
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Pertempuran pecah antara Perguruan Cambuk Neraka melawan pasukan kelompok Penguasa Dunia yang bersenjatakan sabit logam.
Para pemimpin Perguruan Cambuk Neraka dan murid-muridnya harus menunda lebih dulu pertikaian internal, mereka harus fokus untuk memerangi musuh yang datang dari luar, yang jelas-jelas ingin menghancurkan perguruan itu.
Namun, berbeda dengan Ketua Tiga Citari Lenting, dia segera berkelebat mundur untuk melarikan diri.
Set! Blar!
Ketika wanita tua berbedak tebal itu berkelebat di udara meninggalkan arena pertempuran, tiba-tiba ada sebola kasti sinar hijau melesat ke samping tubuhnya yang kemudian meledak sendiri.
Ledakan tenaga sinar itu mendorong tubuh Citari Lenting ke samping. Meski dia bisa mendarat tanpa jatuh, tetapi insiden itu menunda kaburnya.
“Mau lari ke mana, Ketua?” tanya seorang wanita sambil datang mendekati Citari Lenting.
Wanita itu tidak lain adalah Tikam Ginting, Pendekar Bola Cinta.
“Siapa kau? Bukankah kita tidak ada perkara? Jangan halangi aku atau nasibmu ada di tanganku!” hardik Citari Lenting.
“Meski kau tidak mengaku, Ketua, tapi kau adalah tersangka utama bahwa kau adalah pemimpin dari pasukan berkuda itu. Jadi kau tidak boleh pergi begitu saja,” kata Tikam Ginting.
“Aku tidak peduli siapa kau, tapi jelas kau mencari penyakit sendiri!” seru Citari Lenting lalu maju sambil melecutkan cambuk bersinar merahnya.
Tikam Ginting cepat menghindar dan balas merangsek maju. Pertarungan dua generasi berbeda itu terjadi sengit.
Ketua Dua kali ini bertarung dengan sengit melawan orang-orang bersenjata logam sabit. Mau tidak mau ia harus memimpin para petinggi perguruan untuk membela dan mempertahankan perguruan mereka.
Lunar Maya memilih mengamankan putrinya, Sulin Mamas, dengan membawanya menjauh dari pusat pertempuran.
Ketua Empat Anik Remas yang terluka harus diamankan dan dilindungi oleh Bagang Kala. Pemuda itu membawa janda cantik itu ke tempat yang aman, agak jauh dari pertempuran. Sementara Gelisa memilih bertarung bahu-membahu bersama murid-murid perguruan yang lain.
Ketua Lima Sarang Asugara sekeluarga bertarung habis-habisan. Ia bahu-membahu bersama Ayuting Palasa dan Lirih Lambai serta murid-murid dalam rombongannya.
Hampir semua unsur bertarung untuk membela perguruan mereka, termasuk Garda Tadapan dan Guna Wetong yang dalam kondisi terluka. Hanya mereka yang lemah yang memilih menjauh dari pusat pertempuran.
Lentera Pyar dan Setya Gogol tidak turun bertarung, mereka mengamankan keberadaan Arda Handara yang geregetan sendiri. Bocah itu sangat ingin ikut terjun bertarung, tetapi kedua pemomongnya melarangnya dengan keras.
Sementara itu Dewi Ara memilih memantau dari atas pertempuran yang terjadi. Lebih tepatnya dia sedang menunggu. Dewi Ara tahu, selain pasukan bersenjata sabit logam itu, masih ada kelompok lain yang berada di luar perguruan itu.
Secara jumlah, kelompok Penguasa Dunia kalah, tetapi secara kualitas mereka lebih mumpuni. Senjata sabit mereka yang bisa dilempar seperti bumerang, memiliki keunggulah yang begitu kuat.
Di pusat pertarungan, Ketua Lima Sarang Asugara berhadapan dengan pemimpin Penguasa Dunia Gombal Setarik. Sementara Ketua Dua Tolak Berang dikeroyok oleh Tebak Takacau bersama rekannya yang bernama Punuk Jega.
__ADS_1
Senjata sabit besi berseliweran di udara memangkas nyawa murid-murid Perguruan Cambuk Neraka satu per satu.
Set set!
Di saat Gombal Setarik melawan Sarang Asugara, ia justru melesatkan kedua senjata sabitnya menyerang dua murid Perguruan Cambuk Neraka yang mengeroyok seorang anak buanya.
Ctas! Set!
Cambutk bersinar biru Sarang Asugara melecut keras menyerang Gombal Setarik. Sambil melompat menghindar, tangan kanannya mencabut sabit berwarna tembaga yang langsung dikibaskan hendak menjangkau leher Ketua Lima.
Namun, sang ketua terbilang gesit menghindar.
Set set!
Tiba-tiba dari arah belakang, muncul dua senjata sabit yang pada awal dilepas oleh Gombal Setarik. Dua senjata itu ternyata tahu jalan pulang setelah dilempar jauh menyerang murid perguruan.
Sarang Asugara masih sigap melompat bersalto menghindari kedua sabit tersebut.
Set!
“Akh!” jerit tertahan Sarang Asugara saat sabit tembaga melesat masuk merobek lengan kirinya, ketika dirinya sedang menghindari dua sabit lainnya.
Sarang Asugara mendarat dengan sempoyongan yang langsung diserbu oleh dua sabit tembaga di tangan Gombal Setarik.
“Akk!” Giliran Gombal Setarik yang menjerit ketikan tahu-tahu lecutan cambuk bersinar biru mendera tangan kanannya, membuat sabit tembaganya lepas dari pegangan.
Lecutan itu disusul oleh satu tendangan geledek yang menghantam telak dada Gombal Setarik, memaksa lelaki tak berbaju itu terjajar nyaris terjengkang.
Dalam kondisi lengan yang mengucurkan darah segar, Sarang Asugara mengejar tubuh Gombal Setarik dengan cambuk yang berputar membentuk pola spiral. Ini tidak ada hubungannya dengan program Keluarga Berencana.
Gombal Setarik cepat melesat mundur sambil melesatkan satu sabit tembaganya yang tersisa.
Set! Bset!
Set! Tseb!
“Aakkh!”
Secara bersamaan, Sarang Asugara dan Gombal Setarik menjerit kesakitan.
Sarang Asugara memilih tidak menghindari serangan sabit Gombal Setarik demi keberhasilan serangannya, karena pada saat yang sama, cambuknya yang membentuk spiral melakukan dorongan kencang yang membuat ujung cambuk melesat lurus sangat cepat.
Seiring Sarang Asugara mengorbankan dadanya disayat oleh sabit tembaga, Gombal Setarik juga tidak bisa menghindari tusukan ujung cambuk yang melesat sekeras tombak besi. Ujung cambuk bersinar biru itu menusuk tembus perut kekar Gombal Setarik.
Sambil jatuh terlutut, Sarang Asugara menolakkan ujung kakinya, membuat tubuhnya terlempar maju ke arah Gombal Setarik yang berdiri diam memegangi ujung cambuk yang menancap di perutnya.
__ADS_1
Blet!
“Akhr!”
Tubuh Sarang Asugara melintas melewati kepala Gombal Setarik, tapi tangan bergerak cepat melilitkan bagian pangkal cambuk ke leher pemimpin Penguasa Dunia itu, lalu menariknya dengan dua tangan. Gombal Setarik pun dicekik dengan cambuk yang ujungnya masih tenggelam di perut.
Begitu kuatnya Sarang Asugara mencekik leher lawannya dari belakang, darah pun mengalir deras dari lengan kiri dan dadanya yang telah robek besar.
Duk!
Gombal Setarik akhirnya jatuh terlutut dengan lidah menjulur dan mata mendelik seolah hendak jumping dari rongganya. Nyawanya melayang lebih dulu dibandingkan dengan sebagian anak buahnya yang masih bertarung dengan penuh semangat, walau secara perlahan mereka juga bertumbangan satu demi satu.
Setelah membunuh Gombal Setarik, Sarang Asugara juga tumbang, tapi tidak dengan nyawa yang melayang, sepertinya nyawanya masih terikat oleh benang pada raganya.
“Kakang Sarang!” pekik Ayuting Palasa saat melihat suaminya tumbang. Ia cepat meninggalkan pertarungan dan berkelebat mendapati suaminya.
Di sisi lain, Tolak Berang ternyata bertarung tidak setangguh seperti kedudukannya sebagai Ketua Dua. Pengeroyokan terhadap dirinya membuatnya cepat terdesak.
Pertarungan berjarak ternyata tetap tidak menguntungkan Tolak Berang yang bertarung dengan cambuk bersinar kuning dan tangan kiri bersinar merah. Ia harus menghadapi empat sabit logam yang bisa dilempar kepadanya dari arah mana saja.
Tebak Takacau dan Punuk Jega bertarung heroik dalam mengeroyok Ketua Dua.
Ctas! Ctas! Set set!
Kedua orang andalan Gombal Setarik itu memiliki gerakan yang cepat.
Seperti pada satu waktu, ketika lecutan yang panas membakar menyerang Punuk Jega, lelaki itu melompat bersalto menghindar sambil melempar dua sabitnya kepada Tolak Berang.
Ctas ctas!
Set set!
Tolak Berang dengan cekatan memainkan cambuknya yang meliuk menepis kedua sabit logam hingga terlempar liar.
Namun, pada saat yang sama, Tebak Takacau juga melesatkan dua sabitnya dari arah yang berbeda, yang sebisa mungkin menyerang dengan cara membokong.
Ctar! Bset!
“Akk!”
Menghadapi dua sabit Tebak Kacau yang membokong, Tolak Berang menepis satu sabit dengan sinar merah tangan kirinya, menciptakan ledakan nyaring yang mementalkan sabit tersebut. Namun, satu sabit lagi tidak bisa tertangkis atau terhindari.
Tolak Berang menjerit saat perutnya terbeset sabit dengan begitu cepat. Ia sontak terhuyung sambil tangan kirinya cepat membekapi luka di perutnya.
“Kakang Tolak!” pekik Lunar Maya yang memantau pertarungan suaminya dari jauh, tapi ia tidak pergi ke mana-mana untuk menolong suaminya itu. (RH)
__ADS_1