
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Meski lelah, tetapi Arda Handara tidak lama tidurnya. Ia bangun di saat malam menuju tengahnya. Sejenak Arda Handara tercenung, lalu kemudian mengedarkan pandangannya di dalam kamar Eyang Hagara.
“Eyang! Eyang?” panggil Arda Handara.
Ia lalu mengucek-ucek matanya, seolah membersihkan matanya dari kotoran.
“Eyang!” panggil si bocah sambil beringsut turun dari kasur empuknya.
Karena yang dipanggil tidak kunjung menjawab, Arda Handara memutuskan berjalan ke luar kamar.
“Kau bangun, Pangeran?” tanya seorang wanita cebol dengan suara seperti anak perempuan. Wanita cebol itu adalah Linting Kedot, ibu dari Hijau Kemot. Ia sedang menyulam pakaian dengan berpenerang lentera minyak yang dikurung dengan semprong kaca.
“Eyang ke mana, Bi?” tanya Arda Handara.
“Sedang pergi untuk urusan yang penting,” jawab Linting Kedot seraya tersenyum.
“Katanya mau melatihku menjadi penerbang,” kata Arda dengan kening berkerut, menunjukkan kekecewaannya. “Bibi tahu cara memakai tongkat terbang?”
“Coba kau pergi tanya Hijau Kemot, dia sedang berlatih sendiri di halaman samping,” anjur Linting Kedot.
“Iya, Bi,” jawab Arda Handara jadi sumringah.
Arda Handara lalu berlari kecil keluar dari rumah Eyang Hagara. Di luar ia segera pergi mencari ke lapangan yang ada di sisi kanan rumah utama.
Di bawah penerangan tiang-tiang yang digantungi lampu minyak, Arda Handara melihat Hijau Kemot sedang terbang bermanuver dengan tongkat terbangnya.
Hijau Kemot terbang berputar-putar seperti roda gila di udara. Itu cara terbang yang luar biasa.
“Seperti Brojol. Hahaha!” ucap Arda Handara lirih yang jadi teringat dengan tupai peliharaannya.
Brojol memang suka beratraksi melakukan putaran ke atas seperti bersalto ketika berada di dalam sangkarnya.
Weest!
Ketika Hijau Kemot terbang rendah dengan cara zig zag, ia mengerem di udara saat melihat keberadaan Arda Handara.
“Bukankah kau sedang tidur, Pangeran?” tanya Hijau Kemot tanpa senyum. Ia turun ke tanah berumput
“Aku ingin bertanya. Bagaimana caranya anak baru sepertiku menggunakan tongkat terbang?” tanya Arda Handara.
__ADS_1
“Mudah. Jika kau memiliki tenaga dalam yang besar, kau cukup menggenggam leher tongkat, lalu salurkan tenagamu. Agar mudah menaikinya, letakkan lebih dulu tongkatnya di bawah burung botakmu,” jelas Hijau Kemot sedikit berbau konten dewasa. Baginya, Arda Handara bukan lagi seorang bocil ingusan, tetapi sudah bocil berjenggot.
“Wadduh, tenaga dalamku masih kecil, bagaimana bisa aku menerbangkan tongkat?” batin Arda Handara. Namun kemudian, dia berakata kepada gadis cantik di depannya, “Sepertinya itu perkara mudah. Aku putra raja tersakti di dunia, sedari kecil aku sudah dibekali kesaktian yang juga tinggi.”
“Aku jadi ingin lihat pembuktian dari sesumbarmu itu, Pangeran,” kata Hijau Kemot dengan tatapan yang meragukan.
“Nanti kau akan lihat, Sayangku. Aku harus membersihkan wajahku agar selalu terlihat tampan,” kata Arda Handara dengan gaya yang tengil.
Ia lalu berbalik dan berjalan dengan dada agak ditarik ke belakang, sementara kedua tangan melenggang dan kaki berjalan agak mengangkang, seperti gaya jalan orang kaya baru. Padahal di dalam kepalanya, ia sedang berpikir ekstra bagaimana cara ia bisa menerbangkan tongkat terbang.
“Hihihi!” tawa Hijau Kemot melihat tingkah anak pendek itu.
Arda Handara kembali masuk ke rumah Eyang Hagara.
“Pangeran, apakah tidak apa-apa jika Bibi tinggal sendirian?” tanya Linting Kedot saat Arda Handara datang.
“Oh, tidak apa-apa, Bibi. Terima kasih karena sudah memomong aku saat tidur. Apakah aku tetap tampan saat tidur, Bi?” kata Arda Handara.
“Oh, tentu. Pangeran sangat tampan saat tidur, lebih menggemaskan. Hihihi!” kata Linting Kedot lalu tertawa karena merasa lucu dengan pertanyaan si bocah.
Linting Kedot lalu berbalik pergi sembari membawa senyumannya.
“Aku turunkan dulu,” pikir Arda Handara.
Arda Handara lalu naik ke atas meja yang tingginya setinggi bahunya. Dari atas meja itu, Arda Handara melompat bebas ke atas kasur yang tebal dan empuk. Ternyata Arda Handara menjadikan kasur sebagai pegas tolakan untuk menjangkau tongkat yang digantung.
“Kena!” pekik Arda Handara yang ternyata tubuhnya bisa melompat tinggi dan mencapai tongkat.
Tongkat itu dia pukul sehingga terpental melambung mengenai langit-langit lalu jatuh ke lantai kamar. Tongkat itu digantung bukan dalam kondisi diikat, tetapi hanya diletakkan pada dua gantungan besi yang ujungnya berbentuk kait.
Arda Handara pun mendarat apik di lantai kamar. Ia buru-buru memungut tongkat yang masih terlihat bagus, meski katanya sudah puluhan tahun tidak dipakai. Pada dasarnya, tongkat terbang adalah benda yang bukan kwalitas kawe atau abal-abal. Tongkat terbang layaknya sebuah benda pusaka.
Setelah memerhatikan dengan teliti benda bulat panjang yang sayapnya terlipat itu, Arda Handara lalu menyusupkan batang tongkat ke selipan kedua pahanya. Ia lalu mencekik leher tongkat dan mencoba mengalirkan tenaga dalam yang dimilikinya.
Arda Handara memang memiliki tenaga dalam. Namun, ternyata tingkatannya tidak mampu memberi efek apa pun terhadap tongkat tersebut.
“Wah, bagaimana ini?” tanya Arda Handara dalam hati. Otaknya seakan buntu. Namun, ia tetap optimis, “Pasti ada cara.”
Setelah matanya menatap ke awang-awang, setelah bibirnya dimonyong-monyongkan, setelah bokongnya digaruk-garuk, akhirnya Arda Handara tertawa kecil.
“Hahaha! Memang aku anak pintar,” pujinya kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Arda Handara lalu pergi ke luar dengan menenteng tongkat terbang milik Eyang Hagara yang beratnya tidak seberat dosanya. Sejenak ia celingak-celinguk sebelum keluar dari rumah. Tidak ada prajurit yang berjaga. Barulah setelah itu, dia keluar dan berhenti di depan rumah.
Arda Handara berdiri menjepit tongkat dengan kedua pahanya. Sementara tangan mengeluarkan ketapel Ki Ageng Naga dan seekor ulat bulu petang yang masih dimilikinya. Uyut-uyut itu dipasang di karet pelontar. Sejenak ia berkonsentrasi sambil memegang Ki Ageng Naga. Pikirannya memberi sugesti.
Tus! Tus!
Arda Handara menembakkan ketapelnya ke tanah berumput. Ulat bulu petang yang bercahaya jingga redup melesat menghantam tanah rumput. Ternyata memantul cepat kembali ke atas mengenai batang tongkat terbang.
Swosss!
“Aaa …!” jerit panjang Arda Handara terkejut bukan main dengan kedua tangan cepat berpegangan kencang pada leher tongkat.
Setelah terkena hantaman ulat bulu, tiba-tiba tongkat terbang itu bersinar merah dan langsung melesat terbang lepas landas.
Apesnya, tongkat terbang itu melesat hendak menabrak dinding rumah Gubernur Ilang Banyol.
“Aaa …!” jerit Arda Handara kencang dan berkepanjangan, sambil mencoba menarik ke atas leher tongkat.
Ternyata, tongkat itu berbelok naik menuju langit.
Teriakan Arda Handara yang kencang terdengar oleh para prajurit jaga dan orang di dalam rumah, termasuk Gubernur Ilang Banyol yang sudah berada di ruang kerjanya. Para prajurit jaga segera mencari sesuatu ke langit malam.
Mereka melihat tongkat bersinar merah yang ditunggangi oleh seseorang terbang cepat meliuk-liuk tidak beraturan di langit atas rumah Gubernur, seperti balon panjang yang dilepas ke udara tanpa diikat.
Gubernur Ilang Banyol segera melihat keluar lewat jendela. Ia juga bisa melihat sesekali tongkat yang muncul dari balik tepian atap. Hal itu membuat Gubernur segera berlari pergi ke luar agar bisa nelihat jelas.
Di ruang depan, ia bertemu dengan Hijau Kemot dan istri kesembilannya, Linting Kedot. Mereka bertiga sama-sama ke luar.
Namun, setibanya di luar, tongkat terbang bersinar merah sudah terbang jauh meninggalkan langit di atas mereka.
“Apa yang terjadi, Taru Jelot?” tanya Gubernur Ilang Banyol kepada prajurit jaga.
Prajurit cebol yang bernama Taru Jelot segera berlari mendekat.
“Tidak tahu, Gubernur. Tapi sepertinya itu seorang penerbang dan muncul dari sisi belakang rumah,” jawab Taru Jelot.
“Belelele! Pangeran Arda!” pekik Hijau Kemot terkejut. Dugaannya langsung tertuju kepada pangeran kecil itu, mungkin efek dari terus memikirkannya kurang dari separuh hari.
“Benar. Jangan-jangan dia menggunakan tongkat terbang Pendekar Hagara, tapi kenapa sampai bersinar merah seperti itu?” kata Gubernur Ilang Banyol.
“Lebih baik kita pastikan ke belakang,” kata Linting Kedot, lalu lebih dulu pergi ke samping rumah untuk sampai ke belakang. Sebenarnya lewat dalam juga bisa, tetapi banyak pintu yang harus dilalui. (RH)
__ADS_1