
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Satria Lahap, Ki Kumis Elang dan Pendekar Sekilatan memasuki Kota Bandakawen dengan jumawa. Para pegawai pos pemeriksaan tidak tahu bahwa tiga orang yang baru saja mereka izinkan masuk ke kota pelabuhan itu adalah tiga dari Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas.
Satria Lahap adalah seorang lelaki gemuk bertubuh cukup pendek dengan rambut gondrong sedada yang dikepang dua seperti orang Indian zaman dulu. Pendekar bergigi tonggos itu selalu mengunyah karena memang sedang makan. Bahkan dalam keadaan berjalan pun dia sedang makan. Dia menggendong sebuah keranjang rotan yang berisi banyak makanan cemilan. Sepertinya dia pelanggan setia minimarket. Ada sebuah palu besi menggantung di pinggang kanannya dan di pinggang kirinya ada kendi berwarna hitam. Dia Pembunuh Ketujuh
Ki Kumis Elang adalah seorang lelaki separuh baya berpakaian warna merah dengan sabuk lebar berwarna biru. Sesuai namanya, ia memelihara kumis tebal dan berujung panjang dengan model sedikit berombak, sehingga mirip bentangan sayap burung jika dimirip-miripkan. Lelaki bertotopong kain hitam itu berbekal senjata sebatang toya pendek tapi tebal berwarna biru. Dia Pembunuh Kelima.
Adapun Pendekar Sekilatan merupakan seorang lelaki bertubuh kecil, tapi tidak kerdil dan tidak mini, hanya kecil. Rambutnya yang merah kemerah-merahan dikuncir sederhana. Lelaki berusia empat puluhan itu mengenakan pakaian warna putih-putih. Di pinggang kanan dan kiri ada terselip senjata model garpu dua mata, yang panjang bilah matanya dua jengkal. Dengan tingginya yang pendek, membuat senjata itu nyaris mencapai tanah. Dia Pembunuh Keempat.
“Aku pernah membunuh pedagang bebek di sini,” kata Ki Kumis Elang.
“Hah!” kejut Satria Lahap dan Pendekar Sekilatan. Mereka menunjukkan mimik tidak percaya.
“Kau menerima pesanan nyawa tingkat rendah seperti itu?” tanya Pendekar Sekilatan.
“Itu target tingkat tinggi karena yang dijual adalah bebek-bebekan emas. Hahaha!” jelas Ki Kumis Elang lalu tertawa, tanpa diikuti oleh kedua rekannya.
“Apakah kalian tahu rupa Ratu Wilasin?” tanya Pendekar Sekilatan.
“Tidak,” jawab Ki Kumis Elang.
“Itulah kesalahan kita, memburu target tanpa tahu jelas tampangnya seperti apa. Ujung-ujungnya mati satu-satu. Apakah kalian juga tidak tahu kenapa kita memburu bersama-sama?” kata Pendekar Sekilatan.
“Tidak tahu,” jawab Ki Kumis Elang.
“Hei, dengarkan aku!” kata Satria Lahap setelah menelan makanan yang dikunyahnya. Setelah itu dia menenggak air dari kendinya.
Ki Kumis Elang dan Pendekar Sekilatan jadi memandang kepada rekan gendut bulatnya. Sebelum berkata, Satria Lahap lebih dulu mengambil seikat kedelai rebus dari keranjangnya.
“Ratu Wilasin itu mudah ditandai. Kalian dengar saja suara tawanya yang nyaring seperti suara tawa dari alam lelembut,” kata Satria Lahap sambil fokus membelahi kulit kedelai rebusnya.
“Kau tahu dari mana?” tanya Pendekar Sekilatan.
__ADS_1
“Dari Pembunuh Pertama. Pembunuh Pertama tahu dari Adipati Rugi Segila. Kalian saja yang terlalu cepat pergi, sampai tidak sempat mendapat kabar mengenai ciri-ciri Ratu Wilasin,” jelas Satria Lahap.
“Kenapa aku ragu dengan keteranganmu, Lahap. Aku sulit percaya jika ada ratu kerajaan yang seperti itu,” kata Ki Kumis Elang.
“Kita diperintahkan memburu bersama-sama karena ada pendekar sakti yang melindungi Ratu Wilasin. Karena itulah Penembak Bambu, Abel, Cempaka dan Telapak Petir mati dengan mudah,” kata Satria Lahap sambil mengunyah di sela-sela bicaranya.
“Itu berarti kita harus mengeroyok orang sakti itu,” kata Ki Kumis Elang.
“Benar,” ucap Satria Lahap.
“Kumis Elang, tadi katanya kau pernah membunuh di kota ini, lalu ke arah mana kita harus mencari?” tanya Pendekar Sekilatan.
“Ke pelabuhan,” jawan Ki Kumis Elang. “Para wanita sangat suka melihat laut dan kapal-kapal besar. Kemungkinan besar Ratu Wilasin ada di sekitar pelabuhan. Ayo, ikuti aku!”
“Setahuku, kota pelabuhan ini diperintah oleh satu keluarga sakti. Jika kita membuat onar di sini, apakah aman-aman saja?” tanya Pendekar Sekilatan.
“Benar. Bandakawen ini diperintah oleh Keluarga Jangkar Ungu. Jika kita membuat onar di sini, kita akan berurusan dengan keamanan Delapan Penendang. Kalian pasti belum pernah menjajal kehebatan Delapan Penendang. Aku sudah pernah,” jawab Ki Kumis Elang.
“Lalu?” tanya Satria Lahap.
“Yaaa, mereka hebat,” kata Ki Kumis Elang. “Nah, coba kalian lihat di atas sana.”
Di atas tiang itu berdiri seorang wanita separuh baya berpakaian serba biru terang. Ujung-ujung pakaian dan rambutnya berkibar ditiup angin laut yang kencang. Ia berdiri di sana dalam tugas memantau keramaian di daerah sekitarnya.
“Itu salah satu Delapan Penendang. Pasti nanti kita akan berurusan dengannya,” kata Ki Kumis Elang.
“Hihihi …!”
Tiba-tiba mereka bertiga mendengar suara tawa nyaring melengking yang terasa aneh di telinga hingga ke jantung. Sampai-sampai membuat gigi ngilu sendiri.
Bukan hanya mereka bertiga yang terkejut mendengar suara nyaring itu, tetapi orang ramai yang sedang lalu lalang atau beraktivitas di sekitar jalanan dekat pelabuhan itu juga tergugah. Kebanyakan dari mereka tidak bisa menemukan siapa wanita yang sedang tertawa, tetapi sebagian bisa langsung melihat siapa yang tertawa.
Suara tawa khas itu jelas milik Ratu Wilasin. Wanita cantik itu tertawa kencang karena menertawakan Bong Bong Dut yang mukanya celemotan cairan hitam. Cairan hitam yang mengotori wajah dan sedikit pakaian Bong Bong Dut adalah cairan cumi.
Ceritanya seperti ini ….
__ADS_1
Di dermaga yang khusus untuk para nelayan pencari ikan, ada nelayan yang sedang dapat tangkapan cumi melimpah. Di antara kaki-kaki para pembeli, Arda Handara menyelinap dan mempelajari cumi-cumi dengan melakukan pencopotan kepala cumi dari badannya. Setelah memeriksa anatomi tubuh dan kepala cumi, tanpa sengaja Arda Handara memecahkan kantung tinta sehingga keluar cairan hitam.
Berbekal penemuan itulah Arda Handara mencuri kepala cumi yang cukup besar dan menyemprotkannya di depan wajah Bong Bong Dut. Ketika wajah pemuda gemuk itu hitam oleh tinta cumi, maka tertawa kencanglah Ratu Wilasin.
“Hahahak …!” tawa Arda Handara pula dengan terpingkal-pingkal.
Sementara para nelayan dan pedagang ikan hanya bisa mengerenyit mendengar suara tawa Ratu Wilasin.
“Pangeran jahiiil!” teriak Bong Bong Dut murka. “Aku cekik kau!”
“Waaak! Hahaha!” teriak Arda Handara lalu buru-buru berlari kencang, ketika Bong Bong Dut berlari mengejarnya di antara keramaian orang di atas dermaga kayu.
Meski di dermaga pelelangan ikan itu ramai oleh orang, Arda Handara tetap bisa berlari kencang sambil tertawa-tawa. Sang pangeran begitu lincah dan gesit karena memang itu kelakuan hariannya di Istana.
Saking lincahnya Arda Handara, sampai-sampai dia bisa menyelinap di antara dua kaki Satria Lahap.
“Anak Setan!” maki Satria Lahap sambil refleks mencengkeram sudut celananya. Itu ia lakukan karena milik pribadinya tersenggol oleh kepala Arda Handara.
“Minggir!” teriak Bong Bong Dut yang sedap gelap mata kaki. Ia lupa bahwa ia sedang marah kepada putra semata wayang Dewi Ara.
Bdak!
“Hukh!”
Tidak bisa dihindari, ketika Satria Lahap sedang menengok ke belakang memandangi Arda Handara, Bong Bong Dut datang seperti babi hutan mengejar mangsa dan menabrak Satria Lahap.
Dua orang yang sama-sama gendut, sama-sama berpakaian kuning, tapi berbeda tinggi, saling tabrak. Itu bukan adu banteng atau adu domba, tetapi adu kantung makanan. Meski Bong Bong Dut lebih besar dan tinggi, tetapi justru dia yang terpental balik dan jatuh terjengkang di antara orang di pasar lelang tersebut. Sementara Satria lahap tetap berdiri di tempatnya.
“Hahahak …!” Arda Handara kian tertawa saat melihat kejadian itu.
“Hihihi …!” Ratu Wilasin yang ikut mengejar Bong Bong Dut di belakang, juga tertawa nyaring melengking menyayat gigi.
Bong Bong Dut cepat memfokuskan pandangannya kepada tiga orang berperawakan pendekar yang kini berdiri di tengah-tengah jalan dermaga pasar lelang yang lebar.
West!
__ADS_1
Tiba-tiba sosok Pendekar Sekilatan bergerak maju nyaris tidak terlihat dan tahu-tahu telah berdiri di hadapan Ratu Wilasin. Kemunculan Pendekar Sekilatan di hadapannya, mengejutkan Ratu Wilasin yang seketika membuatnya berhenti tertawa. Wajahnya cantiknya berangsur berubah ketakutan.
Melihat sorot mata Pendekar Sekilatan, Ratu Wilasin tahu bahwa itu adalah sorot mata seorang pembunuh. (RH)