
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
Meski matahari sudah terbit, tapi tetap saja pagi itu masih terasa dingin karena alam di Kademangan Bayongan masih basah, seperti usai mandi junub, maklum tadi malam banyak warga yang menghangatkan diri sampai lemas.
Namun, atmosfer di kebun jambu klutuk telah memanas karena sudah banyak warga yang berkerumun di satu titik.
Warga Kademangan Bayongan dihebohkan penemuan potongan-potongan tubuh seorang perempuan, yang bercampur dengan potongan-potongan kayu pohon jambu di depan penginapan. Kabar yang menyebar cepat seperti sambaran bensin membuat banyak warga berdatangan ke kebun seberang jalan depan penginapan.
Mereka sangat ingin melihat dengan mata kepala sendiri kabar yang mereka dengar, seperti fans lokal yang kedatangan idol dari negeri jahe.
Di sisi lain, para karyawan Penginapan Niring Jelita tetap sibuk bekerja tanpa mengindahkan keramaian di seberang jalan, seolah-olah mereka tidak mau bersinggungan sedikit pun dengan mayat termutilasi itu.
Sebelumnya, Niring Kuwikuwi sudah memberi arahan kepada seluruh karyawannya agar mengatakan “tidak tahu” jika ada yang bertanya tentang mayat di pinggir kebun jambu.
Namun kemudian, Dewi Ara memberi tahu, jika ada yang bertanya tentang mayat wanita itu, cukup katakan “itu mayat pembunuh bayaran yang dibunuh oleh tamu penginapan.”
Terdengar suara lari kuda datang mendekat. Sebanyak tiga ekor kuda berpenunggang datang.
“Minggir!” teriak seorang pemuda berbadan besar berotot dengan baju model kemeja tanpa kancing. Pemuda itu bersenjata golok.
Warga yang berkerumun dan bising berbisik-bisik segera menengok. Ketika melihat siapa yang baru tiba, mereka segera bergerak membuka jalan.
Pemuda gagah bergolok turun lebih dulu dari kudanya. Sekedar informasi, pemuda yang merupakan kepala centeng demang itu bernama Sikut Geprek. Karirnya cukup menjanjikan, masih muda tapi sudah jadi kepala centeng.
Lelaki kurus berusia separuh baya lebih satu tahun, segera turun pula dari kudanya. Ia mengenakan pakaian warna hitam bagus dan mengenakan totopong warna hitam putih, tapi tidak seperti corak catur. Lelaki berwajah tegas itu memelihara kumis tebal. Sepertinya dia lebih sayang kepada kumisnya daripada badannya yang kurus. Dialah penguasa di Kademangan Bayongan itu, Demang Bajang.
Lelaki satunya yang berperawakan pendekar bersenjatakan tombak, juga turun dari kudanya. Dia adalah pengawal sekaligus tangan kanan Demang. Ia bernama Aji Mupung.
“Aji Mupung, panggil Niring Kuwikuwi ke mari!” perintah Demang Bajang.
“Baik, Gusti,” ucap Aji Mupung. Lelaki berusia empat puluhan itu segera pergi menuju penginapan.
Di sisi lain, agak jauh dari pusat keramaian, ada seorang lelaki separuh baya kurang delapan tahun, berpakaian seperti warga biasa, sedang memerhatikan keramaian tersebut. Lelaki itu berdiri di balik sebatang pohon kelapa. Meski dia berdiri di balik pohon kelapa, tetapi dia tidak benar-benar bersembunyi di sana.
Selain memerhatikan keramaian di kebun jambu berbiji, dia juga melayangkan pandangan ke arah penginapan.
Namun, tanpa dia sadari, beberapa tombak di belakangnya, tepatnya di balik pohon asam, ada dua orang yang sedang mengintainya pula. Dua orang itu tidak lain adalah Ratu Wilasin dan Arda Handara. Gadis dan anak itu berbisik-bisik.
“Aku yakin, orang itu pasti orang jahat,” kata Arda Handara berbisik, agar suaranya tidak terdengar oleh lelaki yang sedang mengintai.
“Bagaimana kau membuktikannya bahwa dia orang jahat?” tanya Ratu Wilasin berbisik pula.
“Aku akan menembak pantatnya, Kakak Ratu. Jika tembakanku membuat celananya terbakar, berarti itu tandanya dia orang jahat. Jika tidak, berarti dia orang baik,” kata Arda Handara sambil mengeluarkan ketapel Ki Ageng Naga lalu mengambil satu ekor ulat bulu senja.
__ADS_1
“Iya iya iya. Hihihi!” ucap Ratu Wilasin senang lalu tertawa cekikikan, tapi ditekan sekecil mungkin.
Arda Handara pun mulai membidik.
Set! Blup!
Seekor uyut-uyut pun ditembakkan dan mendarat di bagian belakang celana lelaki pengintai. Orang itu tidak begitu berasa ketika si uyut-uyut mendarat. Namun, ketika api berkobar membakar celana dan kulit bokongnya, pengintai itu menjerit.
“Aaak! Panaaas!” jerit lelaki pengintai itu sambil menepuk-nepuk bokongnya, tetapai gagal memadamkan api.
Bcracr!
Dia kemudian menjatuhkan pantat dan punggungnya ke kubangan kecil yang berair dan berlumpur sisa hujan semalam.
“Hahahak …!” tawa Arda Handara terpingkal.
“Hihihik …!” tawa Ratu Wilasin pula.
Keduanya mendekati lelaki itu. Arda Handara tetap siap dengan ketapel Ki Ageng Naga.
“Apakah kau yang membakar pantatku, Anak Kecil?!” tanya lelaki itu membentak marah kepada Arda Handara, karena anak itulah yang memegang senjata.
“Aku memegang ketapel, Paman, bukan sedang memegang obor,” kata Arda Handara berkelit.
“Jika bukan kau, lalu siapa?” tanya si pengintai itu.
“Gusti Ratu!” sebut lelaki itu terkejut.
Pada saat yang sama, Ratu Wilasin melihat ada kalung benang hitam di leher lelaki itu, mengingatkannya pada sesuatu.
“Dia telik sandi!” pekik Ratu Wilasin tiba-tiba sambil menunjuk lelaki tersebut.
Ucapan Ratu Wilasin membuat lelaki itu kian terkejut.
“Aku ketahuan!” ucap lelaki itu refleks karena saking terkejutnya. Ia buru-buru berlari pergi meninggalkan Ratu Wilasin dan Arda Handara.
“Hahahak …!” tawa Arda Handara terpingkal-pingkal saat melihat bokong bahenol lelaki itu yang kotor oleh lumpur.
“Tembak, cepat tembak!” pekik Ratu Wilasin geregetan.
“Hahaha! Tapi sudah jauh, Kakak Ratu,” ucap Arda Handara sambil terus tertawa.
Set! Bdak!
“Akk!”
__ADS_1
Ratu Wilasin dan Arda Handara terkejut saat melihat tiba-tiba ada sepotong kayu melesat terbang dan menghantam kepala lelaki pengintai dari samping. Lelaki yang disebut telik sandi oleh Ratu Wilasin itu menjerit dan terlempar jatuh ke tanah becek.
“Eh, itu Kakak Tikam!” tunjuk Arda Handara.
Dari arah lain berjalan sosok cantik Tikam Ginting mendatangi lelaki yang baru saja ia serang dengan kayu.
Melihat kedatangan Tikam Ginting, lelaki yang kepalanya berdarah banyak itu cepat melakukan gerakan tangan aneh.
Sets!
Tiba-tiba benang hitam yang ada di leher lelaki itu bersinar biru.
“Aaak!” jerit Ratu Wilasin dan Arda Handara bersamaan saat terkejut melihat kepala lelaki itu jatuh terpisah dari lehernya.
Rupanya, lelaki yang ketahuan sebagai telik sandi itu memilih mengaktifkan Benang Pembungkam Anjing yang ada di lehernya. Setelah bersinar biru, benang itu langsung memenggal leher pemiliknya sendiri.
Ratu Wilasin dan Arda Handara segera berlari mendekati Tikam Ginting yang baru kembali dari tugasnya.
“Siapa yang memotong lehernya, Kakak Tikam?” tanya Arda Handara serius.
“Dia sendiri. Jika benar dia telik sandi, dia akan memilih bunuh diri daripada disiksa,” kata Tikam Ginting. “Bagaimana Gusti Ratu bisa tahu bahwa dia telik sandi?”
“Telik sandi Kerajaan Baturaharja memiliki benang hitam di lehernya sebagai tanda,” jawab Ratu Wilasin.
Sebagai seorang ratu di Kerajaan Baturaharja, pastinya ia tahu sejumlah rahasia yang hanya boleh diketahui oleh seorang kepala negara. Salah satunya adalah tanda-tanda yang dimiliki oleh seorang telik sandi.
“Kakak Ginting sudah mendapatkan kereta kuda?” tanya Arda Handara. Setahu dia, tadi ibunya memerintahkan Tikam Ginting mencari kereta kuda yang mau dijual.
Kondisi Bewe Sereng tidak bagus jika harus berkuda terus dalam perjalanan. Ia harus diangkut dengan kereta kuda atau pedati.
“Hanya dapat pedati,” jawab Tikam Ginting.
“Pakai kerbau?” tanya Arda Handara.
“Tidak, kita akan pakai kuda sebagai penarik pedati,” jawab Tikam Ginting. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bantu Like dan Komen Karya Baru
Om Rudi Hendrik sedang coba tantangan baru, yaitu menulis cerita silat tapi dalam versi Chat Story. Judulnya "Pendekar Gendut Budiman".
Tolong Raiders Setia bantu favorit, like, komen, karya baru Om. Karya ini jug sedang ikut lomba. Mohon dukungannya.
Caranya cari di profil Author, lalu scroll ke bawah di bagian Chat Story.
__ADS_1