
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Dewi Ara telah turun mendarat di tanah.
“Arda, ke mari!” panggil Dewi Ara datar, tapi suaranya sampai dengan jelas di pendengaran Arda Handara.
“Iya, Ibunda!” teriak Arda Handara menyahut.
Ia segera berlari meninggalkan Lentera Pyar dan Setya Gogol yang sejak tadi menahannya agar tidak ke mana-mana.
Ketika melewati mayat-mayat yang masih bergelimpangan dengan berbagai kondisi kematian, Arda Handara terlihat mengerenyit. Ada perasaan seperti hatinya teriris ketika melihat kondisi luka mayat yang berat dan bersimbah darah.
Ketika Arda Handara melihat dari kejauhan pertempuran yang terjadi, justru terlihat ia antusias, seperti sedang menonton film kolosal di bioskop 31. Namun ternyata, ketika dia melihat kondisi mayat-mayat murid perguruan dan anggota kelompok Penguasa Dunia dari jarak yang begitu dekat, ada perasaan ngeri di hatinya.
“Hiii!” ucap Arda Handara sambil badannya bergidik, seperti sedang menahan kentut di saat dilarang untuk kentut.
Untuk sampai ke posisi ibunya, Arda Handara harus melewati mayat-mayat itu.
“I-i-ibunda, kenapa mayat-mayat itu terlihat menakutkan?” tanya Arda Handara saat tiba di depan Dewi Ara. Ia sampai tergagap di awal pertanyaannya.
“Kau tidak perlu takut, anakku,” kata Dewi Ara sambil meraih tangan kanan anaknya dan menggandenganya.
Arda Handara lalu diajaknya untuk berjalan menuju ke batas kampung.
“Kau harus menguatkan perasaanmu. Kondisi ini akan sering kau jumpai ketika kau besar nanti. Kau akan sering melihat orang mati dalam jumlah yang banyak. Tidak perlu takut, karena mereka semua sudah mati, mereka semua tidak akan bangkit kembali untuk mencekik. Jika kau besar nanti, kau pun pasti akan sering membunuh orang jahat.”
“Tapi, Ibunda. Bagaimana jika mereka menjadi setan dan datang menakut-nakutiku?”
“Jangan ragu, bunuh juga setannya,” tandas Dewi Ara tanpa ada kesan bergurau di wajahnya, padahal di belakang Lentera Pyar dan Setya Gogol tersenyum mendengar jawab junjungan mereka itu. “Coba kau cabut satu kapak di kepala orang bertopeng itu!”
“Me-me-mencabutnya, Ibunda?” tanya Arda Handara tergagap dengan wajah mengerenyit seperti kunyit. “Bagaimana jika dia bangun, Ibunda?”
“Cabut kapaknya, pegang darahnya, lalu usapkan ke wajahmu, agar kau bisa akrab dengan bau anyir darah!” perintah Dewi Ara.
Arda Handara pun melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Perintah ibunya wajib ia taati.
Sambil mengerenyit, Arda Handara meraih satu gagang kapak yang menancap mengerikan di dahi sesosok mayat lelaki bertopeng kain. Mata melototnya yang tanpa cahaya seolah mengancam Arda Handara agar tidak mencabut kapak yang menancap.
Arda Handara harus mengerahkan tenaganya untuk bisa mencabut kapak itu.
“Ibunda, matanya melototiku!” kata Arda Handara sambil menengok kepada ibundanya.
__ADS_1
“Injak mukanya!” kata Dewi Ara.
Arda Handara pun melakukan saran ibunya dengan menginjak mata mayat itu dengan satu kaki lalu tangannya mencabut kapak. Berhasil.
Darah segar yang alirannya tertutupi oleh kapak, segera mengalir keluar setelah darah sebelumnya mulai kering. Kali ini, tanpa sungkan Arda Handara menempelkan telapak tangan kirinya ke aliran darah.
Tangan yang sudah belepotan cairan merah itu lalu diusapkan ke wajah.
“Hoekh!”
Arda Handara mendadak mual setelah bau anyir darah itu menusuk tajam penciumannya, tapi tidak sampai muntah.
“Kau harus tidak terpengaruh oleh bau anyir darah, tidak merasa ngeri melihat luka yang menganga, tidak terhantui oleh mata mayat,” kata Dewi Ara lalu berjalan pergi melangkahi para lelaki bertopeng yang sebagian telah menjadi mayat dan sebagian tergeletak kesakitan tanpa bisa berbuat apa-apa selain mengerang. Ada pula yang berpura-pura menjadi mayat agar tidak menjadi target lagi, tetapi tidak ada mayat yang berpura-pura hidup.
Namun, Dewi Ara dan kedua pemomong pangeran sudah tidak mengindahkan mereka.
Entah lucu atau seram penampilan Arda Handara kali ini dengan wajah yang belepotan darah manusia.
Dewi Ara mengajak putranya pergi menuju ke tempat pertarungan antara Bewe Sereng dengan Beleng Tarmehek. Dalam perjalanan menuju ke lokasi, mereka mendengar beberapa kali ledakan dan suara cambuk yang kuat.
Ketika mereka tiba dan berdiri menonton dari jarak aman, mereka melihat Beleng Tarmehek telah terpental dan jatuh dengan punggung lebih dulu, sampai anak panahnya yang masih tersisa di tabung terburai di tanah.
Sebelum Beleng Tarmehek bangkit, Bewe Sereng tahu-tahu sudah muncul di udara, tepat di atas tubuh Beleng Tarmehek, dengan kedua tinju yang bersinar merah.
Ctarzz! Zerzz!
Namun, sepertinya sang pangeran tua terlalu terburu-buru, dia lupa bahwa Cambuk Usus Bumi masih terpegang di tangan Beleng Tarmehek.
Pemimpin Rombongan Kapak Hijau itu melecutkan cambuk di tangannya meski dalam kondisi terbaring di tanah.
Meski tidak mengenai langsung tubuh Bewe Sereng, sebaran listrik sinar putihnya langsung menjerat tubuh Bewe Sereng sebelum serangannya dilancarkan.
Bewe Sereng menjerit panjang dengan semua bagian tubuh mengejang di udara, tanpa terkecuali.
Blugk!
Tingginya tegangan listrik sinar putih dari Cambuk Usus Bumi membuat Bewe Sereng yang jatuh ke tanah langsung tidak berdaya. Tubuhnya berasap tipis dengan kulit memerah semua, seperti udang rebus setengah matang. Tubuhnya pun tersentak-sentak kecil seperti sedang pemanasan menuju kematian.
“Keluarkan Ki Ageng Naga dan bunuh orang itu dengan satu tembakan!” perintah Dewi Ara kepada putranya.
“Bu-bu-bunuh, Ibunda?” tanya Arda Handara terkejut, seolah kurang yakin dengan pendengarannya.
“Pikirkan bagaimana caranya kau bisa membunuh dengan peluru uyut-uyutmu itu,” kata Dewi Ara.
__ADS_1
“Iya, Ibunda,” jawab Arda Handara, kali ini cukup lantang karena dia merasa tertantang agar ibunya senang.
Arda Handara buru-buru mencabut ketapel Ki Ageng Naga dari pinggang belakang. Ia segera pasang seekor ulat bulu.
Sementara itu, melihat Bewe Sereng tumbang, Beleng Tarmehek yang dalam keadaan terluka dalam cepat bangkit dan mengangkat tangan kanannya siap mencambuk lawannya yang sudah kritis.
“Keparat!” maki Beleng Tarmehek saat gerakan tangan kanannya yang mengayun tertahan oleh satu kekuatan yang tidak tampak.
Beleng Tarmehek yang ingin mengeksekusi Bewe Sereng, cepat menengok ke arah wanita cantik yang berdiri bersama putranya dan dua pemomong. Ia tahu bahwa kesaktian Dewi Ara yang menahan tangannya.
Sehubung tangan kirinya tidak tertahan, maka Beleng Tarmehek melepas genggaman tangan kanannya pada gagang cambuk, lalu tangan kirinya menangkap di bawah. Dengan cepat Beleng Tarmehek mencambuk menggunakan tangan kiri.
“Setan laut perempuaaan!” teriak Beleng Tarmehek memaki panjang, ketika gerakan tangan kirinya pun tertahan oleh kekuatan yang tidak tampak.
Semakin mendelik Beleng Tarmehek ketika ia pun tidak bisa menggerakkan kedua kakinya, sehingga dia seperti patung yang menyerah dengan kedua tangan terangkat tinggi-tinggi.
“Nisanak, jangan bermain curang!” teriak Beleng Tarmehek karena merasa tidak berkutik sedikit pun, meski ada cambuk pusaka dalam genggamannya.
“Bunuh!” perintah Dewi Ara kepada Arda Handara yang sudah mengeker dan menarik karet ketapelnya.
Sementara uyut-uyut sudah siap sepenuh hati menjadi pilot yang siap diluncurkan melakukan misi bunuh diri.
Seeet!
Akhirnya seekor ulat bulu senja berwarna jingga melesat ketika karet ketapel Ki Ageng Naga dilepas oleh Arda Handara.
Ketika di tengah jalan dalam lesatannya, ulat bulu itu tiba-tiba bersinar jingga kecil, tapi kemudian dengan cepat membesar sehingga sebesar kepalan tangan orang dewasa.
Broks!
“Aaakk …!” jerit panjang Beleng Tarmehek ketika sinar jingga itu menjebol dadanya, tembus bolong hingga ke punggung.
Arda Handara hanya bisa mendelik terpaku melihat korban dan hasil tembakannya.
“Selamat, putraku. Kau berhasil melakukan pembunuhan pertama. Tapi ingat, jangan kau lakukan seperti itu jika menembak hati wanita,” ucap Dewi Ara tanpa senyum sedikit pun, meskipun dalam nasihatnya mengandung komedi, terbukti Lentera Pyar dan Setya Gogol tersenyum di belakang.
Arda Handara tidak berkomentar. Ia hanya meresapi jantungnya yang berdetak kencang dengan dahi mengeluarkan keringat dingin.
“Gogol, ambil cambuk itu!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Dewi,” ucap Setya Gogol patuh.
Dewi Ara lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan putranya yang masih terpaku ditemani oleh Lentera Pyar.
__ADS_1
Bluk!
Seiring berbaliknya Dewi Ara, mayat Beleng Tarmahek bergerak tumbang tanpa ada kekuatan yang menahannya lagi. (RH)