Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 52: Perundingan Singkat


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


Melihat kapal hitam Bajak Laut Malam tetap akan menabrak hadangan dua kapal perang, para komandan di setiap kapal cepat berteriak.


“Pasukan panah bersiap tembak!” teriak Komandan Kapal Harimau Laut.


“Pasukan panah bersiap tembak!” teriak Komandan Kapal Badak Laut.


Pasukan panah pada kedua kapal perang segera memperbaiki posisi dan memasang anak panah di busurnya. Ketegangan pun melanda pasukan di dua kapal penghadang.


Sementara itu di kapal hitam, para pendekar pengikut Dewi Ara telah berdiri gagah di geladak haluan. Mereka pun siap tarung jika memang pertempuran di kapal pecah.


“Belokkan kapal kalian, atau kami panah!” teriak Komandan Kapal Harimau Laut kepada orang-orang di atas kapal hitam.


Namun, Dewi Ara selaku pemimpin di atas kapal hitam bergeming. Ia tidak memberi perintah untuk menghentikan dayungan kapalnya. Sementara para pendekar yang bersamanya juga punya kepercayaan tinggi kepada junjungannya.


Melihat kapal hitam tidak memelan dan sudah pasti akan menabrak pertengahan kerapatan kedua kapal perang, komandan kapal segera bertindak.


“Panaaah!” teriak Komandan Kapal Harimau Laut dengan sangar.


“Panaaah!” teriak Komandan Kapal Badak Laut tidak kalah garang.


Set set set …!


Masing-masing kapal memiliki dua puluh prajurit pemanah, berarti ada empat puluh anak panah yang dilepaskan serentak menghujani kapal hitam.


“Hah! Waktu berhenti! Waktu berhenti!” teriak para prajurit terkejut karena melihat keempat puluh anak panah itu berhenti melaju di udara dan tidak jatuh pula, padahal mereka masih bergoyang dilamun ombak laut.


“Siapa yang memundurkan kapal?!” teriak Komandan Kapal Harimau Laut saat menyadari kapalnya bergerak mundur, membuka jalan bagi kapal hitam.


“Siapa yang memundurkan kapal?!” teriak Komandan Kapal Badak Laut pula.


Kedua kapal perang itu bergerak mundur sendiri, membuka jalan yang lebar bagi kapal hitam.


Sementara keempat puluh anak panah bergerak berbalik posisi. Terkejutlah kedua komandan dan para pasukannya melihat fenomena aneh itu.


“Berlindung, berlindung, cepat berlindung!” teriak kedua komandan panik.


Para prajurit yang ada di atas kedua kapal lebih panik. Mereka buru-buru berlarian untuk berlindung. Ada yang masuk ke kabin, ada yang masuk ke ruang bawah, ada yang rebutan tiang untuk berlindung di belakangnya, dan ada yang berlindung di belakang jaring yang menggantung.


Set set set …! Teb teb teb …!

__ADS_1


Bersamaan dengan lewatnya kapal hitam menuju ke kapal utama yang dipimpin oleh Laksamana Bintang Tenggara, keempat puluh anak panah melesat ke atas kedua kapal perang yang bergerak mundur karena didorong oleh kekuatan ilmu Tatapan Ratu Tabir Dewi Ara. Namun, panah-panah itu bertancapan di titik-titik kosong, tanpa melukai siapa pun.


Kini jelas bahwa kapal hitam meluncur menuju ke kapal induk yang sama besar. Namun, posisi kapal utama yang sudah berhenti membuatnya akan menjadi korban tabrakan.


Pada saat yang sama, sembilan kapal perang lainnya terus bergerak membentuk formasi yang melingkar, mengepung posisi kapal hitam.


“Bagaimana, Laksamana?” tanya Pengawal Laksamana.


“Biarkan saja. Bersama mereka ada Putri Uding Kemala dalam kondisi tidak tertindas,” kata Laksamana Bintang Tenggara setelah mengenali wajah Putri Uding Kemala di belakang barisan para pendekar.


Ada yang menarik, ternyata di kapal itu, kondisi Tadayu dan Gandang Duko tidak dalam belenggu. Kedua tangan mereka bebas dari belenggu apa pun.


Sekedar bocoron. Dewi Ara memang memerintahkan belenggu kedua tawanan itu dilepas, setelah kedua pendekar muda tersebut berjanji tidak akan kabur atau melawan. Karena kewajiban Dewi Ara hanya membawa Tadayu dan Gandang Duko ke Kerajaan Lampara, jadi sang permaisuri pun merasa tidak perlu membelenggu keduanya.


“Pasang bantal penahan!” teriak Pengawal Laksamana Bundura.


Beberapa orang prajurit segera pergi ke haluan dan memasang bantal-bantal penahan yang berbentuk karung gemuk terikat tali dan tergantung. Bantal penahan itu berfungsi untuk mengurangi kerasnya hantaman jika terjadi tabrakan atau gesekan dengan sesama kapal besar, sehingga tidak menimbulkan kerusakan.


Meski kapal hitam bergelagat sengaja menabrak, tetapi Laksamana tidak memerintahkan pasukannya menyerang.


Dugk!


Pada akhirnya, tulang haluan kapal hitam menabrak bagian depan kapal utama armada Kerajaan Srigaya dengan keras. Hantaman itu cukup keras, mengguncang dan mendorong kapal utama dengan keras pula. Sejumlah prajurit harus jatuh terjungkal di geladak karena tidak bisa mempertahankan keseimbangannya, berbeda dengan sang laksamana dan pengawalnya yang berdiri seteguh karang.


Kecantikan paras dan tubuh yang terbentuk oleh angin, membuat terpesona Laksamana Bintang Tenggara dan pasukannya yang notabene kaum batangan. Namun, saat itu bukan waktunya untuk berpikir tentang hati dan cinta, apalagi berpikir tentang pelaminan dan ranjang.


Tindakan Dewi Ara itu membuat Tikam Ginting, Bewe Sereng, Eyang Hagara, dan Mimi Mama berkelebat bersamaan berpindah kapal. Mereka berdiri di belakang sang permaisuri.


Laksamana Bintang Tenggara dan pasukannya cukup terkejut melihat adanya seorang anak perempuan kecil yang bisa berkelebat laksana orang sakti.


“Apa tujuan pasukan angkatan laut Kerajaan Srigaya menuju ke Pulau Tujuh Selir?” tanya Dewi Ara langsung. Ekspresi dinginnya seolah membuat sejuknya angin laut berubah ikut dingin.


“Dengan siapa aku berhadapan?” Laksamana justru balik bertanya.


“Aku Permaisuri Dewi Ara, salah satu permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Dewi Ara, membuat Laksamaana Bintang Tenggara agak terkesiap. Itu tandanya dia tahu.


Kemasyhuran Permaisuri Kerajaan Sanggana memang sudah tersebar ke segala penjur mata angin. Jangan ditanya apanya yang masyhur. Tentang hal kecantikan, kesaktian, sampai perkara perjalanan cinta yang sangat rumit, semuanya masyhur.


Namun, sebagai seorang laksamana, Bintang Tenggara tetap harus menunjukkan wibawanya, terutama di depan mata pihak lain.


“Kerajaan Lampara ada di bawah perlindungan Angkatan Laut Kerajaan Srigaya. Aku telah mendapat pesan bahwa Putri Uding Kemala diculik dan dibawa lari menuju ke Pulau Tujuh Selir. Jadi aku membawa pasukanku untuk mengejar kedua penculik itu,” kata Laksamana Bintang Tenggara. “Namun, aku lihat Putri Uding Kemala berada di kapal Gusti Permaisuri dalam kondisi baik-baik saja.”


“Apakah pesan yang Kisanak terima tidak menyebutkan bahwa aku sedang mengejar kedua penculik itu?” tanya Dewi Ara.

__ADS_1


“Tidak,” jawab Laksamana Bintang Tenggara.


“Merepotkan!” rutuk Dewi Ara lirih. Lalu sebutnya, “Pangeran!”


“Hamba, Dewi,” ucap Bewe Sereng sambil melangkah maju lebih ke depan dan menghadap kepada Dewi Ara.


Terkejut Mimi Mama yang baru tahu bahwa lelaki berkumis biru itu ternyata seorang pangeran.


“Berundinglah dengannya. Buat armada ini berbalik arah. Jika tidak, akan aku akan tenggelamkan semuanya!” perintah Dewi Ara yang juga berisi ancaman.


“Baik, Dewi,” ucap Bewe Sereng.


“Tikam, dampingi Pangeran!” perintah Dewi Ara sambil berbalik dan berjalan pergi.


“Baik, Dewi,” ucap Tikam Ginting patuh.


Dewi Ara lalu berjalan menyeberang ke kapal hitam, tidak terbang lagi. Eyang Hagara dan Mimi Mama mengikuti di belakang.


Untuk sebuah perundingan, level Dewi Ara sebagai seorang permaisuri memang tidak sebanding dengan pangkat seorang laksamana, karena itu dia memerintahkan Bewe Sereng yang berstatus sebagai seorang pangeran untuk berunding.


Di saat Dewi Ara menunggu di kapalnya, terjadilah perundingan antara Pangeran Bewe Sereng dengan Laksamana Bintang Tenggara. Dewi Ara tidak terganggu dengan posisi kapalnya yang dalam kepungan dua belas kapal perang Kerajaan Srigaya.


Di sisi lain, Arda Handara tidak hirau dengan kondisi itu. Ia asik mempermainkan Brojol yang dirindunya bersama dengan teman barunya, yakni Bayu Kikuk dan Cicirini, dua anak Komandan Bengisan. Mereka bisa langsung akrab, berbeda dengan Mimi Mama yang cenderung selalu bertengkar.


Setengah jam lebih sedikit lamanya perundingan berlangsung. Hingga akhirnya, Bewe Sereng dan Tikam Ginting berpisah dengan Laksamana Bintang Tenggara.


“Armada kembali!” teriak Pengawal Laksamana kepada prajurit di atas pos di pucuk tiang utama kapal.


Prajurit di atas tiang segera melakukan gerakan-gerakan sandi bendera yang ditujukan kepada kesebelas kapal perang lainnya yang mengepung kapal hitam.


“Munduuur!” teriak para komandan setiap kapal perang memberi perintah kepada pasukannya, setelah mereka membaca sandi bendera di atas tiang kapal utama.


Setelah itu, kapal-kapal perang membuka formasi untuk bergerak membelakangi arah Pulau Tujuh Selir. Kapal utama armada tersebut bergerak lebih dulu menjauhi kapal hitam.


Bewe Sereng dan Tikam Ginting telah kembali ke kapal hitam. Mereka menghadap kepada Dewi Ara.


“Laksamana Bintang Tenggara sepakat menyerahkan urusan Putri Uding Kemala dan kedua penculik kepada kita. Nanti pihaknya akan mengirim pesan pula kepada Raja Bandelikan,” lapor Bewe Sereng.


“Lanjutkan pelayaran ke Pulau Gunung Dua!” perintah Dewi Ara.


Sementara itu di Pantai Selir Bulan.


Ratu Bunga Petir dan para Tetua merasa lega saat melihat armada Kerajaan Srigaya berbalik menjauhi pulau mereka. (RH)

__ADS_1


__ADS_2