
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Sebelum pergi latihan lagi, Arda Handara dibawa tamasya oleh Gubernur Ilang Banyol. Ketika tahu bahwa Arda Handara adalah seorang pecinta ulat bulu, sang gubernur dengan antusias mengajak pangeran itu pergi ke Taman Bunga Pahit miliknya.
Gubernur memiliki beberapa jenis taman, dari taman bunga-bunga indah hingga taman yang berpohon-pohon besar seperti hutan angker. Semua taman itu steril dari manusia. Hanya orang-orang yang diizinkan saja yang boleh menjamahnya. Karena bagi Ilang Banyol, taman itu seperti seorang istri cantik jelita di malam pertama, hanya dia yang boleh menjamahnya, meski ujung-ujungnya tukang kebun yang menjamahnya setiap hari.
Taman Bunga Pahit adalah taman yang berisi berbagai macam tumbuhan beracun dari berbagai negeri. Uniknya, tanaman-tanaman beracun yang tumbuh memiliki ragam bunga yang indah-indah dengan warna yang warni.
“Coba kau rasakan aroma keharuman yang pahit ini, Pangeran,” kata Ilang Banyol seraya tersenyum bangga memperlihatkan keindahan Taman Bunga Pahit.
“Iya, Paman. Harum, tapi ada rasa pahitnya. Seperti rasa durian nirwana. Sangat harum, seperti harumnya rambut Ibunda. Begitu dimakan, rasanya begitu lezat. Karena terlalu lezatnya, Paman, sampai-sampai ada pahit-pahitnya di tenggorokan. Hmmm lezaaat,” kata Arda Handara, yang justru membuat sang gubernur terbelalak mendengar cerita bocah yang tingginya sama dengannya.
“Apakah ada durian seperti itu di dunia ini, Pangeran?” tanya Ilang Banyol.
“Ada, Paman. Ada di Istana. Nanti cobalah Paman main ke rumahku. Akan aku buat Paman mabuk durian nirwana. Hahaha!” kata Arda Handara lalu tertawa.
“Iya, Paman jadi penasaran. Hahaha!” kata Ilang Banyol.
“Di mana uyut-uyutnya, Paman?” tanya Arda Handara.
“Di sana, Pangeran,” jawab Ilang Banyol sambil menunjuk kepada sebuah gazebo warna oranye yang pucuk atapnya ada patung “kalajengkang”, kalajengking yang terjengkang.
Gubernur Ilang Banyol, Eyang Hagara dan Arda Handara segera ke arah gazebo tersebut. Mereka melalui apitan petak-petak pohon-pohon bunga yang semuanya beracun, dengan kadar racun yang berbeda-beda level.
Pesan Ilang Banyol sebelum masuk ke taman ini, hanya “Jangan makan daun dan bunga yang tumbuh di Taman Bunga Pahit.”
Arda Handara selaku bukan anak herbivora, sangat setuju dengan larangan itu.
Maka sampailah mereka di gazebo. Mereka naik ke gazebo panggung tersebut.
Dari tempat itu, mereka bisa melihat satu lahan yang dikelilingi oleh bunga berwarna merah cerah pada tepian kelopaknya, tetapi berwarna keunguan pada bagian tengahnya. Daunnya berwarna hijau kehitaman.
Di dalam lingkaran tanaman yang cukup luas, terlihat banyak binatang berbisa. Ada jenis semut, ada jenis kodok, kelabang, laba-laba, kalajengking, hingga kumbang dan ulat bulu.
“Waaah!” desah Arda Handara takjub. Lalu pekiknya girang, “Itu dia, uyut-uyutnya. Waaah, cantik sekali. Hahaha!”
__ADS_1
“Di sini ada beberapa jenis ulat bulu. Ada ulat bulu harimau, ada ulat bulu cebol, dan ada ulat bulu bokong periuk. Nah, ulat bulu cebol adalah ulat bulu yang paling beracun. Bentuknya paling kecil, tapi paling berbahaya. Jika tersengat bulunya, maka seorang dewasa akan butuh waktu empat hari untuk mati. Binatang-binatang di sini jadi sangat berbisa karena mereka makan racun setiap hari. Bunga yang tumbuh menjadi pagar itu bernama bunga cinta malam, tanaman paling beracun. Jangankan memakannya, menyentuhnya saja bisa keracuanan. Karena itu, Paman lebih dulu memberimu penangkal racun agar kau tidak apa-apa jika menyentuhnya atau disengat binatang beracun itu ….”
“Aku boleh masuk ke sana, Paman?” tanya Arda Handara memotong penjelasan Ilang Banyol yang berkepanjangan.
“Tentu boleh, bukankah kau sudah minum pil penangkal racun,” jawab Ilang Banyol cepat.
“Terima kasih, Paman. Hahaha!” ucap Arda Handara, lalu dia melompat bersalto melewati pagar bunga cinta malam.
Anak itu mendarat di tanah yang di sekitarnya ada beberapa kalajengking.
“Hahaha!” tawa pelan Eyang Hagara sambil mengulurkan tangannya ke depan wajah Ilang Banyol.
Pada telapak tangan Eyang Hagara ada sebutir pil berwarna hijau muda. Terbeliak mata Ilang Banyol melihat pil kecil itu. Itu adalah pil penangkal racun yang ia berikan kepada Arda Handara sebelumnya.
“Eh, kenapa pilnya ada padamu, Pendekar?” tanya Ilang Banyol heran.
“Pangeran tidak memakannya. Dia sudah terbiasa dengan racun. Salah satu ibunya adalah wanita beracun,” jawab Eyang Hagara.
“Oooh,” desah Ilang Banyol terpengarah.
Dengan riangnya Arda Handara bergerak ke sana ke sini mencari dan memungut ulat bulu. Dia ternyata sudah membawa sebuah wadah untuk menampung ulat bulu.
“Iya, tapi jangan kau habiskan ulat buluku!” sahut Ilang Banyol, tapi bernada cemas.
“Tidak akan, Paman. Aku akan menyisakan yang mukanya jelek-jelek!” teriak Arda Handara.
Tanpa ada rasa takut sedikit pun terhadap sengatan bulu-bulu yang berbulu. Ada tiga jenis ulat bulu, semua jenis Arda Handara ambil. Lantaran ulat bulu itu tidak memberi efek kepadanya karena dia sudah kebal, maka dia ingin melihat efeknya pada orang lain. Tentunya bukan kepada Gubernur Ilang Banyol.
Singkat cerita. Setelah Arda Handara sudah selesai memanen uyut-uyut, mereka pun pulang dengan menaiki kereta burung unta.
“Kereta burung siapa itu?” tanya Ilang banyol saat kereta burungnya masuk ke halaman.
Ia melihat ada sebuah kereta burung mewah berwarna kuning dengan tepian-tepian berwarna putih sedang terparkir. Sangat mirip dengan corak warna telur ayam rebus dibelah. Dari model ukiran dan hiasan-hiasannya yang menggantung-gantung ramai, menunjukkan bahwa itu kereta burung untuk perempuan. Terlalu feminim jika itu dinaiki oleh seorang lelaki. Ketika dilihat lagi, ternyata kusirnya seorang wanita cebol.
Ternyata di teras rumah gubernur, sudah ada seorang wanita cebol berpakaian kuning sedang duduk menunggu. Wanita cantik itu sekilas mirip Hijau Kemot, tapi dia berambut biru terang.
__ADS_1
“Itu Sanda Kolot, Paman. Penerbang tercantik,” jawab Arda Handara.
“Maksudmu, penerbang dari Pasukan Domba Merah?” tanya Ilang Banyol.
“Betul, Paman,” tandas Arda Handara.
“Dia ke sini mau bertemu siapa?” tanya Ilang Banyol lagi.
“Orang cantik pasti mencari orang ganteng, Paman. Hahaha!” jawab Arda Handara bangga.
“Hahaha!” tawa Eyang Hagara.
“Aku jadi penasaran, apa yang telah kalian perbuat sehingga seorang penerbang Pasukan Domba Merah datang ke rumahku seorang diri,” kata Ilang Banyol.
“Mungkin dia ingin bertemu dengan Hijau Kemot,” kata Eyang Hagara, meski dia yakin bahwa kedatangan Sanda Kolot untuk bertemu dengan Arda Handara.
Setelah kereta burung botak berhenti, Arda Handara turun lebih dulu dan langsung berlari kecil mendatangi Sanda Kolot yang sudah berdiri dari duduknya.
Gadis kerdil yang cantiknya sangat cantik untuk standarisasi perempuan cebol, tersenyum manis melihat kedatangan Arda Handara, lelaki yang telah memikat hatinya dan membuatnya jatuh cinta, terlepas bahwa Arda Handara masih anak kecil dan dia sendiri berstatus masih kekasih Kadidat Colong.
“Sanda Kolot, apakah kau mencariku?” tanya Arda Handara percaya diri sambil berlari menghampiri Sanda Kolot.
“Benar sekali,” jawab Sanda Kolot sambil tersenyum, memancarkan rasa bahagia pada dirinya.
“Kau ada perlu denganku?” tanya Arda Handara.
“Sebenarnya tidak. Namun, aku selalu memikirkanmu sejak pertandingan di lalat kemarin. Mungkin aku rindu,” ujar Sanda Kolot jujur.
“Hahaha!” tawa Arda Handara jumawa.
“Kau dari mana?” tanya Sanda Kolot.
“Aku baru saja memanen uyut-uyut di taman Paman Gubernur. Mereka cantik-cantik, karena aku memilih yang cantik-cantik seperti kau. Hahaha!”
“Uyut-uyut?” sebut ulang Sanda Kolot sambil tersenyum tanggung, karena dia tidak mengerti.
__ADS_1
“Sini, aku perlihatkan,” ajak Arda Handara sambil segera duduk bersila di lantai teras.
Namun, Sanda Kolot tidak langsung ikut duduk, karena ia harus menyapa Gubernur Ilang Banyol. (RH)