Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 23: Mati Termakan Waktu


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Clap! Brass!


Tiba-tiba Galala Lio lenyap dari tempatnya. Dia berpindah tempat sangat cepat, tetapi kilatan bayangannya berupa lintasan sinar hijau masih terlihat.


Dia tahu-tahu berada di atas kepala Dewi Ara sambil menghantamkan sinar hijau menyilaukan.


Clap!


Namun, sinar hijau itu hanya menghancurkan tempat Dewi Ara berdiri. Sang permaisuri telah menghilang dari tempatnya tanpa terlihat ada lompatan atau langkah.


Ternyata, Dewi Ara justru muncul di atas tubuh Galala Lio.


Bdak! Bragk!


Satu hantaman Tatapan Ratu Tabir begitu kuat pada punggung Galala Lio. Laksamana melesat deras menabrak lantai pelabuhan yang sudah berkubang.


Memang, tubuh Galala Lio menghantam kubangan pelabuhan, tetapi langsung melesat lagi ke atas menyerang Dewi Ara yang ada di udara.


Namun, lagi-lagi sosok Dewi Ara hilang dari posisinya, membuat Galala Lio menghantam ruang kosong.


Bdak! Jbur!


Dan lagi-lagi Dewi Ara hanya berpinda posisi ke belakang Galala Lio. Tidak perlu pakai tangan untuk menghantam dan melempar lelaki besar berselimut sinar hijau, cukup dengan pandangan. “Sekali pandang, celakalah kau”. Kira-kira seperti itulah slogannya.


Galala Lio melesat terlempar masuk ke dalam air laut. Namun, itu tidak membuat sinar yang menyelimuti tubuhnya padam, sehingga ketika dia menyentuh dasar pun sosoknya terlihat jelas di dalam air.


Bruss!


“Aaarrrkk!”


Tidak perlu menghitung detik yang berdetak sendiri. Sosok Galala Lio telah naik dengan teriakan kerasnya, menunjukkan kemarahannya yang belum terlampiaskan dan tersalurkan.


Brass! Brass!


Bluarr!


Semakin hancur lantai pelabuhan ketika Galala Lio melesatkan dua sinar hijau menyilaukan. Kali ini, Dewi Ara mencoba menahan dengan dinding sinar merah bening dari ilmu Perisai Dewi Merah.


Ledakan terjadi di sisi luar perisai. Perisai memang tidak hancur, tetapi tubuh Dewi Ara terlempar deras mundur di udara.


Sets sets sets …!


Zess zess zess …!


Dalam posisi itu, Dewi Ara melemparkan enam tombak sinar biru secara bersusulan dalam jarak waktu yang sangat rapat. Keenam Tombak Algojo itu mengenai tubuh Galala Lio. Namun, semua tombak sinar biru musnah dan hanya membuat Galala Lio terdorong pendek di udara. Sang laksamana bisa mendarat mantap di ujung pelabuhan.

__ADS_1


“Hahahak …!” tawa terbahak Galala Lio yang tidak menderita luka sedikit pun.


Sementara Dewi Ara telah mendarat dan kedua tangannya telah bersinar biru dan putih. Itu ciri ilmu Dewi Bunga Tiga.


Zweerss! Besk!


Galala Lio melesat maju kepada Dewi Ara yang juga mengibaskan kedua tangannya. Maka muncullah lima piringan sinar biru putih seperti piringan gergaji raksasa yang berdiri tegak.


Hebat. Galala Lio ternyata berani adu tubuh dengan salah satu ilmu Delapan Dewi Bunga.


Berbeda dengan Waring Cin yang tubuhnya terpotong tiga saat terkena ilmu Dewi Bunga Tiga, tubuh Galala Lio justru terpental jauh dan kembali jatuh ke laut.


Kembali, tidak perlu menghitung detik yang berdetak. Galala Lio kembali meroket dari dalam laut.


Dewi Ara membiarkan Galala Lio mendarat kembali di ujung pelabuhan. Ia hanya melemparkan seberkas cahaya hijau ke udara.


Wess!


Sinar hijau itu melebar di udara tinggi, lalu jatuh cepat berbentuk ruang tertutup yang mengurung sosok Galala Lio. Tidak ada lubang atau celah untuk bisa melihat ke luar kurungan.


Brass! Bluar!


Galala Lio langsung menghantam dinding sinar hijau. Namun, sinar hijau Galala Lio hanya meledak tanpa berefek pada kurungan itu sedikit pun.


Bluar!  Bluar! Bluar …!


Berulang kali Galala Lio mencoba menghancurkan dinding kurungan itu, tetapi sia-sia belaka. Sepuluh kali percobaan, dua puluh kali percobaan, dua puluh lima kali, akhirnya Galala Lio memadamkan ilmunya.


Jangankan melihat suasana pelabuhan, mendengar suara ombak atau pertarungan pun tidak. Angin pun tidak berbisik.


Setelah mengurung pemimpin tertinggi Angkatan Laut Kerajaan Puncak Samudera itu, Dewi Ara berbalik dan melangkah pergi menuju pintu gerbang pelabuhan yang ada cukup jauh di depan.


Pasukan marinir yang masih tersisa di pelabuhan tidak ada yang berani menyerang Dewi Ara, setelah tiga prajurit yang datang mencoba menyerang dilempar jauh, yang kemudian jatuh dalam kondisi patah-patah, bukan pegal-pegal lagi.


Sementara itu, pertarungan sengit terjadi antara Tangan Kanan Seser Kaseser melawan Lulug Ohe dan Kemangi Yom. Bersama sebagian pasukan yang tersisa, mereka menghadang Putri Mahkota dan sangat berniat untuk membunuh pewaris Istana Kabut Kuning itu.


Dengan keahlian panahnya yang terbatas, Putri Keken bahkan ikut bertarung dengan memanah para prajurit sebisanya. Dia dalam perlindungan Bong Bong Dut dan Komandan Bengisan, karena Seser Kaseser sibuk dikeroyok dua pendekar.


Awalnya Seser Kaseser terdesak dikeroyok oleh Lulug Ohe dan Kemangi Yom. Bahkan dua serangan berhasil membuatnya terjatuh. Namun kemudian, bantuan datang.


Set set set …!


Ctarc tar ctar …!


Tiba-tiba dari berbagai arah, berdatangan panah-panah sinar biru yang menyerbu Lulug Ohe dan Kemangi Yom.


Suami istri itu cepat menggunakan perisai sinar hijau di kedua tangannya. Selain bergerak berkecepatan tinggi, mereka juga menangkis panah-panah itu sehingga menimbulkan ledakan nyaring. Ternyata serbuan panah sinar itu cukup ampuh mendesak Lulug Ohe dan istrinya, juga memberi ruang bagi Seser Kaseser untuk mengamankan Putri Mahkota.


“Putri Mahkota, cepat pergi kepada Gusti Permaisuri!” seru Seser Kaseser. Lalu teriaknya kepada Bong Bong Dut dan Komandan Bengisan, “Lindungi Putri Mahkota!”

__ADS_1


Putri Mahkota Putri Keken segera berlari menuju Permaisauri Dewi Ara di bawah pengawalan Bong Bong Dut dan Komandan Bengisan.


Setelah serangan panah-panah sinar biru habis, tiba-tiba ….


“Berikan aku satu lawan!” teriak Genggam Garam yang datang berkelebat dari arah laut. Dia langsung memilih lawan, yaitu Lulug Ohe.


Turun tarungnya Ketua Bajak Laut Malam membuat Seser Kaseser semakin bersemangat. Tanpa harus menolak, dia pun melawan Kemangi Yom.


Set set set …!


Sebelum menyerang Kemangi Yom, Seser Kaseser lebih dulu melepaskan sepuluh panah sinar biru ke sembarang arah dengan busur gaib. Setelah itu, barulah dia menyerang Kemangi Yom dengan ilmu Jejak Merah.


Ilmu Jejak Merah mengandalkan keahlian kaki dalam menyerang. Ada sinar merah yang menyala pada kedua telapak alas kaki Seser Kaseser. Sebaliknya Kemangi Yom mencabut dua anak panah di punggungnya.


Dengan bersenjata, Kemangi Yom justru mengambil alih dominasi menyerang. Seser Kaseser tidak mau kakinya menjadi korban tusukan anak panah, jadi dia sangat berhati-hati dalam melancarkan tendangannya.


Namun ada yang unik. Setiap Seser Kaseser melangkah, kakinya meninggalkan jejak kaki berwujud warna merah menyala di lantai pelabuhan, seperti darah siluman. Hasilnya setelah bertukar serangan selama durasi masak mie rebus, ada banyak jejak-jejak merah menyala di antara mereka.


Set set set …!


Ctar ctar ctar …!


Kembali datang rombongan panah-panah sinar biru yang menyerang Kemangi Yom. Wanita yang belum menggunakan busurnya itu, kembali melindungi dirinya dengan dua perisai sinar hijau pada kedua tangannya. Sepuluh ledakan berbunyi nyaring karena panah sinar bisa dimentahkan oleh ilmu perisai Kemangi Yom.


Jess! Blar!


“Aaak!” jerit melengking Kemangi Yom saat kaki kanannya meledak hancur seperti menginjak ranjau.


Di saat menangkis panah sinar terakhir, kaki kanan Kemangi Yom menginjak salah satu jejak nyala merah bekas pijakan kaki Seser Kaseser. Ternyata, ketika jejak menyala itu diinjak oleh Kemangi Yom, terjadi ledakan keras yang menghancurkan kaki kanan si wanita.


Kemangi Yom ambruk terduduk dengan luka yang mengerikan.


“Yooom!” teriak Lulug Ohe terkejut di sela-sela pertarungannya melawan Genggam Garam.


Ia ingin berkelebat pergi menolong istrinya, tetapi Genggam Garam begitu ketat mengurung dengan ilmunya.


Karena sudah tidak bisa berdiri lagi, Kemangi Yom buru-buru mengambil busurnya. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa pada tubuh bawahnya, Kemangi Yom memasang dua anak panah sekaligus pada busurnya.


Set set!


Ketika kedua anak panah itu dilepas yang langsung mengarah Seser Kaseser, wujudnya berubah menjadi seperti ular sinar biru.


Cuss!


Seser Kaseser melompat cepat menghindari dua panah itu sambil tubuhnya dilindungi oleh lapisan tipis sinar kuning. Namun, satu panah berhasil mengenai bahu Seser Kaseser yang membuatnya terbanting di lantai pelabuhan.


Pada saat yang sama, sinar hijau yang mengurung Laksamana Galala Lio telah dicabut oleh Dewi Ara. Hasilnya adalah sosok gagah perkasa Galala Lio telah berubah menjadi tulang belulang yang berselimut pakaian yang sudah begitu lusuh dan robek-robek. Tidak ada daging dan kulit lagi, apalagi darah.


Itu terjadi karena di dalam kurungan ilmu Dewi Bunga Enam, Galala Lio melalui masa puluhan tahun lamanya, meski pada hakekatnya baru ditinggal selama satu seduhan kopi pahit.

__ADS_1


Pasukan yang ada di Kapal Raja Karang, yang sejak tadi menonton pertarungan pemimpinnya, terkejut bukan alang kepalang. Mereka buru-buru turun dari kapal dan pergi ke ujung pelabuhan untuk memastikan kondisi sang laksamana yang sebenarnya. (RH)


__ADS_2