Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
sedupa 34: Tembakan Ki Ageng Naga


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


Dua kesembilanan, Pasukan Beruang Biru dan Pasukan Domba Merah, telah bersiap dengan terbang pelan di masing-masing ujung lapangan udara Kolosom Awan. Pasukan Beruang Biru di ujung utara dan Pasukan Domba Merah di ujung selatan.


Masing-masing penerbang bermodal satu bola emas, tiga bola merah, dan enam bola hijau di dalam jaring yang menggantung di leher tongkat terbangnya.


“Pasukan Beruang Biru siaaap?!” teriak Hakim Langit dari tengah lapangan udara sambil menunjuk ke arah tim Pasukan Beruang Biru.


“Siaaap!” teriak kesembilan personel Pasukan Beruang Biru.


“Pasukan Domba Merah, siaaap?!” teriak Hakim Langit sambil gantian menunjuk tim Pasukan Domba Merah di ujung selatan.


“Siap!” jawab kesembilan personel Pasukan Domba Merah, kecuali Arda Handara.


“Siap!” jawab Arda Handara belakangan.


“Hahaha!” tawa rendah sebagian menonton mendengar jawaban telat si penerbang baru.


“Hahaha!” Arda Handara justru jadi ikut tertawa seperti pelawak, yang akan tertawa jika ditertawakan.


“Pertandingaaan, dimulai!” teriak Hakim Langit keras membahana.


“Seraaang!” teriak Galang Ocot keras dan panjang seolah-olah mereka benar-benar sedang di medan tempur.


Dia melesat maju lebih dulu memimpin kedelapan rekan-rekannya.


“Katak Songong, hadapi Jangka Kolor! Aku akan menghancurkan anak setan cebol itu!” perintah Galang Ocot yang langsung ingin memburu Arda Handara.


“Ocot, jangan terlalu jahat kepadanya, dia itu calon suamiku!” teriak Hijau Kemot kepada kaptennya.


“Justru karena dia calon suamimu, dia harus aku bunuh!” balas Galang Ocot.


“Awas jika sampai terjadi sesuatu terhadap Arda Handara!” ancam Hijau Kemot lalu melesat lebih cepat untuk mendatangi Sanda Kolot.


Pasukan Domba Merah juga melesat terbang bersama-sama menuju ke titik temu dengan musuh.


“Lakukan strategi yang Pangeran buat!” teriak Jangka Kolor kepada teman-temannya.


“Siap!” jawab personel Pasukan Domba Merah.


Kemarin, Arda Handara menawarkan satu siasat yang dibuat berdasarkan kondisi psikis jagoan Pasukan Beruang Biru, terutama Galang Ocot dan Hijau Kemot. Dan dugaan Arda Handara ternyata benar.


Arda Handara sudah menduga bahwa Galang Ocot akan memburunya sejak awal dan Hijau Kemot pasti mengincar Sanda Kolot. Jika Galang Ocot berlakon sebagai kapten, itu akan sangat merugikan timnya. Dan terbukti, saat itu Galang Ocot langsung memburu Arda Handara yang memutuskan untuk terbang rendah di atas lautan kapas empuk.


Mau tidak mau, Galang Ocot harus terbang rendah agar bisa sejajar dengan Arda Handara.


Seperti waktu pertandingan latihan beberapa hari lalu, Cumi Bentol melakukan hal sama. Dia langsung terbang jauh ke pinggiran arena udara seorang diri. Di dalam tim, Cumi Bentol berfungsi sebagai umpan. Pergerakan Cumi Bentol segera memancing satu anggota Pasukan Beruang Biru untuk memburunya, yaitu Bujang Cendol.


Hijau Kemot akan bertemu dengan Sanda Kolot. Semua penonton bisa melihat arah terbang keduanya, tetapi di belakang Sanda Kolot ada Mini Menor yang juga terbang mengawal. Bertemunya dua penerbang primadona itu dianggap adalah bagian paling seru di dalam pertandingan ini.


Namun, para penonton tidak mengetahui bahwa ada dendam kesumat yang tercipta pada diri Galang Ocot terhadap penerbang baru.

__ADS_1


“Lihat! Galang Ocot memburu penerbang baru!” tunjuk seorang penonton penggemar Galang Ocot.


“Aaa! Kenapa Ocot terlalu pintar?” kata penonton di sebelahnya dengan nada dan ekspresi kecewa. Sebutan “pintar” adalah sebutan bagi tindakan ceroboh.


“Ocooot! Jangan kejar penerbang baru, lawanmu adalah Kolor!” teriak penonton yang lain.


Namun, teriakan para penonton itu tenggelam oleh riuhnya para penonton membuat peringatan dari penggemar itu tidak terdengar oleh Galang Ocot.


“Hahaha …!” tawa Arda Handara ketika Galang Ocot mendekatinya, memberi kesan meremehkan.


Galang Ocot mendatangi Arda Handara dengan kemarahan dan langsung memilih bola merah untuk dilemparkan kepada anak negeri asing itu. Arda Handara cepat terbang menjauhi Galang Ocot sambil tertawa, membuat Galang Ocot kian sakit hati.


Kejar-kejaran pun terjadi. Ternyata kecepatan terbang Arda Handara bisa mengimbangi kecepatan kejar Galang Ocot. Kejar-kejaran itu terjadi di udara rendah, bahkan sesekali nyaris menyentuh lautan kapas.


Jika memandangi kejar-kejaran antara Galang Ocot dan Arda Handara, para penonton akan memandang agak ke bawah, berbeda ketika memandang penerbang lainnya yang membuat mereka agak mendongak.


“Kau tidak akan mampu lari, Anak Setan Cebol!” teriak Galang Ocot. “Kau hanya berlatih selama satu pekan, itu tidak bisa membuatmu menjadi penerbang hebat!”


“Hahaha!” Arda Handara hanya tertawa sambil sesekali menengok ke belakang.


Karena ini bukan hutan, maka Arda Handara bisa dengan bebas terbang meliuk-liuk tanpa takut menabrak pohon atau tersangkut oleh dahan. Terbang zigzag yang dilakukan oleh Arda Handara ternyata membuat Galang Ocot sulit untuk membidik dengan baik.


“Sial! Anak itu terbang seperti ulat gentong!” maki Galang Ocot.


Hingga suatu ketika.


“Kena kau!” teriak Galang Ocot sambil melempar dengan sekuat tenaga.


“Kenaaa!” teriak para penonton pula yang sejak tadi mengikuti pengejaran Galang Ocot.


“Yaaah!” sorak para penonton kecewa saat melihat bola merah terus lolos melewati sisi kepala Arda Handara tanpa menyentuh sedikit pun.


“Sial sangat!” maki Galang Ocot.


Kejar-kejaran kembali berlanjut. Galang Ocot telah kehilangan satu bola tanpa hasil.


Tiba-tiba Arda Handara berbelok dan melesat lebih kencang, tapi bukan kecepatan level dua. Galang Ocot cepat berbelok pula dan ia juga menambah kecepatan kejarnya ke tingkat nyaris maksimal demi untuk bisa mengejar Arda Handara.


“Ayo, Ocot! Jangan seperti ulat bulu!” teriak para pendukung Pasukan Beruang Biru yang mulai kesal melihat jagoan mereka seperti sedang dipermainkan oleh si penerbang baru.


“Kejar, lempar! Kejar, lempar!” teriak beberapa pendukung menyemangati Galang Ocot.


“Kejar, lempar! Kejar, lempar!” teriak para pendukung Galang Ocot lebih banyak.


Ternyata teriakan penonton itu seolah-olah membakar sumbu di bokong Galang Ocot. Dia pun lebih meningkatkan tenaga dalamnya kepada leher tongkat terbangnya. Selama ini dia terkenal garang dalam mengejar dan memepel lawan.


“Hiaaat!” teriak Galang Ocot yang telah menambah kecepatan terbangnya.


Pemuda kekar berkepang tunggal itupun melesat laksana roket mendekati belakang Arda Handara. Di tangannya kembali tergenggam bola merah.


Mengetahui Galang Ocot mendekatinya dengan kecepatan tinggi, Arda Handara pun mulai memainkan kecerdasannya.


Tepat ketika Galang Ocot hampir sampai dan mengayunkan tangan kanannya, Arda Handara terbang meninggi sekaligus mengerem terbangnya menjadi sangat pelan.

__ADS_1


“Keparat sangat!” maki Galang Ocot karena mau tidak mau dia terbang kebablasan lewat cepat di bawah posisi Arda Handara.


Dak!


Namun, lemparan bola merah yang targetnya mendadak naik, masih sempat mengikuti target ke atas. Target yang bergerak tidak terduga itu, masih dapat terkena lemparan. Namun, bukan Arda Handara yang terkena lemparan, tetapi ekor tongkatnya, membuat terbang Arda Handara jadi berputar-putar.


“Kenaaa!” sorak gembira pendukung Pasukan Beruang Biru.


“Aaa!” jerit Arda Handara saat ia dan tongkatnya berputar-putar hendak jatuh ke lautan kapas.


Hakim Langit sudah siap berteriak “gugur” teruntuk Arda Handara.


West!


“Yeaaa!” sorak para pendukung Pasukan Domba Merah saat melihat terbang Arda Handara yang liar berubah normal, dengan terbang naik tinggi melangit lalu bersalto dan menukik turun mendatangi Galang Ocot dari atas.


“Handaraaa! Kau hebaaat! Aku makin cintaaa!” teriak seorang penggemar berjenggot tebal.


“Hei! Kau tidak boleh cinta, hanya kami yang berhak mencintai Handara!” hardik seorang perempuan kerdil di antara tujuh perempuan kerdil lainnya.


“Hahahak!” tawa Arda Handara. Dia tidak menertawai kedua orang kerdil itu, tetapi dia menertawai posisi Galang Ocot yang kini menjadi buruannya.


Galang Ocot yang biasanya tenang dalam kondisi apa pun, menjadi agak panik. Hal itu terjadi karena ia sadar bahwa Arda Handara bukanlah bocil biasa, tetapi dia bocil yang bisa membunuh pembunuh bayaran.


Arda Handara lalu memasang satu bola hijau di karet ketapel yang dia psang di kepala kerbau tongkatnya. Atas ide Eyang Hagara, kepala tongkat terbang Arda Handara dimodifikasi sedikit dengan memasangnya ketapel Ki Ageng Naga. Pasalnya, Arda Handara belum mahir melempar sambil terbang. Jika melempar tanpa terbang, mungkin dia bisa jitu.


Ternyata, Arda Handara menempelkan beberapa ekor ulat bulu warna hitam keling jenis bokong priuk di bola yang sebesar bola ping pong.


Arda Handara berusaha menjaga kestabilan terbangnya di belakang Galang Ocot yang berusaha menjauh dengan kecepatan tinggi.


“Wuaaah! Jagoan kita pakai ketapel! Cerdaaas!” teriak seorang pendukung Pasukan Domba Merah.


“Tembak! Tembak! Tembak …!” teriak para pendukung Pasukan Domba Merah.


Arda Handara bertindak tenang dengan badan merebah ke depan dan mata tajam mengeker belakang Galang Ocot.


“Sial sangat! Kecepatan Anak Setan itu begitu cepat!” maki Galang Ocot.


Untuk menghindari tembakan Arda Handara, Galang Ocot memilih terbang meninggi sambil melakukan beberapa manuver, seperti zigzag, terbang salto, sampai terbang berputar-putar.


Seet!


Dak!


“Kenaaa!” teriak para pendukung Pasukan Domba Merah ketika melihat bola hijau lesatan dari Ki Ageng Naga mengenai tepat belakang kepala Galang Ocot.


“Aaak!” Justru yang menjerit adalah para penonton pendukung Galang Ocot.


Sebenarnya Arda Handara tidak jago dalam menembak, tetapi ketapel pusakanyalah yang hebat. Sebab, Galang Ocot sudah terbang dengan manuver yang membuatnya sulit dibidik. Namun, ketika bola ditembakkan dan Galang Ocot terbang menghindar ke samping, bola itu juga ikut berbelok mengikuti arah terbang penerbang kekar itu. Hingga akhirnya mengenai belakang kepala Galang Ocot.


Namun, Galang Ocot tidak merasakan sakit pada kepalanya. Hantaman bola itu seperti hantamam bola karet.


“Hahahak!” tawa Galang Ocot mendapati kondisinya masih normal.

__ADS_1


“Galang Ocot hebaaat!” teriak para pendukungnya.


“Hehehe!” Arda Handara hanya terkekeh kecil. (RH)


__ADS_2