
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
Permaisuri Dewi Ara dan para abdinya sedang duduk di sebuah rumah makan besar tapi tanpa dinding. Model itu membuat para pelanggan dimanjakan oleh belaian angin alam yang sejuk. Tanah berumput halus yang ada di sekitar menjadikan rumah makan itu jauh dari jangkauan debu jalanan.
Rumah makan itu berseberangan jalan dengan posisi tempat Arena Pendekar Domba berada.
Kuda-kuda dan kereta rombongan Dewi Ara terparkir di sisi kiri rumah makan. Ketika Dewi Ara dan yang lainnya sedang bersantap dan bersantai, Pangeran Bewe Sereng tetap berada di kereta.
Itulah yang dilihat oleh Bong Bong Dut. Sambil tersenyum sendiri, Bong Bong Dut menuntun kudanya menuju ke rumah makan. Namun, tiba-tiba ….
Bdak!
“Ak!” jerit Bong Bong Dut terkejut bukan main, dengan tubuh yang tersungkur ke depan. Untung tanahnya berumput.
“Akk!” jerit suara anak kecil wanita.
Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba ada seorang wanita berpakaian hijau muda berlari kencang dan menabrak Bong Bong Dut dari belakang. Tabrakan itu tidak hanya membuat si pemuda gemuk tersungkur, tapi juga membuat si wanita terjatuh.
Padahal, jalanan begitu luas dan pada area itu tidak terlalu ramai oleh orang. Bagaimana bisa Bong Bong Dut yang sebesar gajah bisa tertabrak? Pasti disuruh oleh sutradara.
“Hahaha! Ibunda, lihat, itu Gejrot jatuh! Hahaha!” kata Arda Handara tertawa sambil menunjuk jauh ke depan rumah makan.
Dewi Ara tidak menanggapi putranya karena ia juga melihat kejadian itu.
“Sedang apa Bong Bong Dut di tempat ini?” tanya Anik Remas yang pastinya tidak ada yang bisa menjawab.
Sementara itu di depan rumah makan, Bong Bong Dut segera bangun dengan marah-marah.
“Anak kurang ajar, jalanan seluas lautan, tapi kau tetap menab ….”
Kata-kata amarah Bong Bong Dut terputus saat melihat sosok dan wajah wanita yang menabraknya. Ia yang awalnya menyangka bahwa orang yang menabraknya adalah seorang anak perempuan, jadi terpukau dengan mulut ternganga.
Ternyata wanita itu adalah seorang gadis cantik jelita berkulit putih bersih.
“Maafkan aku, Kakang. Aku tidak sengaja menabrakmu!” ucap wanita dewasa itu, tapi suaranya seperti anak perempuan yang masih berusia belasan tahun.
Bong Bong Dut yang dalam posisi terduduk bergeming, ia masih terpana melihat kecantikan wanita yang telah menabraknya. jika ia tahu sejak awal, pastilah ia akan bahagia meski harus tersungkur.
Melihat Bong Bong Dut mematung, wanita berambut ikal tergerai itu buru-buru bangkit berdiri dan menengok ke belakang. Setelah dilihatnya tidak ada setan yang mengikutinya, ia lalu berlari menuju ke samping rumah makan.
“Itu Ratu Wilasin,” ucap Dewi Ara yang mengenali wanita itu.
Terkejutlah para pengikut Dewi Ara mendengar kata-kata junjungannya.
__ADS_1
Tiba-tiba dua orang lelaki berpenampilan pendekar muncul berlari di udara dan mendarat dua tombak di depan wanita yang disebut Ratu Wilasin oleh Dewi Ara.
Pendekar pertama bertubuh pendek tapi tidak cebol. Rambutnya keriting pakai banget, yang diikat tepat di ubun-ubun, membuat rambut itu menjulang ke atas seperti seikat rumput hitam liar. Hitung-hitung menambah tinggi badannya. Ia mengenakan pakaian secocok ukuran tubuhnya yang berwarna merah, agar sosoknya yang pendek gampang merampok perhatian. Lelaki berkumis segaris itu membawa senjata tongkat yang dua kali lebih panjang dari tubuhnya. Ia bernama Injak Bantet.
Pendekar kedua justru bertubuh jangkung setinggi tongkat Injak Bantet. Lelaki separuh baya itu berkepala botak, agar ia terlihat lebih muda. Maklum, pendekar berhidung mancung itu terbilang ganteng. Lelaki berpakaian kuning itu memiliki lilitan rantai setebal jari kelingkingnya. Ia bernama Gulalu Ireng.
“Aaak!” jerit gadis itu nyaring sambil terlompat di tempat dengan kedua tangan terangkat ke atas.
Dengan wajah ketakutan yang ingin menangis, gadis itu cepat berbalik.
Sreeet!
Namun, rantai yang melilit di pinggang Gulalu Ireng melesat tanpa dilempar memburu si gadis cantik. Ujung rantai itu melilit kaki kanan si gadis yang hendak berlari lagi, membuatnya tersungkur. Untung tanahnya berumput.
Suara jeritan si gadis yang kencang terdengar sampai ke mana-mana. Jeritannya membuat orang-orang yang sedang berkerumun di sekitar panggung arena adu domba jadi menengok ke arah rumah makan.
Mereka melihat adegan yang membuat sebagian besar dari mereka tersulut emosi.
“Woiii!” teriak sejumlah lelaki berjiwa pendekar dari kerumunan seberang jalan, sambil menunjuk kepada kedua pendekar yang sedang mengintimidasi si gadis berpakaian hijau.
Teriakan itu membuat Injak Bantet dan Gulalu Ireng terkejut dan memandang pula ke seberang jalan.
Hal itu juga membuat penguasa desa, Domba Hidung Merah, lemparkan pandangan ke sana. Namun, karena dia melihat keberadaan Dewi Ara di dalam rumah makan, dia hanya memerhatikan dari jauh. Dia sudah tahu siapa adanya Dewi Ara karena telah mengenalnya.
Sreet!
“Lepaskan!” teriak Bong Bong Dut marah sambil menunjuk Gulalu Ireng.
Bong Bong Dut lalu melompat bersalto di udara.
Jleg!
Dengan gagahnya bak seorang pendekar, Bong Bong Dut mendarat mantap di mana kakinya langsung menginjak rantai dan menahan tarikan Gulalu Ireng.
“Hebaaat! Ayo hajar, Kakang Gejrot!” teriak Arda Handara girang dari pinggiran rumah makan sambil bertepuk tangan, memberi semangat kepada Bong Bong Dut.
“Kakang Pendekar, tolong aku!” teriak si gadis lalu buru-buru melepas kakinya dari lilitan rantai yang kuat.
“Tenang saja, Sayang. Selama ada Kakang Gejrot …. Eh, selama ada Kakang Bong Bong di sini, semua penjahat akan aku buat bersujud!” koar Bong Bong Dut dengan menyebut gadis itu “Sayang”.
Zerzz!
“Aaakrrr!” jerit Bong Bong Dut mengejang saat tiba-tiba tubuhnya tersetrum.
“Aaak!” jerit nyaring si gadis pula. Bukan karena dia ikut tersetrum oleh rantai besi, tetapi karena terkejut.
__ADS_1
“Hahahak!” tawa Arda Handara melihat Bong Bong Dut justru tumbang lemas.
Untung daya tegangan listrik dari senjata Gulalu Ireng tidak sebesar listrik Cambuk Usus Bumi, sehingga Bong Bong Dut hanya syok dan lemas atas bawah.
Dari seberang jalan, sekelompok lelaki berpakaian hitam yang sudah menghunus golok berlarian menyerbu ke lokasi pertikaian.
Lima belas lelaki berwajah tak sama itu lalu berhenti berkumpul tepat di belakang Bong Bong Dut dan si gadis. Mereka menunjukkan sikap siap bertarung melawan Injak Bantet dan Gulalu Ireng yang sudah menggulung kembali rantainya.
“Kisanak berdua, jangan melakukan kejahatan di wilayah kekuasaan Domba Hidung Merah jika tidak ingin mati!” seru lelaki yang bajunya tidak dikancing, karena memang tidak memiliki kancing meski model kemeja. Lelaki berdada besar berperut berumput hitam itu kita sebut saja namanya Sangar Weteng, Kepala Centeng Desa Bulukempis.
“Kalian jangan ikut campur, ini urusan kami terhadap wanita itu!” balas Injak Bantet.
“Kami tidak peduli apa pun alasannya. Lepaskan wanita ini atau kalian akan keluar dari desa ini dalam kondisi menjadi bangkai!” tandas Sangar Weteng garang.
Injak Bantet dan Gulalu Ireng saling pandang.
“Paman Pendek, Paman Jangkung!” panggil Arda Handara.
Injak Bantet dan Gulalu Ireng pun menengok ke samping, kepada sosok Arda Handara.
“Lihatlah ibundaku yang terlalu cantik itu!” kata Arda Handara sambil menunjuk kepada ibunya.
“Hek!” keluh Injak Bantet dan Gulalu Ireng saat ia melihat kepada Dewi Ara.
Saat mereka berdua bertemu pandang dengan Dewi Ara, ada satu kekuatan kecil yang masuk menyerang ke dalam mata mereka. Kepala keduanya sampai tersentak ke belakang, tapi tidak membuat terdorong langkah.
Mendadak muncul rasa gentar dan takut di dalam hati kedua lelaki itu. Keduanya saling pandang seolah saling bertanya lewat mata, seperti sepasang kekasih yang main mata.
“Ba-ba-baik, kami akan pergi!” kata Gulalu Ireng tergagap, efek pengaruh dari rasa takut yang tiba-tiba muncul.
Gulalu Ireng lalu mencolek rekan pendeknya, mengajaknya pergi bersama. Mungkin dia jadi takut jika pergi sendirian.
Keduanya pun segera berkelebat pergi.
“Hahaha!” tawa Arda Handara yang ramai sendiri.
“Terima kasih, Kakang Pendekar!” ucap si gadis begitu bersyukur karena selamat dari kedua orang tadi.
Namun, sebelum Sangar Weteng menanggapi ucapan si gadis, tiba-tiba terdengar perkataan dari dalam rumah makan.
“Kisanak, persilakan gadis itu datang ke sini!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Gusti!” sahut Sangar Weteng sambil menjura hormat kepada Dewi Ara, sepertinya dia sudah mengetahui siapa adanya Dewi Ara dan rombongannya.
“Bawa pula pemuda gendut itu ke sini!” perintah Dewi Ara lagi, merujuk kepada Bong Bong Dut yang seperti orang kehilangan sukma.
__ADS_1
“Baik, Gusti!” ucap Sangar Weteng patuh. (RH)