Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 12: Pangeran Mata Bakul


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


Semua rakyat Kerajaan Lampara merasa lega ketika melihat api besar di atas Gunung Ibu, tepatnya di Istana Puncak, akhirnya padam.


Permaisuri Dewi Ara dan rombongan yang sedang berjalan di Desa Berunuk juga bisa melihat bahwa api di Gunug Ibu telah padam.


Desa Berunuk berbatasan langsung dengan Pelabuhan Manisawe. Komandan Bengisan sedang menjadi gaet turis dadakan atas perintah Dewi Ara. Bukan permintaan, tapi perintah.


Sudah disebutkan sebelumnya bahwa Dewi Ara seperti pejabat negara yang sedang melakukan kunjungan kerja ke daerah, yang juga membawa banyak pengawal dan pembantu dalam rombongan.


Ternyata, Mimi Mama dan kakeknya Serak Gelegar memilih ikut dalam rombongan. Padahal, pelabuhan sudah aktif normal kembali dan kapal untuk menyeberang ke Pulau Tujuh Selir setiap hari ada yang berangkat.


“Sudah lama aku tidak menikmati kopi gunung panas, Kek.”


Itulah dalih Mimi Mama untuk turut ikut, tapi tidak terikat kepada Dewi Ara. Bisa disebut mereka penumpang yang menumpang.


Rombongan Dewi Ara menjadi pusat perhatian masyarakat. Bukan karena Mimi Mama yang masih kecil tapi cantiknya luber, atau karena Bewe Sereng yang berkumis biru dan berbulu burung di kepala, atau Tikam Ginting yang bertubuh aduhai bak bodi ukulele. Namun, itu semua karena sosok Dewi Ara yang cantiknya keterlaluan. Tidak perlu dicirikan lagi seperti apa cantiknya.


Komandan Bengisan yang berpakaian lembab, bermaksud membawa Dewi Ara dan rombongan ke Kedai Ibu Ibu. Jangan tanya sekarang kenapa nama kedainya bisa demikian, sebab akan terjadi ketegangan lebih dulu di tengah jalan.


Dari arah yang berlawanan, ada beberapa penunggang kuda berpakaian layaknya orang kerajaan. Rombongan yang di belakangnya adalah pasukan berompi merah yang berlari kaki dalam jumlah ratusan itu, dipimpin oleh Pangeran Bangir Kukuh, pangeran yang berwajah tampan dan bertangan besar berotot.


Dia didampingi oleh sahabat lengketnya yang merupakan anak dari seorang menteri, namanya Lembing Girang. Dia juga seorang pemuda yang tampan, sebelas dua satu dengan ketampanan sang pangeran. Bedanya, Lembing Girang bertubuh lebih kurus, pertanda bahwa dia anak bangsawan yang hemat makan.


Perlu diluruskan. Pangeran Bangir Kukuh dan para pengawal berkudanya yang berjumlah sepuluh kuda, tidak menunggung kuda dari atas gunung, tetapi mereka baru menaiki kuda setelah tiba di kaki gunung.


Berpapasan dengan rombongan yang terkesan dipimpin oleh Komandan Bengisan, Pangeran Bangir Kukuh menghentikan lari santai kudanya dan memberi tanda berhenti kepada pasukannya.


Pasukan berkuda dan pasukan pelari kaki segera berhenti. Para prajurit pelari berhenti, tapi napasnya terus berlari di dada dan hidungnya.


Pandangan mata Pangeran Bangir Kukuh terpaku lama kepada sosok Dewi Ara sebelum mengeluarkan kata-kata. Lamanya tidak sampai satu menit, tetapi lebih lama dari pandangan berdurasi normal kepada wajah seseorang.


Sementara Dewi Ara yang juga berhenti bersama rombongan, karena jalannya ditutupi, balas menatap dingin. Dari situlah Dewi Ara bisa mengambil kesimpulan tentang pemuda di atas kuda.


“Sembah hormat hamba, Gusti Pangeran!” ucap Komandan Bengisan sambil turun berlutut menghormat di depan rombongan kuda. Namun, hanya dia yang turun menghormat.


“Bengisan!” sebut Pangeran Bangir Kukuh agak membentak, tidak peduli usianya jauh lebih muda.


“Hamba, Gusti,” sahut Komandan Bengisan.

__ADS_1


“Kau telah menyalakan api tanda bahaya dan Syahbandar mengirim surat meminta bantuan pasukan, tapi kenapa kau justru sedang bersama banyak wanita cantik, hah?!” omel Pangeran Bangir Kukuh. Meski dia lelaki muda, tapi dia juga pandai mengomel tanpa perlu kursus terlebih dulu.


“Mohon ampun, Gusti Pangeran. Itu semua adalah salah paham. Awalnya kami menyangka ada bajak laut yang datang menyerang, tetapi nyatanya bukan, tetapi itu kapal penumpang dari Bandakawen,” jelas Komandan Bengisan.


“Kurang ajar, kau telah mempermainkan Kerajaan!” teriak Pangeran Bangir Kukuh gusar. “Sebagai hukumannya, serahkan wanita berpakaian merah itu sebagai penebusan dari kesalahanmu!”


Terkejut bukan main Komandan Bengisan lalu menengok sejenak kepada Dewi Ara yang mengenakan pakaian merah gelap bersayap. Para pengikut Dewi Ara juga terkejut dan langsung terpancing emosinya.


Bagaimana tidak marah, Komandan Bengisan yang dihukum, kenapa Dewi Ara yang dimintanya? Bahkan jikapun dia meminta Lentera Pyar, Tikam Ginting dan yang lainnya tetap akan marah. Namun, karena Dewi Ara bersikap tenang, para abdinya pun menahan diri.


Tinggallah Komandan Bengisan yang ketakutan sendiri.


“Tapi, Gusti Pangeran, wanita yang Gusti minta em em em …!” ucap Komandan Bengisan cemas dan tiba-tiba kedua bibirnya lengket tidak bisa berucap.


Pangeran Bangir Kukuh, Lembing Girang dan pasukannya jadi heran melihat Komandan Bengisan mendadak panik sambil pegangi bibirnya. Bahkan komandan itu menarik kedua bibirnya agar lepas lengketnya. Namun, justru sakit yang dirasakan karena bibirnya tidak mau bercerai, meski dipaksa.


“Kena …,”


“Hei, Pangeran Otak Cawat!” teriak Tikam Ginting tiba-tiba yang memotong ucapan Pangeran Bangir Kukuh.


Seketika mendeliklah sepasang mata pemuda tampan di atas kuda itu ketika disebut “Pangeran Otak Cawat”. Ia memandang marah kepada Tikam Ginting yang memasang wajah kebencian.


Sebenarnya bukan hanya Tikam Ginting yang memasang wajah kebencian, tetapi juga Setya Gogol, Lentera Pyar dan Bong Bong Dut. Hanya Mimi Mama yang senyum-senyum melihat adegan yang tergelar.


Semakin gusarlah Pangeran Bangir Kukuh dimarahi di depan umum seperti itu. Sekedar pemberitahuan, di lingkungan sekitar juga ada sejumlah warga desa yang menyaksikan pertemuan tidak mesra itu.


“Beraninya kalian bersikap lancang kepada Pangeran Kerajaan Lampara!” tukas Pangeran Bangir Kukuh sambil menunjuk kepada Dewi Ara.


Duk! Bedeluk!


“Akh!”


Tiba-tiba kedua kaki depan kuda tunggangan Pangeran Bangir Kukuh tertekuk sendiri sehingga turun menghantam tanah jalanan yang keras. Hal itu membuat kepala kuda juga jatuh, melempar tubuh sang pangeran ke depan dan tersungkur mencium tanah. Wajarlah jika putra kedua Raja Bandelikan itu menjerit sakit.


“Hahahak!” tawa Bewe Sereng, Setya Gogol, Bong Bong Dut, dan Serak Gelegar.


“Hihihik!” tawa Lentera Pyar dan Mimi Mama.


Tikam Ginting tidak tertawa. Keseringan mengawal Dewi Ara membuatnya sedikit-sedikit mengikuti kedinginan junjungannya itu.


“Tikam, penjarakan pangeran mata bakul itu!” perintah Dewi Ara pelan.

__ADS_1


“Baik, Dewi,” ucap Tikam Ginting Patuh.


Tikam Ginting lalu mulai main balon sinar abu-abu di tangannya.


Pangeran Bangir Kukuh buru-buru bangun dengan kesetanan. Wajahnya merah kelam menahan malu, padahal si malu tidak membebaninya.


“Prajurit, bunuh para lelaki dan tangkap para wanitanya!” teriak Pangeran Bangir Kukuh dengan bunyi kalimat yang sangat bermuatan kemesuman, bukan bermuatan politik.


“Seraaang!” teriak Lembing Girang pula berkomando.


Blugk buk buk …!


“Seraang akk akk akk …!” teriakan para prajurit itu berubah menjadi jeritan-jeritan ketika serentak mereka berjengkangan ke belakang sebelum berlari menyerang.


Sepuluh orang yang masih duduk di punggung kuda pun berjatuhan tidak cantik-cantik, karena memang mereka adalah lelaki semua.


“Apa gila!” pekik Pangeran Bangir Kukuh terkejut bukan main.


Sementara itu, bola sebesar gubuk telah tercipta di tangan kanan Tikam Ginting. Dengan pelan Tikam Ginting mendorong ilmu Penjara Bola Cemburu kepada Pangeran Bangir Kukuh.


“Apa gila setan!” maki sang pangeran ketika dia hendak melompat menghindari bola, tetapi sepasang kakinya seperti terpaku di bumi.


Ia pun tidak bisa menghindari bola sinar abu-abu itu ketika mengenai tubuhnya, membuatnya masuk ke dalam bola dengan mudah tanpa meletuskan bola sinar.


“Jika tidak ingin ada yang mati, jangan halangi kami. Kami hanya ingin minum kopi gunung panas!” seru Tikam Ginting.


Tidak ada yang berani menyahut dan bertindak dari para prajurit itu. Apa yang mereka alami cukup sebagai bukti bahwa mereka sedang menghadapi sekelompok orang sakti.


“Komandan, ayo jalan!” perintah Dewi Ara datar.


“Tapi, Gusti …,” ucap Komandan Bengisan bingung, karena Pangeran Bangir Kukuh adalah junjungannya. Dia sudah bisa bicara kembali.


“Kau akan aku hukum mati, Bengisan!” teriak Pangeran Bangir Kukuh dari dalam penjara bola.


“Kau sekarang adalah tahananku. Siapa pun yang berani menghukummu, akan berakhir buruk,” kata Dewi Ara. “Biarkan anak kurang ajar itu diurus oleh ayah ibunya.”


“Ba-ba-baik, Gusti Permaisuri,” ucap Komandan Bengisan yang masih dalam posisi berlutut.


Terkesiaplah Pangeran Bangir Kukuh, Lembing Girang dan para prajurit, ketika mendengar sebutan “Gusti Permaisuri”.


Komandan Bengisan kembali bangkit dan pergi mengiringi Dewi Ara yang telah melangkah melewati pasukan yang berubah penakut.

__ADS_1


Pangeran Bangir Kukuh berusaha mendobrak dinding bola sinar yang mengurungnya, tetapi dinding itu sekeras baja.


“Lembing Girang, keluarkan aku!” teriaknya. (RH)


__ADS_2