Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Jalan Dara 21: Jodoh di Bawah Titah


__ADS_3

*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*


 


Malam mulai merayapi alam dan kemudian memeluknya lalu membawanya larut dalam keheningan yang syahdu.


Seiring itu, pasukan prajurit Kadipaten Jalur Bukit yang dipimpin oleh Pangeran Bewe Sereng dan Pendekar Bola Cinta tiba. Mereka memasuki halaman rumah sang adipati.


Meski masih ramai oleh hiasan janur dan umbul-umbul, halaman rumah itu cukup berantakan karena ada beberapa titik yang tanahnya terbongkar membentuk lubang kering. Obor-obor dan pelita minyak di kediaman Adipati Siluman Merah dan rumah-rumah warga sekitar sudah dinyalakan.


Permaisuri Dewi Ara dan Pangeran Arda Handara masih berdiri di halaman depan rumah sang adipati. Hanya warga yang sudah membubarkan diri setelah diperintahkan untuk pulang.


Mayat-mayat prajurit yang mati sudah dipindahkan.


Pihak pemerintah berhasil menangkap seorang pemberontak, yakni Pangeran Bajing Tua dalam kondisi terluka dengan dua tulang tangan patah dan kondisi badan yang dekil, di tambah bokong yang melongok ke mana-mana.


“Kakak Munik!” panggil Bening Mengalir sambil berlari menyongsong kepulangan kakaknya yang diculik.


“Ayah!” pekik Munik Segilir cemas sambil berlari menghambur ke arah ayahnya, menyelisihi adiknya yang berniat memeluknya.


“Kakaaak!” jerit Bening Mengalir dengan ekspresi ingin menangis karena tidak diindahkan. Ia merengut kesal.


Sementara Munik Segilir tidak peduli dengan rengekan adiknya. Dia memeluk ayahnya.


“Aaak!” pekik Adipati Siluman Merah saat dipeluk oleh putrinya.


Munik Segilir terkejut dan buru-buru melepas pelukannya.


“Ayah kenapa?” tanya Munik Segilir terkejut.


“Ayahmu terluka parah setelah rumah ini diserang oleh tiga pendekar tua yang sakti. Beruntung Gusti Permaisuri cepat datang,” kata Gadis Cadar Maut.


“Bening Mengalir bidadariku!” panggil Genap Seribu saat melihat dengan nyata sosok Bening Mengalir yang selama ini dia bayangkan.


“Ah!” Terkejut Bening Mengalir ketika melihat dan mendengar Genap Seribu memanggil namannya dan menyebutnya “bidadariku”.


“Kau jangan buat masalah, Genap Seribu!” seru Perwira Serak Barbaya mengingatkan.


Genap Seribu pun diam dalam kemurungan. Ingin rasanya dia menangis. Wanita yang sangat ia cintai sudah terlihat di depan mata, tapi apalah daya, dirinya telah terikat jodoh dengan wanita yang lain, sementara wanita yang dicintainya seperti amnesia terhadap cintanya. Memang, Bening Mengalir terlihat seperti orang bingung.


“Munik Segilir calon istriku!” panggil Bajigur pula sambil tersenyum, persis senyum untuk si calon istri.


Pemuda itu berjalan hendak menghampiri Munik Segilir.


“Jangan mendekat, Kakang!” seru Munik Segilir yang masih dalam kondisi hanya bersarung ria.


Bajigur pun berhenti mendadak dengan wajah melongo heran kepada calon istrinya.


“Aku sudah bukan calon istrimu, Kakang Bajigur ….”


“Apa?!” pekik Bajigur dan Adipati Siluman Merah memotong perkataan Munik Segilir.


“Apa maksudmu, Munik. Bukankah kita besok menikah? Kita akan bersanding bersama di pelaminan yang indah dan duduk bak seorang raja dan permaisuri,” kata Bajigur.

__ADS_1


“Putriku, jangan bermain-main masalah pernikahan. Kau sudah setuju untuk menikah dengan Bajigur,” kata Adipati Siluman Merah pula.


“Munik Segilir sudah dijodohkan oleh Gusti Permaisuri dengan Perwira Genap Seribu, Gusti Adipati,” kata Perwira Serak Barbaya.


Mendeliklah semua orang yang baru tahu hal itu. Bibir Bajigur bergetar, seperti orang yang ingin berbicara tapi lidahnya tidak bisa bersilat.


“Munik Segilir kekasihku!” teriak seorang lelaki tiba-tiba dari balik kerumunan keluarga besar sang adipati.


Semua mata segera beralih kepada kemunculan Gada Perkasa yang badan telanjangnya dibalut oleh ikatan kain. Wajah tampannya kini terlihat jelas karena sudah bersih dari arang bokong kuali.


“Kakang Gada Perkasa!” sebut Munik Segilir terkejut. Ia tidak menyangka bahwa pemuda yang benar-benar dicintainya sedang ada di rumahnya. Kepada Bajigur dia masih tegar untuk mengatakan bahwa dirinya telah menjadi jodoh orang lain, tapi kepada Gada Perkasa?


“Munik Segilir, aku datang untuk menyelamatkan cinta kita,” kata Gada Perkasa.


“Diam kau!” hardik Adem Semilir, bibi dari Munik Segilir dan Bening Mengalir. “Nyawamu saja tidak bisa kau jaga, apalagi menjaga cintamu!”


“Apakah kau tidak mendengar, Munik Segilir telah dijodohkan dengan Perwira Genap Seribu oleh Gusti Permaisuri?” kata Siluman Hitam pula kepada pemuda yang sedang dalam kondisi terluka itu.


“Tidak. Oh Dewa, kenapa hatiku harus sakit sebanyak dua kali?” ratap Gada Perkasa begitu sedih, membuat Munik Segilir pun bersedih.


“Lalu, aku harus menikah dengan siapa?” tanya Bajigur pula begitu mengibakan. Sebagai pendekar, sebenarnya dia ingin marah, tapi dia tidak mau mencari mati di tangan Permaisuri Geger Jagad, yang tadi dengan mudahnya membuatnya terbanting ke tanah.


“Kau menikah saja denganku, aku seorang janda,” celetuk Adem Semilir bermaksud menggoda Bajigur yang usianya jauh lebih muda darinya.


“Dengarkan aku!” seru Dewi Ara yang tidak nyaman dengan suasana itu.


“Baik, Gusti!” ucap mereka yang non rombongan Permaisuri Dewi Ara.    


“Aku telah menjodohkan Munik Segilir dengan Genap Seribu. Bagi siapa yang menentang perjodohan ini, tangkap dan penjarakan, Adipati,” kata Dewi Ara.


“Aku titahkan pula agar kau, Bajigur,” kata Dewi Ara melanjutkan titahnya.


“Hamba akan patuh, Gusti Permaisuri,” ucap Bajigur dengan lirikan kepada Bening Mengalir, karena saat itu dia berharap akan diberikan ganti, yaitu adik dari calon istrinya yang batal.


“Siapa namamu, Nisanak?” tanya Dewi Ara sembari memandang kepada Adem Semilir.


“Hamba bernama Adem Semilir, Gusti Permaisuri. Hamba adik ipar dari Gusti Adipati,” jawab Adem Semilir.


Mendelik Bajigur karena ia berfirasat buruk saat sang permaisuri menanyakan nama bibi dari Munik dan Bening.


“Bajigur, menikahlah dengan Adem Semilir!” perintah Dewi Ara.


“Apa?!” kejut banyak suara, terutama bagi Bajigur dan Adem Semilir.


Buru-buru Adem Semilir yang sedang dalam kondisi terluka maju ke sisi Adipati Siluman Merah dan turun berlutut menghormat.


“Tapi, Gusti Permaisuri, hamba tadi hanya bergurau, hamba tidak serius kepada Bajigur,” kilah Adem Semilir.


“Bukankah kau seorang janda?” tanya Dewi Ara.


“Benar, Gusti,” jawab Adem Semilir.


“Tidak ada alasan bagimu untuk tidak mau menikah. Burung muda juga bisa membuatmu hamil. Dan kau, Bajigur ….”

__ADS_1


“Hamba, Gusti,” sahut Bajigur sembari turun berlutut pasrah untuk menerima titah dari permaisuri Sanggana Kecil itu.


“Lubang perawan atau bukan, tetaplah itu lubang. Jangan cerewet dalam mencari istri,” kata Dewi Ara yang terkesan seenak dengkulnya. Namun, siapa yang berani membantah?


“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Bajigur pasrah. Dalam hati ia membenarkan sudut pandang sang permaisuri. Lalu batinnya, “Apa boleh buat, yang penting burungku punya tempat tidur.”


“Adipati!” sebut Dewi Ara.


“Hamba, Gusti Permaisuri,” sahut Adipati Siluman Merah.


“Besok kirim putrimu yang bernama Bening Mengalir itu untuk menjadi dayang-dayang di istanaku!” perintah Dewi Ara.


Terkesiap sebagian besar orang mendengar titah itu, terutama Bening Mengalir sendiri.


“Ba-ba-baik, Gusti Permaisuri,” ucap Adipati Siluman Merah tergagap.


“Siapa pun yang mencoba menentang titahku, tangkap dan penjarakan, atau buang keluar dari wilayah Sanggana Kecil!” tandas Dewi Ara.


“Baik, Gusti Permaisuri!” ucap patuh Adipati Siluman Merah, keluarga dan pasukan kadipatennya.


“Jangan lupa, tetapkan nenek dan kakek yang kabur itu sebagai buruan mati Kerajaan Sanggana Kecil!” perintah Dewi Ara lagi.


“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap patuh sang adipati lagi.


“Dan kau, Gadis Cadar Maut!” sebut Dewi Ara lagi.


“Hamba, Gusti Permaisuri!” sahut wanita bercadar itu sembari turun berlutut.


“Pergilah melapor kepada Gusti Prabu Dira atas perintahku. Laporkan perihal pemberontakan ketiga pendekar tua itu. Bawa tawanan itu agar diadili dan dipenjara di Ibu Kota. Jangan lupa bawa saksi yang cukup untuk pengadilannya!” titah Dewi Ara.


“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Gadis Cadar Maut patuh.


“Mohon ampun, Gusti Permaisuri!” sela Gada Perkasa memberanikan diri.


“Katakan!” perintah Dewi Ara lagi.


“Lalu hamba menikah dengan siapa?” tanya Gada Perkasa begitu mengibakan diri.


“Carilah gadis yang lain,” jawab Dewi Ara.


Begitu sakit hati Gada Perkasa mendengar solusi tidak berpihak itu. Ingin rasanya dia menangis petang itu juga.


“Jika kau mau, menikahlah dengan putriku, Gada Perkasa. Putriku pernah menyatakan kekagumannya terhadap ketampananmu,” kata Juragan Jeng tiba-tiba dari sisi belakang.


Gada Perkasa adalah salah satu karyawan pemetik jengkol di kebun Juragan Jeng.


Terkejutlah Gada Perkasa mendengar tawaran dari juragan jengkol itu.


“Terima kasih, Gusti Juragan,” ucap Gada Perkasa. Ia kenal dengan putri Juragan Jeng yang bermata lebar selebar buah jengkol, tapi cantik dan bisa bersaing dengan Munik Segilir.


“Di mana, Arda?” tanya Dewi Ara kepada Tikam Ginting yang berdiri di sisinya, tanpa berusaha mencari putranya ke sekitar.


“Di sana, Gusti Permaisuri,” jawab Tikam Ginting sambil menunjuk sopan ke arah jauh dengan jempolnya.

__ADS_1


Di bawah pohon sawo yang cukup gelap, terlihat Arda Handara sedang membidik dengan ketapel Ki Ageng Naga. Ia hendak menembak sesuatu di atas pohon yang orang banyak tidak bisa lihat. Namun, ketajaman pandangan Dewi Ara membuatnya bisa melihat bahwa putranya sedang menargetkan seekor bajing. Bajing itu tidak lain adalah bajing piaraan Pangeran Bajing Tua yang bernama Brojol. (RH)


__ADS_2