
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Cumi Bentol menengok ke belakang, dilihatnya Kucang Tongol dan Balak Molor mengejarnya dengan kecepatan penuh juga.
Sing! Sing! Sing!
Karena terlalu cepatnya, sampai-sampai suaranya seperti mobil formula ketika melintas di depan Eyang Hagara dan Pelatih Banik Terong.
Jika pengejarnya tidak berbekal senjata, mungkin dikejar sampai malam pun Cumi Bentol tidak perlu khawatir. Masalahnya, Kucang Tongol dan Balak Molor akan melempar bola merah.
“Molor! Potong terbang Bentol di sana!” teriak Kucang Tongol sambil menunjuk ke sisi lain dari udara lapangan.
“Siap laksanakan!” teriak Balak Molor, lalu terbang berbelok dengan rencana dia akan menghadang di sisi kiri lapangan karena Cumi Bentol pasti akan berbelok di ujung.
Namun sayang, dari samping muncul Sanda Kolot yang justru posisinya mengejar Balak Molor. Akhirnya, bukannya menjalankan rencana, Balak Molor justru dikejar-kejar si gadis cantik berambut biru terang.
Jadi saat itu ada tiga kejar-kejaran. Pertama, Jangka Kolor yang mengejar Arda Handara di tengah-tengah. Kedua, Kucang Tongol yang mengejar Cumi Bentol di sepanjang pinggir lapangan. Dan ketiga, Sanda Kolot yang mengejar Balak Molor ke mana saja.
Sementara Mini Menor bebas lawan. Ia terbang bebas untuk memilih siapa yang harus dia bantu. Namun, memang dasar wanita, pastinya dia membantu si bocah tampan Arda Handara. Bagaimanapun, yang namanya bertemu lawan jenis yang baru, rasanya berbeda dengan lawan jenis stok lama.
“Cumi-cumiii!” teriak Arda Handara kencang, sedikit mengandung tenaga dalam.
Panggilan kencang itu membuat Cumi Bentol menengok kepada Arda Handara yang terbang ke arah wilayahnya. Kucang Tongol juga menengok, sehingga dia juga melihat ketika Arda Handara memberi kode kepada Cumi Bentol agar terbang ke arahnya.
Cumi Bentol segera patuh. Ia segera berbelok terbang menyongsong ke arah Arda Handara yang posisinya masih jauh. Kucang Tongol juga cepat berbelok dan tetap mengejar di belakang Cumi Bentol.
Dengan berbeloknya Cumi Bentol, maka ada dua kejar-kejaran yang arahnya saling mendatangi.
Arda Handara segera memposisikan terbangnya agar terhalang dari pandangan Kucang Tongol.
Kucang Tongol bisa melihat kedatangan Arda Handara di arah depan Cumi Bentol, tetapi sosok bocah itu sesekali berlindung di balik tubuh Cumi Bentol. Ternyata maksud Arda Handara adalah dia ingin memberi kode kepada Cumi Bentol agar Kucang Tongol yang ada di belakang tidak melihatnya dengan jelas.
Seiring semakin dekatnya Arda Handara dan Cumi Bentol, anak itu memberi bahasa tangan agar melakukan satu tindakan pada waktu yang tepat.
Sementara Jangka Kolor dan Kucang Tongol memiliki pemikiran yang sama. Mereka menduga bahwa Arda Handara akan langsung melempar Kucang Tongol dan Cumi Bentol akan melempar Jangka Kolor. Istilah lainnya bertukar target, sehingga mereka yang dikejar bisa melawan dengan menyerang.
Detik-detik pertemuan keempat penerbang itu akan terjadi. Semuanya saling memegang bola merah yang siap dilemparkan.
“Tiga, enam, sembilan,” hitung Cumi Bentol pelan untuk dirinya sendiri.
“Turun!” teriak Arda Handara berkomando, bersamaan dengan hitungan kesembilan Cumi Bentol, yang saat itu mereka berdua berjarak tinggal satu isapan cendol di sedotan.
Set! Set!
Jangka Kolor dan Kucang Tongol bersamaan melakukan lemparan keras dengan target yang berganti. Jangka Kolor melempar Cumi Bentol yang datang mendekat, sementara Kucang Tongol melempar Arda Handara yang berlawanan arah.
West! West! Dak!
“Akk!” jerit Kucang Tongol ketika bola Jangka Kolor menghantam mulutnya dengan sangat keras.
Sementara lemparan bola Kucang Tongol yang justru mengarah Jangka Kolor bisa dihindari dengan gerakan meliuk di udara.
__ADS_1
Kejadian saling lempar sesama teman itu terjadi karena ketika Arda Handara berteriak “turun”, Cumi Bentol cepat menukik turun dengan tajam dan Arda Handara sendiri terbang naik dan berputar ke belakang, membuat dirinya turun terbang di belakang Jangka Kolor.
Sementara itu, Kucang Tongol terlempar dari tongkat terbangnya dengan darah dan dua giginya ikut terbang mengudara. Kencangnya lemparan Jangka Kolor membuat Kucang Tongol pingsan di udara sebelum mendarat.
“Hahaha!” tawa Arda Handara yang sejauh ini sukses besar dengan taktiknya yang cerdas. Bahkan kini dia bisa mengejar Jangka Kolor.
“Aku baru melatihnya beberapa hari saja, tetapi dia sudah bisa mempecundangi anak-anak asuhmu, Terong,” kata Eyang Hagara kepada sahabatnya.
“Sangat berbakat, sangat berbakat,” puji Banik Terong. “Tapi Jangka Kolor adalah pemain yang licin untuk dijatuhkan.”
“Hihihi!” tawa kencang Mini Menor ketika dia datang dari arah samping kanan Jangka Kolor yang mengejutkan sang kapten.
“Belelele!” pekik Jangka Kolor saat melihat dari arah kiri datang pula Cumi Bentol. Tiga penerbang menyergap posisinya.
Cumi Bentol dan Mini Menor sudah siap melempar bola dari kanan dan kiri Jangka Kolor.
Dalam posisi seperti itu, pertimbangan Jangka Kolor adalah melawan lawan yang terlemah, yaitu Mini Menor. Ia langsung berbelok ke kanan dan menyongsong Mini Menor.
“Belelele!” pekik Mini Menor terkejut dan refleks langsung melempar bolanya menargetkan Jangka Kolor yang datang dengan cepat.
Set! Bdak!
Benar kata Pelatih Banik Terong, Jangka Kolor memang licin. Dengan lihai dia bisa mengelaki bola lemparan Mini Menor sehingga hanya menyerempet ujung kumisnya yang berkibar. Meski juga memegang bola merah, tetapi Jangka Kolor tidak melempar Mini Menor. Dia hanya merentangkan tangan kanannya sehingga perempuan cebol itu tersangkut dan lepas dari tunggangannya.
“Aaa!” jerit Mini Menor yang meluncur jatuh menuju kasur di tanah lapangan.
Meski Mini Menor berhasil dijatuhkan, Arda Handara dan Cumi Bentol terus mengejar Jangka Kolor.
West!
Arda Handara tiba-tiba melesat lebih cepat berkali lipat. Dia mengandalkan tabrakan karena sejauh ini dia belum bisa terbang sambil melempar bola. Dia belum dilatih untuk itu oleh Eyang Hagara.
Namun, Jangka Kolor yang sempat menengok ke belakang cepat menukik turun, membuat Arda Handara sekedar melintas di atas.
Gagal dengan serangannya, Arda Handara cepat berbelok ke udara rendah. Cumi Bentol pun menukik turun. Kejar-kejaran kembali terjadi dengan jarak yang cukup renggang.
Sementara itu, Balak Molor terdesak oleh kejaran si cantik imut Sanda Kolot. Satu lemparan bola hijau dari belakang sempat menyambar bunga telinganya.
Jarak kejar Sanda Kolot yang semakin dekat di belakangnya, memaksa Balak Molor terbang keluar dari atas udara lalat.
“Molor, kau keluar!” teriak Sanda Kolot.
Terkejut Balak Molor ketika tersadar bahwa dia sedang berada di atas udara tribun.
“Molor! Kau gugur!” teriak Banik Terong dari jauh.
“Hihihi!” tawa Sanda Kolot menertawakan Balak Molor.
“Awas, Sandaaa!” teriak Arda Handara tiba-tiba dari kejauhan.
Sanda Kolot cepat menengok ke belakang dan terkejut. Ternyata Jangka Kolor sudah terbang begitu dekat ke arahnya. Sementara Arda Handara dan Cumi Bentol mengejar di belakang.
Bdak!
__ADS_1
Sama yang terjadi dengan Mini Menor. Jangka Kolor tidak tega melempar wajah atau badan Sanda Kolot dengan bola kayu. Dia hanya lewat tipis di sisi Sanda Kolot sambil melintangkan tangannya menghantam punggung gadis cebol cantik itu.
“Ak!” jerit tertahan Sanda Kolot seiring tubuhnya terlempar.
“Kolooot!” pekik Cumi Bentol dan Balak Molor bersamaan terkejut, saat melihat tubuh Sanda Kolot terlempar menuju ke tribun, bukan ke tanah lapangan yang dilapisi kasur tebal.
Semua yang melihat itu juga terkejut, terkhusus Jangka Kolor karena dia sedikit pun tidak bermaksud melempar Sanda Kolot ke arah tribun. Jika tidak ada keajaiban, jelas akan menjadi musibah bagi Sanda Kolot, yang pastinya musibah bagi Pasukan Domba Merah.
Jika dihitung-hitung secara rumus matematika, fisika hingga ilmu ketatanegaraan, kecepatan tercepat terbang para penerbang tidak akan ada yang bisa menjangkau Sanda Kolot sebelum menghantam tribun yang terbuat dari leburan batu. Bahkan, kecepatan tingkat dua Tongkat Kerbau Merah tetap tidak akan berhasil menjangkau Sanda Kolot.
Melihat gadis cebol tercantik dalam bahaya, jiwa kepahlawanan Arda Handara wajib bertindak. Karena sudah sering menggunakan kecepatan tingkat dua, jadi Arda Handara tahu hasil yang akan didapatnya jika mencoba menolong dengan menekan mata kerbaunya.
Klek! Sing!
Maka tidak ada jalan lain selain mencoba kecepatan Tongkat Kerbau Merah tingkat tiga. Maka, Arda Handara untuk pertama kalinya memutar kepala kerbau di tongkatnya.
Terlalu cepat Tongkat Kerbau Merah dan Arda Handara melesat terbang setelah memutar kepala kerbau. Melesat nyaris tidak terlihat seperti peluru senapan. Para penerbang yang melihat kecepatan itu hanya bisa terperangah dalam posisinya masing-masing. Keterkejutan yang belum habis ditimpa dengan keterkejutan baru.
Blugk!
Arda Handara yang sudah siap diri dan berhasil menjangkau tubuh Sanda Kolot sebelum menghantam undakan tribun, berusaha menangkap peluk tubuh gadis berambut biru itu. Namun, aksi penyelamatan itu bukan dalam kondisi yang biasa-biasa saja. Sambaran Arda Handara dengan kecepatan kilat itu membuat keduanya bertabrakan keras dan justru sama-sama meluncur deras siap menghantam tribun.
“Kolooot!” teriak semua anggota Pasukan Domba Merah histeris, termasuk Pelatih Banik Terong, dan terlebih-lebih Jangka Kolor yang akan menjadi tersangka.
Tletak!
Seketika hening dan hanya suara Tongkat Kerbau Merah yang terdengar jatuh di sisi lain dari tribun. Semua tegang dan kemudian lega bercampur heran tidak habis pikir.
Arda Handara dan Sanda Kolot bergerak bangkit dari undakan tribun yang keras. Jelas-jelas mereka semua melihat kedua orang kecil itu menghantam undakan tribun bersama-sama, dalam posisi Arda Handara memeluk erat Sanda Kolot. Namun, mereka hanya melihat keduanya meringis sambil memegangi anggota tubuh yang sakit karena tabrakan di udara.
Sanda Kolot pun terlihat heran sambil memeriksa kondisinya. Wajahnya agak berdenyut akibat adu wajah dengan Arda Handara. Meski adu wajah, tetapi tidak ada rasa romantis atau rasa manisan yang melanda hati keduanya. Namun, ada jejak bibir merah muda di hidung yang akan terlambat mereka ketahui.
“Hehehe!” kekeh Arda Handara. Lalu ucapnya, “Hampir saja.”
“Kenapa bisa?” tanya Sanda Kolot bingung.
“Yah, itulah aku,” jawab Arda Handara jumawa.
Sanda Kolot jadi menatap serius kepada wajah Arda Handara yang cengengesan. Entah apa maksud dari tatapan tidak biasa itu. Yang jelas, dia tidak tertawa atau peduli melihat bekas bibirnya ada di hidung Arda Handara.
Dalam waktu singkat, semua penerbang telah datang mendekati mereka di tribun.
Jangan bilang siapa-siapa. Sebenarnya, Arda Handara dan Sanda Kolot bisa tidak cedera saat menghantam tribun karena kesaktian dari Eyang Hagara. Tepat ketika tubuh mereka berdua tinggal bebera jari menyentuh kekerasan tribun, Eyang Hagara menahan tubuh keduanya dari jarak jauh. Sementara orang-orang yang memandang dari jarak jauh jelas tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mereka hanya melihat bahwa keduanya menghantam tribun.
“Sanda Kolot, maafkan aku!” teriak Jangka Kolor yang datang terbang dengan wajah merasa sangat bersalah.
“Keterlaluan kau, Kolor!” maki Cumi Bentol. “Bisa-bisanya kau melakukan itu!”
Maka terjadilah pertengkaran di antara anggota Pasukan Domba Merah. Jangka Kolor yang menjadi terdakwanya berulang kali minta maaf, bahkan menangis karena terlalu merasa bersalah.
Pada akhirnya, Sanda Kolot memaafkan kecerobohan fatal kapten sementara mereka.
Setelah itu, tiba-tiba muncul rasa jatuh cinta di dalam dada Sanda Kolot kepada Arda Handara. (RH)
__ADS_1