Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 15: Dendam Istri Adipati


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*


 


“Lapor, Gusti Adipati!” ucap seorang prajurit setelah penghormatannya mendapat anggukan dari Adipati Rugi Segila. “Pasukan Sanggana Kecil dalam jumlah besar telah memasuki Baturaharja, Gusti.”


“Apa?!” kejut Adipati Rugi Segila. Lalu tanyanya cepat, “Apakah mereka membawa pasukan perang?”


“Dari panji-panjinya, seragam dan persenjataan yang mereka bawa menunjukkan bahwa mereka siap berperang,” jawab si prajurit pelapor.


“Untuk apa pasukan Sanggana Kecil masuk ke Baturaharja?” gumam Adipati Rugi Segila berpikir, yang tidak bisa dijawab oleh sang prajurit.


“Hamba tidak tahu, Gusti,” jawab prajurit itu.


“Sudah sampai di mana pasukan Sanggana Kecil itu?”


“Sudah memasuki wilayah Kadipaten Kesusur.”


“Oooh!” desah Adipati Rugi Segila dengan ekspresi yang lega. Ia kemudian tersenyum kecil. Lalu tanyanya, “Siapa yang memimpin pasukan itu?”


“Hamba kurang tahu pasti, Gusti. Namun, sepertinya pasukan itu dipimpin oleh dua pendekar wanita dan ada pasukan pendekar di dalamnya.”


“Itu bukan pendekar, tapi dua orang permaisuri Sanggana Kecil,” kata Adipati Rugi Segila yang memiliki wawasan kebangsaan cukup luas.


“Maaf, Gusti. Hamba keliru.”


“Pergilah!”


“Baik, Gusti.”


Setelah prajurit itu pergi, Adipati Rugi Segila segera masuk ke dalam tanpa ada pengawalan prajurit. Ia masuk ke kediaman pribadinya. Di kediamannya, hanya ada prajurit jaga. Prajurit pengawal hanya sebatas teras.


Di dalam sebuah ruangan besar yang lapang dan berlangit-langit tinggi, seorang wanita cantik berpakaian merah terang sedang berlatih melempar senjata berupa paku-paku. Adapun target yang dibidik adalah selusin buah apel yang digantung setinggi kepala si wanita, yang tidak lain adalah istri sang adipati, namanya Manik Sari.

__ADS_1


Selusin apel yang digantung tidak diam, tetapi bergerak berayun ke kanan dan ke kiri. Sementara Manik Sari berdiri sejauh empat tombak dari posisi apel. Ada sebelas apel berwarna merah dan satu berwarna hijau. Posisi apel hijau berada di tengah-tengah apel merah. Sudah ada lima apel yang berlubang dan rompal. Ada lima paku pula yang menancap di dinding batu sisi belakang apel yang digantung.


Set! Tus tus!


Seiring datangnya sang suami, Manik Sari melesatkan dua batang paku yang sudah ada di tangannya. Bukan menyerang suaminya, tetapi menyerang apel-apel yang digantung. Dua paku itu masing-masing membolongi dua buah apel yang masih utuh. Bolongan yang tercipta pada daging apel berdiameter lebih besar dari tebal paku sendiri. Sementara dua paku terus melesat dan menancap di dinding ruangan.


“Ada laporan baru apa, Kakang?” tanya Manik Sari sambil mengambil lima batang paku.


“Sanggana Kecil mengirim pasukan besar masuk ke Baturaharja,” jawab Adipati Rugi Segila bernada datar.


“Apa?!” pekik Manik Sari mendengar jawaban itu. Ia terkejut dan menatap tajam kepada suaminya. “Kau tidak khawatir?”


“Pasukan itu menuju ke Ibu Kota. Jika mereka mau menyerang, tidak ada masalah dengan kita. Aku baru akan panik jika pasukan itu menuju ke Kadipaten Kedaweng ini,” kata Adipati Rugi Segila santai.


Manik Sari kembali melesatkan paku-paku di tangannya.


Set! Tus tus tus …!


Hebatnya, setiap paku yang dilesatkan masing-masing membolongi buah apel yang masih utuh. Khusus apel yang berkulit hijau, dia hancur. Apel hijau adalah target yang paling utama di antara apel-apel tersebut.


“Aku tidak masalah jika Prabu Banggarin dilengserkan oleh Sanggana Kecil. Namun, apakah Kakang tidak masalah. Dengan tumbangnya Prabu Banggarin, itu berarti Sanggana Kecil akan mengambil alih penuh tahta. Jadi tertutuplah pintu bagi kerabat terdekat Prabu Banggarin untuk menjadi penerus tahta,” kata Manik Sari.


“Betul juga,” ucap Adipati Rugi Segila. “Usahaku akan sia-sia belaka.”


“Tidak akan sia-sia selama tujuanku tercapai,” sergah Manik Sari. “Apakah pasukan Sanggana Kecil dipimpin oleh Prabu Dira?”


“Sepertinya pasukan itu dipimpin oleh permaisurinya.”


“Siapa pun permaisurinya, mereka semua harus mati, terutama Prabu Dira,” desis Manik Sari. “Aku akan pergi ke Ibu Kota.”


“Jangan!” sanggah Adipati Rugi Segila cepat. “Itu sama saja bunuh diri.”


“Aku tidak akan bertarung melawan para permaisuri itu, tapi aku akan bermain cantik lebih cantik daripada diriku sendiri,” kata Manik Sari. “Hidupku tidak akan pernah tenang dan bahagia selagi Prabu Dira dan istri-istrinya masih hidup.”

__ADS_1


“Apakah kau tidak bahagia bersamaku, Manik Sayang?” tanya Adipati Rugi Segila.


“Aku bahagia, Kakang,” kata Manik Sari berubah lembut sambil maju merangkul pinggang suaminya dan menekankan dua gunungnya. Lalu katanya lagi, “Namun, untuk di ruang lain, dendamku menyala dengan api abadi.”


“Apakah kau akan tetap pergi ke Ibu Kota?” tanya Adipati Rugi Segila dengan nada berat, sambil balas memeluk erat. Lalu katanya dengan nada setengah berbisik, “Aku akan sangat kehilangan jika kau pergi karena aku kehilangan pengasuh setia di ranjang cinta kita.”


“Aku mengizinkanmu untuk mengambil wanita lain sebagai ganti ketika aku pergi, Kakang,” kata Manik Sari.


“Tapi …. Mana bisa seperti itu, Manik Sayang,” kata Adipati Rugi Segila.


“Ingat, Kakang. Aku menikah denganmu demi dendamku. Jadi ketika aku menemukan peluang untuk membunuh salah satu permaisuri, maka siapa pun tidak akan ada yang bisa menghalangi. Sungguh, aku tidak akan mempermasalahkan jika Kakang mengambil wanita lain sebagai penggantiku. Apalagi Kakang bisa merasakan rasa perawan lagi”


“Haaah!” Adipati Rugi Segila mengembuskan napas panjang. Lalu ucapnya, “Baiklah jika kau memaksa, Manik Sayang. Aku akan memilih berusaha menahan, tapi jika memang aku tidak bisa menahan gairah malamku, aku terpaksa melakukannya atas dasar izinmu.”


“Namun, aku tidak mau jika Kakang menemukan gadis yang lebih lezat goyangannya, lalu Kakang tertarik padanya. Ingat, hanya untuk urusan ranjang sementara, bukan cinta dan urusan tanggung jawab,” tandas Manik Sari.


“Iya. Kau bisa mempercayaiku, Manik Sayang.”


Sementara itu, Pasukan Ular Gunung yang dipimpin oleh Pemaisuri Mata Hijau dan Permaisuri Tangan Peri telah membelah wilayah Kadipaten Kesusur.


Gempar. Itulah reaksi pemerintah daerah dan rakyat di wilayah itu saat tahu-tahu sudah muncul pasukan yang begitu panjang mengular. Adipati dan pasukan keamanan tidak ada yang berani bertingkah dengan dalih apa pun.


Namun, ketika pasukan berbendera merah itu baru keluar dari wilayah Kadipaten Kesusur, dari arah yang berlawanan muncul pasukan Kerajaan Baturaharja yang membawa bendera warna biru. Jumlah mereka mencapai ribuan dan menutup mulut jalan di pinggir lembah. Pasukan Kerajaan Baturaharja itu dipimpin langsung oleh Mahapatih Duri Manggala.


“Berhentiii!” pekik Panglima Bidar Bintang menghentikan pasukannya, dalam jarak puluhan tombak.


“Berhentiii! Berhentiii! Berhentiii …!”


Para pemimpin prajurit segera berteriak susul-menyusul ke belakang, hingga pemimpin prajurit paling ekor yang posisinya masih berada di jantung Kadipaten Kesusur.


Jika pasukan Kerajaan Baturaharja berbaris menumpuk membentuk formasi bujur sangkar, maka pasukan Kerajaan Sanggana Kecil tetap berformasi memanjang dengan ketebalan empat baris ke belakang.


Sebelum Mahapatih Duri Manggala maju, ia lebih dulu mengirim utusan kepada Panglima Bidar Bintang, untuk jaga diri. Jangan sampai jika Mahapatih yang langsung maju lebih dulu, tahu-tahu lehernya menjadi sasaran.

__ADS_1


“Gusti Permaisuri Sanggana Kecil bersedia menerima Gusti Mahapatih!” lapor prajurit utusan kepada Mahapatih Duri Manggala, usai ia maju menemui pemimpin pasukan Kerajaan Sanggana Kecil.


Maka, pergilah Mahapatih Duri Manggala untuk menemui dua permaisuri dengan berkuda. (RH)


__ADS_2