
*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*
Pulau Kutil adalah sebuah pulau kecil yang tidak berpenghuni, ukurannya pun hanya seluas kebun pohon jambu klutuk. Dari bibir pantai utaranya bisa melihat bibir pantai selatannya. Daratannya yang cukup tinggi membuatnya tidak akan tenggelam jika laut sedang pasang, kecuali jika ada badai yang membuat ombak sering mencapai daratnya.
Di pulau itu tumbuh sejumlah pohon yang bisa dihitung jika dihitung. Keberadaan tanaman itu membuat pulau tersebut memiliki stok kayu kering yang bisa dijadikan api unggun di kala malam.
Di pulau itulah Tangan Kanan yang merupakan tangan kanannya Genggam Garam menyalakan api unggun. Dia bersama dengan anggota Bajak Laut Malam lainnya yang masih memiliki rasa kebersamaan, sama dibuang ke laut lalu ditinggalkan oleh kapal. Saat ini, ada dua belas orang yang bersama Tangan Kanan. Semuanya lelaki.
Tangan Kanan selaku pemimpin dalam kelompok itu, memutuskan untuk berhenti berenang di Pulau Kutil. Dia lebih memilih mengutus Perkosa Ombak sebagai orang yang paling pakar dalam berenang dan menaklukkan ombak, berenang sendiri menuju Desa Garam Asin, desa yang menjadi alamat permanen kelompok Bajak Laut Malam. Meski pada kenyataannya, Perkosa Ombak tidak berenang, tapi mendayung sebuah papan.
Seperti biasanya, kondisi lautan selalu gelap di kala malam, termasuk di Pulau Kutil. Hanya api unggun yang bercahaya kecil di tengah-tengah pulau.
“Gusti Juragan, sepertinya aku mendengar suara ombak yang pecah dan suara kibaran layar,” kata Janur Karam, lelaki gondrong keriting bertubuh kurus karena cacingan. Dia ditengarai cacingan karena makannya banyak setiap hari, tapi tidak gendut-gendut.
Tangan Kanan dan para anak buahnya segera menyimak dengan menajamkan pendengarannya.
“Benar, ada kapal besar yang mendekat,” kata Tangan Kanan, meski tidak melihat wujud kapal yang dimaksud.
“Itu pasti Ketua!” seru yang lain bernada semangat gembira ria.
“Lalala …!”
Tiba-tiba terdengar lengkingan tralala suara wanita seperti kuntilanak laut di dalam gelap gulitanya alam.
“Dengar, itu panggilan makan dari Segaris Ayu!” teriak Janur Karam girang.
Mereka yang terduduk segera berbangkitan berdiri, termasuk Tangan Kanan. Mereka berdiri menghadap ke arah utara, yang diduga menjadi arah kedatangan kapal bantuan. Sebagian bahkan langsung berlari ke pantai yang hanya berjarak senapas orang menyelam.
Slap!
Tiba-tiba di dalam kegelapan laut di arah utara pulau muncul seberkas cahaya emas raksasa.
__ADS_1
“Kapal Bintang Emas! Yeee!” teriak para bajak laut itu lalu bersorak ramai, seperti fans fanatik yang timnasnya juara Piala Dunia.
Sinar emas raksasa yang muncul tidak jauh dari pantai itu adalah Kapal Bintang Emas. Dia bercayaha emas di dalam gelap ketika secara serentak puluhan obor besar dinyalakan. Jangan ditanya pakai korek apa untuk menyalakannya.
Sama seperti Kapal Bintang Hitam, pada bagian depan anjungan ada dua lubang besar yang membentuk mata besar. Sehingga ketika lampu terang dinyalakan, maka mata itu menjati mata emas raksasa.
“Makaaan!” teriak satu orang bajak laut sambil mempelopori berlari ke air, lalu terjun berenang mendatangi Kapal Bintang Emas.
“Makaaan!” teriak anggota bajak laut lainnya sambil ikut berlari dan berenang ramai-ramai menuju ke kapal emas seperti anak penyu yang dilepas ke lautan lepas.
Adapun Tangan Kanan beda cara menuju ke kapal emas. Dia melompat berlari di udara, lalu menjejakkan ujung kakinya ke punggung salah satu anak buahnya yang sedang berenang, sehingga korban pijakan itu tertekan ke dalam air dan gelagapan.
Tangan Kanan melanjutkan berlari di udara, lalu turun lagi menginjak kepala seorang anak buahnya sebagai tempat bertolak untuk lompatan selanjutnya. Terakhir dia menginjak kepala anggotanya yang terdepan sehingga bisa berlari di udara dan mendarat di tepian kapal.
Beberapa anak buah yang dipaksa minum air laut karena punggung dan kepalanya diinjak, hanya bisa memaki habis-habisan sampai habis, tapi hanya di dalam hati.
Di saat rekan-rekannya yang naik dengan basah kuyup langsung menyerbu hidangan yang telah disiapkan di geladak depan, Tangan Kanan yang sampai dalam kondisi kering segera menghadap kepada ketuanya.
“Ampuni aku, Ketua!” pekik Tangan Kanan seperti seorang pendosa berat. Dia berlutut dengan wajah mewek, tetapi tidak meneteskan air mata, kecuali memuncratkan air liurnya.
“Itu karena, wanita itu ….”
“Terlalu sakti?” terka Genggam Garam memotong kata-kata Tangan Kanan.
“Ya, Ketua betul sekali. Ketua memang hebat, bisa tahu lebih dulu. Hahaha!” kata Tangan Kanan memuji. “Tapi yang penting, kami semua selamat, sehat dan tetap gembira.”
“Aku lebih baik kehilangan dirimu daripada kehilangan Kapal Bintang Hitam!” bentak Genggam Garam.
Tangan Kanan tercekat kaget dibentak seperti itu. Sampai-sampai ia menelan air ludahnya dua kali.
“Aku memang sangat bersalah, Ketua. Aku rela dihilangkan sebagai hukuman,” kata Tangan Kanan begitu tunduk.
“Sebagai hukuman buat kalian, kalian harus bekerja mendayung siang dan malam untuk mengejar Kapal Bintang Hitam ke Pulau Gunung Dua!” tegas Genggam Garam.
__ADS_1
“Baik, Ketua!” pekik Tangan Kanan keras, membuat para anggotanya yang sedang makan lahap jadi menengok ke arah anjungan. “Jadi, sekarang aku boleh makan, Ketua?”
“Makanlah, supaya dayungan kalian kuat!” perintah Genggam Garam.
“Terima kasih, Ketua!” ucap Tangan Kanan gembira penuh syukur.
Dia langsung pergi kepada kumpulan anak buahnya yang sedang makan.
“Hei! Kenapa cumi mengandungnya kalian habiskan?!” bentak kepada para anak buahnya.
“Ma-ma-maaf, Gusti Juragan. Tidak ada perintah agar menyisakan untuk Gusti Juragan,” ucap Janur Karam.
“Kurang ajar! Jangan sebut aku Gusti Juragan!” bentak Tangan Kanan, tetapi suaranya ditekan agar tidak terlalu keras. Lalu ancamnya, “Jika sampai Ketua dengar, akan aku tenggelamkan kalian!”
“Baik, Tangan Kanan,” ucap Janur Karam siap salah.
“Setelah makan, kita harus bekerja terus mendayung sekuat tenaga untuk mengejar Kapal Bintang Hitam ke Pulau Gunung Dua,” kata Tangan Kanan.
“Baik, Tangan Kanan!” ucap mereka kompak.
Blap!
Tiba-tiba semua obor yang menyala mati dan kondisi kapal kembali gelap gulita. Namun, itu tidak menjadi masalah bagi mereka karena sudah biasa makan gelap-gelapan tanpa berisiko tertusuk tulang ikan atau cangkang kepiting.
Maka, setelah selesai makan yang membuat hawa ngantuk datang melanda, Tangan Kanan dan para anak buahnya segera menggantikan para awak yang telah mendayung cukup lama. Mereka melanjutkan pelayaran menuju ke Pulau Gunung Dua.
Dengan kecepatan maksimal, mengandalkan kekuatan angin dan dayungan tanpa henti, Kapal Bintang Emas melesat membelah setiap ombak dengan kecepatan dua kali lipat. Maka tidak heran jika Kapal Bintang Emas sudah sampai di dekat Pelabuhan Manisawe ketika matahari pagi terbit.
“Persiapkan pertahanan lauuut!” teriak Komandan Borok Singa, Kepala Keamanan Pelabuhan Manisawe yang baru sebagai pengganti Komandan Bengisan.
Pasukan Keamanan Pelabuhan seketika panik melihat kapal berwarna emas yang bergerak mendekat ke pelabuhan yang sudah ramai oleh aktivitas. Meski baru kali ini mereka melihat kapal emas itu, tetapi mereka semua tahu bahwa itu model kapal bajak laut. Mereka segera pergi untuk membuat formasi pertahanan dengan perahu perang mereka.
“Kelompok bajak laut apa yang datang?” tanya Syahbandar Pasir Geni kepada Komandan Borok Singa.
__ADS_1
“Tidak tahu, tapi benderanya ….”
“Itu bendera Bajak Laut Malam!” sebut Syahbandar terkejut saat melemparkan pandangan ke lautan. “Cepat nyalakan tanda bahaya!” (RH)