
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
“Dewi, Mimi Mama sudah naik perahu menuju ke sini dengan membawa Nahkoda Dayung Karat dan istrinya,” lapor Tikam Ginting kepada Permaisuri Dewi Ara.
Dewi Ara lalu berdiri dari duduknya tanpa menanggapi laporan Tikam Ginting. Ia melangkah pergi ke sisi pinggir perahu, di mana telah berdiri Bewe Sereng, Komandan Bengisan, Pangeran Rebak Semilon, Setya Gogol, Lentera Pyar, dan Bong Bong Dut. Tabib Loang dan adiknya Zoang pun ikut memandang ke pantai dari sisi yang agak terpisah.
Kedatangan junjungan jelita di tengah-tengah mereka membuat Bewe Sereng dan Komandan Bengisan bergeser memberi ruang. Dewi Ara pun memandang suasana di pantai.
“Biarkan saja, ketika waktunya tiba kita akan menyerang,” kata Dewi Ara datar setelah memastikan bahwa memang hanya Nahkoda Dayung Karat dan istrinya yang dibawa menuju ke kapal itu.
“Ada pergerakan di ujung pantai, Dewi,” kata Bewe Sereng.
“Kita lihat saja apa yang akan dilakukan oleh gadis itu,” kata Dewi Ara.
Tiba-tiba muncul satu gejolak batin pada diri Pangeran Rebak Semilon. Ia menatap serius dan tanpa kedip ke arah wanita berpakaian abu-abu yang berdiri di atas perahu, yang melesat cepat di permukaan air menuju ke perahu yang dinaiki oleh Mimi Mama.
Melihat ekspresi tidak biasa sang pangeran, Lentera Pyar jadi penasaran.
“Kenapa kau, Pengeran?” tanya Lentera Pyar.
“Putri Gunira kekasihku!” ucapnya terkejut ketika mengenali sosok Putri Gunira.
“Oh,” desah Lentera Pyar singkat.
Sementara yang lain tidak berkomentar. Mereka semua tahu bahwa keikutsertaan sang pangeran memang untuk bertemu kekasihnya.
“Apakah tidak ada perahu kecil di perahu ini?” tanya Pangeran Rebak Semilon seperti orang panik. Ia memandang kepada semua orang, mungkin salah satu dari mereka tahu di mana adanya perahu di kapal besar itu.
“Tidak ada, Pangeran,” jawab Tikam Ginting.
“Atau … atau alat lain yang bisa membawaku pergi menemui kekasihku?” kata Pangeran Rebak Semilon, seperti orang yang sedang terdesak rasa mules.
“Ambilkan papan untuk Pangeran dan lempar ke air!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Dewi,” ucap Setya Gogol.
Pemomong Arda Handara itu segera pergi. Ia tahu di mana ada selembar papan menganggur karena memang dianggurin.
Sementara Pangeran Rebak Semilon masih berpikir keras, bagaimana bisa dia pergi dengan selembar papan. Ia tidak sesakti Putri Gunira yang bisa menjalankan perahu tanpa mendorong atau menggoesnya.
Sebentar kemudian, Setya Gogol datang dengan membawa selembar papan berukuran setengah kali satu depa.
“Ini, Dewi,” kata Setya Gogol.
“Lemparkan ke air!” perintah Dewi Ara.
Setya Gogola lalu melempar papan itu ke luar kapal dan jatuh ke air. Hebatnya, papan itu tidak tenggelam, tapi mengambang di air yang asin.
“Kau adalah pendekar, kau pasti tidak akan tenggelam jika melompat ke papan itu,” kata Dewi Ara.
“I-i-iya, Gusti Permaisuri,” ucap Pangeran Rebak Semilon tergagap.
Sang Pangeran sejenak memandang ke papan yang mengambang di air. Ia lalu naik ke pinggiran kapal. Sekali lompat, maka turunlah Pangeran Rebak Semilon dan mendarat di atas papan tersebut.
__ADS_1
Setelah mendarat, Pangeran Rebak Semilon agak oleng, tetapi tidak sampai jatuh. Sejenak dia bingung harus bagaimana. Apakah harus mendayung atau sekedar berdiri terombang-ambing ombak laut.
Set!
“Akk!” jerit tertahan Pangeran Rebak Semilon saat tiba-tiba papan yang dipijaknya melesat seperti papan selancar.
Jbur!
Namun, Pangeran Rebak Semilon yang tidak siap, justru badannya tertinggal di belakang yang membuatnya jatuh ke air, lepas dari papannya.
“Hahahak …!” tertawa kencanglah para lelaki di atas perahu yang dipimpin oleh Bong Bong Dut.
“Hihihik …!’ tawa para wanita di atas, kecuali Dewi Ara.
“Hah!” pekik Pangeran Rebak Semilon yang muncul ke permukaan dengan tarikan napas yang panjang. Ia kelabakan.
Kejadian yang terjadi di bawah kapal Bajak Laut Malam itu sempat menarik perhatian Mimi Mama dan kakekknya, juga perhatian Putri Gunira. Namun, bagi Putri Gunira, dia belum begitu jelas melihat perwujudan Pangeran Rebak Semilon.
Jauh di depan sana, perahu Putri Gunira telah mendekati perahu Mimi Mama.
“Hentikan, Putri Cahaya Bulan!” seru Putri Gunira kepada Mimi Mama.
Setelahnya, dia melompat jauh ke depan. Satu ujung kakinya menyentuh permukaan air laut sebagai tolakan untuk sampai ke perahu Mimi Mama.
Jleg!
Putri Gunira mendarat baik di lantai perahu yang terus meluncur karena terus didayung.
“Jangan serahkan dua orang ini kepada permaisuri itu!” larang Putri Gunira.
“Apa yang kau inginkan, Kakak Putri?” tanya Mimi Mama yang kini telah berdiri membelakangi tujuan.
“Kakak Putri Gunira bisa bicara langsung kepada Bibi Permaisuri. Aku tetap harus melaksanakan perintah Ibunda Ratu untuk membebaskan Paman Nahkoda. Jika Kakak Putri ingin mencegahku, itu sama saja menentang perintah Ibunda Ratu,” kata Mimi Mama bergaya serius.
“Putri Gunira!” panggil seorang lelaki tiba-tiba dengan berteriak.
Putri Gunira cepat menengok.
“Kakak Rebak Semilon!” sebut Putri Gunira terkejut saat melihat seorang pemuda bertubuh gagah tapi kuyup sedang separuh berdiri di atas papan yang meluncur di atas air, tanpa dayung ataupun layar.
Lelaki yang adalah Pangeran Rebak Semilon tersebut berdiri di papan, tetapi badannya membungkuk dengan kedua tangannya memegangi pinggiran papan, takut jatuh lagi.
Papan itu melesat di permukaan air bukan karena kesaktian Pangeran Rebak Semilon, tetapia karena kesaktian Dewi Ara.
“Putri Gunira, akhirnya kita bisa bertemu. Aku sangat merindukanmu, Sayang,” kata Pangeran Rebak Semilon dengan posisi badan yang terlihat lucu, tidak ada gagah-gagahnya sedikit pun hanya karena takut jatuh lagi.
Seketika itu, berkaca-kacalah sepasang mata Putri Gunira oleh air mata yang menggenang.
Tiba-tiba Putri Gunira berkelebat dan berlari sepijak dua pijak di atas air lalu mendarat kembali di atas perahunya. Seiring itu bulir air matanya terbang tertiup angin kencang.
Papan yang digunakan oleh Pangeran Rebak Semilon segera berbelok dan meluncur mendekati perahu Putri Gunira. Ketika papan itu merapat kepada perahu Putri Gunira, sang pangeran buru-buru melompat ke atas perahu dan meninggalkan papan, yang kemudian hanyut dengan sendirinya seperti papan yang sudah tidak berkekuatan.
Melihat tangis meliputi wajah kekasihnya, terobrak-abriklah perasaan di dalam dada Pangeran Rebak Semilon.
“Apa yang terjadi kepadamu, Sayang. Kenapa kau tiba-tiba menangis begitu sedih?” tanya Pangeran Rebak Semilon yang kini berdiri dua kali jangkauan di depan Putri Gunira.
__ADS_1
“Kenapa kau muncul di sini, Kakak? Hiks hiks hiks!” tanya Putri Gunira seraya bersimbah air mata.
“Kita begitu lama tidak berjumpa, aku sangat rindu dan selalu merindukanmu. Tapi, kenapa kau tidak gembira, tapi justru menyambutku dengan tangisan. Apa yang telah terjadi terhadapmu?” kata Pangeran Rebak Semilon dengan ekspresi yang turut bersedih, meski tanpa air mata.
“Aku sudah menjadi wanita kotor, Kakak. Aku sudah tidak bisa bersamamu lagi. Hiks hiks hiks …!” kata Putri Gunira sambil menangis kencang.
“Putri Gunira sayangku,” sebut Pangeran Rebak Semilon sambil maju hendak meraih tubuh kekasihnya.
“Jangan menyentuhku, Kakak!” teriak Putri Gunira kencang sambil mundur setindak menjauhi gerakan Pangeran Rebak Semilon.
Rebak Semilon pun berhenti bergerak dalam keterkejutannya.
“Ada apa ini? Tolong beri tahu aku, Sayang. Wanita kotor apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” kata Pangeran Rebak Semilon bingung.
“Lupakanlah aku. Anggap aku telah mati. Kita putuskan hubungan kita!” tandas Putri Gunira dengan tatapan yang tajam kepada kekasihnya itu.
Melebarlah sepasang lingkar mata Pangeran Rebak Semilon. Itu adalah kalimat-kalimat yang tidak mungkin dia lakukan.
“Tidak, tidak bisa aku berbuat seperti itu. Kau adalah wanita yang selalu terbayang seperti bayangan yang selalu menempeli diriku. Kau adalah sinar kehidupanku. Dan cintaku kepadamu sekuat baja. Bagaimana bisa aku memutuskan hubungan? Bagaimana bisa aku menganggapmu telah tiada? Bagaimana bisa aku pura-pura melupakanmu?”
“Karena aku sudah menjadi wanita kotor, Kakak! Karena aku sudah menjadi wanita yang tidak suci lagi! Karena aku telah dinodai! Hiks hiks hiks!” teriak Putri Rugina lalu tangisnya kembali pecah lebih emosional.
Geluduk!
Laksana tergilas suara geluduk di tengah laut yang membuat hatinya remuk redam, Pangeran Rebak Semilon terkejut bukan alang kepalang. Sejenak ia terhuyung mendengar kabar itu, tetapi dia tidak mau jatuh lagi ke air.
“Be-be-benarkah yang kau katakan, Putri?” tanya Pangeran Rebak Semilon dengan suara bergetar.
“Benar, Kakak,” jawab Putri Gunira lebih lirih.
“Siapa … siapa yang melakukan perbuatan hina itu kepadamu?” tanya sang pangeran.
“Adikmu, Kakak. Pangeran Bangir Kukuh!” ucap Putri Gunira dengan kedua ujung gigi saling menekan, seolah-olah dia begitu dendam kepada nama yang disebutnya, padahal memang sangat dendam.
“Appa?!” pekik Pangeran Rebak Semilonn terkejut bukan alang kepalang.
Duk!
Lemas sudah kedua lutut Pangeran Rebak Semilon sehingga jatuh terlutut ke lantai perahu. Wajah pemuda itu menunjukkan kebingungan dalam warna merah karena marah. Isi otaknya berubah carut-marut dan buntu.
“Tidak mungkin. Itu tidak mungkin terjadi. Adi Bangir tahu bahwa kau adalah kekasihku. Tidak mungkin dia menodaimu, Putri. Tidak mungkiiin,” ucap Pangeran Rebak Semilon seolah tidak percaya. Sepasang matanya telah memerah dan mengeluarkan air mata pula.
“Apakah kau menuduh aku berdusta, Kakak?!” teriak Putri Gunira yang kini berubah marah dalam tangisannya.
“Aaa …! Huks huks huks!” teriak Pangeran Rebak Semilon keras sambil menunduk, lalu menangis tersedu-sedu.
Duk!
Sambil menangis keras versi lelaki, Pangeran Rebak Semilon tumbang ke depan, sehingga kini dia menangis dalam kondisi bersujud dengan kedua tangan terkulai lemas tanpa menopang lantai perahu.
“Kini … aku menginginkan kepala Pangeran Bangir Kukuh tergeletak di depan kakiku!” desis Putri Gunira penuh hawa dendam.
Perkataan Putri Gunira membuat Pangeran Rebak Semilon mengangkat kepalanya perlahan dan menatap sedih kepada kekasihnya itu.
“Biarkan aku yang membawa kepala Bangir Kukuh ke depan kakimu, Putri,” ucap Pangeran Rebak Semilon yang kini berubah menaruh dendam yang sangat dalam. “Aku bersumpah, aku akan menuntut bayar perbuatan adikku itu dengan kepalanya. Putus sudah tali persaudaraanku dengannya. Dia harus membayar perbuatan biadabnya!”
__ADS_1
“Pergilah! Jangan pernah menemuiku lagi jika kepala Pangeran Bangir Kukuh tidak ada di dalam genggamanmu, Kakak!” kata Putri Gunira penuh penekanan.
Kata-kata Putri Gunira seketika menyadarkan Pangeran Rebak Semilon karena dia bingung jika disuruh pergi. Pergi dengan apa dan bagaimana? (RH)