Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 35: Penantang yang Lewat


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*


Drap drap drap!


Dewi Ara, Ratu Wilasin, Santra Buna, dan Tikam Ginting, serta orang sekitar yang ada di jalan itu, mendengar suara lari sejumlah kuda dari arah lain.


“Gusti Ratu Wilasin!” teriak seorang lelaki dari arah suara datangnya rombongan kuda.


Mereka semua menengok ke samping. Ada sebanyak sepuluh lelaki berkuda mendatangi rombongan Dewi Ara yang sedang menuju ke dermaga.


Belum lagi kuda berhenti, pemimpin dari rombongan berseragam prajurit Kerajaan Baturaharja itu sudah melompat turun dan langsung berlutut menghadap kepada rombongan. Sementara satu tangannya tetap memegang tali kekang kuda. Hal yang sama kemudian dilakukan oleh para prajurit yang berkuda.


“Eeeh, Senopati Beling Tuwak. Hihihi!” ucap Ratu Wilasin terkejut lalu tertawa senang.


“Syukurlah Gusti Ratu dalam kondisi baik-baik saja,” ucap Senopati Beling Tuwak tanpa mengangkat wajahnya.


“Lihatlah dengan jelas, aku bersama Permaisuri Geger Jagad dan Syahbandar,” kata Ratu Wilasin sambil tersenyum-senyum.


Terkejutlah Senopati Beling Tuwak. Ia mengangkat wajahnya sejenak untuk membenarkan perkataan sang ratu. Meski ia tidak begitu hapal dengan wajah para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil, tetapi insting lelaki Beling Tuwak sangat yakin bahwa itu memang salah satu permaisuri Prabu Dira Pratakarsa Diwana, terlepas yang mana.


“Sembah hormat hamba Senopati Beling Tuwak kepada Gusti Permaisuri!” ucap Senopati Beling Tuwak.


Sementara kesembilan prajurit di belakangnya tetap menunduk dalam berlututnya.


“Apakah senopati itu termasuk yang ingin membunuhmu, Gusti Ratu?” tanya Dewi Ara kepada Ratu Wilasin.


“Tidak. Senopati tidak punya niat membunuhku. Aku hanya tahu Komandan Kumbang Draga dan Komandan Bengal Banok yang ingin membunuhku,” sangkal Ratu Wilasin cepat.


Terkejut Senopati mendengar dua nama komandan yang disebutkan oleh Ratu Wilasin.


“Hamba sudah membunuh Komandan Kumbang Draga, Gusti Ratu!” lapor Senopati Belik Tuwak.


“Oh, baguuus! Hihihi!” ucap Ratu Wilasin lalu tertawa girang.


“Tapi, itu berarti Gusti Prabu dalam ancaman, Gusti!” kata Senopati Beling Tuwak tegang.


“Itu diluar kuasamu, Senopati. Jika harus mati, ya terpaksa mati. Namun, ada bantuan dari Sanggana Kecil yang datang ke Istana untuk menyelamatkan tahta Baturaharja dari para pengkhianat itu,” ujar Dewi Ara. Lalu katanya, “Ayo, kita ditunggu lawan.”


Dewi Ara lalu berjalan pergi yang diikuti oleh orang yang mengikutinya. Senopati dan kesembilan prajuritnya yang tersisa mengawal di belakang dengan menuntun kudanya masing-masing.


Singkat cerita, mereka tiba di salah satu dermaga. Mereka memandang ke laut, tepatnya ke tanggul penahan ombak yang ada di laut.


Di atas tanggul telah berdiri seorang kakek dan gadis kecil yang sangat tidak dianjurkan dokter untuk berdiri di atas tanggul batu karena sangat berbahaya. Sebab, sesekali ombak menghempas hingga naik ke atas tanggul. Itu bisa menjatuhkan seorang anak. Jangan ditanya bagaimana cara mereka sampai di sana? Namun sekedar informasi, di pelabuhan itu banyak perahu.

__ADS_1


Namun, gadis kecil yang tidak lain adalah Mimi Mama dan kekeknya itu, berdiri dengan teguh dan tenang di atas tanggul. Mereka berdua memandang ke arah dermaga, tepatnya ke arah Dewi Ara dan rombongannya.


Sejak kemunculan dua sosok di atas tanggul, terlebih ada sosok gadis kecil, perhatian warga pelabuhan jadi teralihkan kepada mereka.


“Siapa mereka, Gusti?” tanya Senopati Beling Tuwak kepada Ratu Wilasin.


“Mereka Pembunuh Kedua dan Pembunuh Pertama. Tapi tenang saja, Senopati, Gusti Permaisuri bisa membunuh mereka,” kata Ratu Wilasin sambil tersenyum-senyum.


Terkejutlah Senopati Beling Tuwak mendengar hal itu.


“Hamba pernah melihat Pembunuh Pertama, tapi dia seorang wanita dewasa, bukan gadis kecil,” kata Senopati Beling Tuwak.


Perkataan Beling Tuwak itu didengar oleh Dewi Ara, tetapi dia tidak berkomentar.


“Apakah yang kau katakan itu benar, Senopati?” tanya Tikam Ginting.


“Benar,” tandas Senopati Beling Tuwak.


“Berarti, salah satu dari kedua orang itu bukanlah Pembunuh Pertama, Dewi,” kata Tikam Ginting kepada Dewi Ara.


“Benar. Tapi sekarang saatnya menunaikan janji,” kata Dewi Ara.


Clap!


Tiba-tiba sosok Dewi Ara hilang begitu saja. Kejap berikutnya dia muncul terbang cepat seperti lesatan anak panah di atas air laut menuju ke tanggul batu.


“Siapa di antara kalian yang bernama Pembunuh Kedua?” tanya Dewi Ara datar.


“Aku!” jawab Mimi Mama bersemangat sambil tunjuk jari seperti anak sekolahan.


“Lalu apakah kau Pembunuh Pertama, Orang Tua?” tanya Dewi Ara lagi.


“Benar,” jawab si kakek dengan tenang.


“Kau berbohong, Orang Tua,” tukas Dewi Ara, tetap datar, tapi suaranya tidak kalah volume oleh suara debur ombak lautan. “Pembunuh Pertama adalah seorang wanita.”


“Hahaha!” tawa si kakek, tanda bahwa kebohongannya ketahuan.


“Lalu kau siapa?” tanya Dewi Ara lagi.


“Aku Serak Gelegar, kakeknya Mimi Mama,” jawab si kakek.


“Kau yang mendidik cucumu menjadi seorang pembunuh dan selalu mendampinginya dalam membunuh,” terka Dewi Ara.

__ADS_1


“Gusti Permaisuri sangat cerdas,” puji kakek yang bernama Serak Gelegar.


“Aku akan menganggap kalian berdua satu orang, sama-sama Pembunuh Kedua. Namun, sebelum kita bertarung, aku menawarkan kalian kesempatan untuk mundur dari tugas membunuh Ratu Wilasin,” ujar Dewi Ara.


“Bagaimana, Kek? Permaisuri itu terlalu sakti. Apakah Kakek yakin akan menang?” Justru Mimi Mama yang menanyai kakeknya, seperti anak kecil yang isi kepalanya otak tua.


“Sebenarnya Kakek tidak yakin akan menang. Kakek justru yakin akan mati,” jawab Serak Gelegar.


“Hihihi!” tawa Mimi Mama. “Jadi kita sepakat?”


“Iya!” jawab Serak Gelegar mantap.


“Jadi, apakah kita akan bertarung?” tanya Dewi Ara.


“Kami mundur!” jawab Mimi Mama dan Serak Gelegar kompak.


Jbur! Jbur!


Tiba-tiba kakek dan cucu itu terlempar ke samping, ke arah yang berjauhan. Keduanya jatuh tercebur ke dalam air laut. Mereka dilempar oleh kekuatan mata Dewi Ara. Itu sebagai wujud kekesalan sang permaisuri.


Sementara di dermaga. Entah datang dari siapa, seberkas sinar merah melesat dari arah belakang rombongan Santra Buna, Ratu Wilasin dan lainnya. Seiring itu, satu benda panjang menjalar seperti batang tumbuhan hijau muncul dari bawah lantai dermaga dan melesat cepat melilit tubuh Ratu Wilasin.


“Aaak!” jerit Ratu Wilasin saat tubuhanya ditarik jatuh ke bawah.


“Gusti Ratu!” teriak Senopati Beling Tuwak terkejut.


Bluar!


Namun, serentak orang-orang yang ada di dalam rombongan berlesatan mundur karena sinar merah yang melesat sampai ke depan mereka semua meledak dahsyat tanpa hantaman. Itupun mereka melesat mundur dengan mengerahkan ilmu perisai.


“Akk!” jerit Senopati Beling Tuwak yang sempat bingung, apakah harus mengejar tubuh Ratu Wilasin atau menghindari sinar merah yang semua menduga akan meledak.


Sang senopati terpental mundur bersama para prajuritnya.


“Hoekh!” Senopati Beling Tuwak yang jatuh bergulingan di lantai papan dermaga muntah darah.


Tujuh dari prajuritnya juga terluka parah. Dua orang dari mereka harus tewas.


Kerusakan terjadai pada pinggir dan papan dermaga oleh kuatnya gelombang energi yang menghantam.


Tikam Ginting jatuh terjengkang, tapi untung, selain ia sudah melindungi diri dengan ilmu perisai, dia juga saat itu pakai celana.


Sementara Santra Buna dapat mendarat dengan baik. Berbeda dengan kedua pengawalnya, Jago Jantan dan Jampang Kawe jatuh bergulingan pula.

__ADS_1


Mereka cepat melihat ke sekeliling, mencari tahu siapa pelepas sinar merah berkekuatan besar itu.


Sementara Dewi Ara hanya bisa menyaksikan dari jauh apa yang dialami oleh para pengikutnya. (RH)


__ADS_2