
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Di saat terjadi ketegangan di atas kapal Bajak Laut Malam, sang surya pun telah mencapai puncak tertingginya. Ketinggian matahari pun menjadi perhatian khusus bagi Selir Pertama dan dua selir yang bersamanya, yakni Selir Kelima dan Selir Ketujuh.
“Pasang peluru batu!” perintah Selir Pertama yang bertanggung jawab atas keamanan Pulau Tujuh Selir.
“Pasang peluru batu!” teriak Rengkuh Badai kepada para operator pelontar batu yang sudah di-setting jarak lemparnya.
Pada setiap pelontar, ada satu prajurit yang bertugas mengangkat batu berbentuk kotak yang ada di keranjang rotan lalu diletakkan pada mangkok pelontarnya yang besar.
“Tetua, tetapi di kapal itu ada Putri Cahaya Bulan dan Serak Gelegar, juga Putri Gunira,” kata Pangeran Tendangan Kilat yang merupakan putra dari Selir Ketiga.
“Itu pilihan mereka. Mereka sudah tahu bahwa pertempuran akan dimulai saat ini,” kata Selir Pertama tegas.
Sezz! Sezz! Sezz ….!
Setelah masing-masing pelontar diberi peluru batu, maka masing-masing ada satu orang yang menyalakan telapak tangannya dengan sinar biru seperti lidah api. Sinar biru itu lalu dipindahkan ke peluru batu. Kini peluru-peluru batu yang siap dilepaskan telah bersinar biru.
“Pelontar batu siap!” teriak Rengkuh Badai.
“Tembak!” perintah Selir Pertama.
“Tembaaak!” teriak Rengkuh Badai lebih keras kepada para operator pelontar batu.
Dak dak dak …!
Masing-masing pelontar batu ada prajurit yang bertugas memukul tuas pengunci dengan palu, membuat sendok pelontarnya langsung bergerak naik melemparkan batu-batu bersinar biru.
Sezz sezz sezz …!
Maka sebanyak sepuluh peluru batu yang dibungkus oleh sinar biru melesat ke satu arah, yaitu posisi kapal hitam berada.
Pada saat itu, Dewi Ara dan para pendekarnya telah bersiap menyambut batu-batu sinar.
Set set set set!
Blar blar blar …!
Langkah pertama yang dilakukan oleh kubu Dewi Ara adalah Bewe Sereng melepaskan empat panah sinar biru. Uniknya, dia memanah tanpa busur, tapi seolah-olah ada busur gaib.
Empat anak panah sinar biru itu melesat sembarang arah, tetapi kemudian bisa berbelok sesuka hatinya, seolah udara milik mereka berempat.
Keempat panah sinar biru masing-masing melesat memanah batu-batu sinar biru yang sedang meluncur di udara. Ledakan beruntun yang dahsyat terjadi menghancurkan peluru batu. Semuanya. Itu terjadi karena satu anak panah sinar bisa menghancurkan tiga peluru batu sekaligus hingga ikut hancur.
Sepuluh ledakan itu membuat air laut terguncang sehingga menimbulkan ombak liar yang cukup besar. Kapal besar hitam jadi lumayan terguncang oleh ombak, tapi tidak berefek buruk. Ombak yang pergi ke pantai pun jauh lebih besar dan naik ke darat lebih jauh, bahkan bisa mencapai kaki-kaki para tetua dan pasukan. Namun, itu hanya sentuhan air laut saja.
Terkejutlah kubu pantai melihat pertempuran udara itu.
“Apakah kau akan tetap berada di kapal ini, Nak?” tanya Dewi Ara kepada Mimi Mama yang justru berdiri di sisi kirinya.
“Jika aku berdiri di sini, mungkin Bibi Permaisuri tidak akan membunuhi orang-orang Tujuh Selir,” jawab Mimi Mama sambil mendongak memandang wajah Dewi Ara yang berhidung cantik.
“Itu tergantung sikap orang Tujuh Selir,” kata Dewi Ara. “Kau tidak khawatir akan diduga sebagai pengkhianat?”
“Hihihi! Aku anak Ratu Bunga Petir, tidak mungkin mereka berani menuduhku seperti itu, Bi,” jawab Mimi Mama.
Sementara, Nahkoda Dayung Karat dan para awak kapal, serta non pendekar seperti keluarga Komandan Bengisan dan istri Nahkoda, mereka hanya menonton dari sisi kapal yang lain.
Di pantai.
__ADS_1
“Tembak lagi!” perintah Selir Pertama kepada Rengkuh Badai.
“Pasang peluru batu!” teriak Rengkuh Badai kepada para operator pelontar batu.
Satu prajurit memasang batu, satu prajurit menyalakan batu dengan sinar biru dan satu prajurit lagi memukul tuas pengunci.
Sezz sezz sezz …!
Kembali sepuluh peluru batu meluncur deras seperti meteor dengan satu titik sasaran, yaitu kapal hitam.
Namun, lagi-lagi ketiga Tetua dan pasukannya dibuat terkejut. Mereka melihat kesepuluh batu bersinar biru itu terhenti di udara lepas, di pertengahan jarak. Batu-batu itu berhenti, tapi tidak jatuh ke bawah pula, diam melayang.
“Apakah permaisuri itu yang memiliki kesaktian sehebat ini?” tanya Selir Pertama yang tidak bisa dijawab oleh kedua selir lainnya.
Sezz sezz sezz …!
Tiba-tiba kesepuluh peluru batu itu melesat balik menuju pantai, tepatnya ke arah pasukan.
Ziiing! Dug dug dug …!
Selir Pertama lalu melakukan gerakan tangan bertenaga yang berujung kedua telapak tangan saling menekan di depan dada.
Tiba-tiba sekitar lima tombak dari bibir pantai muncul lapisan hologram berbentuk dinding yang tinggi dan sangat panjang, seolah-olah sepanjang garis pantai pulau itu. Dinding hologram yang muncul terlihat indah dengan pola-pola seperti cangkang kura-kura.
Ketika sepuluh peluru batu sinar menghantam dinding itu, semuanya terhadang dan memantul jatuh ke dalam air.
“Itu ilmu Benteng Sejagad milik Tetua Dewi Perisai Alam,” kata Mimi Mama kepada Dewi Ara.
“Berarti mereka sudah memilih bertahan daripada menyerang. Itu artinya kita telah diizinkan untuk menyerang,” kata Dewi Ara.
Mimi Mama hanya manggut-manggut.
“Pangeran, coba beri satu panah terkuatmu!” perintah Dewi Ara kepada Pangeran Bewe Sereng.
Bewe Sereng lalu kembali memasang tangan kirinya, seolah-olah dia sedang memegang busur sungguhan yang tidak terlihat. Tangan kanan bergerak seperti memasang anak panah lalu menarik seperti menarik senar busur. Berbeda dari sebelumnya yang anak panahnya masih bisa dilihat, tetapi kali ini tidak. Anak panah kali ini tidak terlihat.
Entah, apakah memang ada anak panah yang tidak terlihat, atau Bewe Sereng hanya pura-pura karena dia jago berpantomim, bukan jago berpantun.
Sets!
Namun, ketika gerakan melepas dilakukan, terdengar suara lesatan yang disusul munculnya sinar putih menyilaukan yang melesat di udara. Itu adalah anak panah dari ilmu Panah Anak Matahari.
Ketiga tetua di pinggir pantai dan pasukannya dilanda ketegang melihat cahaya putih kecil menyilaukan di udara jauh, melesat cepat menuju ke arah mereka.
Bduar!
Dan ketika panah sinar putih itu menusuk dinding perisai raksasa milik Selir Pertama, satu ledakan hebat terjadi. Yang meledak adalah panah sinar milik Bewe Sereng. Sementara Benteng Sejagad hanya terguncang, seolah-olah baru saja ditabrak pesawat terbang 11 September.
Hasil itu juga membuat tanah pantai dan Ibu Kota pulau merasakan gempa kecil. Jelas itu menggegerkan warga.
Namun, tetap saja ilmu Panah Anak Matahari Bewe Sereng gagal merusak benteng kesaktian itu.
“Bagaimana, Bibi?” tanya Mimi Mama setelah melihat hasil serangan percobaan Bewe Sereng.
“Sangat kuat, tetapi masih ada titik lemahnya,” jawab Dewi Ara.
Perkataan sang permaisuri membut Mimi Mama mendelik terkejut karena dia sendiri tidak tahu letak kelemahan ilmu pertahanan yang ia anggap adalah terhebat dari jenisnya.
“Waktunya menyerang!” kata Dewi Ara agak keras.
Namun, Tikam Ginting dan yang lainnya jadi bingung, bagaimana caranya menyerang pantai dari jarak sejauh tujuh kali lemparan biji mangga, terlebih pantai telah dibentengi dinding kesaktian yang sangat kuat. Perahu untuk ke pantai pun tidak ada karena perahu Mimi Mama telah dibawa kabur oleh Pangeran Rebak Semilon dan kekasihnya yang mengidap penyakit marah-marah.
__ADS_1
“Akk!” pekik tertahan Bong Bong Dut dan Komandan Bengisan saat tiba-tiba tubuh mereka terangkat perlahan mengudara dengan sendirinya. Namun, mereka segera sadar bahwa kesaktian Dewi Ara yang mengangkat mereka.
Tetap saja mereka was-was, takut jika tahu-tahu dilempar ke laut. Masih mending bagi Komandan Bengisan yang bersenjatakan tombak besi warna oranye, tapi bagi Bong Bong Dut, tercebur ke laut adalah kematian.
Ternyata bukan hanya Komandan Bengisan dan Bong Bong Dut yang mengudara di luar kehendak mereka, tetapi juga Bewe Sereng, Tikam Ginting, Setya Gogol, Lentera Pyar, serta Mimi Mama dan Serak Gelegar.
Hingga mereka semua sudah mengudara, mereka belum bisa menerka apa yang akan dilakukan Dewi Ara.
Sejenak mereka melayang di udara. Sementara orang-orang di pantai hanya mengamati apa yang dilakukan oleh lawan mereka.
Orang yang terakhir naik ke udara adalah Dewi Ara. Ia naik ke posisi udara di depan para pengikutnya.
“Bergayalah sesuka kalian!” kata Dewi Ara.
West!
Selanjutnya, Dewi Ara melesat terbang dengan posisi badan tegak, tidak seperti Suparman terbang. Dia melesat cepat menuju pantai.
Namun ternyata, bukan hanya Dewi Ara yang melesat terbang, tetapi ia membawa terbang semua yang tadi diangkatnya.
Seperti sekawanan burung besar, Dewi Ara dan para pendekarnya terbang mendekati dinding kesaktian.
Setya Gogol lalu bergaya seperti Suparman terbang, tengkurap di udara dengan kedua tangan lurus ke depan. Komandan Bengisan yang tidak punya pengalaman terbang seperti burung, segera bergaya burung dengan mengepak-ngepakkan kedua tangannya.
Berbeda dengan Bong Bong Dut, dia bergaya tidur mengangkang di udara.
“Kau mau melahirkan, Gejrot?” tanya Lentera Pyar yang risih melihat gaya terbang Bong Bong Dut.
“Hahaha!” Tertawalah mereka mendengar pertanyaan Lentera Pyar, kecuali Dewi Ara dan Mimi Mama.
Putri Cahaya Bulan jelas sangat tidak menginginkan kondisi itu.
“Bibi, kenapa kau mengajak aku dan Kakek terbang bersamamu?” tanya Mimi Mama protes. Posisi ia dan kakeknya jelas akan dipandang sebagai keberpihakan kepada musuh.
“Jika ada kau, mungkin mereka tidak akan menyerang kami,” jawab Dewi Ara enteng.
“Apa yang harus kita lakukan, Tetua?” tanya Pangeran Tendangan Kilat.
“Mereka tidak akan bisa menembus Benteng Sejagad,” jawab Selir Pertama tanpa mengalihkan perhatiannya dari udara atas laut. “Lihat saja, mereka berhenti karena bingung.”
Memang, Dewi Ara dan kedelapan orang di belakangnya telah berhenti beberapa tombak dari dinding. Mereka melayang tanpa maju dan tanpa turun. Kini posisi tubuh mereka semuanya berdiri.
Kedelapan orang di belakang Dewi Ara hanya bisa menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh junjungan mereka untuk menaklukkan Benteng Sejagad.
“Kalian lihat, benteng ini memang sangat kuat, tapi bukan berarti aku tidak bisa menghancurkannya. Namun, coba kalian lihat air laut itu, dia masih bisa mengalir sampai ke pantai. Air laut masih bisa melewati dinding ini,” kata Dewi Ara seperti memberi kuliah kepada para abdinya.
Terkesiaplah mereka, terutama Mimi Mama dan Serak Gelegar. Benar kata Dewi Ara, air laut masih bisa megalir secara wajar dari laut ke pantai. Itu hal yang tidak terpikirkan oleh mereka.
“Waktunya menyerang!” kata Dewi Ara serius.
Bruss!
Selir Pertama dan yang lainnya terkejut ketika tiba-tiba sebaris ombak kecil di bagian dalam benteng, tiba-tiba naik tinggi membesar seperti ombak tsunami dua meter. Ombak panjang itu seperti makhluk laut mengerikan yang siap menerkam seluruh orang di pantai.
Jelas itu bukan ombak tsunami alami karena naik meninggi di dekat bibir pantai yang sebenarnya sudah dangkal.
“Munduuur!” perintah Selir Pertama keras.
“Munduuur! Munduuur!” teriak Rengkuh Badai kencang karena panik. Ia pun segera berkelebat mundur menyusul Selir Pertama dan pemimpin lainnya.
Ratusan prajurit yang sudah siap bertempur terkejut dan segera berlari naik ke tanah tinggi untuk selamat dari ombak.
__ADS_1
Sbuuur!
Ombak besar yang meninggi itu akhirnya menghantam pantai seperti monster besar menerkam mangsa kecil-kecilnya. (RH)