
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Galang Ocot menunjuk ke wajah Arda Handara dengan mendelik marah.
“Hijau Kemot adalah kekasihku, jadi jangan terlalu berlebihan suka kepadanya!” tandas Galang Ocot membentak.
Cukup terkesiap Arda Handara mendengar hal yang mengandung kemarahan itu.
Meski masih berusia belasan tahun, tetapi Arda Handara memiliki karakter pemimpin, petarung, bahkan tua sebelum waktunya. Karena itu ia pun langsung terprovokasi dan ikut marah.
“Kau berani denganku, hah?!” bentak Arda Handara sambil maju dengan cepat dan tangan kanannya mengulur hendak menyodok jidat Galang Ocot yang tingginya setara.
Galang Ocot cepat menepis tangan Arda Handara sebelum sampai ke jidatnya. Tangan kanannya ditepis, Arda Handara dengan cepat melancarkan tangan kirinya.
Galang Ocot terdorong satu tindak ketika jidatnya terdorong keras.
Agresi Arda Handara itu bukan hanya membakar emosi Galang Ocot, tapi juga menyulut kemarahan rekan-rekannya.
“Hei!” teriak para kurcaci marah sambil bergerak maju bersama.
Namun, buru-buru Arda Handara berlari ke belakang. Seiring itu, Eyang Hagara bergerak maju ke tengah-tengah yang menghadang para penerbang itu.
“Keparat sangat kau, Anak Asing!” teriak Galang Ocot sambil menunjuk Arda Handara yang berlindung di belakang kaki Eyang Hagara. Dia terpaksa berhenti maju karena dihadang oleh tubuh yang lebih besar dan tinggi.
“Kau harus dihajar, Anak Asing!” teriak rekan Galang Ocot pula.
“Kami buat kau jadi telur burung remas!” ancam rekan lain.
“Akan aku buat kalian jadi cebol gatal!” balas Arda Handara tidak kalah garang sambil menunjuk sembilan orang itu.
Disebut “cebol” yang merupakan sebutan yang merendahkan bagi Orang Separa, seketika kian menyulut kemarahan kesembilan orang katai tersebut.
“Hei! Jaga mulutmu!”
“Kurang ajar sangat!”
“Anak setan!”
“Kau juga cebol!”
Teriakan-teriakan memaki dari kubu kesembilanan Pasukan Beruang Biru terdengar ramai.
__ADS_1
“Aku cebol tapi bisa besar. Weeek! Hahaha!” ledek Arda Handara kian menjengkelkan dan membuat orang-orang kerdil itu habis kesabaran.
Mereka lalu ramai-ramai menyerang Arda Handara yang berlindung di belakang bokong Eyang Hagara.
Wuss!
Tiba-tiba ada satu kekuatan yang muncul dan mendorong semua orang kerdil itu hingga mereka jatuh bergulingan dan saling tindih. Eyang Hagara telah melakukan intervensi dengan melepas sedikit tenaga saktinya.
Belum lagi para orang cebol itu berbangkitan, dari dalam lorong muncul empat orang cebol, dua lelaki dan dua wanita. Dua di antaranya sudah dikenal, yakni Hijau Kemot dan Sempa Manyong.
Lelaki cebol satunya terlihat sangat tua dengan rambut panjang yang dikepang berwarna serba putih, berjenggot kelabang sepanjang perutnya dan berkumis panjang unik. Kumis tepat di bawah hidungnya gundul, tetapi kumis itu tumbuh panjang pada ujung kanan dan kiri. Pakaiannya yang serba hijau gelap terlihat mewah. Lelaki cebol tua tapi rapi itu tidak lain adalah Gubernur Ilang Banyol, orang nomor satu di ibu kota Omot Omong.
Sementara wanita tua cebol yang menutup seluruh rambutnya dengan kain biru gelap adalah istri Gubernur, namanya Linting Kedot. Ia mengenakan baju putih dengan rok panjang warna kuning. Namun, karena dia sudah berkulit wajah keriput, kecantikannya sudah tidah seindah telur rebus dibelah, meski masih ada sisa kecantikan di wajah tuanya. Yang namanya sisa, tentu sudah tidak menjadi penilaian utama.
Keempat orang cebol itu terkejut melihat kondisi yang berantakan. Gubernur Ilang Banyol sudah tidak terkejut saat melihat keberadaan Eyang Hagara karena sebelumnya sudah diberi tahu.
“Apa yang terjadi?” tanya Hijau Kemot cepat.
“Calon istriku!” teriak Arda Handara tiba-tiba saat melihat wajah pujaannya muncul.
Sebutan Arda Handara itu mengejutkan keempat orang kerdil yang baru muncul itu, terutama Hijau Kemot. Dia sangat tidak menduga bahwa anak asing itu bisa berada di rumahnya.
“Calon istri?” sebut ulang Ilang Banyol dan istrinya, Linting Kedot, selaku kedua orang tua Hijau Kemot.
“Iya, Kakek Pendek. Hijau Kemot adalah calon istriku. Hahaha!” celetuk Arda Handara kepada Gubernur Ilang Banyol lalu tertawa jumawa.
“Itu tidak benar, Gubernur!” bantah Galang Ocot cepat. “Gubernur tahu sendiri, aku adalah kekasih putri Gubernur. Tidak mungkin anak asing itu adalah calon suami Hijau Kemot.”
Gubernur, Linting Kedot, Hijau Kemot, dan Sempa Manyong terdiam sejenak menatap Galang Ocot. Mereka menatap dengan serius dan kening agak berkerut. Mimik itu membuat Galang Ocot dan rekan-rekannya heran. Berbeda dengan Arda Handara yang senyum-senyum.
Melihat mimik Gubernur dan keluarganya, pelatih dan anggota Pasukan Beruang Biru juga heran dan segera beralih memandang wajah Galang Ocot.
“Apa itu di jidatmu, Ocot?” tanya pelatihnya terkejut.
Galang Ocot jadi bingung dan buru-buru meraba dahinya. Ia merasakan ada sesuatu yang menempel di dahinya ketika jari tangannya menyentuh sesuatu yang rasanya aneh. Ia pun terkejut dan cepat mencomot sesuatu itu lalu ia lemparkan sembarang.
“Aaak!” jerit Pelatih karena sesuatu itu menemplok di ujung hidungnya.
“Hahahak …!” tawa terbahak Arda Handara melihat hal itu.
Sang pelatih pun panik dan buru-buru menampar hidungnya sendiri.
“Hahaha!”
__ADS_1
Gegara Arda Handara tertawa kencang, Ilang Banyol dan Linting Kedot terpancing untuk ikut tertawa terbahak-bahak. Akhirnya, sebagian anggota Pasukan Beruang Biru ikut menertawakan Galang Ocot dan sang pelatih.
“Itu ulat bulu. Hahaha!” kata Ilang Banyol dengan tawa yang masih tersisa.
Sambil tetap menahan emosinya, Galang Ocot menggaruk dahinya yang sudah mulai gatal.
“Kami tidak menginginkan ada keributan di sini. Jika ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin. Ingat, ini di rumah Gubernur!” kata Sempa Manyong mengingatkan kedua pihak yang bertikai.
“Bagaimana pun aku tidak akan membiarkan anak asing ini mengganggu Hijau Kemot!” tandas Galang Ocot sambil menunjuk Arda Handara yang sudah tidak berlindung di belakang bokong Eyang Hagara.
“Guruku mengajarkan aku, jangan biarkan setan dan binatang buas menghalangimu dalam menggapai cita-citamu,” kata Arda Handara yang ingat dengan petuah dari gurunya di Istana. “Cita-citaku adalah membuat an ….”
Kata-kata Arda Handara terputus karena Eyang Hagara segera membekap mulut pangeran itu.
“Hanya penerbang terhebat yang pantas menjadi suami Hijau Kemot. Jika kau mau merebut kekasihku, kau harus bertarung denganku di udara, Anak Asing!” tandas Galang Ocot.
“Hmm hemm!” ucap Arda Handara dengan mulut masih dibekap. Ternyata, ia sudah tidak bisa bergerak karena diam-diam Eyang Hagara telah menotoknya tanpa terlihat kapan dilakukan.
“Sudah, ayo kita pergi. Sangat memalukan jika kita ribut di rumah Gubernur!” kata Pelatih menengahi.
Sebagai orang yang dituakan dan yang melatih mereka di dalam kesembilanan, Pelatih pun dihormati dan dipatuhi kata-katanya, termasuk bagi Galang Ocot.
“Kami pamit, Gubernur,” ucap Pelatih kepada Gubernur Ilang Banyol.
Galang Ocot dan rekan-rekannya segera berjalan melewati Eyang Hagara dan Arda Handara.
“Selamat datang kembali, Pendekar Hagara! Hahaha!” pekik Ilang Banyol gembira sambil merentangkan kedua tangan pendeknya. Itu setelah rombongan Pasukan Beruang Biru keluar. Ia lalu berjalan dan memeluk paha Eyang Hagara.
“Hahaha! Selalu senang datang ke rumah ini dan bertemu denganmu, Gubernur, dan kau juga, Linting Kedot,” kata Eyang Hagara juga. “Tapi, apakah benar Hijau Kemot adalah putrimu?”
“Benar. Hijau Kemot adalah putri bungsuku,” jawab Ilang Banyol sambil melepaskan pelukannya.
“Aku sudah lama mengenal Hijau Kemot sebagai penerbang wanita yang handal, tapi aku baru tahu bahwa dia adalah putrimu. Namun, kenapa begitu muda?” tanya Eyang Hagara.
“Hijau Kemot anak dari istri kesembilannya,” jawab Linting Kedot, tapi dengan nada agak ketus dan lirikan tajam kepada suaminya.
“Hahaha!” tawa Eyang Hagara yang disusul tawa Gubernur pula.
“Lalu, siapa yang bersamamu ini, Pendekar?” tanya Ilang Banyol.
“Dia adalah putra adik perempuanku,” jawab Eyang Hagara.
“Maksudmu, anak ini putra dari adikmu yang bernama Dewi Ara itu?” tanya Ilang Banyol untuk meyakinkan dirinya.
__ADS_1
“Iya, Kek. Ibuku adalah wanita tercantik di dunia. Makanya aku adalah anak tertampan di dunia,” kata Arda Handara tiba-tiba dengan jumawa. Totokan dan bekapan tangan Eyang Hagara sudah dicabut. (RH)