
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
“Aaa …!” teriak Arda Handara berkepanjangan ketika dia mati-matian berpegang teguh pada tongkat terbang dan kedua pahanya mencekik erat batang tongkat, agar dirinya tidak lepas atau terlempar dari tongkat terbang yang dinaikinya itu.
Terbang tongkat itu begitu liar, membuat tubuh Arda Handara lebih sering menggantung karena posisi tubuhnya berada di bawah. Dua sayapnya yang berwarna biru bergerak kembang kempis, menyesuaikan gaya terbang tongkat.
Ketika tongkat terbang naik meninggi atau mendatar, sayapnya mengembang. Jika terbang menukik, maka sayapnya ditutup. Sering kali tongkat itu terbang berputar-putar seperti capung mabuk asap ganja.
Arda Handara hanya bisa mengikut tanpa bisa mengendalikan tongkat yang bersinar merah itu, yang penting dia tidak jatuh. Jika Arda Handara jatuh dari tongkat, maka wassalam cerita hidupnya.
Bsurk!
Pada satu waktu, tongkat itu membawa Arda Handara menerobos kerimbunan daun pohon. Masih untung Arda Handara tidak tersangkut.
Awalnya, tongkat yang bersinar merah menjadi perhatian warga ibu kota Omot Omong. Namun kemudian, sinar tongkat itu padam dengan sendirinya.
Lama kelamaan, Arda Handara sudah tidak menjerit lagi. Secara perlahan dia coba menyesuaikan diri, meski tetap tidak bisa mengontrol maunya si tongkat terbang.
Setelah terbang tinggi di langit malam, rupanya si tongkat terbang ingin merasakan sensasi terbang rendah. Terbang rendah inilah yang banyak menimbulkan masalah, bukan masalah bagi Arda Handara, tetapi masalah bagi warga Ibu Kota dan prajurit Pasukan Pelindung.
Awalnya, tongkat terbang membawa Arda Handara terbang di atas atap-atap rumah warga dan bangunan di Ibu Kota. Dari situlah ketahuan bahwa warga Ibu Kota sudah ada yang menganut gaya hidup bebas tanpa norma. Terbukti ada satu kejadian di atas salah satu atap rumah warga yang bentuknya datar.
Di salah satu atap, ada sejumlah lelaki dan wanita cebol sedang pesta tarian telanjang. Mereka menari-nari mengelilingi api unggun yang tinggi lidahnya setinggi kepala mereka.
Wusss!
“Belelele!” pekik para cebol telanjang itu terkejut bukan main saat ada burung besar terbang sepintas tepat di tengah-tengah mereka. Bukan hanya membuat mereka berjengkangan, tapi juga memadamkan api unggun.
Terlalu cepatnya lintasan itu dan ditambah gelapnya langit Ibu Kota, membuat orang-orang cebol itu tidak tahu apa yang lewat, apakah benar burung, atau setan, atau Dewa Api yang mereka sembah.
“Hahahak …!” tawa Arda Handara yang menyadari apa yang tadi ia lewati.
Di lain tempat.
“Bikocot, apakah kau mendengar sesuatu?” tanya prajurit cebol yang bernama Bahanol. Mereka berdua sedang berpatroli di salah satu jalan.
“Sepertinya dari belakang,” jawab Bikocot.
Wess!
__ADS_1
Mereka berdua mendengar suara angin yang samar-samar, tapi kemudian terdengar kian keras dan dekat. Buru-buru keduanya menengok ke belakang.
“Beleleleee!” teriak keduanya sambil melompat berpisah ke samping saling menjauh.
West!
Arda Handara bersama tongkat terbangnya melintas cepat hendak menabrak kedua prajurit itu. Terbang Arda Handara begitu rendah, nyaris menyentuh tanah jalan, sebab anak itu dalam kondisi menggantung seperti anak panda, tapi tidak imut.
“Belelele! Penerbang!” teriak Bahanol sambil menunjuk kepada Arda Handara yang terus terbang menjauh. Mereka bisa melihat terbangnya Arda Handara karena ada lampu jalanan.
Piiit!
Bikocot cepat meniup pluit untuk menarik perhatian prajurit patroli lainnya. Beberapa prajurit muncul dari dalam gang yang berlari lalu berhenti sambil tengok kanan dan tengok kiri.
“Tangkap penerbang itu!” teriak Bahanol kepada rekan-rekannya yang baru berkeluaran dari dalam gang.
Mereka lalu ramai-ramai berlari mengejar Arda Handara yang sudah terlalu jauh. Tiba-tiba menyusul kemunculan para prajurit yang terbang dengan tongkat terbang. Mereka tergolong dalam prajurit penerbang.
Wes wes wes …!
Sebanyak empat prajurit penerbang cepat mengejar Arda Handara. Jika prajurit pejalan kaki yang mengejar, pastinya tidak mungkin.
Namun, ternyata kecepatan terbang tongkat terbang Arda Handara terlalu ekstrem, sehingga keempat prajurit penerbang juga tidak sanggup mengejar. Dalam waktu singkat, mereka sudah kehilangan Arda Handara.
Insiden itu terjadi ketika Eyang Hagara sedang bertarung dengan lelaki berjubah hitam yang dicurigai sebagai pembunuh misterius.
Lelaki berjubah hitam terpental menghantam tembok pagar jalan yang gelap. Sementara posisi Arda Handara yang mengendarai tongkat dalam posisi menggantung, jatuh ke jalan dengan tongkat yang juga jatuh terpisah.
Mata Eyang Hagara yang tajam seketika mengenali sosok bocah yang terlempar, karena itu dia cepat menggerakkan tangannya mengirimkan tenaga sakti yang menahan laju si anak agar tidak menghantam kerasnya jalanan.
“Arda!” sebut Eyang Hagara terkejut.
“Eyang!” kejut Arda Handara yang batal mati atau terluka, karena tubuhnya melayang pendek di udara.
Bluk!
Setelah itu, Eyang Hagara melepaskan Arda Handara sehingga tubuhnya jatuh pelan ke tanah jalanan yang keras. Anak itu hanya meringis kesakitan, tapi tidak parah.
Di sisi lain, lelaki berjubah hitam buru-buru bangkit. Dilihat dari gerakannya yang terhuyung, menunjukkan bahwa dia kesakitan dan sepertinya juga terluka.
Baru saja lelaki berjubah hitam hendak berkelebat pergi, dari arah lain muncul berlarian serombongan prajurit Pasukan Pelindung Ibu Kota.
__ADS_1
“Kepuuung!” teriak seorang komandan pasukan.
Pasukan orang cebol itu berlari cepat mengepung lelaki berjubah hitam.
Tiba-tiba lelaki berjubah hitam melejit naik ke udara tinggi.
“Matilah kalian semua, Ceboool!” teriak lelaki berjubah hitam dengan menyebut sebutan hinaan bagi Orang Separa.
Suuut!
Ketika sampai pada puncak lompatan tingginya, lelaki berjubah hitam melesatkan sinar merah berekor, sinar serupa yang pernah menyerang Kadidat Colong.
Suuut! Blop!
Namun, sebelum sinar merah berekor itu menghantam tanah di tengah-tengah kepungan atau meledak lebih dulu, tiba-tiba sinar itu melesat ke samping, seperti tersedot oleh satu kekuatan yang sangat besar. Alangkah terkejutnya lelaki berjubah hitam.
Sinar merah berekor itu melesat tertarik ke arah Eyang Hagara. Sinar itu kemudian dilahap oleh sinar biru berwujud tangan besar. Sinar merah kemudian meledak redam di dalam genggaman sinar biru milik Eyang Hagara yang bernama Genggam Peredam Binasa. Ledakan sinar merah itu hanya membuat Eyang Hagara terhentak kecil, tanpa memberi efek apa-apa.
Blas blas blas …!
Zerzzz!
“Eeekrrr!” jerit lelaki berjubah hitam dengan tubuh kejang di udara dan jatuh berdebam di tanah.
Ketika tubuh lelaki berjubah hitam turun dari lompatannya, para prajurit cebol melemparinya dengan bola-bola kecil seperti gundu, yang jika mengenai orang akan memberikan setruman tegangan tinggi.
Jangan dikira seperti apa sakitnya disetrum oleh lebih dari sepuluh setruman tegangan tinggi.
Setelah lelaki berjubah hitam jatuh, para prajurit cebol itu berlompatan susul-menyusul mendaratkan kedua sepatu mereka. Para prajurit itu lebih kepada melompat menginjak, lalu melompat lagi meninggalkan badan si lelaki yang lebih besar dari tubuh mereka. Injakan itu terjadi berulang kali dan susul-susulan.
Memang, setelah setruman tadi, lelaki berjubah hitam sudah tidak berdaya. Karena itulah, dia hanya pasrah ketika tubuhnya dijadikan landasan para prajurit itu. Tidak perlu diketahui bahwa bagian bawa sepatu para orang katai itu terbuat dari bahan yang sangat keras, tidak lebih keras dari besi, tapi lebih menyakitkan dari pada patah hati.
Setelah tersangka pembunuh misterius diinjaki, sejumlah prajurit cepat bekerja sama membekuk. Ada yang menginjak leher si penjahat, ada yang memegangi tangannya, ada yang memegangi jari-jari tangannya, dan ada yang mengikat jari-jari tangan itu dengan benang antitajam.
Wes wes wes!
Tiba-tiba dari dalam gang yang gelap muncul empat prajurit penerbang.
“Itu penerbang pengacau itu!” teriak salah satu prajurit penerbang sambil menunjuk Arda Handara.
“Tahan, itu cucuku!” seru Eyang Hagara cepat.
__ADS_1
“Pendekar Hagara!” sebut para prajurit penerbang itu agak terkejut, setelah tersadar bahwa di tempat itu ada Eyang Hagara, yang sudah dianggap orang penting di dalam Pasukan Pelindung Ibu Kota. (RH)