
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
“Terlalu!” ucap Penembak Bambu dengan wajah mengerenyit ingin menangis dan sepasang mata yang berkaca-kaca. Kakek penggemar Raja Dangdut itu bukan sedang terharu, tetapi dia sedang menahan “kenikmatan” yang sakitnya tidak terhingga.
Penembak Bambu bangkit dengan terbungkuk sambil kedua tangannya memegangi sudut bawah perutnya. Sakit yang bersumber dari bawah itu menjalar sampai ke syaraf-syaraf otak, memaksa wajah keriputnya memerah kelam.
Penembak Bambu baru saja mendapat hantaman dari kekuatan mata Dewi Ara pada pusaka biologisnya. Meski sebenarnya ia memiliki ilmu kekebalan yang tinggi, tetapi serangan terhadap pusat kenikmatan hidupnya itu adalah kelemahan tertingginya.
“Hahahak …!” tawa Arda Handara, Setya Gogol, Bagang Kala dan Bong Bong Dut.
“Hihihik …!” tawa Ratu Wilasin, Anik Remas, Tikam Ginting, dan Lentera Pyar.
“Kenapa kau bertarung dengan cara mesum, Nisanak? Kau itu orang sakti, tidak sepantasnya kau menyerang Pasak Tunggal-ku!” protes Penembak Bambu sambil masih mengerenyit menahan denyutan yang mengiris-iris cabai.
“Jika kau bertarung dengan tidak pantas meremas Pasak Tunggal-mu di depan wanita cantik sepertiku, maka jangan salahkan aku jika berbuat tidak pantas kepadamu,” balas Dewi Ara datar.
“Kau harus tahu, Pasak Tunggal milikku ini telah diberkahi Dewa. Demi kesejahteraannya, aku telah menumbalkan 21 kerbau yang lubang hidungnya dua!” teriak Penembak Bambu marah.
“Peduli apa denganku,” ucap Dewi Ara lirih, tapi terdengar jelas oleh Penembak Bambu, membuat lawannya itu kian gusar.
“Ibunda! Biar aku yang menghajar kakek tidak tahu malu itu!” teriak Arda Handara tiba-tiba sambil berlari menuju ke dekat ibunya.
Namun, baru saja Arda Handara berlari beberapa tombak, tangan kanan Dewi Ara mengibas pelan ke belakang tanpa menengok kepada putranya. Tiba-tiba tubuh Arda Handara terlempar mengudara jauh ke belakang, seperti kok badminton.
“Aaa!” pekik Arda Handara di udara.
Tikam Ginting cepat berkelebat dari atas kudanya dan menangkap peluk tubuh Arda Handara.
Jleg!
“Orang itu lebih berbahaya dari orang yang kau bunuh di Perguruan Cambuk Neraka,” kata Tikam Ginting sambil menurunkan badan Arda Handara yang ada dalam gendongnya.
Namun, kaki yang melingkar di pinggang si gadis membuat Arda Handara sulit diturunkan.
“Ayo turun, Pangeran!” suruh Tikam Ginting.
“Oh, sudah sampai rupanya. Hehehe!” kata Arda Handara lalu tertawa cengengesan. Maklum, mulai belajar modus.
“Sampai ke mana?” tanya Tikam Ginting bingung.
“Hehehe!” Arda Handara hanya terus terkekeh.
Sementara di depan sana, pertarungan kembali dimulai.
Penembak Bambu yang kondisi Pasak Tunggal-nya berangsur membaik, mengayunkan kedua tangannya di sisi badannya, seperti orang melempar air di sungai dangkal. Kekuatan yang terkerahkan dari ayunan tangan itu mengeruk dua garis tanah jalanan dalam jumlah banyak, yang terhambur ke udara menyerang posisi Dewi Ara.
__ADS_1
Set set set …!
Kerikil-kerikil yang terkandung dalam tanah yang dilempar tersortir lalu melesat laksana puluhan peluru bedil zaman penjajahan Belanda.
Namun, semua tanah dan kerikil yang menembak berhenti bergerak satu tombak di depan tubuh Dewi Ara.
Seset seset …!
Ketika semua unsur tanah jatuh gugur ke tanah, seluruh unsur batu justru melesat balik menyerang Penembak Bambu.
Bserss!
Dengan cepat Penembak Bambu mengolah gerakan kedua tangannya. Lapisan sinar biru terang berbentuk bidang lingkaran besar muncul berdiri di depan tubuh Penembak Bambu. Ia kembali mengerahkan ilmu Dinding Pemusnah sebagai benteng.
Semua batu-batu mini yang melesat musnah lebur menjadi debu ketika menghantam dinding sinar biru terang.
Sess! Bluarr!
Ternyata di belakang serangan batu kerikil itu ada tombak sinar biru dari ilmu Tombak Algojo. Ketika tombak sinar itu menusuk dinding perisai sinar biru terang itu, terjadi ledakan dahsyat.
Bdak! Krakr!
Kali ini pentalan tubuh Penembak Bambu tidak tanggung-tanggung. Begitu deras dan menghantam batang pohon.
Batang pohon yang berdiameter setebal badan Bong Bong Dut itu, secara perlahan tumbang ke tanah kosong pinggir jalan.
“Hahahaaak! Hanya sejauh itu kesaktianmu, Sayang. Aku harus berduka jika demikian, karena harus membunuh wanita cantik yang sebenarnya adalah seleraku,” koar Penembak Bambu yang didahului dengan tawanya, membuat telinga Dewi Ara tidak nyaman.
Bag!
Setelah itu, Penembak Bambu menjejakkan kaki kanannya dengan kuat ke tanah, membuat tanah keras itu amblas semata kaki. Selanjutnya, dia menghentakkan kedua lengannya ke dua arah, kanan dan kiri, tapi sama-sama ke arah batang pohon besar yang masih berdiri kokoh.
Brakr! Brakr!
Bagian batang bawah kedua pohon yang diincar meledak hancur.
Penembak Bambu melanjutkan dengan gerakan tangan berpantomim. Kedua tangannya melakukan gerakan menarik bagian atas pohon, tapi jarak jauh seperti gaya dukun.
Bagian atas kedua pohon bergerak tumbang dengan cepat, dengan arah jatuh berbeda tapi satu tujuan, yaitu bermaksud menimpa tubuh Dewi Ara.
Namun, lagi-lagi kekuatan Tatapan Ratu Tabir menahan jatuh dua pohon besar itu, sehingga terlihat seperti memayungi belaka dengan kerimbunan daunnya.
“Heaaat!”
Ternyata pada saat itu, tubuh Penembak Bambu sudah melenting tinggi di udara dengan kedua tangan telah bersinar hijau terang.
__ADS_1
Bzurss! Bluarr!
Kedua tangan itu lalu dihentakkan ke arah Dewi Ara yang terhalang oleh tumpukan dua pohon. Maka dua sinar hijau menyatu melesat memanjang menghantam batang pohon yang langsung hancur berantakan tiada terkira.
Serangan sinar hijau itu juga menyasar kepada Dewi Ara.
Saff! Blaar!
Namun, tiba-tiba muncul lapisan sinar merah yang menyelimuti seluruh tubuh Dewi Ara. Itu adalah ilmu perisai yang bernama Perisai Dewi Merah.
Ledakan sinar hijau dan tenaga sakti terjadi pada tubuh Dewi Ara. Namun, sang permaisuri bergeming. Ia sedikit pun tidak tergeser atau terdorong dari posisinya. Ternyata serangan kesaktian Penembak Bambu masih terlalu lemah bagi ilmu Perisai Dewi Merah.
Ledakan itu juga membuat Penembak Bambu terdorong keras. Namun, seperti sebelum-sebelumnya, Penembak Bambu tidak menderita luka apa-apa.
“Kau akan merasakan Tembakan Seratus Iblis-ku!” teriak Penembak Bambu.
Mendengar teriakan musuh, Tikam Ginting cepat berteriak.
“Semuanya menjauh!” teriak Tikam Ginting keras. “Gejrot, cepat gendong Bewe Sereng!”
“Naik, Pangeran!” kata Setya Gogol sambil mengulurkan tangannya kepada Arda Handara.
Dengan cekatan Arda Handara menyambut tangan pemomongnya lalu melompat naik ke punggung kuda, di belakang Setya Gogol.
“Gusti Ratu!” kata Lentera Pyar sambil menjalankan kudanya dan tangan mengulur kepada Ratu Wilasin.
Ratu Wilasin yang berubah jadi tegang, segera menyambut tangan Lentera Pyar dan naik ke belakangnya.
Bagang Kala segera mengangkat tubuh Anik Remas dengan mesra. Ia lalu menaikkan wanita itu ke punggung kuda milik Dewi Ara. Ia lalu berlari menjauhi pusat pertarungan sambil menarik tali kuda tersebut. Tidak lupa ia juga menarik si kuda anak milik Arda Handara.
Bong Bong Dut mencontek Bagang Kala. Dia mengangkat tubuh Bewe Sereng yang tergeletak di pinggir jalan, lalu menengkurapkannya di punggung kuda. Setelahnya, ia tidak naik, tapi ikut menarik lari kudanya.
Penembak Bambu sudah berdiri dengan kuda-kuda mengangkang. Kedua tangannya memeluk bambu merahnya di sisi kanan pinggang dengan ujung terbuka menghadap lurus kepada Dewi Ara. Bambu merah itu bertindak seperti senjata antitank bazoka.
“Hiaaat …!” teriaknya seiring bambu yang dipegangnya dengan kuat dalam pelukan bersinar merah, sehingga wujud bambunya tertutupi.
Bom bom bom …!
Seperti itulah bunyi ledakan setiap tembakan bola sinar merah dari meriam bambu itu. Bola sinar merahnya menembak terus tanpa putus.
Besarnya tenaga sakti yang terkandung dalam ilmu Tembakan Seratus Iblis itu menciptakan hawa yang mengerikan.
Dewi Ara tetap berdiri dengan tenang dan dengan ekspresi yang sedingin lemari es tiga pintu.
Sementara yang lain sudah berlari menjauhi pusat pertarungan. (RH)
__ADS_1