Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pertamak 31: Tamu Hutan Tak Diundang


__ADS_3

*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*


 


Eyang Hagara dan Arda Handara akhirnya telah berada di sebuah hutan kecil, tapi memiliki banyak pohon besar.


Eyang Hagara dan Arda Handara sudah dalam posisi sama-sama mengapit tongkatnya dengan kedua pahanya. Sebentar lagi mereka akan lepas landas dan terbang di antara pepohonan.


Ada yang berbeda pada diri Arda Handara, tubuhnya diselimuti oleh sinar kuning samar.


“Kau pasti akan banyak menabrak dan jatuh, jadi ilmu Selimut Kedamaian ini berfungsi agar kau tidak cedera sedikit pun. Kerbau Merah tidak akan rusak atau hancur oleh kekuatan apa pun karena dia adalah pusaka, bukan tongkat terbang biasa buatan semprol (empu) bayaran,” jelas Eyang Hagara.


“Iya, Eyang,” kata Arda Handara.


“Kau harus tahu, Kerbau Merah memiliki tiga tingkatan kecepatan terbang. Pertama, kecepatan yang bisa kau atur dengan pengerahan tenaga dalam. Semakin tinggi tenaga dalammu, maka kecepatan itu akan mengikuti tenaga dalammu. Jika tenaga dalammu habis, maka Kerbau Merah akan berhenti. Tingkatan kedua adalah kecepatan yang bisa timbul dengan menekan kedua mata Kerbau Merah. Kecepatan itu secepat bola emas biasa, sebanding kecepatan para penerbang pemburu. Tingkatan ketiga, bisa dilakukan dengan cara memutar kepala kerbau. Kecepatannya akan melebihi bola emas yang diisi dengan kesaktian. Selama aku jadi penerbang, aku hanya dua kali pernah menggunakan kecepatan itu,” jelas Eyang Hagara.


“Waaah!” sorak Arda Handara. “Eyang, apakah Kerbau Merah bisa aku bawah pulang ke Ibunda?”


“Tentu bisa. Bukankah itu sudah menjadi milikmu?”


“Wah, Ki Ageng Naga pasti cemburu. Hahaha!”


“Sekarang, kau harus mengikuti terbang Eyang. Ke mana saja Eyang terbang, kau wajib mengejar. Jika bisa menangkap Eyang, lakukanlah. Jika kau lewat jalan memotong, kau Eyang anggap gagal!” perintah Eyang Hagara.


“Baik, Eyang!” sahut Arda Handara bersemangat.


“Kau sudah siap?”


“Sudah, Eyang!”


“Mulai!” teriak Eyang Hagara sambil melesat terbang lebih dulu dengan menunggangi tongkat terbang biasa, yang katanya buatan semprol bayaran.


“Kejaaar!” teriak Arda Handara pula begitu gembira dan bersemangat.


Swiiit!


“Aaak!”


Bdaak!


Namun, ketika baru start mengejar Eyang Hagara, Arda Handara langsung menekan kedua mata kepala Kerbau Merah. Hasilnya, tongkat itu langsung melesat cepat sekali. Sambil menjerit, tubuh Arda Handara tertinggal di belakang, tapi untung kedua tangannya berpegangan kuat pada kepala Kerbau Merah.


Luar biasa, Arda Handara bisa melesat terbang menyalip Eyang Hagara, sampai-sampai kakek berhidung aneh itu terkejut melihat keponakannya melintas terlalu cepat. Namun, jelas kecepatan itu di luar kendali. Ujung-ujungnya, Arda Handara menabrak pohon besar, lalu terpental berpisah dengan tongkat terbangnya.


Apa yang dilakukan Arda Handara seperti tarikan gigi satu yang langsung full gas.


Meski menabrak batang pohon dengan keras dan jatuh dari ketinggian, tetapi luar biasanya, Arda Handara bergerak cepat bangkit berdiri. Dia mencoba memeriksa dirinya, meraba wajahnya, bahkan mengintip isi celananya, khawatir jika ada yang hilang atau patah, atau tergores.


“Kau tidak akan apa-apa selama sinar kuning itu menyelimuti tubuhmu, Arda,” kata Eyang Hagara yang datang mendekat dengan posisi melayang di udara rendah. Lalu katanya lagi, “Tadi itu taktik jitu, tapi sayang tidak terkendali. Kau harus bertahap, jangan langsung lompat.”


“Iya, Eyang. Hehehe!” ucap Arda Handara lalu cengengesan.

__ADS_1


Set! Tap!


Eyang Hagara mengulurkan tangan kanannya ke satu arah. Kejap berikutnya, Tongkat Kerbau Merah melesat tertarik dan lekat di genggaman si kakek.


“Kita mulai lagi. Masih dengan aturan yang sama,” kata Eyang Hagara sambil memberikan Tongkat Kerbau Merah kepada Arda Handara.


“Siap, Eyang,” ucap Arda Handara sambil menerima tongkatnya. Lalu katanya, “Kalau seaman ini, aku juga berani ambil risiko, Eyang.”


Tidak berapa lama, keduanya kembali siap terbang.


“Mulai!” pekik Eyang Hagara lalu melesat terbang lebih dulu.


“Kejaaar!” teriak Arda Handara sambil melesat terbang dengan kecepatan biasa. Kali ini ia mengikuti prosedur normal.


Awalnya melesat sedang, kemudian Arda Handara meningkatkan tenaga dalamnya kepada leher tongkat. Tongkat Kerbau Merah pun semakin kencang mengejar Eyang Hagara.


Awalnya hanya terbang lurus di udara hutan di antara pepohonan, sehingga tidak ada masalah bagi Arda Handara terbang mengikuti Eyang Hagara.


Wess!


Tiba-tiba Eyang Hagara berbelok ke kanan setelah melewati batang pohon besar. Arda Handara terkejut, ia terlambat berbelok sehingga terus lurus.


“Dua kali gagal!” teriak Eyang Hagara menghitung.


Di depan sana, Arda Handara baru membelokkan tongkat terbangnya. Dengan susah payah, dia menempatkan kembali terbangnya di dalam trek mengejar Eyang Hagara. Namun, baru saja anak itu tarik gas untuk menyusul, Eyang Hagara kembali berbelok ke kanan di antara dua batang pohon.


Bdak! Beduk!


“Tiga kali gagal!” teriak Eyang Hagara.


Kali ini Eyang Hagara tidak turun untuk membantu. Ia membiarkan Arda Handara bangkit sendiri dan terbang kembali agar mengejarnya.


“Aku datang, Eyang!” teriak Arda Handara melanjutkan aksi udaranya.


Seperti itulah latihan Arda Handara hari ini. Caranya sederhana, hanya mengikuti Eyang Hagara di udara. Yang jadi masalah adalah ketika Eyang Hagara berbelok-belok.


Untuk bisa mengikuti Eyang Hagara berbelok di antara dua pohon hutan, Arda Handara harus mengalami tujuh kali jatuh.


Ketika Arda Handara sudah bisa berbelok dengan tepat, Eyang Hagara menaikkan tingkat kesulitannya.


Singkat cerita, puluhan kali Arda Handara harus menabrak pohon dan jatuh menghantam bumi hutan. Memang tidak sakit karena tubuhnya terlindungi oleh kesaktian Eyang Hagara. Namun, lama-kelamaan itu menguras tenaga juga. Bahkan bocil itu sudah bermandi keringat.


Semakin melemahnya Arda Handara, membuat kecepatan terbang tongkatnya berkurang. Itu semua Eyang Hagara mengetahui.


“Ketepatan terbangmu sudah maju pesat. Apakah kau mau cukup sampai di sini, Arda?” tanya Eyang Hagara.


“Aku masih punya tenaga, Eyang. Pantang pulang sebelum tumbang,” jawab Arda Handara setelah jatuh untuk kelima puluh tujuh kali. “Jangan kabur, Eyang!”


Arda Handara kembali mengudara, tapi kecepatan terbangnya memelan.


West!

__ADS_1


Tiba-tiba Arda Handara melesat cepat beberapa kali lebih cepat. Itu terjadi karena ia menekan mata kepala kerbau.


Eyang Hagara agak terkejut. Namun, ketika Arda Handara hendak mencapainya, ia langsung tancap gas melesat lebih cepat, sehingga ia bisa meninggalkan Arda Handara di belakang.


Dengan kecepatan yang sangat tinggi itu, kemungkinan besar Arda Handara akan kesulitan berbelok, karena anak itu belum menguasai cara memelankan kecepatan tingkat dua tersebut.


Eyang Hadara memutuskan berbelok cepat ke kiri. Melihat itu, Arda Handara bermain pintar. Dengan kecepatan tetap stabil, ia sedikit meliuk ke kanan untuk mengambil ruang belokan yang lebih lebar. Ternyata cara itu berhasil. Dengan kecepatan yang tidak berkurang, Arda Handara bisa berbelok dan terus mengejar paman tuanya.


“Belelele!” pekik Eyang Hagara terkejut ala Orang Segara. Ia tidak menyangka bahwa Arda Handara bisa melakukan itu.


Bdak!


Namun, ketika Eyang Hagara melakukan manuver terbang zigzag di sela-sela pohon, tetap saja Arda Handara tidak bisa mengikuti dengan kecepatan tinggi seperti itu. Ujung-ujungnya ya jatuh setelah badannya tersangkut dahan pohon yang melintang.


Melihat Arda Handara jatuh lagi, Eyang Hagara menengok. Namun kemudian, tiba-tiba ia melirik ke arah lain, seolah-olah mendengar atau merasakan sesuatu yang mencurigakan.


West!


Setelah lirikan yang hanya menunjukkan posisi sesuatu yang mencurigakan, Eyang Hagara tiba-tiba melesat cepat lalu menghilang begitu saja seperti ditelan udara.


Kepergian Eyang Hagara tidak disadari oleh Arda Handara yang sibuk bangkit dan pergi memungut tongkatnya.


Ketika Arda Handara sudah siap mengudara lagi, ia pun kehilangan Eyang Hagara.


“Eyang!” panggil Arda Handara.


Baru saja dia mau mengudara, tiba-tiba dari selatan hutan muncul empat orang cebol yang datang dengan mengendarai tongkat penerbang.


Keempat cebol itu semuanya berjenggot lebat seperut dan berkumis dengan motif yang berbeda. Ada yang berkumis motif ledakan kembang berapi, sehingga rambut kumisnya lurus ke segala arah. Sebutlah dia Si Kumis Meledak.


Ada pula yang kumisnya bermotif awan yang bergelombang. Sebutlah dia Si Kumis Awan. Ada pula yang kumisnya bermotif air terjun sehingga menutupi seluruh bibirnya. Sebutlah dia Si Kumis Curug. Dan yang keempat motif kumisnya tunas tanaman labu. Sebutlah dia Si Kumis Udang.


Sekedar informasi, keempat penerbang itu adalah anggota pembunuh bayaran yang bernama Empat Kumis Algojo.


“Itu anaknya! Serang!” teriak Si Kumis Udang selaku pemimpin di antara mereka.


Terkejut Arda Handara mendengar kata “serang”, terlebih melihat orang-orang cebol sangar itu menggenggam tombak yang lebih kecil dan lebih pendek dari tombak normal.


Untung masih jauh, jadi Arda Handara masih punya kesempatan untuk melarikan diri dengan terbang.


West!


Arda Handara langsung melesat sangat cepat, karena dia menekan dua bola mata kepala kerbau.


Arda Handara memang melesat jauh meninggalkan tamu hutan yang tidak diundang itu. Namun, ketika ada batang pohon besar yang seharusnya dielaki, tetapi anak itu tidak berusaha berbelok menghindar.


Bdak!


Arda Handara terpental keras lalu jatuh keras pula. Namun, jangan dilupakan, anak itu masih diselimuti sinar kuning dari ilmu Selimut Kedamaian. Jatuhnya yang tidak membuatnya sakit, dimanfaatkan untuk segera mencabut ketapel Ki Ageng Naga.


Arda Handara memang sengaja terbang dengan kecepatan tingkat dua. Ia ingin mengambil waktu agar bisa bersiap diri.

__ADS_1


Ketika Si Kumis Awan yang terbang paling depan mendekati posisi Arda Handara, anak itu sudah menarik ketapel Ki Ageng Naga dengan peluru uyut-uyut. (RH)


__ADS_2