan Panglima Langit yang dijabat oleh Ririn Salawi, yang memiliki julukan Penagih Nyawa. Ia adalah mantan Adipati Kadipaten Hutan Malam Abadi.


Ririn Salawi adalah sosok wanita berusia empat puluh lima tahun, tetapi masih menunjukkan raut kecantikan pada wajah dan tubuhnya. Ia tipe wanita pesolek, tetapi riasannya bukan bertujuan memancing lelaki. Hingga saat ini, Ririn Salawi masih melajang. Entah apa alasannya memilih betah melajang hingga usia nyaris separuh abad. Sepertinya perlu digali lebih dekat dan mendalam.


Di Kerajaan Sanggana Kecil ada beberapa jabatan kementerian yang dipegang rangkap oleh para permaisuri. Seperti Menteri Tata Negara yang dipegang oleh Permaisuri Yuo Kai, Menteri Perang yang dipegang oleh Permaisuri Getara Cinta, Menteri Kehakiman dan Hakim Agung dipegang oleh Permaisuri Nara, Menteri Keamanan dan Telik Sandi dipegang oleh Permaisuri Sandaria. Hanya Permaisuri Sri Rahayu dan Permaisuri Dewi Ara yang tidak rangkap jabatan.


Jabatan rangkap yang dipegang oleh Keluarga Kerajaan sendiri membuat Prabu Dira tidak perlu melibatkan banyak pejabat menteri untuk memusyawarahkan suatu perkara besar.


Seperti saat ini, selain para istri, hanya Mahapatih Batik Mida dan Ririn Salawi yang bukan bagian dari Keluarga Kerajaan.


Prabu Dira telah menjabarkan informasi yang dia terima dari Domba Hidung Merah.


“Siapa yang ingin memimpin pasukan menyerang ke Baturaharja?” tanya Prabu Dira kepada seluruh istrinya.


“Aku!” jawab semua istri yang hadir sambil tunjuk tangan, mirip murid-murid sekolah yang cerdas-cerdas. Hanya Permaisuri Nara yang tidak tunjuk tangan.


“Hahaha!” tawa Prabu Dira pendek melihat semangat dari ratu dan para permaisurinya.


Mahapatih Batik Mida dan Panglima Langit Ririn Salawi sebenarnya ingin tertawa melihat semangat para junjungannya, tapi takut dosa dan durhaka tiga turunan.


“Aku adalah pilihan yang tepat, Kakang Prabu. Karena aku memiliki kakek di sana dan aku perlu mengasah kesaktianku,” kata Ginari berdalih.


“Aku dan Kakak Yuo Kai pilihan yang sempurna. Sebab, kami berdua memiliki pengalaman menumbangkan Prabu Menak Ujung sepuluh tahun yang lalu,” kata Permaisuri Sandaria pula.


“Aku tidak memiliki alasan, tapi aku sangat ingin berperang. Sudah lama aku tidak membunuh,” kata Permaisuri Kerling Sukma pula.


“Aku serahkan keputusan kepada Kakang Prabu,” kata Permaisuri Kusuma Dewi.


“Hihihi! Jika Kakang Prabu tidak mengutusku, aku akan meminta diutus ke Kerajaan Bhumi Panca,” ujar Permaisuri Getara Cinta yang didahului tawanya.


“Kerajaan Bhumi Panca?” sebut ulang Permaisuri Kerling Sukma. “Kenapa aku baru mendengar nama itu?”


“Karena ketika utusan dari Kerajaan Bhumi Panca datang, hanya ada aku dan Kakak Darah Suci,” jawab Ratu Tirana seraya tersenyum lembut kepada Permaisuri Mata Hijau.

__ADS_1


“Lebih baik Kakang Prabu tunjuk langsung dua orang permaisuri untuk memimpin ke Baturaharja dan dua orang permaisuri ke Kerajaan Bhumi Panca,” kata Permaisuri Mata Hati.


“Baiklah. Aku perintahkan kepada Permaisuri Mata Hijau dan Permaisuri Tangan Peri untuk memimpin Pasukan Ular Gunung. Setelah pertemuan ini, kalian akan mendapat arahan dari Permaisuri Darah Suci sebagai Menteri Perang,” kata Prabu Dira.


“Baik, Kakang Prabu!” ucap Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Ginari sambil menjura hormat secukupnya.


“Panglima Langit,” sebut Prabu Dira.


“Hamba, Gusti Prabu,” sahut Ririn Salawi dengan suara yang seperti suara bass lelaki.


“Besok pagi pasukan harus sudah berangkat menuju Ibu Kota Kerajaan Baturaharja. Pastikan semua Pasukan Ular Gunung telah siap hingga tengah malam nanti,” perintah Prabu Dira.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Ririn Salawi.


“Mahapatih Batik Mida,” sebut Prabu Dira.


“Hamba, Gusti Prabu,” sahut Mahapatih Batik Mida.


“Pastikan semua pasokan makanan yang dibawa oleh pasukan lebih dari cukup dan perlengkapan penunjang perjalanan siap semua. Besok pagi harus diperiksa ulang untuk menghindari hal-hal yang tidak terduga,” perintah Prabu Dira.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Mahapatih Batik Mida patuh.


“Lalu bagaimana dengan Kerajaan Bhumi Panca?” tanya Permaisuri Getara Cinta.


“Yang pergi ke Kerajaan Bhumi Panca adalah Permaisuri Darah Suci dan Permaisuri Asap Racun,” jawab Prabu Dira.


“Baik, Kakang Prabu!” ucap Permaisuri Getara Cinta dan Permaisuri Sri Rahayu seraya menghormat secukupnya.


“Aku tidak memilih permaisuri yang lain karena kalian harus merawat pangeran dan putri yang masih kecil,” kata Prabu Dira.


“Baik, Kakang Prabu!” ucap mereka patuh, meski ada rasa kecewa.


Setelah pertemuan itu, Permaisuri Getara Cinta memberi arahannya kepada Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Ginari tentang strategi yang akan mereka terapkan nantinya.

__ADS_1


Di antara istri-istri Prabu Dira, Permaisuri Getara Cinta yang memiliki kecerdasan paling tinggi dalam strategi peperangan. (RH)


__ADS_2