
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Posisi Garda Tadapan yang telah berbekal satu panah menancap di paha kanan cukup berbahaya. Ada enam orang pemanah handal dan enam orang pelempar kapak yang ilmunya juga bukan sekedar pemain hiburan.
Sementara di titik lain, Pendekar Cambuk Enam posisinya lebih rumit, orang yang mengeroyoknya jauh lebih banyak. Enam wanita pemanah dan belasan pendekar kapak. Namun, ketinggian ilmu cambuknya membuatnya bisa bertahan.
Ketika enam anak panah dan enam kapak terbang melesat menyerang bersamaan dari berbagai arah, Pendekar Cambuk Enam meningkatkan ilmu cambuknya. Masing-masing cambuknya memiliki tiga ekor, sehingga menjadi enam dalam dua gagang. Keenam ekor cambuk itu menyala merah dan bergerak cepat memutari tubuh Pendekar Cambuk Enam, sambil menghalau dua jenis senjata yang menyerang.
Tidak hanya mau menjadi bulan-bulanan, Pendekar Cambuk Enam beralih aktif menyerang para pengeroyoknya.
Ctas ctas ctas!
“Aaak! Akk! Akk!”
Dalam waktu singkat, tiga orang pengeroyoknya terkena cambukan yang meliuk-liuk nyaris tidak terlihat. Tiga orang pemegang kapak terpental jatuh dengan luka cambukan yang menggores dalam, membakar hangus hingga tulang di balik daging terlihat.
Ketiga orang itu kesakitan luar biasa, sebab mereka tidak langsung mati, tapi masih hidup untuk menikmati luka yang sangat pedih. Ketiganya berguling-guling di tanah karena menahan sakitnya.
Namun, tidak ada yang peduli dengan kondisi mereka. Teman-teman tetap sibuk mengeroyok Pendekar Cambuk Enam.
Melihat luka parah yang diderita oleh ketiga teman mereka, para pengeroyok itu tidak ada yang berani mendekati Pendekar Cambuk Enam. Ketika Pendekar Cambuk Enam mendekat, para pengeroyok itu memilih melompat mundur sambil melesatkan kapaknya.
Wut wut wut!
Set set set!
Untuk kesekian kalinya, kapak-kapak beterbangan dan enam anak panah melesat bersamaan menyerang Pendekar Cambuk Enam. Namun, benteng cambuk dari ilmu Enam Cambuk Neraka begitu kuat dan rapat. Semua kapak dan anak panah bisa dihalau oleh hantaman keenam ekor cambuk.
Sementara keenam anak panah berpentalan ke sembarang tempat, kapak-kapak bisa ditarik pulang oleh tangan pemiliknya.
Tiba-tiba pada busur keenam pemanah telah terpasang anak panah sinar merah. Secara serentak, keenam wanita itu melepaskan panahnya. Namun, mereka tidak membidik tepat kepada sosok Pendekar Cambuk Enam, tetapi agak ke atas kepalanya.
Set set set …!
Keenam wanita bertopeng itu melesatkan panah-panah sinar mereka melewati atas kepala Pendekar Cambuk Enam.
“Panah Cakrawala Timur!” sebut Bewe Sereng terkejut saat melihat serangan panah itu dari kejauhan.
“Jika kau kenal ilmu panahnya, berarti kau juga mengenal siapa orang-orang itu?” tanya Dewi Ara.
“Ilmu Panah Cakrawala Timur adalah kesaktian orang-orang Negeri Karang Hijau,” jawab Bewe Sereng. “Tapi, kenapa mereka bisa berada sejauh ini?”
Keenam panah sinar melesat jauh ke belakang Pendekar Cambuk Enam. Pada saat yang sama, kapak melesat terbang susul-menyusul. Mau tidak mau Pendekar Cambuk Enam harus sibuk menangkis serangan kapak-kapak yang masif.
Set set set!
__ADS_1
Ctar ctar!
Bles bles!
“Aaak …!” jerit Pendekar Cambuk Enam saat ilmu cambuknya yang ternama itu jebol.
Di saat keenam ekor cambuk Pendekar Cambuk Enam menepis serbuan kapak hijau terbang, tiba-tiba dari arah belakang muncul lesatan enam anak panah sinar merah. Tanpa diduga, keenam anak panah itu bisa berbalik arah dan menyerang sungguhan.
Lecutan cambuk Pendekar Cambuk Enam cepat menghandang dan berhasil mengenai dua anak panah, sehingga menimbuklan ledakan nyaring. Sementara dua anak panah lainnya lewat tanpa mengenai apa pun. Adapun dua lainnya, lolos menembus tubuh Pendekar Cambuk Enam. Itulah yang membuatnya menjerit untuk terakhir kalinya, karena titik yang tertembus adalah jantung.
“Pamaaan!” pekik Garda Tadapan yang mendengar jeritan Pendekar Cambuk Enam.
Set set set!
Pekikan Garda Tadapan terputus oleh datangnya serangan anak panah biasa. Serangan itu bisa dia halau dengan lecutan cambuknya.
Ctas! Zess!
Garda Tadapan balas menyerang dengan menghantamkan cambuknya ke tanah. Maka satu aliran sinar merah berapi melesat menjalari tanah yang kemudian bercabang menyerang para lelaki berkapak.
Namun, sepertinya serangan itu tidak cukup mengancam para pengeroyok, sebab mereka bisa dengan mudah melompat naik ke udara sambil melempar kapak-kapaknya.
Dengan satu kaki yang sudah pincang, Garda Tadapan tidak banyak berdaya, apalagi satu tangannya harus mengamankan kotak kayu. Ia tidak bisa mengandalkan kesaktiannya yang lain.
“Heaaat!” teriak sejumlah lelaki berkapak yang datang berlari beramai-ramai setelah kematian Pendekar Cambuk Enam.
Jika para lelaki berkapak berlari kencang datang menyerbu, maka keenam wanita pemanah datang dengan berlari di udara sambil kompak membidikkan panah-panahnya.
Set set set …!
Set set set …!
Enam anak panah melesat cepat menyerbu Garda Tadapan lebih dulu.
Ctas ctas ctas …!
Dengan upaya maksimal, Garda Tadapan melecutkan cambuknya menghalau semua anak panah.
Namun, dari arah lain ada enam anak panah lagi yang menyerang serentak. Garda Tadapan tidak sempat untuk melecutkan cambuknya secara sempurna, sehingga dia hanya melompat berputar di udara demi menghindari semua serangan.
Tseb! Teb!
“Aaak!” jerit Garda Tadapan saat satu anak panah menancap pada punggung tangan kirinya yang memegangi kotak kayu putih. Ditambah satu anak panah lagi menancap tembus bahu kirinya.
Blugk!
__ADS_1
Garda Tadapan pun jatuh terbanting dengan kotak kayu lepas dan berguling di tanah.
“Ibunda, kita harus menolong uyut-uyut itu!” teriak Arda Handara kepada ibunya, padahal Dewi Ara ada di belakangnya.
“Pergilah jika kau merasa harus menolongnya,” jawab Dewi Ara, membuat Bewe Sereng dan ketiga pengawal terkesiap.
“Bagaimana mungkin Dewi Ara membiarkan putranya yang anak kecil pergi untuk bertarung melawan para pembunuh?”
Itulah pertanyaan yang timbul di benak Bewe Sereng, Tikam Ginting, Lentera Pyar dan Setya Gogol.
Mendapat izin dari sang ibunda, Arda Handara buru-buru melompat turun dari atas kuda. Dengan ekspresi wajah yang sungguh-sungguh, Arda Handara berlari kencang di jalan yang menurun. Ia langsung mencabut ketapel Ki Ageng Naga.
“Woiii!” teriak Arda Handara kencang sambil berlari benar-benar cepat untuk ukuran anak kecil. Dia seperti bocah yang maju ke medan tawuran yang memperebutkan gadis cabe-cabean.
Teriakan Arda Handara yang sampai ke telinga lebih dari dua puluh orang itu, membuat mereka berhenti untuk mengeksekusi Garda Tadapan dan beralih memandang kepada sumber teriakan. Mata-mata mereka yang tidak tertutup jadi mendelik kaget.
Satu orang di antara mereka cepat memungut kotak kayu putih dan membukanya dengan paksa. Ketika dibuka, satu cahaya putih menyeruak keluar dari dalak kotak. Di dalam kotak ada seutas cambuk berwarna putih bersih dan bersinar redup yang ditata rapi. Setelah memastikan isinya, orang itu kembali menutup kotak tersebut.
Set! Ctar!
Arda Handara yang sedang berlari mendekat, melesatkan satu peluru kerikil ketapelnya. Peluru itu ternyata tidak sampai karena jaraknya masih kejauhan, sehingga meledak kecil di tengah jalan.
“Hahaha!” tawa sebagian dari lelaki bertopeng melihat aksi Arda Handara.
“Bunuh saja anak itu!” perintah lelaki bertopeng yang memegang kotak kayu.
Seorang lelaki pemanah lalu mengambil satu anak panah dan membidikkannya di busurnya.
Melihat gerakan lelaki pemanah itu, Bewe Sereng yang juga memiliki anak panah di punggungnya, cepat mencabut satu anak panah lalu dia membidik menggunakan busur yang tidak terlihat, seperti seorang pantomim.
Set! Set!
Lelaki bertopeng melepaskan panahnya, Bewe Sereng pun melepaskan panahnya.
Maka pada saat yang bersamaan, dua anak panah melesat dari arah yang berlawanan dan jarak yang berjauhan. Anak panah lelaki bertopeng melesat ke arah Arda Handara yang sedang berlari kencang di pertengahan jarak.
Tes! Set! Tsek!
“Aaak!”
Tepat ketika anak panah milik lelaki bertopeng tinggal satu tombak dari tubuh Arda Handara, anak panah Bewe Sereng datang langsung menghantam tepat ujung anak panah lawan, membuat anak panah yang mengancam Arda Handara terpental patah. Sementara anak panah Bewe Sereng terus melesat sangat cepat dan menancap tepat di wajah lelaki bertopeng.
Jelas, lelaki bertopeng itu langsung tewas sebelum tumbang.
“Panah Seteguh Karang!” ucap para lelaki dan wanita pemanah terkejut.
__ADS_1
Melihat ada kejadian adu panah singkat di depan matanya, Arda Handara cepat berhenti berlari dan bingung. Dia melihat ke arah rombongan orang berpakaian hitam lalu menengok kepada rombongan ibundanya. Dilihatnya Pendekar Bola Cinta sudah berlari kencang bersama kudanya datang mendekat. (RH)