
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Entah apakah itu bisa disebut meja atau tidak? Selembar papan tebal berbentuk lingkaran yang diletakkan di atas lantai. Diragukan sebagai meja karena dia tidak berkaki dan tidak bertangan, apalagi berkepala. Namun, dia menjadi meja bagi banyaknya hidangan yang terlihat lezat dan segar, di mana orang-orang duduk mengelilingi menghadap kepadanya.
Mereka yang duduk bersila mengelilingi hidangan itu, di antaranya Gubernur Ilang Banyol, Linting Kedot sebagai Istri Pertama Gubernur, Simir Cikidot sebagai Istri Kedua Gubernur, Lintah Kolong sebagai Istri Ketiga, kemudian ada Istri Keempat, Istri Kelima, Istri Keenam, Istri Ketujuh, Istri Kedelapan, Sisir Lemot sebagai Istri Kesembilan, Jindar Ngewol sebagai putra Gubernur dari Istri Kedelapan, Hijau Kemot sebagai putri bungsu Gubernur dari Istri Kesembilan, Eyang Hagara, dan Arda Handara.
Yang hadir dalam acara itu lebih banyak istri daripada anak, karena semua anak Ilang Banyol sudah menikah semua, kecuali dua, yakni Jindar Ngewol dan Hijau Kemot. Jadi, mereka sudah tinggal beda rumah, malu jika masih satu atap sama orangtua atau mertua. Budaya Orang Separa.
Acara makan-makan ini diadakan semata-mata untuk menyambut kedatangan Pendekar Hagara. Sosok Pendekar Hagara sangat dihormati oleh Gubernur Ilang Banyol dan keluarga besarnya, sehingga kedatangannya sangat membuat hati gembira.
Gubernur Ilang Banyol merasa Eyang Hagara sangat berjasa. Karena Hagara muda yang bisa dihidupkan kembali oleh kesaktian baru Ilang Banyol puluhan tahun yang lalu, membuat orang katai itu didaulat sebagai orang tersakti di Negeri Orang Separa. Sebenarnya, banyak orang yang lebih sakti kesaktiannya daripada sang gubernur, tetapi tidak ada satu pun dari orang sakti itu bisa menghidupkan orang mati.
Karena prestasi itulah, Raja Titah Bang-or mengangkat Ilang Banyol sebagai Gubernur Omot Omong, ibu kota Negeri Orang Separa. Ternyata, ketika Eyang Hagara datang hari ini, Ilang Banyol masih menjabat sebagai gubernur yang tidak tergantikan. Bahkan dia sudah mendapat gelar sebagai Gubernur Abadi, yang artinya dia baru bisa digantikan jika telah mati.
Hidangan yang paling menonjol adalah dua buah daging bakar burung botak utuh yang sudah tanpa kaki dan kepala. Ukurannya lebih besar dari satu orang cebol.
“Eyang, daging apa sebesar itu?” tanya Arda Handara ketika pertama melihat daging itu disajikan di tengah-tengah mereka.
“Ini daging burung botak khusus untuk dimakan, bukan burung botak penarik debur (delman burung). Jadi dagingnya sangat lembut selembut daging ikan emas. Dibakar dengan bumbu lada emas dan air susu kambing pantai. Nak Arda pasti akan ketagihan. Di rumah makan, ini menjadi hidangan nomor jawu,” jelas Linting Kedot.
“Apa itu nomor jawu, Nek?” tanya Arda Handara yang pada dasarnya memang anak yang kritis dalam belajar. Jadi, kecerdasan dan kenakalannya tumbuh dan berjalan seiring.
“Nomor yang lebih tinggi dari nomor satu, bukan nomor yang lebih besar,” jawab Linting Kedot.
“Oooh, nomor kosong,” ucap Arda Handara tanda mengerti.
“Bukan kosong. Jadi, di Negeri Orang Separa ini, ada angka yang lebih terbaik dari nomor satu dan itu bukan angka kosong. Namun, momor jawu itu tidak masuk dalam hitungan,” ralat Linting Kedot.
“Oooh, aku mengerti, Nek. Jika di negeriku nomor satu adalah yang terbaik, tapi di negeri ini nomor satu bukan yang terbaik, tapi nomor jawu yang terbaik,” kata Arda Handara menunjukkan kepahamannya.
__ADS_1
“Kata lainnya, nomor jawu itu adalah yang terbaik dari yang terbaik,” timpal Hijau Kemot.
Karena yang berkata adalah wanita kerdil pujaan hatinya, Arda Handara jadi tersenyum saja kepada Hijau Kemot, membuat gadis cebol itu jadi melirik sinis dengan reaksi tersebut.
Terlihat bahwa Eyang Hagara menjadi orang yang paling besar, paling tinggi, dan paling panjang tangannya dalam menjangkau makanan.
Mereka makan sambil berbincang-bincang ringan, meski sesekali menyerempet ke perkara serius, gegara Arda Handara yang berulah menyebut Hijau Kemot sebagai calon istrinya di masa depan. Berawal ketika ibu dari Hijau Kemot, Sisir Lemot, bertanya kepada bocah pendek itu.
“Anak-anak di negeri ini, sejak kecil mereka sudah dibudayakan memiliki cita-cita. Seperti Hijau Kemot yang sejak kecil memang bercita-cita ingin menjadi penerbang wanita nomor jawu di dunia, bukan hanya di negeri ini. Nak Arda sendiri, punya cita-cita apa jika nanti menjadi besar?” tanya Sisir Lemot.
“Cita-citaku nanti besar adalah membuat anak sebanyak-banyaknya, Bibi,” jawab Arda Handara bersemangat.
“Belelele!” ucap para istri Gubernur Ilang Banyol kompak terkejut, sehingga terdengar lucu.
“Hahahak!” tawa Arda Handara dan Gubernur Ilang Banyol bersamaan, tetapi beda persepsi.
“Hijau Kemot nanti akan menjadi ratuku di masa depan,” tambah Arda Handara.
“Belelele!” kejut serempak mereka lagi, kali ini Gubernur Ilang Banyol dan Jindar Ngewol ikut terkejut, meski sebelumnya mereka sudah mendengar topik pertengkaran antara Arda Handara dengan Galang Ocot.
“Kenapa, Kek, Nek, Bibi?” tanya Arda Handara. Kali ini dia tidak tertawa, tapi serius karena heran.
“Hei, Arda!” sentak Jindar Ngewol, kakak Hijau Kemot. “Kau itu masih kecil. Kami semua sebesar kau karena kami ras yang istimewa. Bagaimana kau bisa bercita-cita punya anak banyak, sedangkan bayi burung botakmu saja belum bisa meludah?”
“Hahaha …!” Kali ini keluarga Gubernur tertawa ramai, termasuk Gubernur sendiri.
Sementara Eyang Hagara hanya tersenyum-senyum sambil asik makan. Sudah lama dia tidak menemukan makan high level seperti itu. Ia yakin bahwa Arda Handara bisa mengatasi masalahnya sendiri.
“Tenang, Kakang Ngewol,” kata Arda Handara dengan lagak santainya, seolah situasi itu adalah panggung untuknya. “Karena itu cita-cita, jadi bukan sekarang. Tujuh atau sepuluh tahun lagi, aku akan tumbuh besar, gagah, kaya raya, dan setampan ayahku. Aku akan menjadi rebutan banyak wanita dari semua alam. Hijau Kemot akan rugi besar jika menolak aku sebagai suaminya.”
__ADS_1
Perkataan Arda Handara yang sombong itu membuat para orangtua terbeliak.
“Bagaimana kau bisa tahu bahwa nanti besar kau akan menjadi pemuda yang gagah dan tampan, apalagi kaya raya?” Kali ini yang bertanya adalah Hijau Kemot langsung.
“Jelas aku yakin, Hijau Kemot sayangku,” jawab Arda Handara. “Ayahku terlalu tampan dan ibuku terlalu cantik. Tidak mungkin anaknya setampan burung botak. Aku seorang pendekar, pasti tubuhku gagah. Aku seorang putra mahkota, pasti aku kaya raya.”
“Belelele! Putra mahkota?!” kejut Keluarga Gubernur lagi saat mendengar status Arda Handara.
“Pendekar Hagara, siapa sebenarnya Nak Arda ini?” tanya Gubernur Ilang Banyol dengan mimik serius.
“Arda Handara ini memang seorang pangeran dari Kerajaan Sanggana Kecil. Ibunya pendekar sakti ternama dan sekarang seorang permaisuri. Apakah Arda putra mahkota atau bukan, aku tidak tahu,” jawab Eyang Hagara.
“Aku memang putra mahkota, Eyang. Aku pangeran paling besar,” tandas Arda Handara.
“Oooh!” desah para ibu tanda mengerti.
“Jika kau memang seorang pangeran, aku bersedia menikah denganmu,” celetuk Hijau Kemot tiba-tiba.
“Hah!” pekik Arda Handara terkejut sumringah.
“Belelele!” kejut ibu Hijau Kemot dan beberapa ibu lainnya.
“Tapi dengan syarat,” kata Hijau Kemot lagi.
“Apa? Katakan saja. Semua syaratmu akan aku penuhi,” kata Arda Handara jumawa.
“Pertama, harus ayahmu yang datang melamarku untukmu. Kedua, kau harus menjadi penerbang lelaki nomor jawu, karena aku akan menjadi penerbang wanita nomor jawu. Ketiga, jika ayahmu sudah melamarku, aku baru mau menikah jika usiamu dua puluh satu tahun tanpa kurang dan tanpa lebih. Keempat, kau harus memberiku hadiah satu Jarum Bintang. Hanya itu,” rinci Hijau Kemot.
“Setuju!” teriak Arda Handara cepat. (RH)
__ADS_1