
*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*
Pangeran Bewe Sereng sudah menderita luka dalam. Tidak mampunya tiga panah sinarnya melukai tubuh Gambut Cone seolah menjadi pertanda buruk.
Karena itu, Bewe Sereng memilih duduk bersila dan berlindung di dalam kurungan sinar merah beningnya yang bernama Bulan Sebening Merah.
Wizz!
Tiba-tiba sehelai bulu burung berwarna merah yang ada di dahi Pangeran Bewe Sereng, bersinar dan mengeluarkan banyak bulir-bulir sinar hijau kecil. Pemandangan bola sinar merah itu jadi terlihat begitu indah, terlebih suasana saat itu masih waktu subuh.
Bulir-bulir sinar hijau terus berkeluaran dari bulu burung seperti serangga sinar yang banyak, yang kemudian memadati ruang dalam bola sinar merah.
Set!
Gambut Cone melempar tombak besinya.
Bluarr! Serrr!
Ketika tombak itu menusuk dinding bola sinar merah bening, ledakan dahsyat terjadi yang suaranya terdengar hingga ke seantero Istana Kabut Kuning dan ibu kota Tanah Hitam.
Ketika bola sinar merah meledak seperti balon ulang tahun, maka semua bulir-bulir sinar hijau, tanpa terkecuali, melesat berjemaah menyerbu ke arah Gambut Cone.
Ledakan keras itu mengejutkan Eyang Hagara, Menteri Kete Weleng, Bagang Kala dan Anik Remas yang sedang di atas angin dalam pertarungannya.
Tratas tratas …!
Ketika satu bulir sinar hijau itu menghantam dinding perisai gaib yang melindungi tubuh Gambut Cone, terciptalah satu ledakan nyaring. Jadi, jika ribuan bulir sinar menghantam dinding perisai itu dalam waktu yang begitu rapat, maka jangan bayangkan kebisingannya seperti apa.
Untuk sesaat tubuh Gambut Cone diliputi oleh sinar hijau yang meledak di dekat tubuhnya yang memasang kuda-kuda dengan kuat.
Namun kemudian, setelah bulir sinar hijau terakhir meledak di benteng gaib Gambut Cone, maka heninglah, menyisakan suara dengingan pada telinga karena begitu bisingnya suara ledakan ribuan sinar itu. Kondisi tanah di sekitar Gambut Cone rusak parah seperti tanah yang habis dibajak oleh Kakanda, kerbau Ketua Bajak Laut Malam.
Meski tidak tersentuh oleh ilmu Pasukan Kehancuran milik Bewe Sereng, tetapi itu cukup membuat Gambut Cone berdiri dengan gontai. Dia sendiri untuk sementara mejadi tuli.
Melihat hasil itu, Bewe Sereng segera melepaskan ilmu Panah Anak Matahari. Ketika dia melakukan gerakan memanah, tidak terlihat ada busur atau anak panah. Namun, ketika gerakan melepas dilakukan, muncul panah sinar putih menyilaukan mata yang menerangi alam sekitar sekilas.
Tess!
Panah sinar putih langsung berhenti satu jengkal dari tubuh Gambut Cone yang masih dilindungi oleh perisai gaib yang begitu kuat. Panah sinar itu tidak meledak atau ambyar, tetapi terlihat berusaha terus menekan dinding gaib.
Gambut Cone cepat bertindak.
Bruss! Bluar! Bruss!
Gambut Cone menghentakkan lengan kanannya dengan tangan mengepal. Sinar hijau seperti kepala meteor menghantam panah sinar putih yang tertahan. Itu meledakkan panah sinar putih dan sinar hijau terus melesat menyerang Bewe Sereng.
“Hah!” kejut Bewe Sereng. Ia tidak menyangka bahwa ilmu kesaktian Gambut Cone akan terus melesat kepadanya.
Tidak ada jalan lain selain mengadu kesaktian. Bewe Sereng cepat menahan dengan salah satu ilmu tertingginya.
__ADS_1
Seberkas sinar kuning terang Bewe Sereng adukan kepada sinar hijau besar milik Gambut Cone.
Bluar!
“Aaak!” pekik Bewe Sereng dengan tubuh terlempar jauh dan mulut menyemburkan darah di udara.
Gambut Cone juga terpental, tapi tidak sejauh Bewe Sereng.
Di saat Gambut Cone bisa cepat bangkit, meski mulutnya menampung darah yang keluar lewat tenggorokannya, Bewe Sereng justru tidak bisa bangkit.
Menteri Kete Weleng yang barus saja membunuh lawan tarungnya, segera berlari mendapati tubuh pangerannya.
Demikian pula dengan Eyang Hagara yang dalam waktu singkat dengan mudah menghabisi nyawa dua pendekar yang dihadapinya. Tinggallah Bagang Kala dan Anik Remas yang bahu-membahu menyudutkan orang terakhir dari Enam Pasang Kekasih Laut.
Ternyata Bewe Sereng sudah tidak bisa bangkit dengan darah belepotan di bibir dan dagunya.
“Pangeran!” sebut Kete Weleng cemas.
“Ke-ke-kemarikan tangan … mu, Menteri!” perintah Bewe Sereng yang mengerenyit menahan sakit yang sangat di dalam tubuhnya.
Kete Weleng memberikan tangan kanannya yang kemudian digenggam oleh Bewe Sereng.
“Menteri. A-aku ti-tidak akan lama. Disaksikan oleh Te-tetua. Aku yakin … ki-kita akan menang …,” ucap Bewe Sereng terputus-putus karena napasnya sudah Senin-Selasa.
“Pasti, kita pasti menang,” ucap Kete Weleng haqqul yaqin.
“Biar aku coba mengobatimu, Pangeran,” kata Eyang Hagara.
“Tapi, Pangeran ….”
“Jangan menolak!” potong Bewe Sereng dengan nada sedikit lebih tinggi. “Ini … ini de-demi rakyat Negeri … Pulau Ka-ka-kabut. La-laksanakan wasiat ini!”
Bewe Sereng lebih mengencangkan genggamannya pada tangan Kete Weleng.
“Baik, Pangeran,” ucap patuh Kete Weleng sambil mengangguk.
“Ki-kita pasti me-menang. Hekrr!” ucap Bewe Sereng lalu tiba-tiba dada dan lehernya agak mengangkat, seolah terbawa rasa sakit yang tinggi dengan mata mendelik.
“Pangeran! Pangeran!” sebut Kete Weleng dengan mata menampung air bening.
Namun, saat itu, dada dan leher yang terangkat jatuh kembali tanpa daya. Bewe Sereng telah tidak bernapas yang sejalan dengan lepasnya nyawa.
Kete Weleng lalu menengok memandang kepada Gambut Cone yang berdiri menunggu adegan drama sakrtaul maut itu usai.
“Biar aku yang menghadapinya, Menteri,” kata Eyang Hagara sambil bangkit.
Set! Boks!
Eyang Hagara melesat sangat cepat, tahu-tahu dia telah berdiri di depan Gambut Cone dan langsung menghantamkan tinju yang bersinar putih menyilaukan.
Tinju itu tidak menghantam tubuh Gambut Cone karena tertahan oleh dinding perisai gaib. Namun, itu membuat tubuh Gambut Cone melesat mundur dengan telapak kaki menggesek tanah. Lelaki yang sudah kehilangan tombaknya itu hanya mengerenyit menahan sakit pada luka dalamnya yang kian bertambah parah.
__ADS_1
Melihat kekebalan itu, Eyang Hagara segera mengerahkan ilmu yang lebih kuat. Gambut Cone pun tidak mau hanya menerima serangan.
“Minggir, Eyang!” teriak suara Arda Handara tiba-tiba dari belakang Eyang Hagara.
Bruss!
Gambut Cone menghentakkan tangan kanannya. Sinar hijau besar seperti kepala meteor melesat menyerang ke arah Eyang Hagara. Dengan penuh rasa kepercayaan kepada keponakannya yang berposisi di belakangnya, Eyang Hagara tiba-tiba menghilang dari tempatnya.
Bruss! Sets!
Ketika Eyang Hagara menghilang, maka terlihatlah dari arah belakang melesat terbang Arda Handara dengan tongkat terbangnya. Jadi sinar hijau Gambut Cone justru menyasar ke arah Arda Handara.
Namun, seperti jet tempur, Arda Handara meliuk berhasil menghindari sinar itu. Sambil mengerenyit menahan rasa panas yang melintas di sisinya, Arda Handara melepaskan peluru ketapel Ki Ageng Naga.
Maka, sinar putih kecil menyilaukan melesat menyerang Gambut Cone.
Fusss! Bluar!
Seperti nasib benteng gaib di gerbang benteng Istana, itulah yang dialami oleh Gambut Cone. Benteng gaibnya jebol dengan mudah dan sinar itu terus menghancurkan tubuh Gambut Cone tanpa tedeng aling-aling.
Maka matilah Gambut Cone tanpa pesan dan wasiat.
Set set set …!
Ctarc tar ctar …!
Tiba-tiba sepuluh sinar biru milik Kete Weleng muncul hendak menargetkan Gelaga Weng yang masih bertahan dikeroyok oleh Bagang Kala dan Anik Remas. Namun, dari arah lain juga muncul sepuluh panah sinar hijau yang menghadang kesepuluh panah sinar biru. Sepuluh ledakan terjadi nyaring di udara bebas dari pertemuan hebat dan indah itu.
Bagang Kala dan Anik Remas tetap fokus kepada lawannya.
Ctas ctas ctas!
Di saat Anik Remas mendesak Gelaga Weng dengan cambukan-cambukan bersinarnya, Bagang Kala dalam posisi duduk bersila dengan kedua jari tangan saling bertaut di depan dada. Sementara itu, ada sebola sinar putih berputar melayang dua jengkal di atas kepalanya.
“Anik sayangku, minggir!” teriak Bagang Kala.
Blassets!
Bagang Kala lalu menghentakkan kedua tangannya ke arah Gelaga Weng dengan jari-jari tetap bertaut.
Hentakan itu ternyata membuat bola sinar di atas kepala Bagang Kala pecah dalam bentuk banyak sinar putih panjang yang melesat seperti pedang.
Serombongan pedang sinar putih melesat menyerbu Gelaga Weng yang telah ditinggal oleh Anik Remas.
Set set set …!
“Ak! Ak! Ak …!” jerit Gelaga Weng berulang-ulang karena sinar putih itu bersusulan menyayat tubuhnya, padahal kedua tangannya berbekal dua sinar hijau perisai.
Anik Remas sendiri selaku istri Bagang Kala, baru kali ini melihat ilmu hebat yang bernama Pedang Angin Barat itu. Maklum, ketika bercinta, Bagang Kala tidak pernah menggunakan ilmu tersebut.
Tewaslah orang terakhir dari Enam Pasang Kekasih Laut. (RH)
__ADS_1