
*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*
Fung fung fung …!
Suara beberapa terompet bernada pendek-pendek dan cepat memenuhi kawasan Pelabuhan Pintu Kabut. Suara itu bahkan sampai ke pendengaran Laksamana Galala Lio dan kesebelas pendekarnya yang tergabung dalam Enam Pasang Kekasih Laut.
Laksamana Galala Lio dan para pendekarnya segera keluar dari kamarnya masing-masing dan berpasang-pasangan lelaki dan wanita, karena memang mereka pasangan suami istri. Hanya satu yang belum menikah, tetapi pasangan itu penganut paham kumpul kebo, yaitu kumpul tidak kumpul, bukan sama-sama kerbau.
Mereka segera keluar pegi ke pinggir tebing dan melihat ke bawah, di mana mereka bisa melihat keadaan Pelabuhan Pintu Kabut dari atas.
Laksamana Galala Lio melihat pasukan angkatan lautnya ramai berteriak-teriak dan sibuk membuangi air dari dalam kapalnya masing-masing. Lima kapal yang bersauh terpisah dari dermaga sudah dipenuhi air, lima kapal lainnya baru menuju tenggelam.
Para prajurit di setiap kapal sibuk berusaha menguras air di bawah komando kaptennya masing-masing yang terus berteriak-teriak.. Mereka lupa waspada karena memang musuh belum ada yang terlihat.
Sebelas kapal yang merapat di dermaga pelabuhan terlihat baik-baik saja dan awaknya tidak sibuk atau panik. Mereka justru menonton kepanikan.
Sementara di atas benteng yang posisinya lebih tinggi dari pelabuhan, para prajurit berlarian dan mengambil posisi di belakang deretan mesin-mesin panah jarak jauh.
Meski belum melihat keberadaan musuh, tetapi suara terompet dari kapal-kapal di pelabuhan menunjukkan ada musuh yang menyerang.
“Pasang panah!” teriak perwira yang mengomandani pasukan pemanah, meski belum ada calon target yang terlihat di pelabuhan atau atau di laut.
Di pinggiran tebing yang lebih tinggi terjadi perbincangan antara anggota Enam Pasang Kekasih Laut.
“Sepertinya kapal-kapal kita diserang dari bawah, Laksamana,” kata pemuda yang hanya bersarung warna merah gelap tanpa mengenakan baju, memperlihatkan badan kekarnya yang berkeringat. Pemuda berambut gondrong keriting tersebut bernama Rungga Boeng.
Dia berpasangan dengan seorang wanita muda cantik yang berambut pendek sebahu, kontras dengan rambut suaminya. Wanita yang masih berusia kepala tiga minus empat tahun itu, mengenakan pakaian kuning yang lumayan tidak rapi. Kentara sekali bahwa baju dan celananya dikenakan tergesa-gesa. Ia bernama Jingking Hai. Ia membawa pedang yang masih bersarung seperti suaminya.
“Lihat di sana, sepertinya ada dua kapal besar yang bersembunyi di kegelapan laut,” kata Lulug Ohe, pendekar berusia separuh baya kurang setahun. Dia sosok lelaki botak bertubuh kurus berbaju kulit harimau yang ketat, sesuai ukuran tubuhnya. Di sabuknya ada senjata berupa sabit yang menyelip nyaman.
Lulug Ohe memiliki pasangan yang berusia kepala empat dengan model rambut dikepang. Wanita yang kurusnya serasi dengan suaminya itu memiliki senjata busur di tangan kiri dan anak panah di punggung. Istri Lulug Ohe itu bernama Kemangi Yom.
Mereka pun memusatkan pandangan mereka ke arah tunjukan Lulug Ohe, yaitu ke dalam kegelapan laut yang tidak terjangkau oleh cahaya obor-obor di kapal dan pelabuhan.
Laksamana Galala Lio lalu memasang kuda-kuda dan melakukan gerakan tangan bertenaga dalam. Tidak berapa lama ….
Swiiit!
Laksamana Galala Lio menghentakkan lengan kanannya dengan telapak terbuka. Sebulat sinar kuning melesat cepat ke udara luas di atas lautan, tepatnya ke arah titik yang tadi ditunjuk oleh Lulug Ohe.
Melesatnya sinar itu memberi penerangan bantuan sekilas bagi daerah bawah dan menarik perhatian semua pasukan, karena lesatannya mengeluarkan suara deruan.
Ctar!
Pada ujung maksimal lesatannya, sinar kuning itu meledak sendiri seperti kembang api, tidak begitu jauh di atas posisi dua kapal bajak laut yang bersembunyi. Ternyata ledakan sinar itu memberi cahaya yang sekejap memperlihatkan wujud dua kapal besar yang sedang bersauh cukup jauh dari pelabuhan. Yang paling jelas terlihat adalah keberadaan Kapal Bintang Emas. Adanya cahaya yang menjangkaunya membuatnya mengemas.
Dengan padamnya sinar kuning yang meledak di angkasa malam, maka kondisi pencahayaan di pelabuhan kembali seperti tadi. Meski banyak obor yang menyala, tetapi cahayanya tidak bisa menerangi semua sudut.
“Pangeran Bewe Sereng rupanya membawa rombongan dua kapal. Berani-beraninya dia datang hanya dengan dua kapal,” desis Galala Lio.
“Laksamana, mungkin Kapal Raja Karang akan ditenggelamkan jua,” kata Kemangi Yom yang menyebut nama kapal terbesar milik Laksamana.
__ADS_1
“Kurang ajar!” maki Gagala Lio.
Laksama itu lalu melompat turun mendarat di atas benteng, tepatnya di dekat Komandan Balit Lir yang memimpin pasukan panah jauh di atas benteng yang masih baru usianya.
“Balit Lir, bakar lima kapal yang sudah pasti akan tenggelam!” perintah Galala Lio.
“Baik, Laksamana!” ucap Komandan Balit Lir. Lalu teriaknya kepada pasukannya, “Pasang panah api!”
Para prajurit operator mesin cepat mengganti anak panah panjangnya dengan anak panah yang bersumbu. Satu orang prajurit berlari membawa obor dan menyalakan sumbu berminyak pada ujung-ujung panah. Setelah semua pemanah siap, ….
“Bidik lima kapal yang sudah pasti tenggelam. Tembaaak!” teriak Komandan Balit Lir.
Set set set …!
Teb teb teb …!
Ada sebanyak dua puluh panah berukuran dua kali dari panah normal melesat bersama apinya dari atas benteng. Panah-panah itu menancap di lima kapal yang nasibnya sudah pasti akan tenggelam.
Hujan panah api itu mengejutkan para prajurit yang masih di atas kapal tersebut. Kapten dan pasukannya segera berlompatan ke air. Mereka tidak mau menjadi korban salah sasaran.
“Tembak!” perintah Komandan Balit Lir lagi kepada pasukannya.
Set set set …!
Teb teb teb …!
Kembali serombongan panah api dari atas benteng menyerang target yang sama.
Sementara itu, Laksamana Galala Lio melompat turun ke pelabuhan melalui jalan pintas.
Di belakangnya berkelebat pula seorang pendekar wanita cantik berpakaian serba putih. Masih cantik di usia yang sudah kepala empat. Pinggangnya dililit oleh pita putih yang tebal. Dia tidak terlihat membawa senjata, tapi senjata sebenarnya adalah pita yang di pinggang. Dia bernama Liliur Poi, istri Laksamana Galala Lio.
“Laksamana Muda Gandala Moi! Bawa armada ke kapal musuh di sana!” teriak Galala Lio sambil menunjuk ke laut pada posisi kapal Bajak Laut Malam.
“Baik, Laksamana!” sahut Gandala Moi yang tadi sekejap melihat keberadaan kapal musuh.
Tiba-tiba pula ….
“Di air ada musuh! Di air ada musuh!” teriak seorang kapten kapal yang sedang berenang di air karena kapalnya dibakar oleh pasukan di atas benteng. Ia memergoki keberadaan orang asing yang bukan prajurit marinir mereka sedang menyelinap di bawah perahu.
“Pasukaaan, cari musuh di air!” teriak kapten yang lain.
“Cari musuh di dalam air!” teriak kapten lainnya.
Maka, ramai-ramailah pasukan yang ada di kapal-kapal memasang panah-panah mereka di busur. Ada juga yang memegang tongkat se ndiri, bukan tongkat rekannya.
Mereka mencari musuh yang berkeliaran di air. Sebagian pasukan bahkan melompat ke air dan berenang dengan busur dan panah siap bidik.
“Siram minyak ke dalam api!” perintah Laksamana Galala Lio dari atas kapal perangnya. Dia berdiri di atap anjungan yang memiliki sangkar megah untuk berdiri, mebuatnya mudah terlihat sebagai seorang pemimpin. Ada dua obor besar yang menyala di dekatnya. Di sisinya berdiri sang istri setia.
Beberapa prajurit kembali naik ke kapal yang sudah tenggelam separuh badan, lalu menyiram minyak kepada api panah yang membakar kapal. siraman itu membuat api cepat berkobar membesar.
__ADS_1
Tidak berapa lama, lima kapal perang terbakar hebat, membuat pelabuhan itu kian terang-benderang.
Lima kapal perang lainnya sedang berusaha menyelamatkan diri dengan para prajurit yang menguras air dari dalam kapal. Upaya penambalan darurat mengalami kendala karena lubang bocor yang dibuat oleh para bajak laut bukan hanya satu, tetapi banyak dan di titik-titik yang sulit dijangkau oleh tangan.
Sementara itu, Laksamana Muda Gandala Moi memobilisasi beberapa kapal yang merapat di dermaga. Mereka akan menyergap dua kapal musuh yang mengintai di dalam kegelapan.
Situasai pelabuhan itu benar-benar kacau dan tegang. Teriakan perintah terdengar susul-menyusul.
“Aklf!” pekik seorang prajurit yang berburu di air, ketika tiba-tiba tubuhnya ada yang menarik ke dalam air.
“Ada musuh di dalam air!” teriak prajurit rekan si prajurit sambil melepaskan panahnya ke dalam air yang gelap.
Set set set!
Sejumlah prajurit segera memanah ke area yang ditunjuk rekan mereka, meski mereka tidak melihat secara langsung musuh yang dimaksud.
Tiba-tiba dari dalam air laut timbul sesosok tubuh dengan dua anak panah menancap di punggung. Itu adalah rekan mereka yang sudah menjadi mayat.
Melihat itu, para prajurit yang ada di air sekitar menjadi tegang dalam hawa dingin di bawah dan hawa hangat di atas.
Tanpa suara, sesosok kepala muncul di belakang kepala seorang prajurit yang sedang celingak-celinguk mencari-cari keberadaan musuh.
Sosok yang muncul di belakang itu lalu membekap wajah si prajurit dan menariknya masuk menyelam. Suara air hasil dari rontahannya membuat rekan-rekannya menengok dan cepat memanaah ke dalam riak yang tercipta.
Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa panahan mereka mengenai sasaran.
“Aak! Akk! Akk!”
Dan tiba-tiba pula, beberapa prajurit yang ada di dalam air menjerit keras penuh ekspresi, seolah-olah begitu mendalami peran mereka dalam cerita. Namun ternyata, mereka kemudian berubah posisi, dari berendam sedada menjadi mengambang tanpa nyawa.
Mereka telah diserang oleh tusukan senjata yang membuat mereka luka besar dan berdarah, dan juga tak bernyawa.
“Panaaah!” teriak seorang kapten histeris sambil menunjuk posisi beberapa mayat prajurit yang mengambang. Ia begitu murka karena pasukannya dipecundangi oleh musuh.
Di saat pasukan sedang berburu musuh di dalam air, Kapal Perang Karang Jago pimpinan Laksamana Muda Gandala Moi bergerak meninggalkan dermaga. Ikut bersama empat kapal perang yang tersisa dari Armada Bintang Tujuh.
Namun, belum juga jauh mereka meninggalkan dermaga, tiba-tiba ada teriakan di salah satu kapal kecil.
“Kapal bocooor! Kapal bocooor!” teriak seorang prajurit di perut Kapal Bulan Pesona.
“Perut kapal bocor tujuh lubang!” teriak prajurit di Kapal Kepiting Tampan.
“Teman-temanku! Bantu aku menambal lubang di dasar haluan, lubangnya sebesar kepala istriku!” teriak prajurit di Kapal Pesona Pelaut.
Laksamana Muda Gandala Moi hanya bisa hempaskan napas panjang.
“Coba periksa dasar perahu, apakah kapal kita dilubangi juga!” perintah Gandala Moi kepada asisten rumah kapalnya.
“Baik, Laksamana!”
Maka terjadilah kepanikan di empat kapal Armada Bintang Tujuh karena kapal mereka juga bocor banyak. (RH)
__ADS_1