Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Baut Mal 5: Petunjuk Kapal Hilang


__ADS_3

*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*


Perkosa Ombak yang menjadi tangan kanannya Tangan Kanan datang ke Kapal Bintang Emas dengan selembar papan tebal. Selama dua hari dua malam ia terombang-ambing di lautan. Sore itu dia melihat keberadaan kapal berkilau emas, karena itu dia mendayung dengan tangan mencoba mengejar kapal yang kemudian keberadaannya menghilang dari pandangan matanya karena tertutupi gelap.


Namun, benarlah pepatah mengatakan “usaha tidak akan menceraikan hasil”. Perkosa Ombak pada akhirnya bisa menemukan Kapal Bintang Emas di dalam kegelapan.


Berita bahwa Kapal Bintang Hitam telah dirampas oleh kelompok pendekar yang dipimpin oleh seorang wanita yang sakti dan kecantikannya terlalu, telah mengejutkan dan menggemparkan kelompok Bajak Laut Malam.


“Kami menghancurkan kapal yang sepertinya menuju ke Pulau Gunung Dua, tetapi mereka membuang kami dari Kapal Bintang Hitam dan menguasai kapal kita,” cerita Perkosa Ombak dengan sangat serius kepada Genggam Garam dan rekan-rekan yang lain.


“Tahan dulu ceritamu, Perkosa,” potong Genggam Garam. “Aku belum bisa menemukan bayangan, bagaimana kalian sebagai pemilik kapal bisa dibuang ke laut, sementara mereka bisa naik ke kapal kita padahal kapal mereka hancur. Kalian para bajak laut, kenapa bisa dengan mudahnya dibuang dari kapal sendiri?”


“Seperti ini ceritanya, Ketua ….” Kata Perkosa Ombak. Ia pun bercerita dan yang lainnya mendengarkan dengan khidmat kebijaksanaan.


Dari tempat duduk makannya, Bagang Kala dan Anik Remas juga mendengarkan dengan seksama.


Tidak berapa lama, tidak lebih lama dari waktu memancing ikat.


“Seperti itu ceritanya, Ketua,” kata Perkosa Ombak untuk bagian penyerangan terhadap kapal penumpang milik Nahkoda Dayung Karat hingga dirampasnya Kapal Bintang Hitam. Sementara Tangan Kanan bersama anak buahnya ditinggal begitu saja di air, yang di dalamnya termasuk Perkosa Ombak.


“Itu Gusppp!” bisik Bagang Kala, tapi mulutnya cepat dibekap oleh Anik Remas.


“Jangan sebut-sebut nama Gusti Permaisuri!” bisik Anik Remas begitu pelan, sampai bibir wanita itu menyentuh lembut area telinga suaminya.


Bagang Kala tertawa kegelian, tetapi untung mulutnya dibekap kuat oleh istrinya.


Genggam Garam dan Segaris Ayu yang saat itu sudah tidak di tempat makan, tidak mengetahui kasak kusuk tamunya. Mereka lebih fokus kepada Perkosa Ombak yang bercerita dengan nuansa yang genting.


“Oooh, jadi pendekar wanita itu memiliki kesaktian yang bisa mengangkat orang-orang dari jarak jauh, sehingga dia bisa membuang kalian dari kapal dan menaikkan semua penumpang kapal yang hancur ke kapal kita,” kata Genggam Garam menyimpulkan daya tangkap pikirannya atas cerita Perkosa Ombak.

__ADS_1


“Tangan Kanan dan yang lainnya kini berada di Pulau Kutil. Hanya aku yang diutus untuk berenang pulang untuk memberi tahu kepada Ketua,” tambah Perkosa Ombak.


“Kenapa bukan Tangan Kanan yang berenang pulang dan melapor?” tanya Genggam Garam.


“Aku hanya anak buah, Ketua,” jawab Perkosa Ombak.


“Aku kira kau anak cebong. Hahaha!” kata Genggam Garam lalu tertawa.


“Hahaha!” tawa para anak buah Genggam Garam. Tertawa bersama Ketua jelas membuat Ketua senang.


Genggam Garam lalu berteriak kepada anak buahnya, “Arahkan kapal menuju ke Pulau Kutil!”


“Siap, Ketua!” sahut para anak buah yang tidak terlihat hidung-hidungnya karena gelap.


“Tambah kecepatan kapal dengan dayungan dan layar tambahan!” teriak Genggam Garam lagi.


“Siap, Ketua!” sahut para lelaki kapal itu lagi.


“Perkosa, kau sangat lelah. Ayo ikut makan bersama tamu,” kata Genggam Garam.


“Betul sekali, Ketua. Dalam perjalanan aku hanya makan rumput laut,” kata Perkosa Ombak.


Perkosa Ombak lalu pergi ambil duduk di pinggiran jamuan. Seperti jamuan itu terlihat terang saja, ia dengan cekatan mengambil nasi dan lauk pauknya.


“Siapa kedua tamu kita ini, Ketua?” tanya Perkosa Ombak dengan mulut yang sarat makanan. Ia benar-benar lapar.


“Sepasang pendekar yang terpisah dari kapalnya. Namanya Bagang Kala yang berjuluk Pendekar Angin Barat, dan istri cantiknya bernama Anik Remas.”


“Iya, memang sangat cantik. Sayang, sudah punya suami. Jika belum, pasti aku perjuangkan, Ketua,” kata Perkosa Ombak.

__ADS_1


“Apakah kalian bisa melihat kami dengan jelas?” tanya Anik Remas curiga karena Perkosa Ombak yang belum pernah melihatnya di kala terang, bisa menilainya dengan sangat benar.


“Kami bertahun-tahun melihat dan bergerak di dalam kegelapan, jadi kegelapan bagi kami tidak lebih seperti separuh dari terang,” jelas Perkosa Ombak.


“Kurang ajar. Berarti sejak tadi Ketua selalu memandangiku seperti mangsa,” kata Anik Remas, tetapi hanya di dalam hati. Namun kemudian dia bertanya, “Apakah jarak antara Pulau Kutil dengan Pulau Gunung Dua berjauhan?”


“Tidak begitu jauh. Atau, mungkinkah kalian berdua bagian dari rombongan para pendekar yang merebut kapal kami?” jawab Genggam Garam yang kemudian langsung menembak.


“Kami ….”


“Tidak usah menjawab!” Genggam Garam cepat memotong kata-kata Anik Remas. “Aku tidak akan memojokkan kalian atau memaksa kalian harus berdusta. Aku akan menganggap kalian berdua bagian dari kelompok wanita yang merebut kapalku.”


Terkesiap Bagang Kala dan Anik Remas mendengar keputusan Ketua Bajak Laut Malam itu.


“Tidak perlu terkejut. Kalian adalah tetap tamuku. Aku tidak akan menawan kalian berdua. Aku sangat tidak suka orang yang bersifat pengecut yang mengancam sandera demi kemenangan, kecuali terpepet. Hahaha!” kata Genggam Garam santai lalu tertawa penuh keakraban. “Silakan lanjutkan, tidak usah tegang.”


Akhirnya acara makan pun berlangsung lancar tanpa ada insiden-insiden usil dari Genggam Garam lagi.


Vonis awal dari Genggam Garam yang tanpa kompromi dan hanya berdasarkan dugaan, juga ditambah sikap bersahabatnya, akhirnya membuat Bagang Kala dan Anik Remas bersikap terbuka sehingga mengakui bahwa mereka memang pengikut dari wanita yang merebut kapal hitam.


Karena itulah, setelah acara dinner di Kapal Bintang Emas tersebut, Genggam Garam mengajak kedua tamunya berbincang serius. Masih dalam kondisi gelap-gelapan, tapi tidak main pegang-pegangan, baik antara Genggam Garam dengan Anik Remas, atau antara Anik Remas dengan Bagang Kala, apalagi antara Genggam Garam dengan Bagang Kala.


“Apa?! Permaisuri Kerajaan Sanggana yang terkenal kecantikan dan kesaktiannya itu?” pekik Genggam Garam saat mendengar jawaban dari Anik Remas. Ia segera menenangkan dirinya sendiri, “Tenang, Ketua. Bukankah kau ketua bajak laut sakti? Tidak mungkin kalah dengan perempuan lembut seperti para permaisuri kerajaan. Apalagi lautan adalah dunia kita.”


“Jangan lupa, Gusti Permaisuri Dewi Ara memiliki sejarah sebagai seorang pembantai. Jika hanya puluhan orang pendekar seperti ini, itu jauh dari ratusan orang yang pernah dibunuhnya dalam satu hari,” tambah Anik Remas untuk mengguncang mentalitas Genggam Geram.


“Hahaha!” Genggam Garam memaksakan diri untuk tertawa. “Aku tidak boleh ciut. Ada Dewi Centing yang berpihak kepadaku. Terkadang cerita memiliki banyak bumbu daripada kenyataannya.”


“Sebagai seorang ketua, akan sangat memalukan di depan anak buah jika harus ciut sebelum bertarung,” kata Anik Remas.

__ADS_1


“Hahaha! Kau mulai berani mempermainkan perasaanku, Anik. Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Sepertinya aku perlu menunjukkan siapa itu Genggam Garam sebenarnya,” kata Genggam Garam tetap berusaha santai. (RH)


__ADS_2