Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pertamak 1: Negeri Orang Separa


__ADS_3

*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*


“Eyang, jika jalan-jalannya hanya seperti ini, membosankan,” kata Arda Handara yang duduk di tengkuk Eyang Hagara.


Pagi-pagi anak itu sarapan buah gadis alias buah duku. Sambil duduk di tengkuk kakek hidung tengkorak, dengan santainya dia makan buah duku. Pencet sampai pecah, masukkan dagingnya yang sebening kuku ke mulut, lalu buang kulitnya ke belakang tanpa menengoknya lagi, seperti membuang masa lalu. Seperti itulah tutorial makan duku ala Arda Handara.


Eyang Hagara terus berjalan dengan Arda Handara duduk santai di lehernya, tanpa ada rasa berat dia rasakan. Maklum orang tua sakti. Bahkan mengangkat seorang emak-emak pun, Eyang Hagara sangat tidak keberatan.


“Sabar sebentar. Kau lihat tebing batu yang mirip burung kecil itu?” tunjuk Eyang Hagara.


“Iya. Yang seperti burung berkepala botak itu, Eyang?” tanya Arda Handara saat melihat jauh ke depan sana.


“Iya.”


“Kita akan ke sana, Eyang?” tanya Arda Handara dengan mimik terkejut.


“Di balik tebing itu.”


“Itu sangat jauh, Eyang. Uyut-uyutku tidak akan sampai jika aku tembakkan,” kata Arda Handara.


“Apakah sudah dekat?” tanya Eyang Hagara.


“Hah!” kejut Arda Handara saat tiba-tiba mereka sudah lebih dekat dengan tebing batu yang tinggi berwujud seperti burung yang lebih besar. Seolah-olah sudah separuh jarak mereka tempuh dalam waktu sekejap saja.


Eyang Hagara kembali berjalan seperti biasa.


“Tapi ini masih jauh, Eyang,” kata Arda Handara sambil mengambil sebutir buah duku dari keranjang yang menyelempang di badannya.


“Apakah ini sudah dekat?” tanya Eyang Hagara lagi.


Kali ini Arda Handara tidak terkejut lagi ketika mereka tiba-tiba sudah jauh lebih dekat dengan tebing yang kini terlihat lebih jelas dan lebih tinggi.


“Masih jauh, Eyang!” teriak Arda Handara sambil tersenyum, bermaksud mengerjai Hagara.


“Bagaimana?” tanya Eyang Hagara setelah mereka tiba-tiba sudah berada di bawah tebing. Mereka harus mendongak untuk melihat puncak tebing.


“Iya iya iya, sudah dekat. Hahaha!” jawab Arda Handara lalu tertawa.


“Tapi, kita akan pergi ke mana, Eyang?” tanya Arda Handara lagi.


“Kita akan pergi ke sebuah negeri yang bernama Negeri Orang Sapara.”


“Negeri apa itu, Eyang?”

__ADS_1


“Jika aku memberitahukan sekarang, itu bukan kejutan namanya, Arda,” kata Eyang Hagara.


“Iya juga.  Tapi, apakah di negeri itu ada uyut-uyut hebat?”


“Ada. Eyang tidak akan bohong. Eyang bilang tadi bahwa Eyang akan membawamu mencari uyut-uyut beracun yang bisa membunuh, seperti membunuh tikus, kucing dan ….”


“Ah, tidak hebat jika hanya bisa membunuh tikus dan kucing. Baru hebat jika bisa membunuh orang, Eyang,” tandas Arda Handara.


“Bisa, jika uyut-uyutnya lima ekor,” kata Eyang Hagara.


“Baiklah, aku setuju,” ucap Arda Handara.


Wes!


Kali ini Eyang Hagara melesat terbang seringan burung sungguhan. Ia melesat jauh lalu mendarat dan melesat lagi melewati medan berbatu. Eyang Hagara mangarah ke jalan yang tersedia di sisi timur tebing batu yang tinggi.


Di sisi timur tebing itu ada jalan yang diapit oleh dua tebing batu lebih rendah dari puncak yang seperti kepala burung. Jalan yang seperti parit kering itu memiliki lebar rata-rata tiga depa tangan dewasa. Ketika berada di jalan itu, yang terlihat hanya dinding batu dan langit biru di atas.


Sejak tadi Eyang Hagara berjalan di jalan itu, tidak ada jalan bercabang. Namun, pada satu titik, mereka melihat ada celah tebing yang gelap dan hanya selebar badan orang dewasa.


Namun, meski celah tebing itu tidak seperti jalan umum, tetapi Eyang Hagara justru mendekati cela tebing tersebut.


“Eyang, kita mau lewat jalan ular?” tanya Arda Handara.


“Oooh. Kalau begitu ayo!”


Dengan tetap menggendong Arda Handara di bahunya, Hagara berjalan memasuki celah tebing yang gelap karena cahaya matahari tidak bisa menjamah kedalaman celah yang bagian atasnya tertutup.


“Sepi, Eyang,” komentar Arda Handara setelah cukup lama mereka masuk di dalam celah tebing.


“Sabar. Nanti ramai,” kata Eyang Hagara.


Tidak lama kemudian, mereka melihat seberkas cahaya cukup menyilaukan di ujung lorong itu setelah jalan berbelok dua kali kanan dan kiri.


Uniknya, ketika mereka berdua mendekati ujung lorong yang bercahaya, mereka tidak bisa melihat ada apa di luar lorong. Mereka hanya melihat cahaya yang menyilaukan, membuat mata menyipit.


“Pejamkan matamu, Arda!” perintah Eyang Hagara.


“Iya, Eyang.”


Arda Handara memejamkan kedua matanya. Melalui warna dinding dalam kelopak matanya, Arda Handara bisa menerka bahwa mereka telah melewati sinar putih yang menyilaukan.


“Hahaha …!”

__ADS_1


“Hihihi …!”


Seiring meredupnya warna yang dilihat di kelopak matanya, tiba-tiba Arda Handara mendengar suara tawa anak-anak yang banyak. Ada suara tawa anak laki-laki dan ada juga tawa anak perempuan. Arda Handara bisa menyimpulkan itu suara anak-anak karena dia sudah pintar, sudah bisa membedakan yang mana jenis suara orang dewasa dan mana jenis suara orang kecil.


Pokoknya, suasananya terdengar ramai sekali, sangat ramai. Dia yakin bahwa dia tidak pernah mendengar suara keramaian seramai itu sebelumnya.


“Kau boleh membuka matamu, Arda.” Arda mendengar suara Eyang Hagara.


Dan ketika Arda Handara membuka kedua matanya, maka terbeliaklah dia sebagai reaksi dari keterkejutannya.


Ia dan Eyang Hagara telah berada di tengah keramaian, begitu ramai. Ia melihat ribuan orang yang berdiri sambil bersorak-sorak memberi dukungan semangat kepada seseorang, ada pula yang berteriak marah, tetapi tidak sedikit yang hanya diam menonton tapi ikut berdiri. Jika ada yang duduk, dijamin pandangannya akan terhalang oleh para penonton yang berdiri di depannya.


Selain keramaian yang merupakan ribuan penonton di tribun stadion yang bentuknya melingkar berbentuk oval, yang membuat Arda Handara terkejut juga adalah hampir semua orang di tempat itu adalah jenis kerdil atau cebol, atau katai. Suara mereka semua seperti suara anak-anak.


Arda Handara fokus melihat orang-orang kerdil yang ada di sekitarnya. Ada yang terlihat muda, ada pula yang terlihat tua yang identik dengan ciri kumis dan jenggot berwarna putih. Rambut-rambut mereka yang panjang-panjang ditata sedemikian rupa dan macam-macam gaya, juga memakai perhiasan rambut yang cantik-cantik dan ramai. Banyak juga kaum wanita dan anak-anak, bisa dibedakan dari bentuk tubuh dan kesegaran wajahnya.


Namun, tetap ada terlihat sejumlah orang bertubuh normal seperti orang biasa, tapi itu hanya beberapa saja, atau belasan saja.


Lalu apa yang mereka semua ributkan?


Di tengah lingkaran yang dikelilingi oleh tribun dan puluhan ribu massa orang kerdil itu, ada lapangan yang terbuat dari gumpalan sesuatu seperti kapuk atau kapas. Di udara atas lapangan ada belasan orang kerdil dengan dua jenis seragam sedang terbang cepat ke sana dan ke mari seperti burung besar.


Orang-orang kerdil yang terdiri dari dua kelompok berdasarkan warna seragamnya itu, terbang karena menunggangi tongkat terbang. Tongkat itu memiliki sayap tipis kanan dan kiri yang seimbang dan buntut yang terbuat dari daun berwarna hijau. Daun itu bermodel seperti kipas yang mengembang.


Pada bagian kepala tongkat yang berbentuk miniatur kepala binatang, ada miniatur kepala domba, kepala ayam, burung, hingga kepala ikan, ada menggantung sehelai jaring yang berisi bola-bola sebesar bola ping pong.


Adegan terbang-terbang yang merupakan pertandingan itu adalah saling kejar untuk melempari lawan. Target yang dilempar adalah bagian wajah, karena jika kena, dipastikan sang penunggang akan jatuh ke bawah seperti pesawat kena tembak.


Satu kubu berseragam warna merah dan satu lagi berseragam warna kuning.


Dak!


“Aww!” pekik seorang cebol berjenggot kelabang saat hidungnya terkena lesatan bola.


Si cebol berseragam tim merah itu langsung berputar tidak terkendali di udara lalu meluncur menukik seperti pesawat kena tembak di bagian ekor. Dia jatuh bersama tongkat terbangnya ke bawah, masuk dan tenggelam di dalam lautan gumpalan kapas.


“Ini adalah Pertandingan Tongkat Bola Negeri Orang Separa. Pertandingan rakyat yang sangat digemari di seluruh negeri,” kata Eyang Hagara. Ia lalu membisiki Arda Handara, “Mereka semua adalah Orang Separa. Tapi ingat, mereka akan marah jika disebut cebol atau kerdil. Sebutan itu dianggap penghinaan bagi mereka.”


“Oooh,” desah Arda Handara manggut-manggut.


“Ayo, kau harus memilih dan mendukung satu kelompok, agar kau bisa berteriak juga seperti mereka semua,” kata Eyang Hagara.


“Aku pilih yang merah, Eyang.” (RH)

__ADS_1


__ADS_2