Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 19: Waktunya Melawan


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Ada puluhan tombak yang dilemparkan kepada Komandan Satu Lingba Meon.


“Heaaat!” teriak Lingba Meon sambil menghentakkan kedua tangannya menyilang ke bawah.


Blast!


Satu cahaya biru meledak dari tubuh depan Lingba Meon, mementalkan para prajurit terdekat. Seiring itu muncul dinding perisai sinar biru yang melindungi dari kaki sampai kepala Lingba Meon. Puluhan tombak yang berebut menusuk tubuh sang komandan harus tertahan oleh dinding sinar itu, membuat tombak itu berpentalan.


“Panah!” teriak prajurit pemimpin pasukan panah yang juga ikut memberontak.


Set set set …!


Belasan anak panah menghujani Lingba Meon.


Tek tek tek …!


Hasilnya sama dengan rombongan tombak, rombongan panah itupun terhenti oleh ilmu perisai sang komandan.


“Tembakan Ki Ageng Nagaaa!” teriak Arda Handara seperti jagoan anime.


Ses!


Pangeran kecil itu melepaskan tembakan satu kerikil dari ketapel Ki Ageng Naga. Peluru itu awalnya sebutir kerikil, tetapi ketika melesat dia berwujud bola api kecil. Jangan tanya bagaimana itu bisa terjadi.


“Hehehe!” kekeh pendek Lingba Meon meremehkan. Pikirnya hanya anak kecil yang baru jadi pendekar.


Bluar!


“Huakrr!” pekik Lingba Meon dengan tubuh terlempar ke belakang ketika dinding perisainya hancur dan meledak keras.


Bugk!


“Hakr!” pekik Lingba Meon saat punggungnya mendarat lebih dulu di tanah hitam yang keras. Darah terlompat dari dalam kerongkongan.


Melihat musuh tumbang, Arda Handara semakin bersemangat.


“Panaaah!” teriak Arda Handara sambil melempar sebutir kerikil kepada Lingba Meon.


Set set set …!


Seperti mendapat perintah dari seorang panglima perang, pasukan panah cepat memanahi Lingba Meon. Kembali belasan anak panah melesat dengan satu target.


Namun, Lingba Meon yang sudah terluka dalam bergerak cepat melempar tubuhnya jauh ke belakang, sehingga ia luput dari sebatang panah pun.


“Kejaaar!” teriak Arda Handara laksana seorang pemimpin pasukan, padahal tidak ada yang menyerahkan komando kepadanya. Namun, pasukan Negeri Pulau Kabut mengikuti perintah itu.


Pasukan panah segera mengejar Lingba Meon. Sementara pasukan tombak memunguti dulu tombak mereka yang berserakan.


Meski pasukan itu mengejar Lingba Meon, tetapi tetap Arda Handara yang terdepan karena melesat terbang.


Siuut!


Kali ini Lingba Meon tidak meremehkan Arda Handara. Dia melesatkan dua sinar merah berpijar ke atas. Namun, laksana pilot tempur, Arda Handara bisa mengelak dengan memiringkan terbangnya.


Set set set …!


Wuss!

__ADS_1


Pasukan panah tiba dan langsung memanah tanpa menunggu ada perintah.


Lingba Meon tidak mau mati oleh prajurit biasa, itu bisa merendahkan kehormatannya. Karena itulah, dia menggunakan angin pukulan untuk menghalau panah-panah itu.


Tsek!


“Akk!” jerit Lingba Meon saat paha kanannya tertusuk panah.


Meski bisa menghalau hujan panah dengan angin yang diciptakannya, tetapi masih ada satu batang yang menyelinap dan mengenai paha kanannya.


“Hiaaat!” teriak Lingba Meon sambil mendorong kedua tangan kanannya ke langit malam.


Bress!


Tiba-tiba seluruh kulit tubuh Lingba Meon berubah warna hijau bercahaya seperti fosfor. Kedua tangannya bersinar hijau.


Set set set …!


“Akk! Akk! Akk …!”


Lingba Meon mengibaskan kedua tangannya melesatkan kurang dari sepuluh sinar hijau kecil. Sinar-sinar itu mengenai beberapa prajurit yang langsung membolongi tubuh mereka dan plus menewaskannya.


“Mundur!” perintah Eyang Hagara yang tahu bahwa Lingba Meon sudah mengeluarkan ilmu pamungkasnya.


Pasukan itupun segera mundur, meninggalkan beberapa rekan mereka yang tewas.


Bluar!


Lingba Meon yang sedang fokus kepada kedatangan Eyang Hagara, terkejut ketika tahu-tahu ada ledakan di belakang kakinya. Namun, bola sinar merah sebesar genggaman yang dijatuhkan oleh Arda Handara hanya mengejutkan Lingba Meon, tidak membuatnya luka atau terpental.


“Wah, harus pakai Ki Ageng Naga,” ucap Arda Handara kepada dirinya sambil terbang tinggi. Tadi yang dilemparnya memang bukan peluru dari Ki Ageng Naga, melainkan bola sinar pemberian Eyang Hagara yang masih ada beberapa di jaring tongkat.


Set set set …!


Saas! Blar blar blar!


Namun, Eyang Hagara menghentakkan lengan kanannya dengan telapak terbuka. Sinar biru besar mengembang menahan kurang dari sepuluh sinar hijau kecil lesatan Lingba Meon.


Seet! Blusk!


“Hekr!”


Baru saja Eyang Hagara hendak melesatkan bola sinar ungunya, tiba-tiba tubuh besar Lingba Meon sudah agak melengkung ke depan, seiring erangannya yang tertahan dan dadanya yang jebol oleh sinar jingga dari belakang. Bahkan sinar jingga itu terus melesat menyerang Eyang Hagara.


Eyang Hagara cepat menggeser tubuhnya mengelaki sinar jingga itu. Ia sedikit pun tidak berani menahan peluru dari tembakan Ki Ageng Naga.


“Hahahak!” tawa Arda Handara sambil melintas di atas kepala orang-orang besar itu.


Bluk!


Lingba Meon tumbang ke depan tanpa nyawa.


“Yeee!” sorak girang para prajurit itu menyaksikan tumbangnya Lingba Meon.


“Jaya Anak Kecil! Jaya Anak Kecil!” teriak seorang pemimpin prajurit bernama Geser Eja.


“Jaya Anak Kecil! Jaya Anak Kecil!” teriak mereka bersama.


“Pendekar Ketapel Naga! Julukanku Pendekar Ketapel Naga!” teriak Arda Handara dari udara.


“Jaya Pendekar Ketapel Naga!” teriak Geser Eja lagi.

__ADS_1


“Jaya Pendekar Ketapel Naga!” teriak prajurit lainnya.


“Maaf, Pendekar. Jika diperkenankan, siapakah pendekar sebenarnya?” tanya Geser Eja yang kemudian mendekati Eyang Hagara.


“Aku Hagara. Pengawal Pangeran Arda Handara. Kami dan yang lainnya sedang menyerang pulau ini untuk merebut kembali tahta Istana Kabut Kuning,” jawab Eyang Hagara. “Jadi, sudah waktunya kalian melawan kerajaan yang menjajah kalian.”


“Baik. Namun, di manakah Putri Mahkota?” tanya Geser Eja lagi.


“Sedang bertempur bersama Gusti Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil di Pelabuhan Pintu Kabut,” jawab Eyang Hagara.


“Baik, kami akan ikut berperang untuk membebaskan Istana!” kata Geser Eja bersemangat.


Dia lalu berseru kepada rekan-rekannya.


“Kita akan berperang sampai mati, demi mengembalikan tahta kepada Putri Mahkota!” teriaknya sambil mengangkat tombaknya tinggi-tinggi.


“Kita berperang!” teriak pasukan itu bersemangat.


“Apakah pasukan negeri ini hanya sebanyak ini?” tanya Eyang Hagara kepada Geser Eja.


“Pasukan Negeri Pulau Kabut ada di dalam Istana. Sementara sebagian besar dipenjara dan dijadikan budak pembangunan benteng pelabuhan,” jawab Geser Eja.


“Lalu di mana mereka dipenjara?”


“Di Penjara Kabut Bumi, di bawah bukit antara Ibu Kota dan Pelabuhan Kepeng,” jawab Geser Eja.


“Jika begitu, kita langsung saja menyerang ke Istana Kabut Kuning,” kata Eyang Hagara memutuskan.


“Tapi masih ada prajurit yang sedang tidak bertugas di rumah-rumah mereka,” kata Geser Eja.


“Apakah bisa dikumpulkan dalam waktu cepat?”


“Bisa, Pendekar,” jawab Geser Eja.


“Lakukan!” perintah Eyang Hagara.


“Gedek Suwigo, lepaskan panah tanda perang!” teriak Geser Eja kepada pemimpin prajurit panah yang satu almamater dengannya.


“Baik!” sahut prajurit yang bernama Gedek Suwigo.


Gedek Suwigo lalu memerintahkan pasukan panah yang tersisa untuk melepaskan panah tanda perang. Panah itu harus dilepaskan secara bersamaan.


“Panah!” teriak Gedek Suwigo.


Pasukan panah yang tinggal sepuluh orang lalu melepaskan anak panahnya lurus ke langit.


Set set set …!


Ctar ctar ctar …!


Sepuluh anak panah melesat tinggi ke langit gelap yang kemudian meledak nyaring bersusulan dan rapat. Suara ledakannya secara tertulis sama, tetapi secara pendengaran orang-orang Negeri Pulau Kabut sangat berbeda dan khas. Mereka bisa langsung tahu bahwa itu suara ledakan Panah Tanda Perang.


Setelah itu mereka menunggu.


“Seperti Ibu Kota, Istana Kabut Kuning juga dilindungi oleh benteng gaib. Dengar-dengar, bentengnya lebih kuat,” kata Geser Eja.


“Tidak masalah,” ucap Eyang Hagara.


Tidak berapa lama, dari dalam sejumlah rumah, gang-gang, dan kegelapan, bermunculan para lelaki yang mengenakan seragam prajurit kuning-kuning. Justru kebanyakan dari mereka bersenjata panah. Mereka yang datang dari berbagai arah itu segera berkumpul dan bersatu. Setelah berkumpul, ternyata jumlah mereka sekitar tiga puluh orang.


“Waktunya menyerang Istana!” teriak Arda Handara yang sejak tadi terbang ke sana ke sini seperti nyamuk.

__ADS_1


“Seraaang!” teriak pasukan itu pula sambil berlari kecil ke arah Istana Kabut Kuning berada. (RH)


__ADS_2