
*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*
Alangkah terkejutnya Genap Seribu saat melihat dari arah depan muncul sejumlah kuda yang berlari cukup kencang. Yang membuat pemuda botak itu terkejut bukan kemunculan kuda-kuda itu, tetapi para penunggangnya. Meski belum melihat jelas wajah-wajah penunggangnya, tetapi dia sangat ingat warna-warni pakaiannya, yaitu rombongan Permaisuri Geger Jagad.
Laksana perampok bank yang sedang dikejar-kejar polisi sekota, Genap Seribu yang sedang memanggul sosok seorang gadis berkulit bersih, sontak melakukan pengereman darurat.
Bdugk!
Saking terkejut dan paniknya, Genap Seribu mendadak berubah jadi pelari amatiran. Pengeremannya gagal, terbukti dia jatuh terjungkal ke depan bersama beban bawaannya. Jika Genap Seribu jatuh terguling lalu berakhir dengan terlentang, maka gadis yang dipanggulnya jatuh tengkurap, tapi tidak saling tindih.
Buru-buru Genap Seribu bangkit. Jatuh seperti itu bukan hal berat baginya. Namun, ketika dia bangun, kuda-kuda sudah mengepungnya.
“Ampuni hamba, Gusti Permaisuri! Ampuni hamba. Hamba hanya memperjuangkan cinta hamba!” teriak Genap Seribu memelas sambil buru-buru bersujud di tanah jalan hutan.
“Prajurit, sebenarnya kau gila atau tidak?” tanya Pangeran Bewe Sereng. Ia merasa tidak yakin jika Genap Seribu gila sebagaimana kelakuannya saat di pasar Kadipaten Makmur.
“Hamba hanya berpura-pura gila agar bisa bebas dari tugas keprajuritan dan bisa menyelamatkan bidadariku,” jawab Genap Seribu tanpa berani mendongak.
“Beraninya kau mempermainkan seorang permaisuri Sanggana Kecil!” kecam Dewi Ara.
“Aaak!” jerit Genap Seribu saat tubuhnya tahu-tahu terlempar ke belakang dan melesat melewati antara kuda Setya Gogol dan Lentera Pyar.
Bduk!
Genap Seribu jatuh menghantam tanah dengan punggung lebih dulu.
Sebagai mantan seorang perwira, Genap Seribu jelas bukanlah pendekar cengeng atau berkarakter barang pecah belah. Ia tahu bahwa yang melemparnya adalah Permaisuri Geger Jagad, meski wanita jelita itu tidak terlihat berbuat apa pun di atas kudanya. Karena itulah, dia segera bangkit tanpa mengeluh dan kembali bersujud di tempat jatuhnya.
“Ampuni hamba, Gusti Permaisuri! Ampuni hamba! Hamba hanya membela cinta hamba!” teriak Genap Seribu dengan nada memelas dan setengah menangis.
Genap Seribu memang tahan banting, tetapi untuk perkara hati dia sangat emosional. Bisa dikatakan bahwa hatinya begitu lembut, tapi khusus kepada wanita cantik.
“Siapa yang kau bawa itu?” tanya Dewi Ara.
“Kekasihku, Gusti Permaisuri. Aku menculiknya dari rumah Adipati Siluman Merah. Aku tidak mau dia menikah dengan lelaki lain. Dia telah berjanji akan menunggu lamaranku!” jawab Genap Seribu tanpa berani mengangkat wajahnya.
Semua perkataan Genap Seribu didengar jelas oleh semua orang, termasuk gadis yang tengkurap di tanah dalam kondisi tertotok lengkap.
Dewi Ara menatap tubuh wanita yang tengkurap di tanah. Tiba-tiba wanita itu merasakan seluruh totokannya terbebas. Sambil meringis menahan peri pada kulitnya yang lecet, ia bergerak bangkit. Ternyata gadis cantik itu tidak lain adalah Munik Segilir, kekasih Gada Perkasa, tetapi calon istri Pendekar Desa Balikandang yang bernama Bajigur.
Karena tahu bahwa wanita cantik jelita di atas kuda adalah seorang permaisuri, Munik Segilir segera bersujud menghormat.
__ADS_1
“Sembah hormat hamba, Gusti Permaisuri!” ucap Munik Segilir tanpa berani memandang ke atas, setelah melihat wajah Dewi Ara hanya sekelebatan pandang.
“Siapa kau?” tanya Dewi Ara.
“Hamba Munik Segilir, putri Adipati Siluman Merah,” jawab Munik Segilir.
Mendengar pengakuan gadis yang digondolnya dan dibawa lari sejauh beberapa kilometer itu, sepasang mata Genap Seribu terbeliak, seperti mata yang kelilipan sembuh mendadak. Apa yang didengarnya, membuatnya memaksa diri untuk mengangkat wajah dan melihat ke depan. Pandangannya melewati antara kaki-kaki kuda demi menjangkau sosok wanita bersarung bertelanjang bahu.
“Kau bukan Bening Mengalir?” tanya Genap Seribu memberanikan diri.
Pertanyaan itu membuat Munik Segilir jadi mengangkat kepalanya dan menengok ke belakang. Alangkah terkejutnya Genap Seribu ketika melihat jelas kecantikan Munik Segilir. Itu bukan kecantikan yang selama beberapa bulan ini dihayalkannya. Pikirannya langsung rusuh di dalam kepala dengan berbagai dugaan spekulasi. Kecantikan yang ini tidak lebih manis dari milik Bening Mengalir.
“Aku Munik Segilir, kakak dari Bening Mengalir,” jawab Munik Segilir.
“Hahahak!” tawa Pangeran Bewe Sereng karena sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi.
Tiba-tiba Perwira Serak Barbaya muncul dengan berlari cepat dan berhenti mendadak. Ia diam memerhartikan apa yang terpampang di depan matanya. Otaknya segera loading untuk mencerna siapakah orang-orang tersebut dan apa yang terjadi.
“Perwira, apakah kau mau bersikap lancang kepada Gusti Permaisuri Geger Jagad?!” hardik Setya Gogol.
Terbeliaklah Perwira Serak Barbaya mendengar hal itu. Ia segera maju beberapa tombak dan turun berlutut di sisi Genap Seribu.
“Hamba Perwira Serak Barbaya menghaturkan sembah hormat kepada Gusti Permaisuri!” seru Perwira Serak Barbaya.
“Rupanya kau, Genap Seribu!” desis Serak Barbaya geram.
Genap Seribu hanya melirik sebentar kepada rekan setingkatannya itu. Namun, dia tidak menanggapi. Ia kembali menunduk.
“Munik Segilir, apakah benar orang yang menculikmu adalah kekasihmu?” tanya Dewi Ara.
“Bukan, Gusti Permaisuri,” jawab Munik Segilir bernada takut.
“Bukan dia, Gusti Ratu. Aku salah culik. Aku adalah kekasih Bening Mengalir!” sela Genap Seribu.
“Diam kau, Genap Seribu! Gusti Permaisuri juga tahu kau salah culik!” bentak Setya Gogol yang membuat Pangeran Bewe Sereng tersenyum lebar karena merasa lucu dengan pemuda botak itu.
Terdiamlah Genap Seribu.
“Siapa wanita yang bernama Bening Mengalir?” tanya Dewi Ara lagi.
“Bening Mengalir adalah adik hamba, tapi dia bukan kekasih Perwira Genap Seribu,” jawab Munik Segilir yang mengejutkan Genap Seribu.
__ADS_1
“Dia berbohong, Gusti Permaisuri!” teriak Genap Seribu membantah sambil punggungnya tegak dari kerendahan. “Aku dan Bening Mengalir saling mencintai. Kami berdua selama tiga purnama saling berbalas surat cinta. Bahkan kami telah berniat menikah dan seharusnya dua hari lagi aku berniat melamarnya.”
“Tidak!” bantah Munik Segilir. “Bening Mengalir tidak pernah menerima surat atau membalas surat.”
“Jika bukan Bening Mengalir, lalu siapa yang mengirimkan surat cinta kepadaku?” tanya Genap Seribu emosi.
“Aku!” jawab Munik Segilir.
Terkejut susulan Genap Seribu mendengar jawaban Munik Segilir. Otaknya masih belum fix menyimpulkan.
“Aku yang menerima semua surat Kakang Genap Seribu dan aku yang mengirimkan surat cinta balasan kepada Kakang. Karena itu, aku tidak pernah menuliskan namaku atau nama Bening Mengalir di dalam setiap surat. Jadi, adikku tidak pernah tahu tentang cintamu, Kakang Genap,” ungkap Munik Segilir.
Gemetar seluruh persendian tubuh Genap Seribu mendengar rahasia itu. Isi kepalanya serasa ingin meledak mendengar perkataan gadis cantik itu. Terlihat sepasang matanya memerah dan berair, kulit wajahnya memerah meski tidak semerah udang rebus.
“Aaaa!” teriak histeris Genap Seribu sambil mendongak ke langit.
Munik Segilir jadi takut melihat reaksi Genap Seribu yang berteriak seperti orang gila.
“Tidak! Kau pasti berdusta, kau pasti berdusta. Kau hanya cemburu mengetahui keindahan cintaku dengan Bening Mengalir!” tukas Genap Seribu marah sambil menunjuk-nunjuk Munik Segilir.
“Maafkan aku, Kakang. Hiks!” ucap Munik Segilir yang berujung tangisan halus. Ia merasa sangat bersalah melihat reaksi barbar Genap Seribu. “Maafkan aku, Kakang. Apa yang aku katakan benar adanya. Surat-surat itu adalah perbuatanku. Aku melakukannya hanya bertujuan mempermainkanmu, karena aku menduga kau hanya berani menyatakan cinta lewat surat.”
“Aku tip …!”
Tiba-tiba kata-kata kemarahan Genap Seribu putus begitu saja. Tiba-tiba dia tidak bisa membuka dua bibirnya yang tertutup rapat.
“Ee ee ee!” pekik Genap Seribu tanpa bisa berbicara dan bibirnya lengket satu sama lain. Ia hanya mendelik kebingungan.
“Biar aku yang memutuskan. Kalian hanya berisik saja!” kata Dewi Ara dingin, tapi nada suaranya agak meninggi, menunjukkan kekesalannya.
Maka diamlah Genap Seribu. Ia pasrah. Apalagi baru kali ini dia menghadapi kesaktian setinggi milik Permaisuri Geger Jagad.
“Munik Segilir, karena kau telah mempermainkan hati dan cinta Genap Seribu sampai membuatnya seperti orang gila, aku perintahkan kau untuk menikah dengan Genap Seribu!” perintah Dewi Ara.
Mendelik terkejutlah Munik Segilir, Genap Seribu dan Serak Barbaya mendengar putusan itu.
“Tapi, Gusti Permaisuri,” ucap Munik Segilir yang masih berlutut. “Aku telah dijodohkan dengan Pendekar Desa Balikandang dan besok akan menikah.”
“Batalkan dan patuhi perintahku. Aku tidak peduli dengan perasaan kalian. Dan kau, Genap Seribu, karena cintamu kepada si penulis surat, maka nikahilah Munik Segilir selaku penulis surat. Itu jika kau masih mau tinggal di Wilayah Sanggana Kecil. Ketika aku kembali pulang dari perjalananku, kalian harus sudah menjadi suami istri dan sudah punya anak. Paham?” putus Dewi Ara.
“Paham, Gusti Permaisuri,” jawab Genap Seribu yang merasakan bibirnya sudah tidak lengket lagi. Ia lalu bersujud kembali meski berat, “Terima kasih atas karunia dari Gusti Permaisuri.”
__ADS_1
“Terima kasih atas karunia Gusti Permaisuri!” ucap Munik Segilir pula sambil bersujud.
“Sekarang semuanya kembali ke kediaman Adipati!” perintah Dewi Ara. (RH)