
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
Dengan mengandalkan ketajaman penglihatannya, penunggang kuda itu memaksa kudanya untuk berlari menerobos kegelapan jalanan Jayamata, ibu kota Kerajaan Baturaharja.
Ibu Kota bukannya sepi penerangan, tetapi jalan yang dilalui si penunggang kuda adalah jalan setapak di pinggiran Ibu Kota yang sepi. Sejak Kerajaan Baturaharja berada di bawah binaan Kerajaan Sanggana Kecil, ibu kota Jayamata menjadi kota yang terang karena mendapat suplai minyak yang banyak dari Gunung Prabu.
Akhirnya, sang kuda tiba di belakang sebuah rumah batu yang cukup bagus. Pada sisi depan rumah ada sejumlah obor penerang sehingga bagian itu lebih terang dibandingkan sisi belakang yang hanya ada dua obor kecil, itupun nyaris padam karena angin yang cukup kencang berembus.
Di pagar belakang rumah ada sebuah pintu kecil yang dijaga oleh seorang prajurit berpedang.
Kuda berhenti di depan prajurit. Cahaya obor yang temaram masih bisa memberi gambaran wajah si penunggang kuda. Orang itu tidak lain adalah Bengal Banok, Komandan Pasukan Pengawal Prabu. Kali ini dia tidak berpakaian sebagai perwira, tetapi seperti seorang pendekar dengan pakaian serba biru gelap.
Bengal Banok turun dari pungung kudanya.
“Sampaikan kepada junjunganmu, aku Komandan Bengal Banok datang!” perintah Bengal Banok.
Prajurit yang awalnya tidak mengenali siapa yang datang, jadi terkejut.
“Maafkan hamba, Gusti, karena tidak mengenali!” ucap prajurit tersebut sambil cepat membungkuk menjura hormat.
“Hmm,” gumam Bengal Banok sambil mengangguk sekali.
“Tunggu sebentar, Gusti,” ucap prajurit tersebut.
Ia segera membuka pintu dan masuk ke balik pagar batu yang cukup tinggi.
Bangunan itu adalah rumah dinas bagi Komandan Kumbang Draga, pemimpin Pasukan Pengawal Ratu.
Sambil menunggu, Bengal Banok memilih pindah bersama kudanya ke bawah sebatang pohon besar yang cukup berjarak dari tembok pagar.
Tidak berapa lama, di pintu belakang muncul seorang lelaki balita, lelaki “bawah lima puluh tahun” atau separuh baya kurang dari lima tahun. Orang yang hanya mengenakan pakaian bawahan bagus itu tidak lain adalah Kumbang Draga. Di belakangnya mengikuti prajurit penjaga pintu tadi.
Kumbang Draga segera pergi sendirian mendatangi Bengal Banok di bawah pohon, seperti kisah cinta zaman dahulu yang suka bertemu di bawah pohon.
“Lalu bagaimana selanjutnya? Keberadaan Ratu Wilasin tidak ada titik terangnya,” tanya Bengal Banok langsung, tanpa basa basi lebih dulu.
“Biar aku yang pergi menemui Adipati Rugi Segila. Aku memiliki ruang gerak yang lebih besar,” jawab Kumbang Draga.
“Kapan kau akan pergi?”
“Besok pagi. Aku harus membawa seluruh Pasukan Pengawal Ratu agar terlihat tugas resmi dari Istana. Kakang harus tetap berada di dekat Gusti Prabu untuk menjaganya agar tetap curiga kepada Mahapatih Duri Manggala,” ujar Kumbang Draga.
“Kita harus mewaspadai Nyai Kisut. Sejak Ratu Wilasin menghilang, dia juga menghilang. Aku khawatir dia juga tahu tentang rencana kita,” kata Bengal Banok.
__ADS_1
“Aku menduga kuat dia mengawal keselamatan Ratu Wilasin. Dia adalah pelindung Ratu sejak kecil. Jadi dia tidak akan jauh dari ratu kekanakan itu.”
“Karena Adipati Rugi Segila hanya menginginkan kematian Ratu Wilasin, kita harus benar-benar menangkapnya lebih dulu dan jangan langsung bunuh. Rahasia harta dan mustika kerajaan ada di lidahnya. Kita hanya sebatas jadi pesuruh jika pada akhirnya kita tidak mendapatkan rahasia itu.”
“Aku sudah mengirim surat rahasia kepada orang-orang kita di tubuh militer yang tersebar di beberapa kadipaten. Perintah Gusti Prabu membuat ada dua pihak yang mencari Ratu Wilasin, kita dan orang-orang yang berada di bawah perintah Senopati Beling Tuwak. Sepertinya kita rawan sekali akan ketahuan,” kata Kumbang Draga.
“Kita harus melakukan pemutusan agar orang-orang kita yang mengaku tidak menyebut nama kita,” kata Bengal Banok.
Kumbang Draga mengembuskan napas masygul.
“Lagi-lagi ini masalah kesetiaan. Melibatkan banyak orang memang sangat berisiko apa yang kita lakukan akan terbongkar. Jadi kita harus berlomba dengan waktu. Setelah itu, kita harus pergi ke luar wilayah kekuasaan Baturaharja,” kata Kumbang Draga akhirnya.
“Malam ini beberapa orangku akan menyerang kediaman Mahapatih,” ungkap Bengal Banok.
“Untuk apa?” tanya Kumbang Draga cepat, sebab rencana menyerang Mahapatih Duri Manggala tidak pernah mereka berdua rundingkan.
“Menciptakan pertikaian antarpejabat yang setia kepada Sanggana Kecil. Pertikaian itu akan memperdalam kecurigaan Gusti Prabu kepada mereka,” jelas Bengal Banok.
“Tapi ingat, jangan gegabah. Jangan sampai justru jadi tamparan balik bagi kita,” kata Kumbang Draga mengingatkan.
“Baiklah. Aku harus kembali. Jangan sampai Gusti Prabu tiba-tiba mencariku tengah malam,” kata Bengal Banok.
Bengal Banok lalu kembali naik ke kudanya. Ia lalu meninggalkan sohib kentalnya dalam memberontak.
Secara perlahan, Bengal Banok bersama kudanya menuju ke pusat Ibu Kota yang memiliki lebih banyak penerangan.
Angin dingin bertiup menerbangkan dedaunan kering yang berserakan di jalanan utama Ibu Kota. Meski itu angin pertanda akan hujan, tetapi hujan tidak kunjung turun. Bisa jadi hujan turun di daerah lain, tetapi ibu kota Jayamata kebagian angin dan dinginnya.
Bengal Banok kini telah tiba di pusat Ibu Kota dan kudanya berlari di jalan utama yang lebar dan memiliki banyak penerangan obor besar. Api obor meliuk-liuk tertiup angin, seolah-olah sedang meronta-ronta minta dilepaskan. Entah minta dilepaskan ke mana.
Wajah Bengal Banok sudah bisa terlihat jelas oleh penerangan obor besar yang ada di atas tiang di sisi kanan dan kiri jalan. Namun, saat itu separuh wajahnya dibalut oleh lilitan kain hitam yang bertujuan menutupi tampangnya.
Bengal Banok akan melewati sebuah depan rumah besar dan mewah. Di depan gerbang halamannya ada sepuluh prajurit bertombak yang berjaga. Di depan rumah itu ada banyak obor yang menyala, sehingga kondisinya terang benderang.
Ketika mendengar ada suara pacu kuda yang iramanya berlari kencang, para prajurit itu cepat melihat ke ujung jalan. Pendengaran mereka tidak salah. Memang ada seekor kuda dan penunggangnya berlari kencang dan akan melintas.
Tengan malam memacu kuda dengan kencang, ditambah wajahnya ditutupi sebagian, jelas menarik kecurigaan bagi para prajurit penjaga.
Dua orang prajurit berinisiatif maju ke tengah jalan dan berdiri dengan mengulurkan mata tombaknya ke depan, seolah bermaksud menusuk kuda yang datang. Sebagian rekan mereka juga bergerak ke pinggir jalan guna bersiaga.
“Berhenti!” teriak salah seorang prajurit kepada Bengal Banok.
“Hea hea hea!” teriak Bengal Banok yang justru memperkeras gebahannya. Sepertinya dia bermaksud menabrak kedua prajurit yang berdiri menghadang di tengah jalan.
__ADS_1
Melihat kuda yang dihadang kian mendekat justru kian kencang, terkejutlah kedua prajurit penghadang. Mereka jadi ragu apakah harus tetap bertahan menusuk kuda dan sekaligus ditabrak, atau melompat menghindar dan membiarkan kuda mencurigakan itu lolos.
“Menghindar!” teriak salah satu di antara mereka yang menghadang.
“Tusuk!” teriak salah satu prajurit yang berdiri bersiap di pinggir jalan.
Empat prajurit yang berdiri di pinggir jalan cepat menusukkan tombak-tombak mereka.
Kuda Bengal Banok lebih dulu akan menghadapi tusukan tombak-tombak prajurit sebelum menabrak dua prajurit yang menghadang.
Strak!
Bengal Banok langsung mencabut pedang hitamnya dan membabat semua leher tombak yang menyerang kudanya. Keempat tombak terpotong seperti pedang memotong buah timun emas. Sementara Bengal Banok dan kudanya terus melintas cepat dan mengarah dua prajurit yang menghadang.
Namun, kedua prajurit di tengah jalan itu lebih memilih selamat dengan melompat ke kanan dan kiri jalan, menghindari tabrakan kuda.
Kuda Bengal Banok berlari tanpa penghalang meninggalkan depan rumah besar itu.
“Kejar!” teriak seorang prajurit sambil berlari ke tempat kuda ditambatkan.
Di sana ada tiga ekor kuda yang ditambatkan. Maka tiga orang prajurit segera pergi naik ke kuda, lalu buru-buru mengejar kuda Bengal Banok.
Di saat tujuh prajurit penjaga lainnya sedang fokus memandang ke arah kepergian rekan-rekan mereka, tiba-tiba dari dalam kegelapan di arah belakang mereka bermunculan sejumlah sosok berpakaian hitam-hitam dan bertopeng kain hitam. Lebih sepuluh lelaki berpedang itu melangkah mengendap-endap mendekat ke pintu gerbang.
Sebelum belasan orang berpakaian hitam itu menyergap dari belakang, salah satu prajurit lebih dulu berbalik dan memergoki para mengendap itu.
“Hah! Perampok!” teriak prajurit itu terkejut dan langsung menyimpulkan pekerjaan belasan orang itu.
Mendengar teriakan rekannya, kelima prajurit lainnya cepat menengok.
Set set! Cras cras!
“Akk! Akk! Akk …!”
Namun, belum lagi para prajurit penjaga itu melakukan sesuatu, belasan orang bertopeng tersebut telah menyergap mereka dengan tebasan dan tusukan pedang. Posisi yang tidak siap, membuat para prajurit itu tidak bisa bertahan apalagi memberi perlawanan.
Dalam waktu singkat, ketujuh prajurit penjaga pintu gerbang tumbang bersimbah darah dengan luka yang parah.
“Mundur!” seru salah satu penyerang kepada rekan-rekannya.
Belasan orang bertopeng kain itu segera berlari pergi ke arah kegelapan tempat mereka tadi muncul.
Dari dalam halaman rumah besar itu muncul dua orang prajurit. Keduanya langsung terkejut melihat rekan-rekan mereka telah bertewasan. Satu prajurit yang matinya nomor buncit masih sempat menunjuk ke arah tempat para penyerang itu menghilang. Setelah menunjuk, dia pun berlalu.
__ADS_1
“Ada penyerang! Ada penyerang!” teriak salah satu prajurit di pintu sambil memandang jauh ke dalam. Sepertinya dia memanggil rekan-rekannya yang berjaga di dalam. (RH)