
*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*
Beberapa prajurit segera menghadang langkah Pangeran Bajing Tua yang membawa sangkar burung berisi bajing dan Tengkak Bande yang berjalan busung seperti orang kaya baru.
Wuss!
“Aaak!” jerit enam prajurit bertombak itu ketika segulung angin pukulan tanpa wujud dilepaskan oleh Tengkak Bande. Mereka bukan hanya terdorong ke belakang, tetapi juga sempat diterbangkan lalu jatuh berserakan seperti sampah bernyawa.
Melihat para prajuritnya pada bertumbangan, semakin gusarlah Adipati Siluman Merah. Jelas yang datang adalah musuh. Diukur dari usianya, jelas ketiga orang tua itu bukan pendekar jadi dadakan.
“Kalian semua masuklah dan ambilkan pedangku!” perintah Adipati Siluman Merah kepada keluarga besarnya.
Para wanita dan lelaki yang tidak berkesaktian segera bergerak masuk ke rumah, sehingga tersisa Adipati Siluman Merah dan empat orang dekatnya.
Orang pertama bernama Siluman Hitam yang merupakan adik kandung Adipati Siluman Merah. Wajahnya mirip dengan sang kakak. Hanya wajahnya tidak hitam sebagaimana namanya. Hanya pakaiannya yang serba hitam. Tidak terlihat ada senjata yang dibawanya.
Orang kedua adalah adik ipar Adipati Siluman Merah yang bernama Bengis Ulek. Ia bisa disebut golongan pemuda, meski usianya sudah empat puluh tahun. Maklum bujang menjelang lapuk.
Orang ketiga lelaki gendut berpakaian bagus warna hijau terang dengan kepala diikat kain hijau pula. Lelaki separuh baya itu adalah pengusaha jengkol terkaya di kadipaten tersebut, salah satu sahabat Adipati Siluman Merah. Ia bernama Juragan Jeng. Ada keris yang menyelip di pinggang belakang.
Dan orang keempat adalah seorang wanita separuh baya. Dia juga adik ipar Adipati Siluman Merah. Ia mengenakan pakaian kebaya warna putih dengan dandanan yang memesona. Bisa disebut cantik untuk ukuran emak-emak arisan. Ia bernama Adem Semilir.
Dak!
Bengis Ulek menendang sebuah gentong air yang terbuat dari tanah liat. Gentong besar itu terbang berputar-putar menyongsong kedatangan dua kakek yang berjalan di halaman rumah.
Set! Prakr!
Pangeran Bajing Tua mengibas tangan kirinya. Tahu-tahu gentong tanah liat itu terpotong rapi bodinya, lalu jatuh pecah menghantam tanah halaman, menciptakan kebecekan karena banyak air yang luber.
Seorang lelaki segera berlari dari dalam rumah. Dia membawakan sebilah pedang berwarna biru gelap kepada Adipati Siluman Merah. Setelah itu dia kembali berlari ke pintu, di mana berjubel warga rumah yang antara sembunyi atau menonton. Mungkin tepatnya menonton sambil sembunyi atau sebaliknya.
Dengan dipimpin sang adipati, sohibul bait berjalan maju ke hadapan dua kakek yang sudah berhenti lebih dulu, padahal tidak ada lampu merah.
Di sisi lain, di bawah pohon sawo yang tidak ada sedikit pun romantisnya, nenek Kenyot Gaib sudah menurunkan Gada Perkasa dari gantungan.
__ADS_1
Melihat kematian yang berserakan di sekitarnya, Gada Perkasa bukannya senang ditolong oleh Kenyot Gaib, dia justru ketakutan seperti bocah melihat ondel-ondel. Ia justru pergi berlindung ke balik batang pohon.
“Kurang ajar! Kenapa kau jadi sepenakut itu, Celeng?!” bentak Kenyot Gaib gusar. “Ke mari!”
“A-a-aku ta-ta-takut, Nek,” ucap Gada Perkasa sambil melongokkan wajah hitamnya yang seram dari balik batang pohon, padahal ekspresi sebenarnya adalah takut.
“Keluar atau aku kenyot seperti mereka!” ancam Kenyot Gaib sambil melirik kepada mayat-mayat prajurit yang wajahnya mengerikan seperti ikan mati dijemur. Untung tidak ada satu pun di antara mayat-mayat itu membalas lirikan si nenek.
Karena sangat ogah bernasib sama dengan para prajurit yang dikenyot secara gaib oleh si nenek, mau tidak rela, Gada Perkasa akhirnya keluar secara utuh dari balik batang pohon sawo.
“Cuih! Memang dasar celeng jorok!” maki Kenyot Gaib saat melihat ada warna basah pada celana Gada Perkasa dan ada bau pesing laki-laki. “Jika aku tahu kau setidak berguna ini, aku tidak sudi membantumu. Namun, karena aku sudah berjanji, terpaksa aku menyelamatkanmu!”
“Ma-ma-maafkan aku, Nek!”
“Maaf, maaf, maaf! Aku pikir kau akan seperkasa saat kau menghancurkan gedebog pisang, sehingga aku kira kau yang menculik anak Adipati itu. Ternyata kau justru jadi pesakitan di dalam sini,” kata Kenyot Gaib.
Dalam ketakutan dan malu-malunya, Gada Perkasa terkejut mendengar bahwa anak Adipati Siluman Merah diculik.
“Si-si-siapa yang me-me-menculik kekasihku?” tanya Gada Perkasa dengan susah dan payah, sambil tetap menahan rasa sakit dari luka dalam dan luka berdarahnya.
Clap!
Tiba-tiba Kenyot Gaib hilang begitu saja dan muncul seperti pesulap di depan Pangeran Bajing Tua dan Tengkak Bande yang sedang berdebat dengan Adipati Siluman Merah.
Bluar!
Tiba-tiba Kenyot Gaib membanting tangannya ke bawah. Satu ledakan tenaga langsung tercipta di tengah-tengah mereka, memaksa Adipati Siluman Merah dan keempat rekannya sontak melompat mundur tiga tindak, persis seperti gerakan tim tari.
“Jangan terlalu dekat, nanti aku kenyot kalian. Setidaknya kalian lebih muda dari aku,” kata Kenyot Gaib santai, seolah-olah calon lawan tidak ada yang berbahaya baginya.
“Aku tidak mengenal kalian bertiga. Kenapa kalian membuat onar dan membunuhi prajurit pemerintahan? Kalian ingin memberontak kepada Kerajaan?!” teriak Adipati Siluman Merah.
“Hihihi! Memang itu tujuan kami, Adipati. Sebagai pemanasan, aku memilih untuk mengacaukan hidupmu,” jawab si nenek selaku pemimpin dari kedua rekan cowok tuanya.
“Karena kalian telah mengaku sebagai pemberontak Kerajaan Sanggana Kecil, maka tidak perlu lagi menagih alasan untuk membunuh kalian!” seru Adipati Siluman Merah.
__ADS_1
Zezz!
Adipati Siluman Merah lalu mengangkat pedangnya yang kemudian bersinar biru gelap. Lalu teriaknya berkomando, “Bunuh mereka!”
Zeezz! Taks!
Adipati Siluman Merah membabatkan pedang pusakanya yang mengandung kekuatan besar. Kenyot Gaib tidak menghindar, ia cukup menggeser posisi tongkatnya, sehingga posisinya berada di belakang tongkat hitamnya.
Ternyata tongkat kayu hitam itu begitu kuat dan bisa menahan tebasan pedang tanpa tergores atau terpotong, membuat tenaga sakti pedang itu menyebar.
Pangeran Bajing Tua dan Tengkak Bande cepat melompat tinggi dan mundur menjauh menghindari sebaran tenaga tajam dari pedang. Pada saat itu, Siluman Hitam dan Bengis Ulek berkelebat cepat di udara memburu Pangeran Bajing Tua, sementara Juragan Jeng dan Adem Semilir berkelebat memburu Tengkak Bande.
Pertarungan kemudian terbagi menjadi tiga kelompok tanpa dikalikan.
Keluarga besar Adipati Siluman Merah menonton dengan tegang, karena tiga pengacau yang datang bukan sembarang pendekar.
Sementara Gada Perkasa bingung harus berbuat apa. Ia menderita kesakitan akibat luka yang dialaminya.
Namun, baru saja dia hendak melangkah pergi meninggalkan bawah pohon sawo itu, Bening Mengalir muncul berlari kepadanya, tapi berhenti pada jarak yang jauh karena dia ngeri melihat mayat-mayat prajurit yang tergeletak dengan posenya masing-masing.
“Kakang Gada Perkasa!” panggil Bening Mengalir.
Gada Perkasa tidak menjawab, tetapi dia menengok ke belakang.
“Kakang harus diobati!” seru Bening Mengalir saat dia bertemu pandang dengan pemuda berwajah sehitam bokong kuali itu. “Di rumah ada tabib!”
Terdiam sejenak Gada Perkasa. Dia berpikir, menimbang dan kemudian memutuskan tanpa ada paksaan.
“Mari,” ajak Bening Mengalir seraya tersenyum agar hati pemuda itu luluh.
Hati lelaki mana yang tidak luluh jika diberi senyuman sebening embun seperti itu. Seorang perwira seperti Genap Seribu saja sampai tergila-gila. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Author minta bantuan para readers untuk untuk like dan komen di dua episode rekaman Om.
__ADS_1
Caranya: Klik profil Author, lalu scroll kumpulan karya Author hingga karya audio. Buka karya "Voice Dating", dengarkan sebentar (hanya beberapa detik) lalu like dan komen bebas. Terima kasih.